
Hari senin merupakan awal hari yang sibuk setelah dua hari libur, pagi ini aku menyiapkan kebutuhan Vano untuk sekolah sedangkan Nia memasak sarapan, Nia suka sekali memasak jadi suka mencoba berbagai resep yang dia lihat dari google, untuk bahan Nia yang belanja aku yang memberinya uang, bisa di kata hubunganku dengan Nia ini hubungan simbiosis mutualisme he he he.
“Rin, sarapan sudah matang, ayo makan,” ajak Nia.
“Wah… sepertinya enak ini, dari tampilannya sudah menggoda sekali,” ucapku.
“Vano… ayo ke sini, kita makan hasil karya Tante Nia,” ajakku ke Vano.
Vano berlari kecil menuju ke arah meja makan.
“Pasti enak ini, buatan Tante Nia selalu enak,” puji Vano.
“Kamu jadi anaknya Tante Nia saja ya,” kataku.
“Mau ikut Tante Nia nanti bisa bertemu ayah Arif setiap hari?” tanya Nia.
“Gak Mau kalau gak sama Bunda,” jawab Vano.
“Anak pinter,” ucapku.
“Ayo segera dihabiskan terus berangkat kerja,” kata Nia.
Kami menikmati sarapan dengan keakraban menambah nikmat cita rasa makanan yang ada di depan kami.
Setelah selesai sarapan, aku membantu Nia membereskan meja makan, sedangkan Nia mencuci piring dan sebagainya di wastafel.
Ketika semua sudah siap kami segera meninggalkan rumah mertua dan menuju ke Penitipan anak kemudian ke tempat kerja kami.
Widya sudah berada di meja kerjanya, kami berjalan mendekati Widya dan mengambil kursi untuk duduk di depan Widya.
“Calon pengantin, pagi-pagi sudah semangat,” sapaku menggoda Widya.
“Bisa saja kamu ini Rin,” kata Widya.
“Sudah dimana persiapannya?” tanyaku.
“Baru mengurus surat-suratnya Rin, minggu depan mungkin selesai dan di kirim ke sini,” jawab Widya.
“Wid, nanti rencana kamu ikut ke Mimika atau bagaimana setelah menikah?” tanya Nia.
“Orang tuaku ini sudah tua Nia, jadi aku di sini biar mas Yusuf yang bekerja di sana, terus rencanamu sendiri bagaimana setelah menikah?” tanya Widya kepada Nia.
“Aku ikut ke sana Wid, gak bisa aku jauh-jauhan kalau sudah menikah, pacaran saja sudah nyesek di hati kok menikah malah jauh-jauhan,” jawab Nia.
“Kamu bagaimana Rin apa ikut ke Mimika juga setelah melahirkan?” tanya Widya kepadaku.
“Wid… sebenarnya pingin ke sana, tapi aku tidak bisa, tempat usaha ibu mertua sedang bermasalah, aku bulan depan rencana mau resign,” ucapku.
“Tapi jangan bilang kalau aku pindah kerja ke tempat ibu mertua ya, aku mau resign melahirkan dan mengurus anak begitu alasanku nanti,” pesanku.
“Berarti di sini nanti tinggal aku sendiri,” kata Widya.
“Iya he he he,” kataku dan tertawa bersama .
“Ayo kita beraktifitas kembali,” kata Nia.
Aku dan Nia berdiri dari tempat duduk kemudian berjalan menuju meja kerja kita masing-masing.
Menyalakan komputer sambil menunggu komputer siap aku mengambil ponselku dari dalam tas, ada pesan masuk dari mas Arif yang menanyakan tentang kabarku dan kehamilanku, aku mengabarkan kalau semua
sehat-sehat saja tapi belum terlihat jenis kelaminnya karena posisi anak selalu menutupinya.
Ya… mungkin untuk surprise kepada orang tuanya jadi dia tidak mau memperlihatkannya di saat alat usg mengarah ke sana.
Aku juga menceritakan tentang kondisi kantor ibunya kalau banyak laporan yang mencurigakan.
Komputer sudah siap aku menaruh ponsel di meja kerjaku kemudian mulai mengerjakan tugasku.
Satu persatu data yang aku terima dari Nia dan Widya aku input ke dalam komputer untuk membuat laporan bulanan, kurang seminggu lagi harus selesai.
Rencanaku saat menghadap pak Farid untuk melaporkan laporan bulanan aku sekalian mengajukan resign.
Waktu istirahat sudah tiba, kami bertiga menuruni anak tangga menuju ke kantinnya mbak Yah, sampai di sana memesan makanan dan menunggu makanan datang kemudian duduk di kursi meja pengunjung sambil
mengobrol-ngobrol ringan.
“Nia kamu sekarang tinggal di rumah Rinda?” tanya Widya.
__ADS_1
“Iya, kasihan Rinda gak ada yang nemani, nanti kalau suaminya pulang aku pulang juga, gak enak lah mengganggu bulan madu mereka he he he,” kata Nia sambil tersenyum kepadaku, ya… senyuman menggoda.
“Bulan madu apaan sih, tau perut semakin besar begini, gak nyaman lah buat begituan,” ucapku.
Makananpun datang, Mbak Yah menaruh piring dan gelas berisi makanan dan minuman yang kami pesan di atas meja kami.
Kami segera menikmatinya, setelah selesai makan kami membayarnya dan berjalan menuju ke musholla.
“Tau gak, masakannya Nia itu enak loh, lebih enak masakan Nia dari pada Mbak Yah,” pujiku.
“Wah… aku juga pingin merasakannya,” kata Widya.
“Ayo kapan-kapan kamu ke rumah Rinda, aku yang masak, biar kamu bisa menikmati masakanku,” kata Nia.
“Kapan?” tanya Rinda.
“Bagaimana kalau setelah Rinda resign dari sini,” usul Nia.
“Oke, kamu bagaimana Rin?” tanya Nia.
“Aku gak apa-apa, aku kasih uang kalian yang belanja, Nia yang masak, aku sudah gak sanggup ke pasar dengan perut begini, bisa-bisa perutku terhimpit orang-orang yang ramai belanja di pasar,” jawabku.
Sampai di musholla kami melaksanakan ibadah sholat dhuhur kemudian istirahat sejenak dan kembali ke ruangan kami melanjutkan pekerjaan masing-masing.
Ponselku berdering dari nomer yang tidak aku kenal.
“Assalalmualaikum,” sapa seorang perempuan.
“Waalaikum salam, maaf dengan siapa ini?” tanyaku.
“Bu Rinda, ini dengan Bu Riska, Ibu nanti ada di rumah jam berapa?, tadi pagi bu Linda menghubungi saya untuk menyerahkan laporan selama empat bulan ke Bu Rinda,” jawab Bu Riska.
“Jam lima sore saya sudah ada di rumah Bu, sekarang masih di tempat kerja, Bu Riska ke rumah jam lima an gitu ya, saya tunggu,” kataku.
“Iya Bu, saya ke sana nanti, sudah dulu Bu Rinda, selamat beraktifitas, maaf mengganggu, assalamualaikum,” kata Bu Riska mengakhiri telponnya.
“Waalaikum salam,” jawabku pelan sambil meletakkan ponsel di atas meja kerjaku.
Nia menoleh ke belakang dan bertanya, “Siapa?.
“Baik banget Rin mertuamu, gak masuk kantornya tapi sudah di bayar,” kata Nia heran.
“Ya itulah ibu mertuaku Nia, dia tidak mau makan keringat orang yang bekerja kepadanya, jadi dia merasa kita mengecek data keuangan kantornya itu sama dengan bekerja untuknya,” kataku.
“Andai semua pimpinan seperti itu makmur ya karyawannya,” kata Nia.
“Itu merupakan kewajiban pimpinan Nia,” jawabku.
Kami mengobrol ringan sambil menyelesaikan pekerjaan kami, tak terasa waktu pulang kerja sudah tiba.
Merapikan dokumen yang berserakan di atas meja, kemudian mengambil tas kerja dan aku berdiri berniat untuk keluar ruangan di ikuti oleh Nia dan Widya.
Menuruni anak tangga satu demi satu akhirnya sampai di bawah dan menuju ke parkiran sepeda motor.
“Nia, pulang dulu atau bagaimana?” tanyaku.
“Rin, sayur sama ikan di kulkasmu sudah habis loh, aku mau belanja dulu setelah ini, kamu pulang sama Vano duluan saja, aku mau ke pasar,” jawab Nia.
Aku membuka tas mengambil dompet dan membukanya, mengambil lembaran uang dan aku berikan kepada Nia.
“Kamu nitip apa?” tanya Nia sambil menerima uang dariku.
“Nitip jamur kancing saja Nia,” jawabku.
“Oke,” jawab Nia sambil menyalakan sepeda motornya.
“Aku duluan,” kata Widya saat berlalu melewati kami.
“Aku duluan Rin, kamu hati-hati,” pesan Nia.
"Kamu juga," pesanku sambil naik ke sepeda motor dan menyalakan sepedaku, di depanku Nia dan Widya dengan sepeda motor masing-masing dengan arah tujuan berbeda.
Perlahan meninggalkan parkiran kantor menuju ke sekolahnya Vano.
Sampai di sekolahnya Vano, terlihat Vano berlari menghampiriku dan memeluk kemudian mencium perutku.
“Bunda.. tante Nia kemana?” tanya Vano.
__ADS_1
“Tante Nia sedang belanja ke pasar, ayo segera pulang,” jawabku.
“Vano berlari ke dalam bersalaman dengan Bu gurunya dan mengambil tasnya kemudian berjalan sambil menarik tas troly nya ke arahku.
“Bu saya pamit, terima kasih ya,” pamitku kepada Bu gurunya Vano.
Aku ambil tasnya Vano aku taruh di depan, Vano naik di boncengan belakang, sepeda motor aku hidupkan kemudian perlahan meninggalkan sekolahnya Vano.
“Bunda… ayah lama tidak ke sekolah Vano, apa Bunda tau kabarnya ayah?” tanya Vano.
Deg rasanya hatiku, tumben sekali anak ini bertanya tentang ayah kandungnya, kami terakhir bertemu saat makan di tempat makan cepat saji, sekitar tiga bulanan lah kalau tidak salah.
“Mungkin sedang sibuk Vano, nanti kalau tidak sibuk kan menemuimu,” jawabku.
Entahlah… aku juga tidak tau aktifitasnya mantanku, sejak dia tau kalau aku hamil dia sudah tidak pernah menghubungiku lagi.
Sepuluh menit kemudian kami sampai di rumah ibu mertua, aku turun dari sepeda motor demikian pula dengan Vano, membuka pintu pagar dan menaiki sepeda motorku untuk masuk ke dalam garasi rumah.
“Vano tolong tutup lagi pintu pagarnya,” pintaku.
Vano menutup pintu pagar sedangkan aku membuka kunci rumah, masuk ke dalam rumah diikuti oleh Vano yang membawa tas trolynya menuju ke kamarnya untuk menaruh tas dan berlari gembira ke arah ruang keluarga untuk menonton acara televisi.
Aku masuk ke kamar menaruh tasku dan membuka jilbabku, berganti baju kemudian masuk ke kamar untuk mandi.
Air dingin mengguyur tubuhku terasa segar sekali setelah penat sehari bekerja.
Selesai mandi aku baringkan tubuhku di atas pembaringan, mata ini sudah sangat mengantuk sekali, saat ini waktu menunjukkan jam setengah lima sore, tidur jam segini gak enak, lebih baik duduk di sofa saja sambil melihat acara televisi, batinku.
Aku bangun dari tidur, kemudian turun dari ranjang berjalan menuju ke ruang keluarga, duduk di sofa melihat acara televisi yang diputar oleh Vano
Nia datang dari pasar membawa beberapa kantong plastik dan langsung menuju ke dapur untuk dimasukkan ke dalam kulkas, kulihat ada beberapa yang di cuci dulu baru di masukkan ke kulkas. Nia ini memang sangat rajin sekali daripada aku.
Beberapa saat kemudian pintu pagar terdengar di ketuk orang, mungkin bu Riska, batinku.
Aku berdiri dari tempat dudukku melangkah ke depan rumah, memang betul Bu Riska yang datang dengan membawa satu kardus berisis laporan yang di minta ibu mertua.
Aku membuka pintu pagarnya dan mempersilahkan Bu Riska untuk masuk ke dalam rumah, kemudian duduk di kursi ruang tamu.
"Maaf Bu, hanya air minum saja," kataku sambil mengambil segelas air mineral yang sudah tersedia di meja tamu aku letakkan di depan meja Bu Riska.
"Terima kasih Bu Rinda," ucap Bu Riska sambil mengambil air mineral dan menusuk dengan sedotan plastik kemudian perlahan meminumnya.
"Bu Rinda, ini laporan yang di minta bu Linda untuk Bu Riska koreksi, minggu depan bagaimana Bu Rinda sudah bisa masuk ke kantor?" tanya Bu Riska.
"Semoga saja Bu," jawabku.
"Oh iya ini ada titipan dari bu Linda," kata Bu Riska sambil memberikan amplop coklat kepadaku dan aku menerimanya.
"Bu Rinda, maaf saya tidak bisa lama di sini, anak saya sudah menunggu di rumah, saya segera pamit," kata Bu Riska sambil berdiri dari tempat duduknya.
"Iya Bu terima kasih ya," ucapku.
"Hati-hati di jalan Bu, salam untuk keluarga," kataku saat Bu Riska sudah berada di atas sepeda motornya dan menyalakan sepeda motornya, perlahan meninggalkan rumah ibu mertua, setelah kepergian bu Riska aku menutup pintu pagar dan masuk menuju ke ruang tamu.
Membuka isi kardus mengambil laporan bulan pertama saat ibu mulai tidak mengoreksi laporannya, lembar demi lembar aku buka, ada beberapa transaksi juga yang mencurigakan, aku berdiri dan berjalan ke arah kamarku mengambi kertas dan bolpoin kemudian kembali ke ruang tamu.
Satu demi satu yang aku curigai aku kumpulkan, tak terasa sudah adzan maghrib, aku menyelesaikan dulu pekerjaan ini kemudian di lanjut nanti sama Nia, kami sholat maghrib berjamaah.
"Nia, ayo makan, setelah ini bantu aku mengecek laporan keuangan kantor ibu mertua, oh iya ini dari kantor ibu untukmu," kataku sambil menyerahkan amplop ke Nia.
"Terima kasih Rin," kata Nia sambil menerima amplop dariku dan kami berjalan menuju ke meja makan untuk makan malam, Vano berlari mengikutiku dan bergabung bersama kami untuk makan malam.
Setelah itu, aku dan Nia berjalan ke ruang tamu ikut mengecek laporan tersebut, ada juga yang membuat Nia curiga dan di tulisnya di kertas.
Kami berdua mengumpulkan semua data yang kami curigai dan aku foto kemudian aku kirim ke whats up ibu mertua.
"Rin... aku semakin curiga saja sama bagian keuangan bironya ibumu," kata Nia.
"Iya Nia aku juga curiga, ada yang di mark up sepertinya," kataku.
"Sudah malam Nia ayo istirahat," kataku sambil mendekati Vano.
Vano terlihat sudah mengantuk dan aku ajak tidur di kamar.
Vano naik ke atas pembaringan dan aku mengikutinya, mencium wajah Vano dan mengusap rambutnya, terlihat matanya mulai terpejam dan akhirnya tertidur.
Setelah Vano tidur akupun merebahkan tubuhku, kurang dua bulan lagi kamu lahir nak, batinku sambil mengusap lembut perutku, dan terasa ada gerakan kecil dari dalam perutku, aku tersenyum bahagia dan mulai memejamkan mataku.
__ADS_1