Lika-Liku Single Parent

Lika-Liku Single Parent
Keinginan Ibu Mertua


__ADS_3

Tak terasa sudah dua minggu Mas Arif kembali ke Mimika untuk mencari nafkah.


Pagi ini di hari minggu Nia datang ke rumah menemaniku rencana juga akan menginap di sini dan seninnya berangkat bekerja dari sini.


Aku senang ada Nia di sini, setidaknya banyak membantuku di saat aku hamil juga sebagai teman mengobrol.


Telpon berdering dari ponselku dan segera aku angkat.


“Assalamualailkum Ibu, bagaimana kabarnya?” ucapku ketika


mengangkat telpon dari Ibu mertua.


“Waalaikum salam Rin, baik kabarku disini, Vera insyaallah minggu depan akan operasi caesar, indikasinya plasenta previa” jawab Ibu mertua.


“Iya Bu semoga selamat ya,” kataku.


“Rin… aku mau minta tolong sama kamu, semoga kamu bisa,” kata Ibu mertua.


“Iya apa Bu?” tanyaku penasaran.


“Rin… sepertinya Ibu ini akan lebih sering di Jogja, Ibu minta kamu mau gabung ke bironya Ibu, sementara biar asisten Ibu yang ke rumah untuk membawa berkas keuangan untuk kamu cek, kamu mau kan Rin?” tanya Ibu penuh harap.


“Bagaimana ya Bu, apa karyawan Ibu tidak berpikiran yang negatif tentang Rinda?” tanyaku.


“Rin… semua orang pasti punya pemikiran yang berbeda, yang jelas pemikiran mereka negatif ataupun positif itu tergantung bagaimana mindset mereka sendiri, jadi kamu bila melangkah pada hal positif walaupun di tentang oleh hal yang negatif tetaplah terus berjalan,” jawab Ibu penuh nasehat.


“Sekarang Ibu tanya, kamu bersedia tidak gabung ke Biro Ibu? Ibu berharap kamu tidak menolaknya,” kata Ibu.


“Rinda harus ijin dulu Bu sama Mas Arif,” kataku.


“Arif sudah aku beritahu dia sudah setuju asalkan kamu juga sanggup,” kata Ibu.


“Iya Bu, Rinda akan mencoba gabung ke sana, tapi Rinda sebaiknya resign dulu dari tempat kerja Rinda, Insyaallah bulan depan Rinda akan mengajukan resign,” kataku.


“Oke terima kasih Rin, besok sore akan ada asisten Ibu ke


sana membawa berkas, kamu cek dan pelajari, bila ada yang kurang kamu pahami,


kamu bisa menghubungi Ibu untuk menanyakannya,” kata Ibu.


“Iya Bu,” jawabku.


“Sudah dulu Rin, kamu hati-hati, assalamualaikum,” ucap Ibu ketika akan mengakhiri panggilan telponnya.

__ADS_1


“Waalaikum salam, terima kasih Bu,” kataku dan panggilan telpon di matikan.


Menghampiri Nia yang duduk di teras depan.


“Nia, sepertinya aku bulan depan mau resign,” kataku saat aku duduk di samping Nia.


“Kenapa Rin, kamu resign?” tanya Nia penuh tanda tanya.


“Ibu mertuaku mau tinggal dan menetap di Jogja Nia, di sini ibu sudah membangun biro psikologi dari nol sampai berkembang, aku di suruh masuk ke sana menghendel semuanya,” jawabku.


“Iya Rin, aku setuju saja, di sana posisimu sebagai atasan, aku yakin kamu bisa, terus suamimu setuju?” tanya Nia.


“Mas Arif sudah lama menginginkan aku di sana membantu ibu, tapi aku ini belum siap-siap, tapi jika kondisi sekarang bagaimanapun aku harus siap Nia,” jawabku.


“Iya Rin, lebih baik perusahaan yang didirikan keluarga di pegang pula oleh keluarganya, daripada orang lain,” kata Nia.


“Rencanamu bagaimana setelah menikah dengan Mas Deni?” tanyaku.


“Aku ikut ke sana Rin, gak bisa aku jauhan sama Mas Deni, gak tau pikiranku ini terlalu banyak negatifnya,” jawab Nia.


“Iya Nia, gak apa-apa sih kamu ke sana, sekalian kamu ngawasi lakiku, disana macam-macam apa tidak, karena selama ini banyak wanita-wanita yang menggodanya, bilangnya sih dia tidak tergoda, tapi mana tau


isi hatinya, ya kan,” kataku.


“Masak sih Rin, Mas Arif banyak perempuan yang menggoda? akulihat dia baik begitu, terlihat sayang sama kamu juga Vano, emang kamu ada bukti?” tanya Nia.


putus, terus… barusan saja ada itu perempuan kirim foto bugilnya di ponsel Mas


Arif,” jawabku.


“Hah… kamu diam saja?” tanya Nia.


“Mana ada perempuan diam kalau lakinya di ganggu perempuan lainnya, ya jelas marah lah Nia aku,” jawabku.


“Kamu mau tau? perempuan itu pernah video call dalam keadaan tidak berpakaian, sama mas Arif malah di kerjai, dia bermesraan denganku saat video call berlangsung,” kataku kemudian.


“Terus… perempuan itu bagaimana? gak panas dingin itu hatinya melilhat kamu dan suamimu bermesraan?” tanya Nia.


“Dia marah dan langsung menutup panggilan video call he he he,” kataku ke Nia dan tertawa bersama.


“He he he, mas Arif kok ada ide seperti itu ya?” tanya Nia.


“Ya gak tau Nia, lah aku sendiri waktu itu marah-marah, mendengar ucapan dia ke perempuan itu, bikin hatiku adem,” jawabku.

__ADS_1


Dengan penasarannya Nia bertanya kepadaku, “Memangnya mas Arif ngomong apa?.”


Akupun menjawabnya, “Mas Arif bilang, kamu mau lihat aku bercinta dengan orang yang aku cintai enggak? begitu Nia ngomongnya.”


“Ha ha ha, pasti itu perempuan langsung matikan ponselnya kalau gak ya di banting ponselnya,” kata Nia sambil tertawa lepas.


“Sebenarnya aku curiga sih, di sana dia ngapain saja dengan perempuan-perempuan yang di sana, melihat adanya pesan masuk seperti itu, perempuan mana sih Nia yang tidak curiga, ya kan?” tanyaku.


“Iya juga Rin, kamu mau ke sana juga sekarang dimintai tolong mertua untuk mengurus bironya, sedangkan adik iparmu kondisi kehamilannya seperti itu, sabar tinggal beberapa bulan saja aku menikah dan ke


sana, serahkan padaku urusan suamimu, kalau macam-macam sama perempuan lain, aku yang segera membinanya,” kata Nia penuh semangat.


“Hei siapa yang kamu bina?” tanyaku heran.


“Ya perempuan yang menggoda suamimu lah Rin, masak suamimu yang aku bina, urusan membina suamimu itu ya kamu sebagai istrinya,” jawab Nia.


Aku tersenyum mendengar perkataan Nia.


“Terima kasih Nia,” ucapku.


“Rin… ayo makan, aku kok lapar,” ajak Nia.


“Ayo… anakku juga sudah protes di dalam ini,” kataku sambil berdiri dari tempat dudukku berjalan menuju ke dalam rumah.


“Vano ayo makan bareng,” ajakku ke Vano.


“Bunda… Vano minta suapi,” katanya.


“Sudah besar kok, gak malu apa sama adikmu,” kataku.


“Bunda… Bunda… adik masih di dalam perut saja, ya enggak tau lah kalau Kakak Vano minta di suapi,” kata Vano tak mau menyerah.


“Makan sendiri Vano, biasanya juga makan sendiri kok, mau


naget?” tanyaku.


“Iya Bunda naget yang masih hangat ya,” pinta Vano.


“Oke,” jawabku sambil menuju ke dapur membuka kulkas dan menggoreng naget, setelah semuanya selesai aku menyajikan di atas piring dan aku bawa ke meja makan.


Kami bertiga makan siang bersama.


Sore hari setelah bangun dari tidur, aku menuju ke taman belakang membawa gunting taman dan merapikan tanaman di sana.

__ADS_1


Vano seperti biasa bermain di ruang tengah, mainannya tersebar di sana, yang penting setelah bermain dia mau merapikannya.


Sedangkan Nia yang hobbi memasak berada di dapur, entah dia mau masak apa di sana.


__ADS_2