Lika-Liku Single Parent

Lika-Liku Single Parent
Melepas Rindu


__ADS_3

Ketika Ibu naik ke lantai atas, aku masuk ke kamar berniat untuk mandi.


Vano masih asyik bermain bersama Mas Arif, ya... mereka sedang melepas rindu.


Aku masuk ke kamar mandi dalam kamar tidur, setelah mandi aku berganti baju dan mau keluar kamar untuk berkumpul di ruang tamu.


Saat pintu kamar akan aku buka, Mas Arif masuk ke dalam kamar.


"Istriku" panggil Mas Arif.


Mas Arif segera memelukku erat.


"Aku rindu kamu Rin" bisiknya, masih dengan memelukku.


"Aku juga Mas" jawabku pelan.


Bibir kami sudah saling bertemu, menikmati ciuman ini, ah... rasanya rindu ditinggal dua bulan ini terobati.


"Mas...nanti malam saja setelah Vano tidur" kataku pelan.


"Aku pingin sekarang sayang" kata Mas Arif.


"Nanti kalau Vano gedor-gedor pintu bagaimana" kataku pelan dan masih berpelukan manja dengan suamiku.


"Kita sudahi he he he" kata Mas Arif sambil tertawa.


Tak lama kemudian tubuh kami sudah berada di pembaringan, Mas Arif di atasku menciumku dengan lembut, membelai rambutku dan memandangku dengan tatapan penuh cinta mengundang gairah.


"Mas... " panggilku dan memeluk Mas Arif.


"Aku kangen sekali" bisikku.


"Sama Rin, dua bulan seperti bertahun-tahun. katanya.


"Mas...love you" bisikku.


"Rin... love you too" bisik Mas Arif sambil mencium pipiku.


Bibir kami bertemu kembali, menikmati ciuman ini.


"Mas..." bisikku.


"Apa?" tanya Mas Arif pelan.


"Ayo... lakukanlah" bisikku.


"Iya sayang sebentar, aku masih ingin menikmatimu" kata Mas Arif pelan.


"Rin... " bisiknya.


"Di dalam apa di luar?" tanya Mas Arif.


"Di dalam Mas" jawabku pelan sambil menahan rasa yang tidak bisa dilukiskan.


"Aah Rin" desah Mas Arif dan memelukku dengan erat.


"Love you" bisik Mas Arif.


"Love you too" jawabku bersamaan dengan tubuh mas Arif yang berpindah ke sampingku.


"Mau kemana Rin?" tanya Mas Arif, ketika aku bangun.


"Mau mandi lagi Mas" jawabku.

__ADS_1


"Aku ikut" kata Mas Arif.


"Ternyata sekarang suamiku punya kebiasaan baru, ikut mandi istrinya he he he" kataku sambil tertawa.


Mas Arif tidak menjawab perkataanku tapi menggendongku masuk ke dalam kamar mandi.


Menyalakan kran shower, dan kami mandi berdua dibawah guyuran air yang keluar dari shower.


"Mas... sudah dingin" kataku.


Dia tersenyum memandangku melilitkan handuk untukku dan untuknya lalu menggendongku lagi keluar dari kamar mandi.


"Pumpung masih bisa gendong istriku jadi digendongi saja he he he" kata Mas Arif saat menurunkan tubuhku.


"Bisa saja Mas ini" kataku.


"Bunda..." teriak Vano dari luar.


"Iya, ada apa? Bunda baru selesai mandi" kataku.


"Ayo Mas, segera ke Vano!" pintaku.


Mas Arif memakai kaos lengan pendek dan celana pendek kemudian keluar dari kamar menemui Vano.


Setelah aku selesai berganti baju, aku sisir rambutku yang masih sedikit basah karena habis kramas, lalu aku keluar kamar bergabung dengan anak dan suamiku di ruang keluarga.


"Ada apa Vano tadi panggil-panggil Bunda?" tanyaku.


"Gak apa-apa Bunda, tadi gak bisa masang ini" katanya sambil menunjukkan mainannya.


"Vano mandi ya?" tanyaku.


"Pakai air hangat" jawabnya.


"Iya setelah ini ya, bunda mau ke dapur dulu, memasak air hangat untukmu mandi, Vano bermain sama Ayah" jelasku.


Tiba-tiba Mas Arif memelukku dari balakang menciumi leherku.


"Mas... dilihat sama Vano" bisikku.


"Enggak" jawabnya


Kemudian aku membalikkan tubuhku mengalungkan tanganku di lehernya, mendongak ke atas melihat wajah suaminya.


Aku menjijit untuk mencium bibir suamiku.


Aku lepaskan dan tersenyum memandang suamiku.


Aku memeluk pinggang Mas Arif, demikian juga sama halnya dengan Mas Arif dan kepalaku aku sandarkan di dadanya.


"Rin... " panggil Mas Arif.


"Iya" jawabku pelan.


"Selama aku tinggal ke Papua, gak ada yang mengganggumu?" tanya Mas Arif.


"Ada Mas, seorang laki-laki" jawabku.


"Siapa? mantanmu, Andi?" tanya Mas Arif penasaran sekali.


"Mau tau? laki-laki itu mengganggu hati dan pikiranku setiap hari" jawabku.


"Iya siapa?" tanya Mas Arif dengan kesal.

__ADS_1


Aku tersenyum melihat expresi suamiku.


"Laki-laki itu adalah suamiku, ya setiap hari mengganggu pikiranku karena selalu merindukanya" kataku.


Mas Arif menggelengkan kepalanya.


"Sekarang pintar ya istriku membuatku curiga" kata Mas Arif dan memelukku erat.


"Makin gemas saja kamu Rin" katanya.


"Mas jangan kencang-kencang gini" kataku.


Mas Arif tersenyum dan mencium pipiku dengan gemas, melepas pelukannya dan meninggalkan dapur menuju ruang keluarga menemani Vano bermain.


Air yang aku panaskan sudah cukup panas untuk mandi Vano, aku matikan kompornya.


Aku berjalan mengambil bak mandi dan aku taruh di kamar mandi, lalu ke dapur lagi mengambil panci berisi air hangat dan aku masukkan ke dalam bak kemudian aku tambahi dengan air dingin.


"Vano, airnya sudah siap, Ayo mandi keburu dingin" teriakku.


"Iya Bunda" jawab Vano.


Aku lihat Vano berjalan ke arahku, aku melepas bajunya dan celananya.


"Bunda, aku sama main-main ya?" tanyanya.


"Iya, gak apa-apa" kataku dan meninggalkan Vano yang sedang mandi dan bermain di dalam bak mandi menuju ke ruang keluarga.


Duduk disebelah Mas Arif.


Aku tersenyum memandang suamiku.


"Kenapa senyum-senyum begitu? biar dapat pahala?" tanya Mas Aruf.


"He he he" aku tertawa mendengarnya.


Aku sandarkan kepalaku di bahu Mas Arif dan Mas Arif merangkulku, mencium rambutku.


"Rin... entah kenapa, selama aku di Papua aku punya pikiran yang tidak-tidak tentangmu" kata Mas Arif.


"Pikiran apa?" tanyaku penasaran.


"Pikiran kamu selingkuh begitu" jawab Mas Arif.


"Mas, Mas ini adalah hadiah terindah yang Allah berikan untukku, kalau aku selingkuh berarti aku adalah wanita yang bodoh" kataku.


"Mas... aku ini sangat bersyukur Mas nikahi, aku ini janda Mas, punya anak, sedangkan Mas masih lajang, dengan senang hati menerimaku dan anakku, itu sudah luar biasa dalam hidupku" kataku.


Kemudian Mas Arif memelukku.


"Maafkan aku yang sudah berprasangka buruk kepadamu Rin" kat Mas Arif pelan.


"Mas...dulu aku juga pernah berprasangka buruk sama Mas, saat aku hamil dulu itu, aku takut Mas disana dengan perempuan lain, tapi semua aku berusaha aku hilangkan pikiran-pikiran itu, aku selalu berdoa semoga suamiku ini selalu menjaga hati dan tubuhnya hanya untuk istrinya" kataku.


"Iya Rin, harusnya aku juga begitu, terima kasih istriku tercinta" kata Mas Arif.


"Mas... dikala kita jauh, salinglah mendoakan pasangan kita ya, doa yang baik-baik, insyaallah akan diijabah oleh Allah" kataku dan tersenyum di depan Mas Arif.


"Terima kasih istriku, love you very much" kata Mas Arif.


"Bunda... sudah" teriak Vano.


"Iya sebentar Bunda ke sana" jawabku

__ADS_1


Kemudian aku menuju ke Vano memandikan dengan sabun dan membilasnya kemudian melilitkan handuk di tubuh mungilnya.


"Ayo jalan, Bunda gak mau gendong" kataku.


__ADS_2