
Setelah mas Arif menjemput Vano kemudian menjemputku di tempat kerjaku, aku sudah menunggu di parkiran mobil seperti biasanya
"Bunda...Bunda... " teriak Vano sambil berlari memelukku menciumku ketika pintu mobil di buka sama mas Arif
"Anak Bunda" kataku sambil ku peluk ku cium Vano
"Om Arif gak Vano cium" kata mas Arif
aku hanya tersenyum melihat ulah mas Arif sambil menunjuk pipinya minta di cium Vano, Vano mendekat tampak malu-malu mencium mas Arif
"Rin makan dulu ya, di tempat kemarin kita makan ya? pinta mas Arif
"Boleh mas, tapi nanti aku yang bayar ya" kataku
"Gak usah Rin, aku saja yang bayar" kata mas Arif
"Aku kan gak enak, belum apa-apa habisin uang mas Arif" kataku lagi
"Ngomong apa sih Rin, jangan ngomong begitu lagi, aku tidak suka Rin, selama aku bisa, aku mau nyenangkan kamu juga Vano" katanya
Sampailah di rumah makan yang kapan hari aku kesana sama mas Arif
"Bunda pasti enak makanan disini ya..." kata Vano
"Vano belum pernah ke sini" lanjutnya
"Ini sudah ke sini sama om Arif" kata om Arif
aku hanya tersenyum meliha mereka
Setelah memilih-milih menu aku menyerahkanya pada pelayan, tak lama kemudian makananpun datang
"Hmmm nyummy" kata Vano melihat
Makanan yang ada di depanya, sengaja aku pesan makanan yang tidak pedas untuk Vano
"Mantaff bunda" kata Vano lagi sambil menunjukkan jari jempolnya
"Makasih ya mas" kataku
"Seneng aku lihat Vano semangat makan seperti itu Rin" katanya
"Kapan-kapan kesini lagi ya om" kata Vano
"Husstt gak boleh begitu Vano" kataku
"Gak apa-apa Rin, aku suka sama Vano, lucu, menggemaskan" katanya
Vano nanti kamu mau ikut om naik pesawat" tanya mas Arif
"Mau lah tapi sama bunda" katanya
Selesailah makan-makan dan ngobrolnya, mas Arif membayar ke kasir dan membawa kotak makanan lagi.
__ADS_1
"Mas... untuk ibu bapak? tanyaku sambil memandang kotak makanan
"Iya Rin, sama untuk ibukku di rumah" katanya
sambil berjalan menuju mobil
Dalam perjalanan, Vano seperti biasa tidur di kursi tengah, aku duduk di kursi depan berdampingan dengan mas Arif
"Rin... kok sepertinya kamu murung begitu" tanya mas Arif
"Mas... aku gak enak dengan semua kebaikanmu ini" jawabku
"Rin... walaupun kamu belum benar-benar membuka hatimu untukku tapi... aku bener-bener ikhlas melakukanya, aku pulang ke kota ini cuma untuk mencarimu, menemuimu, apapun kondisimu aku terima Rin, janjiku dulu bila aku pulang ke sini aku hanya ingin melihatmu, bertemu denganmu Rin, meminta maaf sama kamu, kalaupun kamu sudah menikah dan bahagia aku rela meninggalkanmu, tapi kenyataanya kamu seperti saat ini, aku tetap ingin bersamamu, menikah denganmu Rin" jelasnya
"Perlu kamu tau, selama aku meninggalkanmu aku merasa bersalah sama kamu, ada beberapa wanita yang dekat denganku, tapi apa? aku tidak bisa, aku tidak bisa melupakanmu, aku terus memikirkanmu, hingga aku pulang lagi ke sini, aku sudah seminggu di sini Rin, sebelum bertemu kamu di ATM, aku keliling ke tempat kita dulu yang pernah kita kunjungi tapi aku tak menemukanmu, pernah ke rumahmu tapi kata tetanggamu sudah pindah lama" lanjut mas Arif
Aku terdiam tapi kenapa mata ini berkaca-kaca, aku terharu dengan pengakuanya
"Mas kok tau rumahku dari mana?" tanyaku
"Ada teman yang satu komplek dengan rumahmu, aku pernah kirim fotomu waktu SMA dulu minta tolong untuk mencarikanmu barangkali ada yang se komplek denganya, awalnya ragu terus dia kirim fotomu yang baru ke aku, gak lama dari kamu ketemu aku di ATM itu, akhirnya aku ke rumahmu itu, ternyata betul kamu" jelasnya sambil tertawa
"Akhirnya bertemu bidadariku lagi " lanjutnya sambil tersenyum melihatku
Tak terasa sudah sampai rumah
"Cepet ya hampir sampai rumah" kataku
"Gak apa-apa, aku malah senang bisa melihatmu terus" lanjutnya sambil tersenyum
"Ah...mas Arif ada-ada saja" jawabku sambil tersenyum malu-malu.
mobil berhenti mas Arif keluar dari mobil begitu juga aku, Vano masih tidur, mas Arif menggendong Vano ke tempat tidur
"Makasih ya mas" ucapnya
"Mas Arif langsung pulang?" tanyaku
"Kalau boleh mau disini dulu sampai malam" jawabnya sambil tertawa
"Yang penting gak tidur sini, mas di ruang tamu dulu ya, aku mau mandi dulu" kataku
Vano masih tertidur lelap, adzan maghrib berkumandang dari Masjid yang tidak jauh dari rumah
"Sholat maghrib mas Arif" kataku
"Ayo, barengan? jawabnya
Kami sholat berjamaah, mas Arif yang mengimami, andaikan dia suamiku dan setiap saat seperti ini bahagianya aku, ya Allah terimakasih atas semua ini, batinku.
Kedua orang tuaku sering sholat berjamaah di Masjid biasanya pulang setelah sholat Isya, setelah selesai sholat maghrib kami menuju ruang tamu
"Mas boleh tanya" aku mulai membuka obrolan
__ADS_1
"Iya, apa Rin" tanyanya
"Ibu mas Arif masih tinggal di rumah dulu?" tanyaku
"Setelah kejadian dulu itu rumah di jual dan ibu pindah ke perumahan gak jauh sih sama tempat kerjamu" katanya
"Terus... ibu menikah lagi?" tanyaku
"Enggak Rin... ibu tinggal dengan adikku perempuan, tapi sekarang sendiri karena adikku ikut suaminya tinggal di jogja" jelasnya
"Kalo mas Arif tinggal ke Papua ibu sendiri?" tanyaku
"Iya, karena aku sudah bertemu lagi
denganmu tiga bulan sekali aku pasti pulang walaupun cuma 2 minggu disini" kata mas Arif
"Makasih mas" kataku sambil tersenyum
Ketika orang tuaku kembali dari masjid
"Sudah lama Rif?" tanya bapak sepulang sholat isya dari Masjid
"Lumayan lama pak"jawab mas Arif
"Dilanjut saja" kata Bapak sambil meninggalkan kami berdua di ruang tamu masuk ke dalam rumah
"Vano belum juga bangun ya Rin?" tanya mas Arif
"Besok subuh baru bangun dia, mungkin siang tidak tidur dia" kataku
"Rin..." kata mas Arif sambil memandangiku
"Jangan melihatku begitu mas, aku jadi gak enak sendiri" kataku
"Kamu makin cantik memakai jilbab Rin" katanya sambil memegang tanganku,
"Jangan beginilah mas, gak boleh" jawabku sambil melepaskan peganganya dan tersenyum melihat mas Arif
"Bolehnya kapan?" tanya mas Arif menggodaku
"Ya kalau suami istri boleh" jawabku
"Besok nikah ya?" katanya
"Gak boleh, aku kan masih masa iddah"jawabku sambil tertawa
"Aku pulang dulu Rin?" pamit mas Arif
"Loh kok cepet katanya mau sampai malam" tanyaku
"Sudah tak tahan melihat pesonamu, aku pulang saja ya daripada pusing kepalaku" katanya, aku melihatnya tersenyum dan tertawa
Setelah pamit sama kedua orang tuaku mas Arif pergi meninggalkan rumah orang tuaku, aku masuk ke kamar ingin istirahat bersama dengan Vano
__ADS_1