
Mentari pagi bersinar memancarkan kehangatan di muka bumi ini. Pagi ini adalah sidang kedua perceraianku dengan Ardi.
"Rin jadi siapa yang kamu jadikan saksi ke pengadilan?" tanya Bapakku.
"Entahlah?" jawabku pasrah.
"Bapak katanya gak bisa, Adik di luar kota,
terus siapa yang bisa kujadikan saksi?" lanjutku.
"Biar bapak sama Ibumu saja yang jadi saksi, biar segera selesai perceraianmu dan kamu bisa fokus sama Vano dan pekerjaan kamu" ucap Bapak.
"Terus Vano sapa yang jaga?" tanyaku.
"Vano kan bisa kamu taruh di Penitipan anak Rin, nanti kalau sudah selesai di Pengadilan kamu bisa ambil" kata Bapak.
Akhirnya aku berkemas-kemas menyiapkan Vano di penitipan anak dan ke Pengadilan agama, aku lihat Bapak dan Ibu juga demikian, kami berangkat terpisah karena aku ke Penitipan anak dulu baru ke Pengadilan agama, sampailah aku di Pengadilan agama, setelah aku parkir sepedaku dan menuju ruang tunggu, kulihat Bapak dan Ibuku dan aku menghampiri beliau.
"Belum ada panggilan ya Bu?" tanyaku pada Ibuku.
"Belum ada Rin, kamu bawa air minum gak? tanya Ibu.
"Bentar Bu, aku ke kantin dulu beli air minum" kataku.
Segera aku menuju ke kantin untuk membeli air minum dan kembali menuju kedua orang tuaku yang masih setia duduk di kursi ruang tunggu.
"Ini airnya" kataku sambil meyodorkan air minum ke kedua orang tuaku.
Waktu sudah menunjukkan pukul 10:00 belum ada panggilan juga, aku melangkah ke meja petugas dan menanyakan tentang sidangku, kata petugas tersebut untuk menunggu panggilan masuk sidang.
Setengah jam berlalu, belum juga namaku dipanggil.
"Rin, Ardi apa datang hari ini?" tanya Ibu.
"Enggak kayaknya Bu" jawabku.
"Arinda Widya Arini dan Ardiansyah Ma'ruf mohon masuk ke ruang sidang 2 bersama dengan saksi"
Kudengar ada panggilan namaku segera aku menuju ruang sidang bersama kedua orang tuaku.
Hatiku sebenarnya dag dig dug gugup gemetar masuk ke ruang sidang ini, banyak yang ada dalam pikiranku, aku takut sidang gagal, aku takut tiba-tiba Ardi datang menggagalkan perceraian ini, sudahlah aku pasrahkan saja semua pada sutradara hidupku Allah.
Bismillah doaku dalam hati memasukki ruang sidang.
__ADS_1
"Ibu Arinda Widya Arini?" tanya Pak jaksa
"Bu Arinda sudah membawa saksi dan siap menjalankan sidang tanpa paksaan?" lanjut Pak jaksa
"Siap" jawabku singkat
Kemudian aku dan kedua orang tuaku disuruh berdiri untuk mengikuti pak jaksa membacakan sumpah di bawa Al quran
Kemudian duduk kembali dan sidang dibuka, Pakk jaksa menanyakan kepada kedua orang tuaku tentang gugat ceraiku dan kedua orang tuaku dengan lancar bercerita tentang semua yang beliau-beliau tau permasalahanku tanpa menutup-nutupi.
"Saksi-saksi silahkan keluar ruangan" kata Pak jaksa.
"Bu Arinda, ada yang perlu disampaikan kepada suami Ibu? atau ada yang perlu ditanyakan lagi sebelum dibacakan talak?" tanya Pak jaksa.
"Untuk suami tidak ada pesan Pak, yang saya tanyakan bagaimana dengan hak asuh anak?" tanyaku.
"Anak Ibu laki-laki usianya masih sekitar 3 tahun, sekarang posisi anak Ibu ikut Ibu atau suami Ibu?" tanya pak jaksa.
"Ikut dengan saya pak" jawabku.
"Melihat perilaku bapaknya seperti itu saya ingin hak asuh anak jatuh ke tangan saya Pak" pintaku.
"Bu Arinda, karena anak Ibu laki-laki dan masih balita otomatis hak asuh anak ikut Ibu, apalagi Ibu juga seorang pekerja, bila ke depan terjadi perebutan anak maka Ibu bisa mengajukan sidang lagi tentang hak asuh anak.
Setelah keluar dari ruang sidang kulihat Bapak dan Ibukku masih menunggu disana kuhampiri beliau dan berkata
"Bapak ibuk pulang dulu, sidang sudah selesai aku mau kesana dulu dan menjemput Vano" kataku.
"Hati-hati Rin" pesan bapak.
"Iya Pak dan terimakasih" jawabku.
Kulihat kedua orang tuaku pergi meninggalkan pengadilan agama dengan tetap mesra berjalan bergandengan tangan, hatiku iri kenapa aku tidak bisa seperti beliau? ah sudahlah ini sudah digariskan sama Allah tak perlu berharap sama dia lagi untuk kembali kataku dalam hati.
Melangkah menuju loket tak jauh dari tempatku duduk dan menyerahkan berkas, kemudian menunggu dipanggil, tak lama kemudian ada panggilan namaku, aku menuju loket semula.
"Bu, ini kembalianya" kata petugas sambil menyodorkan kwitansi dan kembalian sejumlah uang.
"Dua minggu lagi akta cerai bisa diambil disini ya Bu" jelas petugas tersebut, aku menganggukkan kepala dan pergi meninggalkan pengadilan agama menuju penitipan anak mau menjemput Vano, jam di pergelangan tangan kiriku menunjukkan pukul 12:30
Kutelpon Nia.
"Assalamualaikum" sapaku.
__ADS_1
"Waalaikumsalan Rinda, bagaimana sidang hari ini?" tanya Nia bersemangat.
"Kamu keluar ku tunggu di rumah makan seperti biasa aku disana sekarang?" kataku.
"Oke oke aku meluncur ya" jawab nia bersemangat.
Sambil menunggu Nia datang aku memesan minuman tak lama kemudian Nia datang.
"Nia kamu sudah makan apa belum?" tanyaku.
"Sudah Rin tadi di kantinya mbak yah" jawabnya.
"Mau minum apa?" kataku lagi.
"Es teh saja" jawab Nia.
Menuju ke kasir lagi dan memesan makanan serta minuman kemudian aku kembali ke meja dimana Nia menunggu.
"Nia, statusku sekarang bukan lagi istri hari ini, aku janda beranak satu" mulai aku bercerita.
"Entahlah Nia, dengan statusku begini bagamaina aku di masyarakat? pasti banyak yang mencemooh dan mencurigaiku ya, apalagi ibu-ibu pasti mulai bergosip ria" lanjutku.
"Aku ini senang juga sedih Nia" berkaca-kaca mataku
"Aku senang bisa terlepas dari laki-laki itu laki-laki yang merusakku lalu menikahiku dan menyakitiku gak taulah dari apa hati dia terbuat? apa salahku ke dia? sehingga dia begitu kejam menyakitiku?" lanjutku.
Nia mendengarkan ceritaku dengan serius dan berkata
"Rinda sabar Rin disaat ada hujan pasti ada pelangi yang indah yang menghiasi kehidupanmu, kamu yakinlah pasti ada miracle-miracle dari Allah tanpa kamu duga kelak dikemudian hari" tutur Nia
Sambil makan aku mendengarkan Nia
"Iya Nia makasih ya nasehat-nasehatnya, terimakasih juga sudah selalu sabar mendengar cerita-ceritaku" kataku.
"Yang penting kamu optimis Rin dengan kehidupanmu, toh kamu ada penghasilan, terus kamu juga bukan tipe perempuan penggoda, cuek sajalah Rin sama omongan orang, yang penting kamu juga Vano heppy" Nia menasehatiku.
"Nia kamu baik sekali, kamu sahabatku, terima kasih ya" ucapku.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan jam satu kurang sepuluh menit
"Nia bukan aku mengusirmu, segera balek ke kantor sudah jam segini, aku besok masuk dilanjut ceritanya besok ya" pintaku.
"Oke Rin, tetap selalu senyum ya.. biar awet muda biar segera ada pengganti ayah untuk Vano yang sayang sama Vano" seloroh Nia sambil meninggalkanku.
__ADS_1
Sepeninggal Nia, segera kuhabiskan makanku kubayar dan aku pergi meninggalkan rumah makan tersebut menuju penitipan anak menjemput Vano.