
Tak lama kemudian mobil Mas Arif terlihat berhenti di depan penitipan anak, aku keluar dari penitipan anak dengan menggendong Vano masuk ke dalam mobil, sebelum pintu mobil aku tutup, Mas Ardi berdiri di samping mobil dekat dengan keberadaan Vano, Mas Arif keluar mobil menemui dia.
"Vano... diam di dalam ya, jangan keluar" pesanku.
Vano menganggukkan kepala, akhirnya aku buka kaca cendela sedikit dan menutup pintu dari luar, kemudian aku hampiri Mas Ardi dan Mas Arif.
"Mas... kalau kamu mau dekat sama Vano bukan begitu caranya, Vano semakin takut denganmu" kataku.
"Rin... ini laki-laki perlu diberi pelajaran biar tau kalau yang sudah dia lakukan berpengaruh pada Vano" kata Mas Arif dengan nada marah.
Aku memegang lengannya, khawatir akan ada pertengkaran
"Vano tetap anakku, bukan anakmu" kata Mas Ardi
"Tapi aku yang mengisi sosok bapak untuk Vano" jawab Mas Arif.
"Sudah...cukup..." teriakku.
"Di pengadilan sudah jelas hak asuh anak ada di tanganku, sekarang kamu tanya sendiri Vano mau ikut denganmu atau dengan ayah sambungnya" kataku.
"Ayo... tanya ke Vano sendiri" kataku .
Kemudian mendekati mobil mereka berdua mengikutiku dari belakang, Ibu gurunya Vano melihat kami dari teras penitipan anak tanpa bisa berbuat apa-apa, demikian juga dengan teman-teman Vano melihat dari balik kaca jendela penitipan anak.
"Sayang... mau ikut sama Ayah Ardi atau Ayah Arif?" tanyaku ke Vano.
"Aku gak mau sama Ayah Ardi... aku mau sama Ayah Arif" kata Vano.
"Itu dengar Vano memilih siapa?" kataku.
"Kalau ada apa-apa dengan Vano, kamu akan berurusan dengan saya" gertak Mas Arif.
"Ayo Rin.. pulang" ajak Mas Arif.
"Sekali lagi Mas datang ke sekolahnya Vano, dan membuat Vano ketakutan aku bisa minta bantuan KPAI, atau jika Mas dengan paksa membawa Vano aku bisa membuat laporan penculikan anak" kataku kepada Mas Ardi kemudian masuk ke dalam mobil dan menutup kaca jendela.
Mobil berjalan meninggalkan tempat penitipan anak, langsung menuju rumah Mas Arif, waktu menunjukkan pukul sebelas siang.
"Rin... nanti di dalam rumah saja jangan keluar pagar" pesan Mas Arif ketika tiba di rumah.
"Aku mau sholat jumat di masjid" katanya kemudian.
"Iya Mas" kataku dan berjalan menuju kamar Mas Arif untuk berganti baju, sedangkan Vano melihat acara tv.
Mas Arif sudah siap berangkat sholat jumat di masjid dekat rumah.
"Hati-hati Rin" katanya berlalu dan mengunci pintu pagar dan menggemboknya.
__ADS_1
Tak lama kemudian mas Arif pulang dari sholat jumat
"Aman saja Rin?" tanyanya.
"Iya mas, gak ada yang kesini" jawabku.
"Rin... aku ini bingung mau ninggalin kamu, dengan kondisi seperti ini" keluh Mas Arif.
"Vano gak mau dengan ayahnya, aku takut dia membawa paksa Vano, aku takut kamu diperkosa lagi" kata Mas Arif.
"Mas... apa aku keluar dari kerjaanku saja, dan ikut dengan Mas Arif ke Mimika?" tanyaku.
"Itu jalan yang terbaik Rin, sehari aku meninggalkanmu disini aku pasti tidak tenang" katanya.
"Hmmm aku juga bingung Mas, harus bagaimana, atau aku buat perjanjian dengan ayahnya Vano ya?" kataku mengeluarkan ide.
"Apa mungkin dia mau melaksanakan perjanjian tersebut Rin" kata Mas Arif meragukan.
"Kira-kira motifnya apa dia sangat ingin mendapatkan Vano ya?" tanya Mas Arif.
"Aku gak tau Mas" kataku.
Ketika kami berbincang-bincang, terdengar ketukan pintu pagar.
"Mas lihat siapa?" pintaku ke Mas Arif.
"Rin... Bu gurunya Vano" teriak Mas Arif dari luar.
"Iya mas, aku ke sana sebentar" jawabku.
Kemudian berjalan ke luar.
"Bu Via masuk dulu" kataku.
Kemudian Bu Via mengikutiku dari belakang.
"Duduk dulu Bu" kataku.
"Iya Bu Rinda" jawabnya.
Kemudian aku masuk ke dalam untuk membawa minuman dingin dan snack, dan membawa kembali ke ruang tamu, Mas Arif masuk ke dalam kamar tidak ikut menemui Bu Via
Di ruang tamu aku dan Bu Via ngobrol-ngobrol
"Bu Rinda mulai kapan tinggal di sini?" tanya Bu Via.
"Ada dua bulanan kayaknya Bu, waktu itu aku takut pulang ke rumah Bu, diikuti orang masa lalu, akhirnya tinggal di sini, Mas Arif waktu itu sudah berangkat ke Papua Bu, aku tinggal di sini sama Ibunya" ceritaku.
__ADS_1
"Kalau ayahnya Vano seperti tadi di sekolah bagaimana Bu?" tanyanya.
"Entahlah Bu, saya juga bingung, dari tadi juga bahas ini" kataku.
"Bu... jika Vano di sekolah kira-kira bagaimana Bu? aman tidak ya? seperti tadi di tarik-tarik begitu, kasihan anaknya" kataku.
"Coba Bu Rinda berunding sama ayahnya Vano, apa maunya?" kata Bu Via.
"Susah Bu... ngomong sama dia, dia sudah beberapa hari ini mengikuti Bu, seperti tidak suka Vano dekat sama Mas Arif, sedangkan Vano sendiri lebih nyaman dengan Mas Arif" jelasku.
Kami ngobrol-ngobrol panjang lebar tapi tidak ada titik temu dengan permasalahan ini.
"Bu Rinda saya pamit dulu" kata Bu Via.
"Iya Bu terimakasih sekali ya Bu telah mengantar sepeda saya, oh ya terus Bu Via pulangnya bagaimana?" tanyaku.
"Bu Lia akan ke sini Bu, mungkin sudah dekat" kata Bu Via.
Benar kata Bu Via tak lama kemudian Bu Lia datang.
"Gak masuk dulu Bu Lia" pintaku.
"Lain kali Bu Rinda sudah sore" kata Bu Lia.
"Terima kasih ya" kataku.
Kemudian mereka meninggalkan rumah mas Arif dan aku menutup pintu pagar kemudian masuk ke dalam rumah menuju kamar Mas Arif, kulihat Mas Arif dan Vano tidur dengan pulasnya, rasanya tidak tega membangunkan mereka, akhirnya aku keluar kamar menuju ke dapur untuk memasak setelah selesai memasak aku mengambil sapu untuk membersihkan rumah, mandi dan sholat ashar.
Tak terasa waktu menunjukkan pukul empat sore, kejadian tadi pagi betul-betul membuat pikiranku suntuk.
"Bunda.... susu" teriak Vano dari dalam kamar.
Aku mengambil susu kotak untuk Vano dan masuk ke kamar memberikan susu kotak, setelah menerima susu kotak Vano turun dari tempat tidur dan keluar kamar, kulihat mas Arif masih tidur, kupandangi wajahnya, kucium pipinya, begitu baiknya mas padaku juga Vano, aku tak tau harus bagaimana membalas baikmu batinku.
"Rin..." ucap Mas Arif sambil mengangkat kedua tanganya, bertanda dia ingin memelukku, aku mendekati Mas Arif dan berada dalam pelukannya.
"Mas... makasih atas semuanya ya, Rinda tak tau harus membalas dengan apa?" kataku.
"Sayang, semua itu kewajibanku melindungi istriku" katanya sambil mengecup pipiku dan ******* bibirku dengan lembut.
"Rin... aku cinta kamu" bisiknya.
"Aku juga sayang" kataku
"Rin.." bisiknya lembut ditelingaku.
"Mau lagi?" bisikku menggoda.
__ADS_1
Dia menganggukkan kepalanya, aku turun dari ranjang mengunci pintu kemudian berjalan ke arah suamiku, menciumnya dengan mesra dan kemudian... menikmati syurga dunia.