
Sampai di rumah aku segera masuk ke kamar untuk menaruh tas dan melangkahkan kakiku menuju ke dapur untuk menghangatkan air untuk mandinya Vano, setelah cukup hangat aku angkat panci aku taruh ke bak mandinya Vano yang berada di dapur dekat dengan dapur.
"Vano, ayo segera mandi, nanti airnya dingin loh" kataku sambil menghampiri Vano dan melepas satu persatu bajunya
Berjalan bersama Vano menuju kamar mandi, Vano masuk ke bak mandi berisi air hangat dan berendam di sana
"Vano, bunda tinggal mandi dulu ya" kataku ke pada Vano, Vano melihatku sebentar sambil berkata "Iya bunda"
Mas Arif keluar dari kamar sepertinya sudah mandi
"Mas, nitip Vano di kamar mandi, aku mau mandi dulu" ucapku ketika aku bertemu di depan pintu kamar
"Iya Rin" jawab mas Arif sambil tersenyum memandangku
Aku masuk ke kamar mandi dalam kamar tidur, shower aku nyalakan, dan aku mandi dalam guyuran air shower, betapa segarnya mandi setelah dari pantai
Selesai mandi berganti baju santai, menyisir rambutku dan memoleskan bedak di wajahku kemudian aku keluar kamar menuju ke kamar mandi di mana Vano mandi tadi
Mas Arif duduk di kursi sofa ruang keluarga
"Vano... ayo selesai mandinya" kataku ketika aku sampai di kamar mandi
"Sebentar lagi" katanya dengan cuek k"arena asyik bermain mainan di dalam bak mandi
"Nanti airnya dingin, ayo segera mandinya" kataku sambil menyabuni tubuh Vano dan segera mengguyur dengan gayung kecil air hangat dari dalam bak mandi
"Ah... bunda gak asyik" protes Vano
Aku tidak menjawab omonganya Vano, segera aku angkat tubuh Vano dan aku handuki
"Ayo jalan ke kamar untuk ganti baju, setelah ini bisa santai lihat acara tv atau bermain" kataku, kulihat wajah Vano tampak kecewa
Sampai di kamar, aku ambil baju Vano dan aku pakaikan ke Vano, sebelumnya tubuhnya aku olesnya minyak telon, biar hangat tubuhnya, aku sisiri rambut Vano
"Nah gini, anak bunda sudah cakep, ih masih ngambek ya?" tanyaku
Vano diam saja dengan wajah cemberut berlari ke arah mas Arif dan duduk di pangkuanya, melihat tingkah Vano aku hanya menggelengkan kepala, aku berjalan menghampiri Vano
"Mas, ada anak yang lagi ngambek kita tinggal jalan-jalan sendiri saja ya" kataku
"Bunda..." teriak Vano seperti mau menangis
"He he he, anak ayah lagi ngambek ya?" tanya mas Arif sambil memeluk Vano
"Bunda, gak boleh Vano lama-lama mandi" curhat Vano
"Kalau sakit bagaimana?" tanya mas Arif
"Vano... tadi ayah lihat sudah lama mandinya, kalau bunda nyuruh segera selesai mandi, karena bunda gak mau Vano sakit, ayo minta maaf sama bunda" kata mas Arif, Vano melihat ke arahku dan mengulurkan tangan mungilnya
"Maaf bunda, Vano tidak mengulanginya lagi" kata Vano
__ADS_1
"Iya Vano, sini sama bunda" kataku dan Vano mendekatiku kemudian aku peluk dan cium Vano
"Ayo sana main sendiri ya" kataku, kemudian Vano turun dari pangkuanku mengambil mainanya dan bermain di karpet di depanku
Aku duduk berdampingan dengan mas Arif sambil melihat Vano bermain
"Mas..." kataku dan menatap wajah suamiku dengan pandangan sedih
"Kenapa Rin?" tanya mas Arif
"Mas... kita jauhan lagi" kataku dan aku sandarkan kepalaku di pundaknya, mas Arif merangkul pundakku dan mengusap lembut kepalaku
Kulihat ibu mertua menuruni anak tangga menuju ke arah kami, mas Arif melepas rangkulanya dan aku mengangkat kepalaku, tersenyum melihat ibu mertua
"Kalian sudah makan?" tanya ibu
"Sudah bu, ibu sudah makan?" tanya mas Arif
"Belum, kalau begitu ibu makan dulu, kalian lanjut lagi" kata ibu sambil berjalan ke arah meja makan
Aku menatap mas Arif dan tersenyum malu, karena adegan kemesraan kita di lihat ibu mertua
Selesai makan ibu menghampiri kami
"Rif, besok ibu tidak bisa mengantar, kamu minta tolong Pak Dirman untuk mengantarmu ke Bandara" kata ibu
"Rin... belajarlah nyopir, suatu saat pasti kamu perlu berkendara mobil" kata ibu
"Nanti saja bu, biar Arif yang mengajari" kata mas Arif
Ibu mengangguk
"Bagaimanapun Rin, perempuan jaman sekarang itu harus kuat, harus tangguh, jadi tetap bisa beraktifitas tanpa bantuan suami" kata ibu seperti menyindirku
"Terus fungsi Arif apa bu, Arif ini suaminya ya harus jaga istri kalau lagi dekat begini" kata mas Arif membelaku
"Terserahlah Rif, kalau kamu ingin begitu" kata ibu sambil meninggalkan kami naik ke atas
Sepeninggal ibu, aku memandang suamiku dan berkata
"Ibu marah ya mas?" tanyaku
"Ya begitulah Rin, ibu apa maunya harus dituruti, keras kepala, sama dengan bapak" kata mas Arif
"Gak usah di ambil hati" kata mas Arif menghiburku
"Kalau untuk belajar mengemudi mobil aku tertarik mas" kataku pelan
"Apa boleh aku belajar?" tanyaku lagi
"Kenapa gak boleh, ya boleh lah Rin, nanti saja kalau aku ada uang cukup untuk beli mobil baru kamu boleh belajar" kataku
__ADS_1
"Sebentar aku naik ke atas ya menemui ibu" kata mas Arif sambil berdiri dan berjalan menaiki tangga menuju kamar ibu mertua
Aku memandang suamiku dengan pandangan khawatir
🌷🌷🌷🌷🌷
Di kamar ibu Linda
"Bu... Arif tidak suka ibu bicara begitu sama Rinda, Arif yang menginginkan Rinda seperti sekarang ini" kataku
"Rif... apa kamu tidak ingin Rinda menjadi wanita karir, wanita kuat yang bisa bawa mobil, bisa kemana-mana tanpa kamu antar" kata ibu dengan wajah kecewa
"Bu... kalau untuk belajar mengemudi, nanti Arif yang mengajari Rinda, untuk kemana-mana Arif antar saat Arif di sini, ibu tidak ingat seperti apa Rinda di masa lalu? Arif itu sayang, cinta sama Rinda bu, Arif tidak bertemu selama dua bulan, apa salah Arif menemani di setiap aktifitasnya hanya dua minggu saja?" kataku dengan nada marah
"Iya aku tau, ibu terlalu mandiri jadi perempuan, aku tidak suka begitu bu, uang bisa aku cari tapi kebersamaan dengan keluarga tidak bisa dibeli dengan uang" kataku lagi, kemudian aku berdiri akan meninggalkan kamar ibu
"Rif... ibu minta maaf, kata-katamu sangat menyentuh hati ibu, ibu juga minta maaf tidak bisa memberi cinta keluarga utuh" kata ibu
"Makanya ibu jangan ikut campur dengan keluarga Arif, Arif ingin membina keluarga yang penuh cinta penuh kebersamaan" kataku dengan hati masih jengkel
"Bu... kalau aku tinggal ke Papua, ibu masih dengan keegoisan ibu seperti ini, biar Rinda tidak tinggal disini, bu... Rinda tinggal di sini menemani ibu, meninggalkan keluarganya, disini dengan ibu tanpa aku suaminya, tolong bu... jaga perasaan Rinda" kataku
"Rif... maafkan ibu" kata ibu pelan
"Besok biar diantar sama pak Dirman, kamu berangkat jam berapa?" tanya ibu
"Gak usah bu, biar besok aku naik transportasi online saja" jawabku
"Rif... kamu marah sama ibu?" tanya ibu
"Iya" kataku
"Rif... aku minta maaf" kata ibu dengan raut wajah menyesal
"Minta maaf sama Rinda saja" kataku kemudian pergi meninggalkan ibu sendiri di kamar
🌷🌷🌷
Aku lihat mas Arif menuruni anak tangga dan ibu juga menuruni anak tangga di belakang mas Arif, kulihat wajah mas Arif tampak marah tidak seperti biasanya banyak senyum dan sabar, apa yang terjadi antara anak dan ibu, batinku
"Rinda... ibu minta maaf ya atas omongan ibu tadi, bukan maksud ibu menyinggungmu" kata ibu ketika sudah duduk di sampingku
"Ibu... Rinda tidak tersinggung kok, ibu juga benar, tapi... mas Arif juga tidak salah, mad Arif ingin kebersamaan dengan keluarga jadi selalu mengantar jemput Rinda kerja, dua bulan kami terpisah, dua minggu kami bersama bu, tolong ibu juga pahami kami ingin menjadikan keluarga ini keluarga yang berkualitas di setiap pertemuan" kataku
"Iya Rinda, jangan diambil hati omongan ibu tadi, ibu minta maaf, mungkin selama ini ibu mengejar karir ibu saja, sehingga tidak memperdulikan keluarga ibu, dan bapaknya Vano mencari perempuan lain" kata ibu
"Bu... Arif juga minta maaf ya, Arif sudah kasar dengan ibu karena Arif tidak ingin punya keluarga yang seperti keluarga kita, sibuk dengan pekerjaan, sampai rumah terjadi pertengkaran terus karena sudah lelah bekerja dan akhirnya pisah" kata mas Arif
Ibu terdiam mendengar perkataan mas Arif
"Ibu naik ke atas Rif" pamit ibu dengan wajah murung, mungkin memikirkan perkataan kami batinku
__ADS_1
Selama pembicaraan kami tadi, kami tidak memperhatikan Vano dan ternyata Vano sudah tertidur di karpet, Mas Arif menggendong Vano menuju kamar tamu, aku mematikan tv dan mengecek pintu jendela kemudian mematikan beberapa lampu dan berjalan menuju kamar tidur