Lika-Liku Single Parent

Lika-Liku Single Parent
Sarapan Istimewa


__ADS_3

Bangun tidur suamiku sudah tidak ada di sampingku, tumben sekali, batinku.


Beranjak dari tempat tidurku masuk ke dalam kamar mandi untuk menggosok gigi dan cuci muka kemudian keluar kamar tidur.


Tumben sekali suamiku di dapur? Mimpi apa dia semalam? Batinku.


Aku masuk ke dalam kamarnya Vano, ya… dia masih tidur dengan nyenyaknya, kukecup lembut pipinya, dia menggeliat sebentar.


Melangkah menuju dapur, melihat suamiku sedang apa di sana.


“Sudah bangun Rin” sapanya dan tersenyum.


“Mau buat apa?” tanyaku dengan wajah heran.


Dia tersenyum melihatku.


“Mau buat sarapan untuk istriku” katanya.


“Mimpi apa semalam?” aku bertanya kepada suamiku sambil mengambil gelas dan aku isi dengan air putih lalu duduk di kursi di dapur dan meminumnya perlahan.


“Mimpi bercinta dengan istriku” jawabnya sambil tangannya memegang sepatula menggoreng sesuatu.


Aku hampiri suamiku dan melihatnya “Oh… buat orak arik dari telur sama apa itu?’ tanyaku.


“Sama cinta” jawabnya.


Aku tersenyum dan tertawa


“He he he”


“Sudah selesai, ayo sarapan bersama” kata Mas Arif sambil membawa piring berisi orak arik telur ke meja makan dan menyiapkan piring dan sendok untukku dan untuknya.


“Setiap hari begini juga enak ya” gumamku.


“Kamu ngomong apa tadi Rin?” tanya Mas Arif


“Enggak ngomong apa-apa, hanya heran saja, suamiku sepagi ini bangun menyiapkan sarapan untuk istrinya” jawabku sambil menatap mesra wajah suamiku yang duduk di sampingku.


Mas Arif memelukku dan bibir kami saling bertemu, menikmati ciuman di pagi hari.


“Dua hari kamu mendiamkanku rasanya gak enak sekali Rin” bisiknya setelah melepas ciumannya.


“Aku mencintaimu” bisiknya lagi dan kami saling menikmati ciuman pagi ini.


“Ayo sarapan masakanku” kata Mas Arif


Aku berdiri mengambil nasi untukku dan suamiku kemudian mengambil telur orak-arik buatan Mas Arif, ya seperti tumis sih, karena dicampur dengan wortel yang diiris memanjang dan ada jamur


kancingnya.


“Terima kasih suamiku” ucapku setelah pertama kali aku memasukkan makanan ke dalam mulutku, enak juga masakan suamiku ini, kapan-kapan diemin lagi ah, biar dimasakan enak he he he, katahatiku dan aku tersenyum-senyum.


“Kenapa senyum-senyum begitu?” tanya Mas Arif.


“Gak kenapa-napa, memang gak boleh?” jawabku dan balik bertanya.

__ADS_1


“Enak enggak?” tanya Mas Arif.


“He em, enak banget” kataku.


“Terima kasih ya” ucapku sambil tersenyum memandang suamiku.


Ketika kami menyelesaikan sarapan pagi ini, ya sarapan pagi yang tidak seperti biasanya, Vano keluar kamar


menghampiri kami di meja makan.


“Vano juga mau sarapan?” tanyaku sambil menundukkan tubuhku agar dekat dengan Vano.


Vano menganggukkan kepalanya dan duduk di sampingku.


Aku mengambil piring dan nasi serta telur orak-arik buatan Mas Arif dan memberikan kepada Vano, Vano sarapan di temani Mas Arif sedangkan aku mengambil panci untuk aku isi air dan aku panaskan di atas kompor. Setelah


panas airnya aku masukkan ke dalam bak mandi.


“Vano…selesai sarapan mandi, Bunda mau menyiram bunga di depan” kataku kemudian aku keluar rumah.


Di teras rumah aku menyirami tanaman ibu mertua setelah selesai aku masuk ke dalam rumah membawa sapu dan menyapu lantai rumah, selesai pekerjaan rumah kulihat jam di dinding rumah menunjukkan


masih pukul tujuh pagi.


Vano sudah selesai mandi, aku segera mengganti baju seragamnya kemudian aku mandi dan bersiap untuk berangkat kerja. Ibu mertua turun dari lantai dua, sepertinya tidak bekerja hari ini melihat


pakaiannya


masih pakaian rumah, aku menyapanya.


“Kamu mau berangkat kerja Rin?” tanya Ibu ketika berdiri di sampingku.


“Iya Bu, Ibu sendiri?” tanyaku.


“Aku gak kerja Rin, minggu depan aku mau ke Jogja, sepertinya agak lama” kata Ibu.


“Iya Bu, salam untuk Vera, nanti kami akan ke sana” kataku.


“Rinda berangkat dulu Bu, hari ini di rumah ini ada sarapan spesial Bu” kataku dan tersenyum.


“Spesial bagaimana?” tanya Ibu agak heran.


“Iya spesial karena yang membuat sarapan hari ini anak Ibu yang paling cakep” kataku.


Kulihat Ibu merasa heran, Mas Arif yangmendengarkan pembicaraan kamipun menimpali perkataan kami “Sekali-kali menyenangkan istri” katanya.


“Entar tidak enak” kata Ibu masih tidak percaya.


“Enak kok Bu” jawabku sambil mengacungkan jempol tanganku.


“Coba aku incipi” kata Ibu sambil berjalan menuju meja makan dan mengambil sendok kemudian mengambil orak arik buatan Mas Arif dan memasukkan ke dalam mulutnya dan mulai mengunyahnya juga


merasakannya.


“Lumayan juga anak Ibu bisa masak” kata Ibu memuji Mas Arif.

__ADS_1


“Ibu sarapan dulu, Arif mau mengantar Rinda dan Vano” pamit Mas Arif.


Kami mendekati Ibu yang sedang duduk di meja makan dan saling menyalami Ibu kemudian keluar rumah tak lupa kami mengucapkan Assalamualaikum kepada Ibu.


Mobil melaju meninggalkan rumah Ibu mertua, seperti biasanya tujuan awal adalah sekolah Vano setelah itu tempatku bekerja.


Sampai di parkiran mobil tempatku bekerja, Mas Arif menatapku dengan pandangan lembut.


“Rinda, jangan marah lagi ya” katanya pelan.


Aku tersenyum mendengar perkataan suamiku.


“Sebenarnya Rinda suka marah loh Mas, iya marah sama Mas tiap hari, karena kalau aku marah mas terlihat sangat peduli denganku, contohnya pagi ini” kataku dengan senyum menggodaku.


“Rinda… kamu bener-bener mau mengerjaiku ya?” tanyanya dengan expresi wajah jengkel juga setengah marah.


“Hei, jangan begitu entar hilang cakepnya loh” jawabku.


“Rinda, aku gak betah kamu diami terus seperti kemarin, aku gak mau lagi, karenanya aku ingin membuatmu tidak marah, aku bangun pagi menyiapkan makanan untukmu ketika kamu bangun sudah


siap, itu hasil olahan


tanganku sendiri untuk orang spesial dalam hidupku, walaupun tidak seenak masakannya warung tapi setidaknya aku berusaha” katanya.


Aku tersenyum dan memeluk tubuh suamiku setelah melepas tali pengaman.


“Terima kasih suamiku, semoga tidak pernah berubah cintamu dan perhatianmu kepadaku” kataku pelan dan aku turun dari mobil setelah mencium pipi suamiku dan menyalaminya.


Berjalan menuju ke kantorku dengan perasaan yang gembira, seperti pagi ini cuaca begitu cerahnya langit terlihat sangat biru.


Aku memasukki ruang kerjaku tersenyum kepada beberapa teman yang sudah datang, kemudian duduk di kursi kerjaku dan menyalakan komputer, lagu-lagu berirama tenang mengiringi aktifitas pagi ini.


“Rinda, kamu kok seneng banget hari ini, beda dengan kemarin? Tanya Nia.


“iya hari ini suamiku sedang menyenangkan istrinya dengan caranya” jawabku.


Nia penasaran dengan jawabanku dan bertanya kembali kepadaku.


“Maksudmu?”


“He he he” aku tertawa melihat Nia yang sedang penasaran.


“Mau tau, suamiku pagi ini masuk ke dapur membuat sarapan ketika aku masih tidur” jawabku dengan bersuara pelan.


“Hah” kata Nia terkejut.


“Sudah kamu apakan kok sok sweet begitu? Dia ada uang kenapa tidak beli saja, malah repot memasak di pagi buta” kata Nia heran.


“Karena ingin menyenangkan istrinya” jawabku.


“Enak tidak masakannya?” tanya Nia kembali.


“Jelas enak loh, masakan dibuat dengan cinta he he he” kataku sambil tertawa.


“Sudah ayo bekerja, ngomongin suamiku saja” kataku mengakhiri obrolan di pagi hari ini.

__ADS_1


__ADS_2