
Mobil berhenti di pusat oleh-oleh di kota ini, aku turun dari mobil dan memasuki salah satu toko, membeli beberapa oleh-oleh untuk pak Tulus, setelah selesai memilih oleh-oleh aku membawanya ke kasir dan membayarnya
"Mbak, ini dijadikan satu kresek dan yang ini juga satu kresek" kataku sambil menunjukkan barang-barangnya
"Iya bu" jawab kasir tersebut sambil memasukkan angka di komputer, kemudian menyerahkanya kepadaku
"Terima kasih" ucapku sambil membawa dua bungkus kresek meninggalkan toko tersebut menuju ke dalam mobil
Mobil melaju meninggalkan toko dengan kecepatan sedang
"Kok dua kresek Rin?" tanya mas Arif
"Iya mas, satu untuk kita, satunya untuk pak Tulus" kataku menjelaskan
Mas Arif menanggukkan kepalanya, sambil fokus menyetir
Kulihat jam di pergelangan tangan kiriku menunjukkan pukul tujuh sore, tak lama kemudian mobil berhenti di salah satu rumah
"Ini mas rumahnya?" tanyaku sambil melepas sabuk pengaman
"Kalau menurut alamat ya ini" jawab mas Arif sambil mematikan mobil kemudian membuka pintu mobil dan turun dari mobil berjalan menuju rumah tersebut.
"Bunda, rumah siapa ini?" tanya Vano penasaran
"Rumah gurunya bunda sama ayah" jawabku, kulihat mas Arif melambaikan tangan menyuruh kami turun
Aku turun dari mobil dan membuka pintu belakang, kemudian Vano turun dan kami berjalan menuju ke mas Arif sambil membawa bungkusan oleh-oleh yang aku beli tadi, terlihat seorang laki-laki yang sudah paruh baya, dari wajahnya yang menua dengan keriput-keriput masih bisa aku kenali kalau beliau itu adalah pak Tulus guru matematika yang killer.
Mas Arif bersalaman dan mencium punggung tangan pak Tulus demikian juga denganku dan Vano.
"pak Tulus? masih sehat" kata mas Arif membuka obrolan
"Ayo masuk, maaf bapak lupa namamu" kata pak Tulus
Kami berjalan mengikuti pak Tulus masuk ke dalam rumah dan duduk di kursi tamu
__ADS_1
"Saya Arif pak, murid bapak di Sma, bapak ingat siswa laki-laki yang bapak hukum menghormati bendera saat istirahat karena masuk ke kelas adik kelas yang waktu itu bapak sedang memberikan pelajaran?"
Terlihat pak Tulus mengingat-ingat peristiwa itu dan tersenyum kemudian tertawa terkekeh-kekeh
"iya... bapak ingat kejadian itu hehehe" kata pak Tulus
"Terus bagaimana dengan adik kelasmu itu sekarang? sudah tidak bertemu lagi kan?" tanya pak Tulus
"Ini pak adik kelasku dulu" kata mas Arif sambil menunjuk ke arahku
"Wah... betul-betul kamu mencintainya ya" kata pak Tulus
"hehehe iya pak" jawab mas Arif tersipu
"Ayo-ayo diminum dan di makan kuenya, bapak di sini sendiri jadi apa adanya suguhanya ya" kata pak Tulus sambil mengambil gelas mineral
"Maaf pak, istri dan anak pak Tulus kemana?" tanyaku
"Istriku sudah meninggal setahun yang lalu, sakit diabetes, anakku tugas di Palembang menjadi TNI AD di sana" jelas pak Tulus
"Innalillahi wainailaihi rojiun" ucapku bersamaan dengan mas Arif
"Apa sering pulang anak bapak?" tanya mas Arif
"Setahun belum tentu, bapak punya anak cuma satu ketika dewasa kerja jauh, mau ikut denganya tapi masih sayang dengan rumah ini, ya... rumah penuh kenangan bersama anak dan istri dikala mereka masih di sini" kata pak Tulus dan mengambil nafas panjang
"Bapak senang kalau ada murid-murid bapak yang berkunjung di sini, ya... memang jarang ada, bapak dulu kan dibilang keras, killer ya hehehe" kata pak Tulus tertawa terkekeh
"Ya... memang harus begitu kalau tidak mungkin siswa tidak tau materi saya" katanya lagi
"Arif, kamu dari dulu sampai sekarang terus dengan ini? siapa namamu?" tanya pak Tulus kepadaku
"Rinda pak, Arinda" jawabku
"oh... iya..iya, kamu yang temanya Intan itu ya? kapan hari ke sini bersama teman lainya" kata pak Tulus
__ADS_1
"Iya betul saya satu kelas dengan Intan" jawabku
"Rif... selama ini hanya dengan Rinda kamu mengenal perempuan?" tanya pak Tulus penasaran
Kami tersenyum-senyum seperti anak muda yang sedang di tanya orang tua kapan kalian menikah
"Ya enggak pak, kami terpisah sepuluh tahunan, sejak saya lulus itu, dan saya kembali ke Jawa memang berniat mencari Rinda ini, dan akhirnya bertemu kemudian menikah" cerita mas Arif
"Cinta itu memang butuh di perjuangkan, Jodoh itu walaupun terpisah pasti bertemu kembali" kata pak Tulus
"Ayo... kuenya" kata pak Tulus meminta kami mencicipi kue di toples di atas meja di depan kami
"Pak Tulus sudah berapa lama pensiun?" tanyaku ingin tau
"Lima tahun yang lalu, sekarang aktifitas bapak ya... hanya di rumah begini" kata pak Tulus
"Andaikan istri pak Tulus ini masih ada, mungkin saat pensiun ini adalah waktu terbaik bersama istriku, dulu waktu masih bekerja sibuk dengan pekerjaan, jarang ada waktu bersama keluarga, ketika kita sudah tua, anak-anak jauh, pasangan kita sudah menghadap Illahi Robbi, baru menyesal waktu muda waktu kita banyak kesibukan sehingga tidak ada waktu untuk keluarga" cerita pak Tulus dengan menghela nafas
Kami berdua mendengarkan cerita pak Tulus dan punya pemikiran masing-masing dalam benak kami
"Selagi kalian masih muda, jangan pekerjaan menjadikanmu lupa waktu sehingga jarang ada moment berkumpul dengan keluarga" kata pak Tulus kembali
"Pertengkaran, keegoisan itu bumbu dari cinta, tapi bila kita bisa menyikapinya semua itu akan bisa membuat kita dewasa, membuat kita mengenal pasangan kita, membuat kita selalu merindukanya, seperti bapak ini, dulu istri bapak suka marah-marah sama bapak, apa yang bapak lakukan seperti tidak ada benarnya, jadi bapak juga ikut-ikutan marah akhirnya bertengkar, tapi ketika istri bapak meninggal bapak jadi rindu istri bapak, bapak banyak salah sama beliau" kata pak Tulus sambil mengusap air matanya
"Pak... banyak berdoa untuk istri bapak" kataku pelan
"Pesan bapak, jangan sia-siakan pasangan yang sangat mencintaimu atau pun sakiti hatinya, bila pasanganmu kembali kepada penciptanya atau meninggalkanmu dengan kehidupan yang lainnya, pasti ada penyesalan yang mendalam" kata pak Tulus
"iya pak... terima kasih sekali wejangan-wejangan pak Tulus yang sangat berharga bagi kami ini, Arif tidak menyangka pak Tulus dulu yang killer ternyata juga sangat hangat" kata mas Arif
Pak tulus mengangguk-anggukan kepalanya
Waktu menunjukkan pukul delapan lebih, aku melirik suamiku mengkode dengan kedipan mata untuk mengajaknya pulang, Vano sudah mulai menguap berkali-kali
"Pak Tulus, sudah malam, waktunya bapak istirahat, lain kali kami akan mengunjungi bapak, kami pamit ya pak, di jaga kesehatanya, ini ada oleh-oleh untuk bapak, semoga bapak suka" kataku, kemudian kami berdiri dan bersalaman dengan pak Tulus
__ADS_1
"Terima kasih atas kedatangan kalian, bapak suka ada yang datang menemani bapak ini" kata pak Tulus saat mengantar kami sampai depan pintu rumah.
Kami berjalan ke arah mobil, sampai di samping mobil kami menundukkam kepala tanda hormat kepada sang guru, kemudian masuk ke dalam mobil dan mobil meninggalkan rumah pak Tulus menuju rumah ibu mertua.