
Sabtu pagi, Faris datang ke rumah mertua dengan membawa beberapa barang untuk acara lamaran seminggu lagi.
“Pagi sekali Ris?” tanyaku.
“Iya Mbak, ini mau membeli tempat untuk seserahan, Mbak bisa bantu Faris mengemasinya?” tanya Faris.
“Dengan senang hati,” jawabku.
Faris memandangiku lebih lama.
“Mbak kok kelihatan gemuk? Apa Mbak sedang hamil?” tanya Faris.
“Iya Ris, mungkin Mbak gak bisa ikut kamu lamaran minggu depan, jadi Mbak bantu mengemasi seserahan ya, nanti sekalian kamu beli pita juga jarum pentul, punya Mbak gak cukup, ada di toko asesoris” kataku.
“Iya Mbak” kata Faris sambil berjalan menghampiri Ibu yang sedang menyiapkan sarapan.
“Ayo sarapan semuanya.” Ibu mengajak kami untuk sarapan bersama.
Vano berlari dan duduk di kursi meja makan, menungguku makanan yang aku ambil untuknya.
“ini Vano,” kataku sambil menyerahkan piring berisi makanan dan jus buah naga.
Kami segera menikmati sarapan bersama.
“Bu aku keluar dulu membeli sesuatu.” Pamit Faris ke Ibu.
“Iya hati-hati, Ibu sekalian nitip beli sayur dan lauk di pasar ya, ini daftar belanjanya, uangnya minta Mbak Rinda,” kata Ibu.
Aku menyerahkan sejumlah uang kepada Faris.
“Mbak gak nitip apa-apa lagi?” tanya Faris.
“Sudah Ris, nanti sore saja Mbak belanja sendiri di depan,” jawabku.
“Hati-hati.” Pesanku.
“Iya Mbak,” jawab Faris kemudian keluar mengendarai sepeda motornya membeli beberapa kebutuhan untuk lamarananya, aku di rumah dan duduk santai di ruang keluarga bersama Vano dan Ibuku.
“Tak terasa sudah tiga minggu Ibu di sini ya Rin,” kata ibu memulai pembicaraan.
“Iya, apa nanti sore pulang sama Faris nginap di rumah semalam terus besok ke sini lagi Bu?” tanyaku.
“Kamu gak apa-apa aku tinggal semalam?” tanya Ibu.
“Gak apa-apa Bu, kalau butuh apa-apa Rinda pesan online saja, Vano juga sudah besar sudah 4 tahun bulan depan,” kataku.
“Rinda mau bersih-bersih taman depan Bu, bosan juga liburan hanya makan, tidur, ngobrol” kataku.
“Iya Rin, aku tak nemani Vano lihat acara tv” kata Ibu.
Aku membawa gunting taman dan mulai merapikan beberapa tanaman yang daunya kering kemudian memasukkan ke dalam tempat sampah.
Setelah selesai merapikan aku duduk di teras depan memandangi hijaunya dedaunan, sungguh menyejukkan mata.
Beberapa menit kemudian Faris pulang membawa banyak barang.
“Banyak sekali Ris, Mbak bantu,” kataku.
__ADS_1
“Jangan yang berat-berat Mbak.” Pinta Faris.
“Iya yang ini saja,” jawabku.
Ibu keluar rumah membantu membawa belanjaan faris, kemudian membawa pesanannya ke dapur dan
membersihkannya dan memasukkan ke dalam kulkas.
Aku membuka kotak seserahan dan mulai mengemasi kemudian mempercantik seserahan untuk Fina calon adik iparku.
Faris bersama dengan Vano sedang bermain lego.
“Ris, pumpung masih siang, bukannya Mbak mengusirmu, kamu pulang ajak Ibu, Ibu sudah kangen sama Bapak” kataku.
“He he he, sudah berapa lama sih Ibu di sini Mbak?” tanya Faris.
“Sudah tiga minggu ini,” jawabku.
“Bapak gak ke sini sama sekali?” tanya Faris.
“Enggak, mungkin sibuk Bapak,” jawabku.
“Bu, ayo siap-siap pulang.” Ajak Faris.
“iya bentar, ini Ibu masak untuk makan siang Mbak mu,” kata Ibu.
“Ris, nanti apa gak enak berangkat dari sini saja acara lamaranmu?’ tanyaku,
“Gak apa-apa Mbak dengan mertuamu?” tanya Faris.
“insyaallah mengerti kok, nanti aku hias seserahnya,” jawabku.
Terlihat Ibu mematikan kompor dan berjalan menuju ke arah kami.
“Bu, nanti berangkat dari sini bagaimana?’ tanyaku.
“Iya boleh juga, kan seserahanya di sini, tapi kamu ijin dulu sama ibu mertuamu,” kata Ibu mengingatkanku.
“Iya Bu, kalau butuh mobil nanti aku juga bilang sama Ibu mertua, kalau boleh biar Pak Dirman yang menyupirinya,” kataku.
“Iya Rin, kamu bicarakanlah baik-baik sama suami dan mertuamu,” kata Ibu.
“Aku mau bersiap untuk pulang, masakan untuk nanti siang sudah Ibu masakan,” kata Ibu dan meninggalkan kami masuk ke dalam kamar tidurnya Vano.
Tak lama kemudian Ibu keluar kamar sudah siap untuk pulang ke rumahnya.
“Vano yang pinter jangan nakal sama Bunda, Mbah Uti mau pulang dulu, besok sore ke sini lagi,” kata Ibu kepada Vano.
Vano menganggukkan kepalanya dan berkata, “Jangan lupa telur asinnya.”
“Iya, kalau ada,” kata Ibu.
Faris dan Ibu meninggalkan rumah mertuaku pulang ke rumahnya, aku memandangi seserahan untuk Fina, lumayan banyak juga yang aku hias, satu-satu dulu saja, batinku.
Telpon berdering dari dalam kamarku.
“Vano tolong ambil telpon Bunda.” Pintaku.
__ADS_1
Vano segera berlari menuju ke kamarku.
“Bunda Nenek yang menelpon,” kata Vano sambil menyerahkan hpku kepadaku.
“Assalamualaikum Bu, bagaimana kabar Ibu juga Vera dan Deddy?” tanyaku.
Waalaikum salam, semua baik-baik saja Rin, kamu sendiri bagaimana?” tanya Ibu mertua
“Alhamdulillah baik Bu, Ibu kapan pulang?” tanyaku.
“Dua minggu lagi mungkin Rin, Ibumu masih di sana?’ tanya Ibu mertua.
“Hari ini pulang bersama Faris, besok ke sini lagi,” jawabku.
“Oh iya Bu, Rinda mau ada yang diomongkan,” kataku.
“Apa Rin?” tanya Ibu.
“Bu, seminggu lagi, Faris kan mau lamaran, Rinda tidak bisa ikut, sedangkan Ibu kan tinggal disini, bagaimana kalau berangkatnya dari rumah Ibu,” kataku meminta ijin.
“Iya gak apa-apa Rin, kalau butuh mobil juga bisa kamu pakai, minta sama Pak Dirman untuk menyopiri, sampaikan maafku kepada orang tuamu juga adikmu, aku tidak bisa datang, ini Vera malah harus istirahat total, kemarin ngeflek, jadi Ibu belum bisa pulang segera,” kata Ibu.
“Iya Bu, terima kasih, salam untuk semuanya,” kataku.
“Kehamilanmu bagaimana Rin? Tidak ada masalah?” tanya Ibu.
“Alhamdulillah baik Bu, minggu depan Rinda periksa kembali, mohon doanya,” kataku.
“Arif pulang kan dua minggu lagi?” tanya Ibu.
“Enggak Bu, cutinya di tunda jadi sebulan lagi baru pulang,” jawabku.
“Kok bisa sih Arif ini, istri hamil malah cuti ditunda.” Gerutu Ibu.
“Kebijakan di sana Bu untuk menukar kerja dari cuti yang di perpanjang kemarin,” kataku menjelaskan.
“Oh… begitu,” kata Ibu.
“Sudah dulu Rin, ini mau mengurus Vera, mau periksa juga,” kata Ibu mengakhiri telponnya.
Setelah Ibu selesai menelpon aku kembali mempercantik seserahannya Faris, aku bentuk bunga-bunga untuk kain brokatnya. Satu selesai membuatku capek akhirnya aku berhenti.
Duduk di bawah di karpet menemani Vano sambil merebahkan tubuhku di karpet.
“Bunda, sekarang tidak pernah jalan-jalan ya?” tanya Vano.
“Memang kamu mau jalan-jalan ke mana?” tanyaku.
“Ke Alun-alun gitu kan enak, masak di rumah saja,” jawab Vano.
“Bunda gak mau jalan-jalan mengikutimu, kalau kamu mau aku telponkan ayahmu, biar kamu diawasi ayahmu, kan beberapa waktu kemarin kamu sudah mau sama ayahmu,” kataku.
“Ah Bunda gak asyik, kapan sih ayah Arif pulang?’ tanya Vano.
“Lebaran kuda.” Godaku.
Kulihat mata Vano mulai berkaca-kaca, puas rasa hatiku menggodanya.
__ADS_1
“Anak Bunda sini-sini, sayang Bunda peluk,” kataku kemudian Vano menghampiriku dan aku peluk dan cium anak semata wayangku ini.