
Akta cerai sudah ditangan, serasa lepas semua beban hidupku, sekarang aku berstatus baru seorang janda, sebenarnya sedih juga sih punya status janda tapi ini adalah pilihan hidup apapun resiko harus tetap dihadapi walaupun sulit walaupun penuh gosip walaupun banyak pengagum pengagumku, yang penting aku bukan perempuan penggoda, aku akan bangkit, aku pasti bisa dan aku akan heppy menjalani kehidupan baruku yesss, aku menyemangati diriku sendiri.
Melihat Vano bermain mobil-mobilnya aku senyum-senyum sendiri, dalam hati puaskan lah bermain mu nak, kelak kamu dewasa tidak akan merasa senangnya saat ini, karena semakin bertambah usia semakin banyak masalah-masalah kehidupan yang akan menempamu menjadi pribadi yang kuat pribadi yang tangguh.
Aku mendekati Vano kucium kupeluk bahagianya hati ini selalu bersama setiap saat selalu menemani sepanjang perjalananku.
"Vano gak jalan-jalan?" tanyaku.
"Ayo Bunda" jawabnya dengan semringah.
"Mandi dulu Vano" kataku.
"Lepaskan bajuku Bunda" rengek manjanya.
"Ih manjanya anak Bunda ini" godaku sambil menciumnya walaupun bau kecut tapi selalu kurindukan hahahaha.
Sambil memandikan Vano aku bertanya.
"Van, kalau jalan-jalan ke Alun-alun mau?"
"Mau mau bunda horeeeee ke Alun-alun" teriaknya dengan semangat.
"Bunda nanti Vano mainan mobil remot control ya?" pintanya.
"Mancing juga ya?" lanjutnya.
"Iya anak Bunda sayang" jawabku.
segera mengganti baju Vano dan siap-siap berangkat ke Alun-alun.
Senja hari Alun-alun di kota ini banyak pengunjung yang rata-rata adalah keluarga muda, tiba di parkiran sepeda, aku turun masuk ke dalam alun-alun, disini banyak sekali wahana permainan ada bianglala juga
Vano berlari menuju permainan perosotan.
"Hati-hati Vano" teriakku.
Aku lihat Vano sudah berada di perosotan yang paling tinggi tak lama kemudian tubuh mungilnya meluncur dari atas ke bawah aku menunggu tubuh mungil itu sampai di bawah dan hap...aku tangkap dan kugendong-gendong sebelum Vano berlari naik lagi ke atas.
"Bunda... lepaskan..! teriaknya "Vano mau naik lagi" lanjutnya.
Kuciumi anakku dan kulepaskan, kulihat dengan semangatnya dia berlari naik ke atas dan tubuhnya meluncur ke bawah lagi begitu seterusnya sampai bosan, memang anak kecil tidak pernah lelah beraktifitas sepanjang hari, setelah bosan main perosotan Vano pindah main bandulan dan seterusnya.
"Bunda kesana yukkk" pintanya sambil menunjuk arah kulihat disana ada persewaan mobil remot kontrol
Vano asyik sekali bermain mobile remot kontrol tak terasa waktu sewanya sudah habis, kubayar sewa mobil remot kontrol dan meninggalkan tempat permainan itu.
__ADS_1
"Vano kita makan yuukk?" ajakku.
"Makan ayam kentucky?" katanya.
"Oke, tapi makan sendiri ya!" jawabku.
Keluar dari Alun-alun kota aku dan Vano ke tempat yang dimau Vano setelah pesan ke kasir aku menunggu di meja sama Vano tak lama kemudian pesanan makanan tiba.
Expresi Vano menggemaskan sekali melihat Ayam kentucky hahaha gemes pingin nyubit pipinya yang cubby, melihat Vano lahab makan seneng sekali.
Setelah selesai makan kami pulang ke rumah, seperti biasa Vano sepanjang perjalanan pasti tidur di gendongan ransel dengan pulasnya, sampai di rumah Vano masih tertidur dengan pulasnya akhirnya aku tidurkan di kamar masih dengan gendongan ranselnya.
"Rin, kamu sudah makan?" tanya Ibu.
"Sudah Bu, Vano juga sudah makan" jawabku.
"Ayahnya Vano gak pernah hubungi kamu atau nemui kamu Rin?" tanya Ibukku.
"Enggak pernah Bu, terakhir aku ketemu dua bulan yang lalu waktu di pengadilan agama, tapi sudahlah Bu kenapa bahas dia, Rinda lebih suka dia tak menghubungi Rinda, biarlah Rinda tenang di kehidupan baru Rinda ini tanpa gangguan dia" kataku.
"Orang tuanya juga tidak pernah menghubungiku walaupun via telp bu, tapi biarlah Bu" lanjutku sambil berlalu meninggalkan ibuku menuju ke kamar mandi untuk berwudhu dan sholat maghrib.
Selesai sholat segala doa segala resah segala gelisah aku curhatkan aku pasrahkan pada Allah sehingga membuat hatiku tenang.
Pagi harinya, aku pegang kening Vano panas, kuambil termometer, panasnya 37,5, aku khawatir meninggalkan Vano bersama ibu tapi kerjaan di kantor hari ini harus selesai, kuberi Vano obat penurun panas.
"Bunda di rumah saja menemani Vano?" rengeknya, kucium keningnya.
"Sayangnya Bunda... Bunda hari ini harus menyelesaikan pekerjaan Bunda, Bunda harus masuk kerja sayang... nanti kalau ada apa-apa sama Vano pasti Mbah uti mengabari Bunda dan Bunda segera pulang" jelasku
"Bunda kerja ya" pintaku.
Vano menganggukkan kepala, kucium lembut kening pipinya.
"Bunda kerja dulu ya, Vano minta dibawakan apa nanti?" tanyaku.
"Ayam kentucky bunda yang besaaaarr" pintanya, aku mengangguk dan bergegas berangkat berangkat kerja.
Sesampainya di kantor bertemu dengan Nia sahabatku.
"Vano sakit Nia, tadi mau ijin gak kerja tapi laporan ini harus selesai hari ini" kataku.
"Sakit apa Vano?" tanya Nia.
"Panas Nia, apa kecapekan kemarin ya waktu ke Alun-alun?" jelasku.
__ADS_1
"Semoga gak ada apa-apa Vano dan segera sembuh" kata Nia.
"Iya Nia makasih" kataku.
Jam menunjukkan jam 10 siang perut sudah berbunyi-bunyi dari tadi tanda cacing-cacing dalam perut minta diisi makanan, dari tadi pagi belum makan aku, sibuk dengan laporan, tinggal dikit lagi selesai tapi perutku tidak bisa berkompromi.
Kuambil hp ku dan menelpon kantin
"Mbak Yah... bisa antar makanan ke ruanganku sama minumnya ya?" Telp ke Mbak Yah.
"Bisa bisa segera merapat ke sana ditunggu ya!" jawab Mbak Yah semangat sekali.
Mbak Yah ini memang semangat 45 melayani pembeli-pembelinya nyaris tidak pernah melihat Mbak Yah tidak tersenyum pada pembeli-pembelinya, tak lama kemudian Mbak Yah sampai di kantorku mengirim makanan untukku juga teman-teman lainnya yang pesan, kuberikan uang kepada Mbak Yah untuk membayar makanan yang kupesan
akhirnya cacing dalam perutku diam dan kulanjutkan pekerjaanku.
Suara hp ku berbunyi dari Ibu, hatiku sudah khawatir sekali, khawatir kondisi Vano yang kutinggal di rumah dalam kondisi sakit.
"Assalamualaikum" suara dari seberang.
"Waalaikumsalam, ada apa Bu?" tanyaku.
"Vano kejang ini, kamu bisa pulang segera?" pinta Ibuku.
"Tolong Vano langsung dibawa ke puskesmas, saya segera pulang Bu?" telp ditutup dari seberang.
"Nia, bagaimana ini? Vano kejang laporanku belum selesai padahal hari ini harus selesai?" curhatku.
"Masih banyak?" tanya Nia.
"Tinggal dikit sih" jawabku.
"Tak selesaikan saja Rin, kamu pulang saja segera nanti kalau pak Farid menanyakanmu aku beritahu kalau anakmu sedang sakit" ucap Nia.
"Makasih Nia" kataku
Segera kukendarai sepeda motorku melaju dengan kecepatan 80 km/h menuju puskesmas tempat Vano diperiksa, sesampainya disana, kulihat sekelilingku, mencari-cari Vano dan orang tuaku, Ibuku ada disana kuhampiri Ibuku
"Vano gimana Bu?" tanyaku.
"Masih diperiksa" kata Ibu, kuhampiri Vano yang diperiksa oleh dokter puskesmas.
"Dokter bagaimana kondisi anak saya?" tanyaku.
"Tidak apa-apa putra Ibu, ini tadi sudah diberi obat kejang dan penurun panas, setelah ini bisa dibawa pulang, bila panas lagi berikan penurun panas dosis sedikit-sedikit tapi sering, misal satu sendok ini untuk satu kali minum per delapan jam maka berikan setengah sendok per empat jam biar tidak kejang lagi" jelas dokter tersebut.
__ADS_1
"Terimakasih dokter" ucapku.