Lika-Liku Single Parent

Lika-Liku Single Parent
Tidak Bisa Mengungkapkan Rasa


__ADS_3

Hp berbunyi, ada pesan di whats up kubuka pesan di whats up.


"Aku sudah sampai rumah bidadariku, I love You" katanya.


"Mas Arif kok makin pinter begini ya nggombalnya? jawabku.


"Rin... kalau tidak massa iddah pasti hari ini kamu sudah jadi istriku, aku pasti sekarang sudah disampingmu, Rin... aku bener-bener merindukanmu, menginginkanmu jadi istriku selamanya" katanya.


"Mas Arif bisa saja" balasku singkat.


Padahal ini dada sudah dag dig dug gemetaran dan bibir senyum-senyum sendiri untung mas Arif lewat chat coba kalau dia video call pasti ketahuan kalau aku juga menginginkanya menjadi suamiku, tapi jaim dulu lah, sapa suruh ninggalin aku begitu lama sampai aku diperkosa Ardi, sampai aku hamil punya anak dan cerai.


"Rin... besok aku ke rumah pagi sekali, masak ya untukku? aku mau makan masakanmu" katanya lagi.


"Mau mi omelet?" tawarku.


"Aku tak pintar masak" balasku.


"Iya boleh-boleh mie omelet" katanya.


"Segera pagi biar aku segera bertemu bidadariku" katanya.


"Ha ha ha ha" balasku.


"Tidur dulu ya Rin, I love you bidadariku" katanya.


"Iya mas selamat beristirahat, terimakasih semuanya" balasku.


Kupandangi wajah Vano, namamu ada juga nama dia, aku sengaja memberi nama Arif di nama anakku Vano karena aku ingin mengingatnya selalu, tapi ketika dia sudah hadir di depanku berkali-kali mengungkapkan cinta kenapa hatiku sulit untuk mengungkapkan kalau aku juga merindukanmu, aku juga mencintaimu, aku juga ingin menjadi istrimu selamanya, kenapa aku susah kenapa aku tidak bisa? kenapa?


aku tau mas Arif lah yang selalu dalam hatiku, bahkan dialah cinta pertamaku, kenapa aku tidak bisa bilang aku juga cinta.


Ya Allah apa yang ada di diriku ini?.


Kenapa aku begitu cuek kepadanya?.


Kenapa aku tidak bisa seperti dulu memperlakukanya dengan baik?.


Apa karena ayahnya Vano yang membuatku benci laki-laki?.


Mas Arif maafkanlah aku, aku belum bisa mengungkapkan rasaku sebenarnya, sabarlah menungguku selama-lamanya, karena aku juga cinta kamu.


Waktu menunjukkan pukul 11 malam aku tertidur setelah puas menangis, kucium Vano dan aku tertidur dengan kedamaian sambil memeluk guling, sudah lega rasa hati ini, kalau sudah menangis, biarlah aku sendiri yang tau perasaanku untuk saat ini, sebuah rasa cinta yang begitu kuat begitu besar untuk mas Arif, sampai aku tidak berani mengungkapkanya sendiri karena aku takut kehilangannya, aku takut dia meninggalkanku.


******

__ADS_1


Esok pagi...


Suara mobil berhenti di depan rumahku, pasti mas Arif ini, aku sudah siap dengan mie omelet yang aku janjikan semalam


"Ini mas mie omelet yang aku janjikan semalam" sapaku sambil tersenyum ke arah mas Arif.


Aku akan merubah sikapku, aku ingin lebih hangat di beberapa hari tersisa ini, karena mas Arif akan kembali ke Papua, biarlah beberapa hari ini menjadi sesuatu yang dirindukan mas Arif untuk kembali lagi ke kota ini.


"Omeletnya enak Rin, masih ada?" tanyanya.


"Hah..." mataku terbelalak.


"Habis...!" kataku sambil tersenyum.


"Habis enak sih" katanya.


"Enak apa kelaparan?" tanyaku, dia tersenyum saja.


"Sebentar ya, aku buatkan lagi, tunggu 15 menit lagi ya" kataku.


"Vano... di depan ada Om Arif, Vano sama Om Arif main ya?" kataku dari dapur.


"Iya Bunda..." jawab Vano.


Selesai sudah buat omeletnya dan menuju ke ruang tamu, disana Vano dan Mas Arif sedang bermain mobil-mobilan.


"Vano mau?" tanyo Mas Arif.


"Pasti enak ini, Vano juga mau Bunda?" kata Vano


"Makan sama Om Arif ya Vano?" tanya Mas Arif.


Vano menganggukkan kepala.


Begitulah suasana pagi ini, ada Vano, Mas Arif, aku, juga orang tuaku, serasa lengkap hidup ini, tapi sayang tinggal beberapa hari lagi suasana ini akan berubah seperti beberapa waktu yang lalu tanpa kehadiran mas Arif.


Setelah selesai berkemas, aku pamit Ibu danBapak berangkat kerja dan mengantar Vano, ya... satu minggu ini Mas Arif janji antar jemput aku, padahal rumahnya gak jauh dari tempat kerjaku, kasihan juga sebenarnya, tapi itu maunya. tinggal 5 hari lagi Mas Arif berangkat ke Papua, hati ini rasanya berat sekali tapi aku tidak bisa mengatakanya.


*****


Setelah mengantarku Mas Arif pulang ke rumah Ibunya.


"Rif... kamu setiap pagi kemana? kata ibu.


"Menjemput calon menantumu bu? jawab Arif

__ADS_1


"Siapa Rif? kok gak kamu ajak ke rumah, kenalkan sama Ibu? kata ibu.


"Nantilah Bu" jawab Arif.


"Ada apa Arif? sepertinya ada yang kamu sembunyikan dariku" tanya Ibu dengan hati-hati.


"Bu... Ibu apa setuju dengan calonku? apapun statusnya, bagaimanapun kondisinya?" tanya Arif.


"Memang kenapa dengan calonmu?" tanya Ibu.


"Bu..aku sangat mencintainya, aku menemukan hidupku lagi setelah terpisah sepuluh tahun ini? jelas Arif.


"Dia pacar SMA mu dulu itu?" tanya Ibu.


"Iya?" jawab Arif


"Ibu sih setuju saja, anaknya baik" kata Ibu


"Tapi Bu.." tanya Arif ragu-ragu.


"Kenapa?" tanya Ibu dengan lembut.


"Dia baru cerai, dia punya anak Bu? tapi aku tau ceritanya kenapa dia cerai dan kenapa dia menikah dengan laki-laki lain, aku yang salah Bu, aku tidak pernah memberinya kabar, aku juga tidak mencarinya, aku sibuk dengan diriku sendiri, aku tidak bisa menjaganya, andaikan waktu itu aku ada untuknya tidak mungkin itu terjadi" cerita Arif ke Ibu.


"Memang apa yang terjadi dengan Rinda?" tanya Ibu.


"Dia diberi minuman yang ada obatnya dan diperkosa sampai hamil Bu" jawab Arif.


"Kurang ajar sekali laki-laki itu" kata Ibu dengan nada marah.


"Rif... jaga dia, beri kepastian padanya, agar dia mau percaya sama kamu, tenang bersamamu, susah Rif, melewati masa-masa trauma seperti yang dialami Rinda, Ibumu ini psikolog jadi tau betul yang dialami Rinda, masih bagus dia tidak bunuh diri atau membunuh anaknya" jelas Ibu.


"Jadi Ibu setuju aku dengan Rinda?" tanya Arif


Ibu mengangguk tanda setuju sambil mengusap rambutku dan berlalu meninggalkanku sendiri di ruang keluarga.


"Rif.. kapan-kapan kamu ajak Rinda juga anaknya kesini" kata Ibu dari dalam


"Iya Bu" sahut Arif


*****


Beberapa hari kuhabiskan waktu bersama Mas Arif dan Vano, tinggal dua hari lagi Mas Arif berangkat, kenapa waktu begitu cepat berlalu, ikhlaskan saja... dia pergi untuk bekerja bukan untuk mencari wanita, tapi bisa jadi disana ada wanitanya juga pikirku dalam hati. Rinda... belajar mempercayai orang harus...harus... jangan suudzon Rinda... hatiku berkata.


*****

__ADS_1


Sabtu pagi... libur kerja... sekolah Vano libur...paling enak itu adalah tidur di kasur seharian, nikmat rasanya setelah lima hari penuh dengan aktifitas, terdengar suara mobil dari luar, pasti Mas Arif datang pikirku, tapi aku belum mandi, Vano juga belum mandi, cuek sajalah, keluar dari kamar memakai pakaian menutup aurat dan berkerudung dengan wajah bantal he he he.


__ADS_2