Lika-Liku Single Parent

Lika-Liku Single Parent
Pov Arif


__ADS_3

Keesokan harinya terlihat Arif dan Deni sedang duduk berbincang-bincang di depan teras mes nya Arif.


"Den, Rinda menghubungiku semalam kalau Nia sering mengeluh bilang kalau kamu tidak serius dengannya," kata Arif memulai percakapan.


"Biarkan saja Rif, aku sengaja begitu memangnya, biar nanti saat bertemu dia tau sebenarnya aku." Dengan santai Deni menanggapi perkataan Arif.


"Kamu ini sebenarnya serius enggak sama Nia?" tanya Arif.


"Ya serius lah, tapi aku suka saja membuat hatinya tidak menentu," jawab Deni.


Arif menggelengkan kepalanya.


"Den, kamu apa gak ingin melihat Nia dulu sebelum kamu datang ke rumahnya?" tanya Arif.


"Enggak perlu Rif, apapun rupanya sama atau tidak dengan yang di foto, aku sudah siap menerimanya," jawab Deni.


"Besok kamu urus ke manajemen kalau cuti bulan depan kamu tidak ke merauke tapi ke surabaya," kata Arif.


"Iya Rif, terus selama dua minggu di sana aku nginap di hotel?" tanya Deni.


Arif memandang Deni yang duduk di sambingnya kemudian menepuk pundaknya.


"Rumah ibuku masih ada kamar, kamu kalau mau menginap di rumah ibuku," kata Arif.


"Setiap hari aku akan kamu pameri kemesraanmu dengan istrimu?" tanya Deni.


"Ha ha ha, biar kamu segera menikah," jawab Arif dan tertawa.


"Pokoknya selama tinggal di rumahmu, kamu jangan tunjukkan adegan mesramu di depanku," kata Deni.


"Ha ha ha," Arif tertawa teringat saat Risma telpon dulu.


"Den, kapan hari waktu aku pulang Rinda marah-marah karena Risma kirim foto setengah telanjang ke whats up ku, tak berapa lama dia video call ya begitu masih setengah telanjang, istriku marah-marah, dari pada ngladeni Risma, aku akhirnya bermesraan dengan istriku saat Risma video call," cerita Arif.


"Ha ha ha, jelas dia ngamuk-ngamuk itu, aku kan tau wataknya," kata Deni dan tertawa.


"Ya pastilah Den," kata Arif.


"Hati-hati kamu sama Risma, dia tidak seperti dulu, dia suka mengganggu rumah tangga orang, sekarang incarannya bule-bule di sini," jelas Deni.


"Makin parah juga kelakuannya Den," kata Arif.


"Dia masih menghubungimu lagi?" tanya Deni khawatir.


"Sudah aku blokir kok Den, aku lebih baik tidak berhubungan dengannya daripada rumah tanggaku dengan Rinda hancur," jawabku.


"Betul," kata Deni sambil mengacungkan jempolnya.


"Rencanamu nanti bagaimana setelah menikahi Nia, apa Nia kamu boyong ke sini?" tanya Arif.


"Belum tau Rif, lihat nanti saja, istrimu masih belum mau kamu ajak ke sini?" tanya Deni.


"Sepertinya tidak bisa ke sini Den, ibuku saja sekarang sering ke Jogja, usianya juga sudah tidak muda lagi, saat usahanya dipegang oleh asistennya, maunya Rinda yang menghendel usahanya, tapi Rinda sendiri sedang hamil jadi ibu belum ngomong ke Rinda tentang rencananya," jawab Arif.


"Iya ya Rif," kata Deni.


"Bapakku bagaimana di sana Den? barangkali kamu tau kabarnya?" tanya Arif.

__ADS_1


"Kamu tidak ada komunikasi dengan Bapakmu?" tanya Deni.


"Sudah lama sih ada itu delapan bulanan lebih kayaknya gak komunikasi, ya terakhir telpon ngurus surat pindahku itu," jawabku.


"Sekarang istrinya sakit-sakitan keluar masuk rumah sakit Rif, sedangkan anaknya sudah menyebar ke luar pulau, jadi hanya bapakmu yang merawat ibu tirimu," cerita Ari.


"Rif, ayo beli makan, lapar juga kamu anggurin begini, minuman pun gak ada," keluh Deni.


"Ha ha ha, ayo," kata Arif sambil berdiri.


Dua lelaki tersebut berjalan beriringan menuju ke sebuah warung makan untuk makan, tak berapa lama mereka kembali lagi ke mes masing-masing.


Malam menjelang, ketika Arif sedang tidur terdengar ketukan pintu dari pintu messnya.


Arif bangun dari tidurnya dan berjalan menuju ke pintu kemudian membuka pintu mesnya, alangkah terkejutnya di depannya terlihat perempuan sexy dengan baju yang begitu menggoda iman lelaki.


"Rif, aku mau tidur di sini denganmu, aku rindu kamu," kata perempuan tersebut.


Bau alkohol tercium dari mulut perempuan tersebut.


"Kamu lagi," kata Arif.


"Rif, aku merindukanmu," kata Risma langsung memeluk tubuh Arif.


Bergerak ke bawah tubuh Arif dan mendapatkan yang diinginkan Risma, secepat itu gerakan Risma mendapatkannya kemudian menciuminya dengan penuh nafsu.


Lelaki mana yang tidak tegang diperlakukan seperti itu, apalagi jauh dari pasanganya.


Bayangan wajah Rinda selalu melintas dalam pikiran Arif.


Arif mendorong dengan kuat tubuh Risma sampai terjengkal terlihat ******** Risma karena dia tidak memakai celana dalam, Arif segera merapikan celana boxernya.


Kemudian menghampiri Risma, dan memegang tangannya dengan kuat.


"Ayo ikut denganku, kamu betul-betul wanita tidak tau malu," kata Arif dengan marah.


Diseretnya Risma sampai ke pos penjaga.


"Pak ini perempuan tidak beres tolong di amankan, atau kalau Bapak mau bisa dinikmati tubuhnya dengan gratis, bisa beramai-ramai juga," kata Arif kepada Pak Satpam.


"Arif...," teriak Risma tidak dihiraukan sama Arif.


Beberapa langkah Arif berjalan kemudian berhenti dan berbalik menghampiri Risma dan Pak Satpam.


"Ini yang terakhir kamu menggangguku, perlu kamu tau, aku sudah tidak bernafsu denganmu, tubuhmu itu lebih mahal paha ayam di warteg," kata Arif.


Dan berjalan meninggalkan pos satpam menuju ke mes nya.


Disana banyak orang yang keluar dari mesnya berkumpul di depan mesnya Arif.


"Pak Arif ada apa?" tanya Bapak yang tinggal di sebelah mes Arif.


"Tidak ada apa-apa, sudah ditangani oleh pak satpam, kalian kembalilah beristirahat, maaf mengganggu istirahat kalian," kata Arif, perlahan orang-orang yang berkerumun pergi meninggalkan tempat itu menuju ke mes masing-masing.


Tidak berlaku pada Deni dan Yusuf, mereka berdua tetap berdiri di sana.


"Kenapa kalian berdua tidak kembali ke mes kalian?" tanya Arif.

__ADS_1


Bukannya menjawab malah tertawa cekikikan mereka berdua.


"Hei.. apa yang kalian tertawakan?" tanya Arif.


"Itu, kenapa adikmu begitu? kamu habis ngapain?" tanya Deni sambil menunjuk ke bagian bawah tubuh Arif.


Aku masuk ke dalam mes ku diikuti oleh Yusuf dan Deni.


Sampai di dalam mes Arif.


"Kira-kira orang-orang tadi lihat enggak, adikku tegang begini?" tanya Arif.


"Kalau mereka melihat bagian bawahmu ya pasti taulah, lah nyembul begitu ha ha ha," goda Yusuf.


"Apa yang terjadi?" tanya Deni.


"Jangan cerita sama istriku ya kalau ketemu sama istriku kelak," kata Arif.


"Iya janji, apa yang sudah terjadi?" tanya Deni kembali.


"Tadi Risma datang kesini dalam keadaan mabuk, mengetuk pintu mes ku, aku kira siapa, aku buka ternyata dia," jawab Arif.


"Terus... kamu melayaninya?" tanya Deni penasaran.


"Hampir saja," jawab Arif.


"Kok hampir, berarti sudah mau berbuat?" tanya Yusuf.


"Bagaimana aku tidak tergoda sih, tidak tegang begini, kamu tau, setelah pintu aku buka Risma langsung memelukku, tak lama kemudian melepas celanaku ini dan langsung menciumi senjataku," jawab Arif.


"Hah," kata Deni.


"Hampir saja aku terlena, tapi entahlah bayangan wajah Rinda terus melintas di pikiranku, mungkin karena dia selalu mendoakanku agar tidak berbuat macam-macam ya, jadi aku hentikan perbuatan Risma," cerita Arif.


"Terus sekarang Risma kemana?" tanya Deni penasaran.


"Aku bawa ke pos satpam, gak tau mau diapakan sama pak satpam," jawab Arif.


"Sudah sana kalian balik ke mes kalian, aku mau tidur," suruh Arif.


Yusuf dan Arif keluar dari mesnya Arif menuju ke mes masing-masing.


Pagi hari setelah selesai mandi aku lari pagi mengitari kompleks mes sampai ke depan pos satpam.


"Hai Rif," sapa Risma dengan pakaian yang sama.


"Kamu masih di sini juga?" tanya Arif.


"Terima kasih ya semalam," ucapnya sambil tersenyum puas.


Dalam hati anak ini sedang berhalusinasi atau kenapa? tiba-tiba bilang terima kasih, kan semalam aku amankan di pos satpam.


"Untuk apa kamu berterima kasih kepadaku?" tanya Arif penasaran.


"Karenamu semalam aku puas bercinta dengan satpam di sana, ternyata dia memang hot banget," jawab Risma.


"Oh... ya sudah kamu terusin saja," kata Arif, dan berlalu meninggalkan Risma yang berdiri di sekitaran pos satpam.

__ADS_1


__ADS_2