
Tante Linda tersenyum mendengar jawabanku
"Ayo ke dalam Rin" ajak tante Linda
"Arif ajak Vano juga, ayo makan bareng" ajak tante Linda pada mas Arif
Masuk ke dalam rumah mas Arif, kulihat-lihat sangat bagus penataan ruanganya, ada piano di ruang keluarga, ada musholla dan yang menarik hatiku ada perpustakaan kecil di sudut sana
"Heh...lihat apa?" kaget mas Arif
"Eh enggak, suka banget aku lihat rumah ibumu, asri...penataan bagus, suka sekali" kataku kagum
"Mau tinggal disini?" tanya mas Arif
"Enggak mas gak enak" kataku
"Gak apa-apa ya bu, kalau Rinda tinggal disini!" kata mas Arif
"Hust jangan banter-banter didengar tante Linda, dikira apa nanti" kataku sambil mencubit mas Arif
"Aduh, sakit" kata mas Arif
"Syukur" jawabku
"Ada apa Rif? kok tadi ngomong apa kamu?" tanya tante Linda
"Iniloh Rinda pingin tinggal disini" katanya
"Hiii mas Arif ngomong apaan sih, enggak tante" kataku
tante Linda hanya menggelengkan kepala
"Kalian dari dulu tetap seperti ini kalau ketemu, jodoh itu mungkin ya" kata tante Linda
Kami saling berpandangan dan tersenyum kemudian tertawa bareng.
"He he he"
Di meja makan, kami berempat duduk menikmati makanan yang sudah disiapkan tante Linda, aku mengambil makanan yang tidak pedas untuk mengambilkan Vano makananya
"Vano makan sendiri ya, hati-hati jangan sampai tumpah" kataku
"Aku gak kamu ambilkan Rin?" tanya mas Arif
"Gak bisa ambil sendiri mas? biasanya gak ada aku bisa ambil sendiri gitu? mau romantis ya di depan tante Linda?" godaku
Sambil mengambilkan nasi sayur ikan yang diinginkan mas Arif, tante Linda tersenyum melihat tingkah laku kami
"Tante enak loh masakanya"kataku
"Rin... belajar masak sama ibu, biar pinter masak" kata mas Arif
__ADS_1
"Boleh tante?" tanyaku
"Iya boleh Rin, kamu sering-sering saja main ke sini, gak ada Arif gak apa-apa main ke sini" kata tante Linda
"Insyaallah tante" kataku
Setelah makan bersama kami pindah ke ruang keluarga, ruang yang lumayan luas, mas Arif menggendong Vano menuju piano
"Om, ajari ya...mainnya" kata mas Arif
"Ini kalau di pencet bunyi do" kata mas Arif
Vano begitu menikmati memencet-mencet piano, sedangkan aku masih asyik ngobrol dengan tante Linda, banyak cerita dari tante Linda kadang aku tertawa karena lucu
"Rinda... ini tadi ada client tante yang mau bertemu tante, jam 1 an sih janjinya" kata tante Linda
"Tante mau kesana?" tanyaku
"Iya, kasihan sih, ada trauma, client tante ini mengalami KDRT" jelas tante Linda
"Kasihan ya tante, tante hati-hati di jalan, Rinda pamit pulang ya tante" kataku
"Kamu disini sampai lama gak apa-apa, Arif sudah jinak jangan takut" katanya lagi
Aku hanya tersenyum malu mendengar ucapan tante Linda, jinak hahaha anaknya dibilang jinak.
Tante Linda keluar meninggalkan rumah mengendarai sepeda motor, tinggal kami bertiga, Vano terlihat mengantuk
"Kenapa buru-buru" tanya mas Arif
"Gak enak sama orang yang lihat, bisa jadi fitnah" kataku
"Kita gak ngapa-ngapain Rin, biarkan mereka menilai sendiri dari sikap kita" kata mas Arif
"Vano sudah ngantuk, kamu tidurkan di kamar tamu dulu" kata mas Arif sambil menunjuk kamar tamu, kulihat mata Vano sudah ngantuk berat, kutemani disampingnya sambil mengelus-ngelus rambutnya, beberapa menit kemudian Vano terlelap tidur, kutinggalkan Vano di kamar aku menuju ke mas Arif yang duduk di sofa ruang keluarga sambil melihat TV
Di ruang keluarga, aku duduk di sebelah mas Arif, mas Arif melihatku duduk di sebelahnya tak berkata apa-apa, kami diam tidak ada yang memulai pembicaraan beberapa saat kemudian...
"Rin..."ucapnya sambil memeluk pundakku
"Mau ya menungguku pulang tiga bulan lagi" lanjutnya
"Emang ada apa mas tiga bulan kemudian, mas mau pulang bawa perempuan dari sana?" godaku
"Rinda..... " teriak mas Arif
"Hust jangan keras suaranya, Vano tidur" kataku sambil telunjuk tanganku kutaruh di bibirku.
"Kenapa mas" tanyaku dengan nada serius
"Aku ingin melamarmu nanti bidadariku" jawab mas Arif
__ADS_1
"Kamu mau ya jadi istriku?" tanya mas Arif
aku menganggukan kepala dan menghela nafas panjang
"Mas... jangan menghilang lagi" kataku sambil menyandarkan kepalaku ke pundak mas Arif, tak terasa air mataku jatuh
"Sudah... jangan nangis lagi ya..." kata mas Arif sambil menghapus air mataku
"Bicaralah Rin, apa yang menjadi ganjalan hatimu?" tanyanya
"Mas... aku takut kehilanganmu lagi seperti sepuluh tahun yang lalu, aku takut kalau ini hanya mimpi, aku takut kecewa aku takut sakit hati lagi" kataku sambil terisak
Mas Arif merangkulku mencium keningku, menghadapku memegang pundakku
"Rin... aku buktikan janjiku, aku tidak akan meninggalkanmu lagi...tiga bulan lagi aku pulang, aku ke rumahmu bersama ibuku melamarmu, tunggu aku" katanya lagi
Tersentuh dengan perkataan mas Arif, aku memeluknya dan menangis di pelukannya
"Maafkan aku mas, aku tidak bisa membohongi hatiku, aku cinta mas Arif, aku rindu sekali mas... tapi apa mas Arif tidak menyesal menikahiku? aku tidak bisa memberikan kesucianku padamu, aku malah memberi anak yang bukan darah dagingmu" kataku lagi
"Hust jangan ngomong begitu, kasihan Vano, Vano anak yang ceria aku suka denganya" katanya.
Masih di ruang keluarga, semua rasa berkecamuk di dalam dada tak ingin waktu segera berlalu tak ingin meninggalkan mas Arif, ingin berada disisinya selalu
"Rin..." kata mas Arif dan mencium bibirku mesra... menikmati sentuhanya...
"I love you bidadariku" setelah berkata kembali mencium bibir mungilnya, aku hanyut dalam kemesraan ini, serasa ingin menikmati sepanjang hari
"Mas..." kataku
"Apa sayang... mau lagi" katanya
aku tersenyum malu, jangan minta lebih dulu ya mas... kataku sambil mencium mas Arif
"Aku juga cinta mas Arif" kataku sambil tersenyum, kusandarkan kepalaku di pundaknya sedangkan mas Arif merangkulku tatapan mata kami sesekali saling memandang, hati kami sedang berbunga-bunga, dan lagi ciuman itu mendarat di bibirku, kini aku sudah di bawah mas Arif...hanyut dalam setiap sentuhanya jiwaku melayang jauh...
"Mas... " mas Arif hanya diam kupanggil, tapi tanganya sudah menyibak jilbabku mencium leherku, hanya terdengar nafas kami
"Mas... jangan diteruskan mas..." pintaku sambil terisak
"Aku takut mas" kataku
"Maaf Rin.. maafkan aku..., aku tergoda melihatmu" katanya
"Mas... Rinda mohon nanti kalau sudah menikah, nikmati semua yang ada di Rinda jangan sekarang, aku mohon mas" pintaku
Masih terisak, mas Arif mengangguk, mengusap air mataku mencium keningku dan meninggalkanku berjalan ke belakang, aku masih terpaku duduk di sofa.
Beberapa menit kemudian dari belakang terlihat mas Arif berjalan ke ruang keluarga, mas Arif terlihat lebih segar sepertinya habis mandi
"Baru mandi mas"? tanyaku, mas Arif tersenyum melihatku
__ADS_1
"Iya... gak tahan dengan godaanmu" bisiknya