Lika-Liku Single Parent

Lika-Liku Single Parent
Tersenyum Bahagia


__ADS_3

Setelah selesai bertelepon dengan Mas Deni, Nia memberikan hp kepadaku, aku melihat senyum bahagia di raut mukanya, aku pun tersenyum melihat sahabatku ini, semoga ada jodoh dengan Deni dan segera menikah, melihat


usia Nia yang tidak remaja lagi, batinku.


“sepertinya sudah klik ini.” Godaku sambil menyandarkan tubuhku di sofa ruanga keluarga.


Nia tersenyum bahagia.


“Rin, kamu jangan menggodaku terus begini, jadi malu aku,” kata Nia.


“Aku melanjutkan dekor seserahanya adikmu saja.” Nia berusaha mengalihkan pembicaraan.


“Iya dengan senang hati, Nia, kalau capek istirahatlah, aku juga mau tidur siang setelah sholat duhur.” Pamitku.


“Iya Rin, aku sedang libur jadi gak sholat, terus Vano ini bagaimana?” tanya Nia sambil melihat Vano yang sedang tidur di karpet.


“Biarkan saja, nanti bangun sendiri,” jawabku sambil berlalu meninggalkan Nia yang sedang mendekor seserahannya Faris.


Masuk ke kamar mandi untuk mengambil wudhu dan melaksanakan sholat duhur, setelah itu aku masuk ke kamar lagi berniat untuk istirahat siang.


Sore hari sekitar jam 4, Ibu datang bersama dengan Faris.


“Vano ini ada telur bebek asin,” kata Ibu seraya memanggil Vano.


Vano mendengar telur bebek asin segera berlari menghampiri Ibuku.


“Bunda, mau makan ini, kupaskan ya.” Pinta Vano.


Aku mengambil telur bebek dan mengupas cangkangnya kemudian kuberikan kepada Vano dan Vano sedikit demi sedikit menggigit telur asin tersebut.


“Mbak kok cepat sekali selesai dekor seserahanku, bagus sekali.” Teriak Faris dari ruang keluarga.


“Tembak Mbak yang buat, sekarang masih istirahat di kamar,” jawabku.


“Bilang terima kasih ya Mbak, sama teman Mbak.” Pesan Faris.


“Iya,” jawabku.


“Siapa temanmu Rin?” tanya Ibu penasaran.


“Nia Bu, teman kuliahku dulu itu loh,” jawabku.


“Oh… Nia di sini, kapan?” tanya Ibu.


“Tadi pagi kesini, sekarang masih tidur di kamarku, capek dekor segitu banyaknya, aku saja hanya dapat 3 buah,” kataku.


“Nanti tidur di sini Nia?” tanya Ibu.


“Iya Bu aku suruh tidur di sini kan besok kerja jadi bareng sama Rinda berangkatnya,” jawabku.


“Mbak Rinda, aku pamit ke Surabaya dulu Mbak, nanti kemalaman belum lagi macetnya,” kata Faris.


“Ris, seserahanmu itu tolong kamu bawa ke sana.” Pintaku sambil menunjuk ke arah perpustakaan keluarga.


“Sini ya Mbak?” tanya Faris sambil meletakkan seserahanya di tempat yang aku maksud.


“Iya,” Jawabku.


Ibu menuju ke meja makan.


“Rin… kamu beli banyak makanan?” tanya Ibu.

__ADS_1


“Iya Bu, biar Ibu nanti gak usah masak, itu saja kan cukup sampai nanti malam,” kataku.


“Boros juga kamu Rin, beli-beli di warung saja, Ibu juga bisa masak beginian.” Ibu mulai mengomel.


“Ah Ibu dienakin anak masih protes saja, Bapak bagaimana sehat?” tanyaku.


“iya sehat Rin,” Jawab Ibu.


Faris menghampiri kami setelah selesai menaruh semua seserahanya.


“Ibu, Mbak Rinda, aku pamit dulu ya.” Pamit Faris.


“Iya hati-hati.” Pesanku dan Ibu.


Ketika Faris melangkah keluar rumah, Nia membuka pintu kamarku.


“Ini Mbak Nia yang mendekor seserahanku?” tanya Faris.


Nia tersenyum saja melihat Faris.


“Terima kasih Mbak sudah membantu.” Ucap Faris.


“Iya sama-sama, kamu mau ke mana?” tanya Nia.


“Mau ke Surabaya Mbak,” jawab Faris.


“Iya hati-hati.” Pesan Nia.


Nia menghampiri kami dan bergabung bersama kami, dari dalam terdengar suara pintu pagar di tutup dan perlahan suara sepeda motor Faris menjauh.


Kami ngobrol-ngobrol banyak hal bersama, saling membantu pekerjaan rumah, dan bersantai bersama, serasa hidup rumah ini kalau seperti ini.


Sehabis sholat isya, kami masih terus bercanda dan mengobrol obrolan ringan, Vano sudah mulai mengantuk dan pergi ke kamarnya kemudian aku mengikutinya, sedangkan Ibu dan Nia masih berada di ruang keluarga.


“Bu, Nia ini sekarang sedang pendekatan sama temannya Mas Arif,” kataku.


“Semoga berjodoh ya.” Harapan Ibu.


“Aamiin….” Ucap Nia.


“Bu, Rinda istirahat dulu, Nia kalau kamu masih mau lihat acara sinetron sama Ibu lanjutkan saja,” kataku sambil berdiri dan menuju ke kamar tidur untuk merebahkan tubuhku.


Jam di dinding menunjukkan sudah jam 8 malam tapi mataku ini kok cepat mengantuk sekali ya, mungkin bawaan hamil ini jadi cepat ngantuk.


Tak lama kemudian Nia masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya kemudian menghampiriku dan tidur di sebelahku.


“Kamu belum juga tidur Rin?” tanya Nia.


“Ini mau tidur,” kataku sambil mengusap perutku.


“Rin hamil itu berat ya?” tanya Nia serius.


“Bukan berat tapi ya harus di jalani Nia, perempuan kan kodratnya hamil, melahirkan,” jawabku.


“Waktu kamu melahirkan Vano dulu, sakit enggak?” tanya Nia.


“Ya sakit, tapi gak juga sih, kalau sakit gak mungkin lah perempuan-perempuan mau hamil lagi, he he he,” jawabku dan tertawa.


“Yang bener saja Rin,” kata Nia.


“Makanya segera menikah, biar tau rasanya hamil juga mau hamil lagi,” kataku.

__ADS_1


“Gimana sih kamu ini, aku saja baru kenal sehari, masak langsung nodong Mas Deni segera ngawini aku sih,” kata Nia agak jengkel.


“He he he,” aku tertawa saja.


“Nia, kira-kira bagaimana Deni itu, serius apa tidak ya?” tanyaku.


“Sepertinya sih serius coba tanya sama suamimu Rin,” tanya Nia.


“Besok saja, di sana sudah malam pasti sudah istirahat Mas Arif,” jawabku.


“Ayo istirahat Nia, aku mulai mengantuk ini,” kataku.


Kemudian aku memeluk guling dan mulai memejamkan mataku.


Keesokan hari setelah sarapan kami bersiap untuk berangkat bekerja dan mengantarkan Vano.


“Bu berangkat dulu,” kataku juga Nia dan kami juga Vano bersalaman dengan Ibu.


“Iya hati-hati.” Pesan Ibu ketika berdiri di teras rumah sambil melambaikan tangannya.


Kami berkendara sepeda motor menuju ke sekolahnya Vano dulu kemudian baru ke kantor.


Masuk ke dalam ruang kerjaku, Widya sudah berada di sana dengan senyum cerianya.


“Apa ada yang sedang jatuh cinta lagi ini?” tanyaku.


Widya tersenyum mendengar pertanyaanku.


“Rin, terima kasih ya sudah ngenalkan aku sama Mas Yusuf,” jawabnya.


Aku menggelengkan kepalaku dan tersenyum memandang kedua temanku ini.


Duduk di kursiku dan menyalakan komputer dan meletakkan kotak makanan berisi siomay di depanku.


Widya mendekatiku.


“Apa itu Nia?” tanya Widya.


“Gak boleh minta, anakku nanti nangis,” kataku sambil memegangi kotak makanan.


“Ya Allah pelit amat sih kamu Rin, aku loh hanya tanya gak minta,” kata Widya.


“Sama anaknya saja rebutan makanan Wid.” Nia menimpali.


“Kok bisanya begitu?” tanya Widya.


“Tanya sendiri sama Rinda,” kata Nia.


Aku tersenyum mendengar pembicaraan mereka dan membuka kotak makananku dan memakan siomay yang aku cocol dengan saos satu persatu.


“Kalian ini gak tau rasanya orang hamil ya, ya begini ini sepertiku, makanya segera hamil biar tau rasanya,” kataku.


“Amit-amit Rin, jangan sampai aku hamil sepertimu menjadi pelit,” kata Widya.


“Eh bagaimana dengan Mas Yusuf?” tanyaku.


“Malu aku ceritanya, yang jelas kami saling pendekatan, doakan ya berjodoh,” jawab Widya.


“Aamiin....” Aku mengamini doa Widya.


“Ayo dilanjut kerjanya,” kata Nia mengingatkan.

__ADS_1


Widya kembali ke tempat duduknya, dan kami mulai beraktifitas bekerja.


Waktu pulangpun tiba, aku menjemput Vano terlebih dahulu kemudian pulang ke rumah.


__ADS_2