Lika-Liku Single Parent

Lika-Liku Single Parent
Minta Pendapat


__ADS_3

Setelah selesai merapikan tanaman di belakang rumah, aku masuk ke dalam rumah, menghampiri Nia.


"Masak apa Nia?" tanyaku.


"Oseng-oseng Rin," jawab Nia.


"Kayaknya enak itu Nia, baunya harum sekali," kataku.


"Kamu mau makan? ini sudah hampir matang," kata Nia.


"Nanti saja Nia, mau mandi dulu aku," kataku.


Aku menghampiri Vano yang sedang bermain di ruang keluarga.


"Vano... ayo dibereskan semuanya, jam bermainnya sudah habis, waktunya mandi," kataku.


"Sebentar lagi," kata Vano.


"Sekarang!" kataku.


Meninggalkan Vano dan masuk ke dalam kamar untuk mandi, selesai mandi berganti baju dan merapikan diri lalu keluar kamar.


Terlihat Vano mulai membereskan mainannya, dimasukkan ke keranjang tempat mainannya.


Aku menuju ke meja makan dan duduk di sana.


"Mantap ini kayaknya," kataku.


"Yang masak siapa? Nia gitu loh," ucap Nia ketika mendengar perkataanku.


"He he he, siap-siap nanti mas Deni jadi gendut," kataku dan tertawa.


Vano berjalan mendekatiku.


"Bunda... lepaskan bajuku," pinta Vano.


Aku melepaskan bajunya Vano dan Vano melangkah ke kamar mandi untuk mandi.


Aku mulai mengajarkan Vano untuk mandi sendiri.


"Vano... handuknya ada di kamar mandi ya, habis mandi jangan lupa memakai handuk," kataku dari meja makan.


Meja makan dan kamar mandi memang tidak jauh tempatnya.


"Nia... kamu gak mandi?" tanyaku.


"Iya setelah Vano," jawab Nia.


Aku berdiri meninggalkan Nia di meja makan menuju ke kamar Vano untuk mengambil bajunya.


Ketika aku keluar dari kamar Vano, Nia masuk untuk mengambil baju gantinya.


Vano sudah selesai mandi dan berjalan dengan memakai handuk yang disampirkan di pundaknya menuju ke ruang keluarga.


"Harumnya...," pujiku.


Aku segera memakaikan baju untuk Vano, Nia masuk ke dalam kamar mandi.


Setelah selesai merapikan Vano, aku menuju ke kamar tidur.


Vano melihat acara televisi sambil menggambar.


Di dalam kamar tidur aku mengambil ponselku di meja nakas, berniat menghubungi Mas Arif.


Waktu menunjukkan pukul lima sore.


Tuut... tuut... tuut... bunyi dering sambungan telpon.


"Assalamualaikum," salamku ketika panggilan telponku diangkat Mas Arif.


"Waalaiku salam, bagaimana kabarmu di sana Rin?" tanya Mas Arif.


"Baik saja Mas, Nia di sini banyak membantuku," jawabku.


"Rin... bagaimana kalau Nia tidur sana saja sampai aku pulang," usul Mas Arif.


"Ya gak mau Mas, tapi kalau kadang-kadang jelas mau dia," kataku.


"Mas..., tadi siang ibumu menelpon Rinda." Aku mulai bercerita.


"Bagaimana kabar ibu dan Vera?" tanya Mas Arif.


"Ibu sehat Mas, Vera rencana minggu depan operasi caesar, ada indikasi Vera mengalami plasenta previa, tapi anaknya gak ada masalah," jawabku.


"Semoga selamat semuanya Rin," kata Mas Arif.

__ADS_1


"Iya Mas, ibumu tadi itu ngomong sama Rinda kemungkinan besar akan sering tinggal di Jogja, bironya aku yang disuruh menghendel, bagaimana Mas?" tanyaku meminta pendapat Mas Arif.


"Itu memang yang aku dan ibu inginkan Rin," jawab Mas Arif.


"Kamu mulai masuk ke biro ibu kapan rencananya?" tanya Mas Arif.


"Setelah melahirkan Mas, dalam minggu ini ada asisten ibu yang ke sini mau membawa berkas untuk aku pelajari, bulan depan aku resign dari kantorku," kataku.


"Iya Rin aku mendukungmu," kata Mas Arif.


"Terima kasih ya Mas," ucapku.


"Mas sedang apa sekarang?" tanyaku.


"Lagi santai Rin, ini ada Deni sama Yusuf di depan mes ku," jawab Mas Arif.


"Nia masih mandi itu, habis masak Nia, enak kok masakannya Nia," kataku.


"Den... siap-siap kamu nanti sehabis menikah menjadi gemuk, calon istrimu pinter masak ternyata," kata Mas Arif ke Mas Deni.


"He he he, iya memang enak kok, pas kemarin di sana, kan Nia yang masak itu," kata Mas Deni.


"Halo... Mas, udah dulu ya, mau makan masakannya Nia, sudah lapar ini," kataku.


"Assalamualaikum," salamku akan mengakhiri panggilan telpon.


"Waalaikum salam Rin, hati-hati ya," jawab Mas Arif dan panggilan telpon aku matikan.


Aku letakkan ponsel di atas meja nakas dan membuka pintu kamar menuju ke ruang keluarga, Nia sudah rapi duduk di sofa ruang keluarga.


"Nia, ayo makan aku kok lapar," kataku.


"Kamu dulu Rin, aku masih kenyang," jawab Nia.


"Kalau begitu temani aku di meja makan," pintaku.


"Vano, kamu gak makan?" tanyaku.


"Iya Bunda, tapi tolong bawa ke sini ya, Vano mau makan di sini," pinta Vano.


Mengambil piring kemudian nasi, sayur dan lauk aku taruh di atas piring setelah itu berjalan menghampiri Vano dan menyerahkannya kepada Vano.


Vano menerima piring dariku lalu berkata, "Terima kasih Bunda."


Lalu aku menjawab, "Sama-sama Vano."


Mengambil piring dan nasi kemudian sayur oseng-oseng yang dibuat Nia.


“Nia… menurutmu alasan yang tepat apa ya untukku mengajukan resign?” tanyaku ke Nia.


“Mudah Rin, kamu bilang saja mau melahirkan setelah itu fokus mengurus anak atau mau ikut mas Arif ke Mimika.” Nia mengemukakan pendapatnya.


“Iya masuk juga ya, akhir bulan ini saja aku mengajukan resign ya,” kataku.


“Terserah kamu saja Rin, sekarang kehamilanmu kan sudah menginjak tujuh bulan, akhir bulan berarti tujuh setengah bulan ya?” tanya Nia.


“Iya Nia, aku khawatir juga aku tidak bisa langsung resign, jadi jaga-jaga bila aku harus mengajari penggantiku,” jawabku.


“Seandainya kamu belum mendapatkan pengganti, biar aku saja yang menggantikan tugasmu,” kata Nia.


“Kira-kira tidak masalah Nia?” tanyaku.


“Daripada belum dapat orang,” jawab Nia.


“Betul juga ya,” kataku.


Aku mengobrol-ngobrol ringan dengan Nia di meja makan.


“Kamu bisa masak begini, siapa memangnya yang mengajari?” tanyaku.


“Browsing google Rin, aku sendiri tertarik untuk masak kok,” jawab Nia.


Vano berjalan menghampiriku dengan membawa piring kosong.


“Habis Vano?” tanyaku.


Vano menganggukkan kepalanya dan berkata, “Iya Bunda, makanannya enak.”


“Tuh Nia sudah di puji sama anakku loh,” kataku.


Nia tersenyum mendengar perkataanku.


“Ayo makan Nia, masak kamu tidak ingin merasakan masakanmu sendiri, aku habiskan saja bagaimana?” godaku.


"Ya jangan Rin, aku juga mau merasakan masakanku," kata Nia.

__ADS_1


"Karenanya segera kamu makan," kataku.


Nia berdiri dari tempat duduknya melangkah mengambil piring dan sendok kemudian kembali ke meja makan untuk mengambil nasi dan sayur lauk hasil masakannya, lalu duduk kembali di kursinya menikmati hasil masakannya.


“Enak Nia?” tanyaku.


“Pasti enak, siapa yang masak Nia gitu,” jawab Nia dengan bangga.


“Sudah kamu habiskan saja Nia, aku sudah sangat kenyang ini,” kataku.


Setelah selesai makan, aku membersihkan tempat sisa makanan, sedangkan Nia membersihkan meja makan.


Ketika semua sudah bersih, Nia berjalan menuju ke sofa dan duduk di sana, sepertinya dia mau menelpon, mungkin telpon mas Deni.


"Nia, aku tinggal dulu, mau masuk ke kamar sebentar, mau telpon mas Deni?" tanyaku.


"Iya Rin," jawab Nia.


“Ada yang kangen nih, dinikmati saja Nia, begitulah rasanya cinta jarak jauh, rindunya itu menyakitkan juga menyesakkan dada,” kataku sambil berjalan menuju ke kamar.


Masuk ke kamar aku mengambil ponselku berniat untuk menghubungi ibuku.


“Assalamualaikum Bu,” salamku ketika panggilan telponku di angkat oleh Ibu.


“Waalaikum salam,” jawab Ibu.


“Ada apa Rin? kamu baik-baik saja?” tanya Ibu.


“Iya Bu, alhamdulillah sehat,” jawabku.


“Bu… kemarin ibunya mas Arif kan cerita kemungkinan akan menetap di Jogja, untuk pulang ke sini kalau ada urusan dengan bironya, ibunya mas Arif ini menginginkan aku untuk masuk ke manajemenya Bu, ya… bisa di bilang memimpin biro, menggantikan posisi ibunya mas Arif, bagaimana Bu menurutmu?” tanyaku.


“Ya gak apa-apa Rin, yang penting kamu bisa mempertahankan atau memajukan usaha ibu mertuamu, terus rencanamu kapan masuk ke sana?” tanya Ibu.


“Mungkin setelah melahirkan Bu,” jawabku.


"Iya Rin, Ibu mengijinkanmu masuk ke usahanya ibu mertuamu, daripada di pegang orang lain, lebih baik kamu yang memegang, mungkin seperti itu yang ada dalam pikiran ibu mertuamu Rin," kata Ibu.


"Aku juga bingung Bu, siapa nanti yang mengurus anakku, kalau Vano sih bisa di antar jemput sama bu gurunya, lah yang kecil ini?" tanyaku.


"Iya juga ya Rin, umpama kamu ambil pembantu bagaimana?" tanya Ibu.


"Bu... aku ini tidak percaya sama orang lain untuk mengurus anak, tau sendirilah Vano aku urus sendiri dari dulu," kataku.


"Coba tanyakan di tempatnya Vano, siapa tau bisa, atau kamu sementara bawa anak ke kantor mertuamu, kamu masuk tidak tiap hari, bagaimana?" tanya Ibu.


"Bisa juga Bu, lihat nanti saja seperti apa Bu," kataku


"Bapak sehat?" tanyaku.


"Iya sehat semuanya," jawab Ibu.


"Salam untuk semuanya Bu," kataku.


"Terima kasih Bu atas sarannya, ssalamualaikum," salamku akan mengakhiri pembicaraan kami.


"Waalaikum salam," jawab Ibu dan panggilan telpon di tutup Ibu.


Aku meletakkan ponselku di atas meja nakas dan keluar kamar, terlihat Nia masih terus bertelepon dengan Mas Deni.


"Yang sedang jatuh cinta, cie cie," godaku ketika aku duduk di samping Vano yang sedang bermain.


Nia tersenyum kepadaku, dan berkata, "Hobbymu sekarang menggoda orang pacaran saja."


"He he he," aku tertawa mendengar perkataan Nia.


Adzan maghrib berkumandang dari masjid perumahan.


"Sudah dulu ya Mas, mau sholat maghrib dulu," kata Nia saat bertelepon yang terdengar olehku, kemudian terlihat Nia mengakhiri panggilan telponnya dan menuju ke kamar mandi untuk mengambil wudhu, demikian pula denganku.


Kami sholat maghrib berjamaah, Nia yang mengimaminya.


Selesai sholat maghrib dan merapikan mukenah.


"Nia kamu sementara tinggal di sini bagaimana?" tanyaku.


"Ya... sampai mas Arif pulang," lanjut perkataanku.


"Gak apa-apa sih Rin, asal tidak merepotkanmu saja," kata Nia.


"Nia, kamu disini bukan merepotkanku tapi malah membantuku," kataku.


"Iya Rin, insyaallah ya, aku ngomong juga sama kedua orang tuaku," kata Nia.


"Iya Nia, semoga diperbolehkan," kataku.

__ADS_1


Kemudian aku berdiri dan berjalan menuju ruang keluarga melanjutkan obrolan-obrolan ringan kami sampai Vano mengantuk dan kami masuk ke kamar masing-masing.


__ADS_2