Lika-Liku Single Parent

Lika-Liku Single Parent
Tangisan Rinda


__ADS_3

Aku merasa kepalaku pusing sekali, dan seperti berputar-putar juga terdengar suara monitor pendeteksi jantung berbunyi, aku gerakkan kakiku tapi rasanya lemah sekali, aku dimana sekarang ini, kepalaku masih pusing sekali untuk mengingat-ingatnya, ya Allah... apa yang terjadi denganku, dalam hatiku aku mengucap wirid terus, beberapa saat kemudian, pusing di kepalaku sudah lumayan tapi aku tidak berani membuka mataku, setelah kakiku bisa aku gerakkan walau lemah, sekarang tanganku bisa aku gerakkan, aku merasa ada jarum infus di tanganku, ya Allah... anakku... kenapa kamu ambil lagi ya Allah... apa terlalu buruknya aku sehingga tidak Engkau beri aku kepercayaan untuk merawat anak batinku


Ya Allah... saat aku diperkosa dan aku hamil aku tidak menginginkan tapi Engkau memberiku anak hasil perkosaan laki-laki itu, tapi sekarang aku menemukan cintaku, aku menikah resmi dan syah secara agama, kenapa engkau ambil lagi, saat ini air mataku sudah membasahi pipiku tapi aku belum berani membuka mataku, aku mendengar ada perempuan memanggil namaku


"Ibu Arinda"


"Iya" jawabku


"Ibu Arinda sudah sadar, Alhamdulillah, tadi setelah operasi ada satu jam lebih bu Arinda belum sadar" kata perempuan itu


"Bu... kalau pusing jangan dipaksakan membuka mata, perlahan-lahan saja" kata perempuan itu, kemudian terdengar langkah sepatu menjauh


Vano... dimana? mas Arif... maafkan Rinda batinku, aku sudah tidak merasakan sakit lagi di perutku, anakku... batinku kemudian aku meneteskan air mata, perlahan aku buka mataku, karena sudah tidak seberapa pusing, aku melihat sekelilingku, aku di mana ini pikirku, terlihat ruangan bercat putih di depanku ada meja dan kursi, di ruangan ini hanya ada aku saja dan kulihat ada seorang laki-laki yang duduk di meja seperti menunggu ruangan ini, badanku rasanya susah untuk bergerak.


Beberapa lama kemudian, aku merasa lebih enak, aku panggil laki-laki itu


"Mas... mas..." panggilku, kulihat laki-laki itu menghampiriku


"Ada apa mbak?" tanyanya


"Aku di ruang mana ini, anakku dan ibuku dimana?" tanyaku pelan


"Mbak di ruang pemulihan, orang tua dan anak ibu ada di kamar inap, setelah ini ada yang membawa mbak ke ruang rawat inap" kata laki-laki itu menjelaskan


"Terima kasih" ucapku, kemudian laki-laki itu kembali ke tempat duduknya.


Aku menunggu di ruang pemulihan ini sendiri, sepi sekali, mas Arif... bagaimana perasaanya? bagaimana Vano kehilangan Adiknya? ya Allah... kuatkan hamba ini menerima cobaan-Mu, mas Arif... batinku


air mata ini menetes lagi, ya Allah


pintu di buka


"Ibu Arinda" kata perawat tersebut memanggilku


"Iya" jawabku, perawat tersebut mendorong brankar, aku dipindah ke brangkar tersebut dan di dorong keluar dari ruang pemulihan,


"Mbak...mau dibawa ke mana saya" tanyaku


"Ke ruang rawat inap bu" kata perawat


Aku memasuki lorong rumah sakit, tak lama kemudian aku memasuki ruang inap, kulihat ada orang tuaku, Vano dan ibu mertuaku, aku pindah dari brangkar ke tempat tidur pasien, Vano sudah tidur di sofa, orang tuaku dan ibu mertuaku menghampiriku


"Bu..." kataku dan menangis lagi

__ADS_1


"Rin... sudah jangan bersedih lagi" kata ibuku


"Bu... anakku..." kataku tak bisa melanjutkan perkataanku, aku menangis lagi


"Rinda... menangis tidak menyelesaikan masalahmu, Arif sudah ikhlas kamu juga harus ikhlas" kata ibuku menghiburku


"Bu... kenapa Allah cepat mengambil anakku" kataku masih terisak


"Rinda... hust jangan bilang begitu, Allah pasti punya rencana lain yang pasti terbaik buat kalian" kata ibu mertuaku juga menghiburku


"Mas Arif..." kataku


"Kamu mau nelpon Arif?" tanya ibu mertuaku


"Mas Arif gak marah sama Rinda bu?" tanyaku


"Rinda... ngomong apa kamu ini, Arif anak ibu, tidak mungkin dia marah sama kamu, dia sudah ikhlas sekali kehilangan anaknya" kata ibu.


"Bu... Rinda gak mau telpon mas Arif" kataku


dan kembali terisak


"Istirahatlah Rin" kata ibu mertuaku


Waktu menunjukkan pukul delapan malam, aku bertanya pada ibuku


"Bu... dimana janin itu?" tanyaku


Ibu membuka laci meja dan mengeluarkan bungkusan plastik


"Ini Rin" kata ibu pelan


Aku memegang bungkusan plastik tersebut dengan mata berkaca-kaca, nak... begitu mungil bentukmu sudah terbentuk kepala dan lengan tanganmu, juga sudah ada titik hitam bakal matamu nanti, kenapa kamu meninggalkan ibu secepat ini nak, batinku dan terus air mata ini mengalir dari kelopak mataku membuat sembab mataku, aku diam menatap bungkusan plastik tersebut kemudian memberikan kepada ibuku


"Bu... Vano dan ibu kemana" tanyaku pelan


"Ibu mertuamu dan Vano pulang Rin" kata ibu


"Tadi kamu tidur, jadi tidak membangunkanmu" kata ibu kemudian


"Rin... dari tadi kamu belum makan, ayo makanlah" kata ibu, kemudian ibu mengambil makanan di atas meja rumah sakit menyuapiku perlahan-lahan, seketika itu aku teringat pada mas Arif yang selalu menyuapiku saat aku sakit, aku menangis lagi, ibu melihatku dengan mimik sedihnya


"Rinda... jangan begini terus, jangan menyalahkan dirimu terus" kata ibu

__ADS_1


"Semua ini sudah ditakdirkan Allah, masih banyak kesempatan untuk memiliki anak lagi" kata ibu lagi dan menghela nafas panjang


"Rinda... usiamu masih dua puluh sembilan tahun ini, masih banyak kesempatan, banyak berdoa" kata ibu kemudian membelai rambutku, begitu dalam perasaan ibuku kepadaku, putri satu-satunya


"Kamu harus kuat Rin, kasihan Arif kalau kamu seperti ini, kasihan juga Vano melihat bundanya bersedih seperti ini terus" kata ibu, aku menghela nafas panjang


"Bu... kenapa Allah suka melihat Rinda bersedih?" tanyaku


"Rinda... bukan Allah suka melihatmu bersedih, tapi Allah akan menyiapkanmu menjadi pribadi yang lebih kuat, kamu bisa melewati semua persoalan berat sendiri waktu bersama ayahnya Vano, kamupun harus bisa juga melewatinya saat ini" nasehat ibu


"Rin... ada pasangan yang belum dikaruniai anak tapi mereka masih terus romantis menjalani kehidupan rumah tangganya" kata ibu


"Tapi bu... banyak juga pasangan yang tidak dikaruniai anak dan akhirnya bercerai" kataku dan kembali terisak menangis


"Rin... kamu masih kacau pikiranmu, istirahatlah, ibu menunggumu disini" kata ibu


Dan melangkah mengembalikan wadah makanan di atas meja dan berjalan menuju sofa dan membaringkan tubuhnya ke sofa.


Melihat ibu tertidur di sofa aku merasa kasihan, tapi pergolakan batinku dan kesedihanku terus merasuki pikiranku menjadi sangat sensitif, aku melihat sekeliling kamar, sepi... nyaris tidak ada suara apapun bahkan langkah kaki perawatpun tidak terdengar, walaupun masih jam sembilan malam, infus masih terpasang di tanganku, dan hampir habis, aku tekan tombol di atas kepalaku yang menyatu dengan tembok rumah sakit, tak lama kemudian pintu di ketuk dan di buka, seorang perawat masuk menuju ke arahku,


"Bu... ada yang bisa saya bantu" kata perawat tersebut, "iya mbak, infusnya sudah mau habis" kataku


"Bagaimana keadaan ibu, masih pusing? atau sakit, darah yang keluar apa banyak?" tanya mbak tersebut


"Sudah tidak pusing mbak, cuma lemas badan ini, darahnya tidak begitu banyak yang keluar" kataku menceritakan kondisiku dengan tetap berbaring di bed pasien.


"Oh ya... infusnya di lepas mbak, besok sudah bisa pulang" kata perawat tersebut


"Iya mbak, terimakasih" kataku


"Mbak... apa aku bisa hamil lagi?" tanyaku


"Besok ada kunjungan dokter, bisa ditanyakan ya bu" kata perawat tersebu sambil melepas jarum infus kemudian keluar dari kamar rawat .


Keesokan hari setelah aku sarapan dokter Lisa mengunjungiku


"Bu... bagaimana kondisinya sekarang, masih ada yang sakit?" kata dokter Lisa sambil memegang perutku


"Sudah tidak dok, dok... apa aku bisa hamil lagi?" tanyaku


"Oh iya ternyata kemarin ada luka di servik, mungkin itu yang menyebabkan keguguran, tapi sudah aku couter kok, sudah bersih, jadi bisa hamil lagi" kata dokter Lisa menjelaskan, aku tersenyum


"Dok... kira-kira berapa lama aku bisa program hamil lagi?" tanyaku

__ADS_1


"Tiga bulan lagi bu, ibu bisa hamil" kata dokter Lisa kemudian berjalan meninggalkanku


__ADS_2