Lika-Liku Single Parent

Lika-Liku Single Parent
Arti Senja


__ADS_3

Memasuki mobil dan menuju ke rumah embah di desa.


Satu jam kemudian kami sampai di rumah embah, terlihat Vano sedang bermain di halaman rumah embah, melihat kami datang dia berlari menghampiri kami dan memeluk serta menciumiku.


“Bagaimana tadi malam bisa tidur?” tanyaku.


Dia menganggukkan kepalanya, mungkin karena sudah bisa tidur sendiri jadi tidak masalah jauh dariku.


Menikah dengan Mas Arif membuat Vano mandiri, itu juga karena dukungan dari Mas Arif, seandainya aku belum bertemu dengan Mas Arif mungkin masih terus bermanja denganku, karena pada dasarnya aku tidak tega berpisah dengan anak.


Ibu menghampiri kami yang masih berdiri di luar.


“Ayo masuk” kata Ibu.


Kami mengikuti langkah kaki Ibu dari belakang, kemudian duduk di ruang tamu, rumah embah ini luas tapi lebih luas halamannya.


“Bu jadi pulang sekarang?” tanyaku.


“Iya Rin, kan Bapakmu besok harus mengajar, kamu juga kerja kan” kata Ibu.


“Vano beneran jadi nginap di rumah Mbah uti selama libur?” tanyaku.


Vano menganggukkan kepalanya dan berkata.


“Iya Bunda, di rumah Mbah uti, Vano bertemu dengan teman-teman, di rumah nenek tidak punya teman”


“Berarti nanti Bunda sama ayah kembali ke rumah nenek ya?” tanyaku sambil memandang expresi wajah anakku yang menggemaskan sekali.


“Iya Bunda” jawabnya.


Dalam hatiku, jelas suamiku sekarang sedang bergembira, bisa bercinta denganku tanpa gangguan karena ibu mertuaku juga sedang tidak ada rumah.


Aku melirik suamiku, terlihat dia tersenyum bahagia.


Benarkan, dia sedang bahagia, batinku.


“Rin, sebelum pulang ayo makan dulu” kata Bi Asih menyuruh kita untuk makan.


“Tinggal kamu dan suamimu yang belum makan, ayo masuk, cicipilah makanan desa” kata Bi Asih kembali.


“Ayo Mas” ajakku dan kami berdiri menuju ke meja makan.


Mengambilkan piring untuk suamiku dan aku kemudian menaruh nasi ke dalam piring, dan lodeh tahu tempe, serta telur dadar, pasti enak ini batinku.

__ADS_1


Aku mengambilnya untukku dan untuk suamiku dan kami makan berdua.


“Enak juga ya Rin” kata Mas Arif.


“Iya Mas” jawabku.


“Mas, sepertinya senang sekali ya Vano tinggal dengan Ibu?” tanyaku lirih.


Dia tersenyum memandangku.


“Iya, tapi jangan lama-lama Vano di sana, aku juga kangen sama Vano” kata Mas Arif.


Selesai kami makan, aku lihat Ibu dan Bapak juga Vano sudah bersiap untuk pulang, kami berpamitan kepada Embah, Bi Asih dan Paman.


“Kami pulang dulu Mak” kata Ibu kepada Embah.


“Hati-hatilah” pesan Embah.


Kami berjalan menuju ke mobil dan masuk ke dalam.


Setelah semuanya siap Mas Arif menghidupkan mobilnya dan kami menuju rumah orang tuaku, setengah jam kemudian kami sampai di rumah orang tuaku.


Semua turun dari dalam mobil, aku membuka pintu rumah dan kami memasuki rumah.


“Vano, kamu  gak capek?” tanyaku.


“Bunda setelah ini pulang ke nenek ya sama Ayah, kalau Vano minta jemput, Mbah uti atau Mbah kung biar menelpon Bunda” kataku.


“Bu, nitip Vano, ini ada uang buat jajannya Vano, susunya sudah aku bawakan” kataku sambil memberikan sejumlah uang untuk Ibu.


“Iya Rin, kamu langsung pulang, gak nginap di sini?” tanya Ibu.


“Iya Bu, Rinda gak bawa baju untuk besok dari pada besok tergesa-gesa mending sekarang saja Rinda pulang” jawabku.


“Hati-hari ya” kata Ibu.


“Vano, Bunda tinggal dulu ya, kamu baik-baik di sini, jadi anak yang baik” pesanku kemudian aku memeluk dan mencium pipi Vano, demikian juga dengan Mas Arif.


Kami bersalaman dengan kedua orang tua kami dan keluar dari rumah menuju ke mobil dan masuk ke dalam.


Aku kaitkan sabuk pengaman setelah menutup pintu, aku menatap kedua orang tuaku dan anakku, melambaikan tangan ke mereka dan mobil meninggalkan rumah kedua orang tuaku.


Dalam Perjalanan.

__ADS_1


“Mas… begini ya rasanya di tinggal anak” kataku pelan.


“Cuma beberapa hari saja loh” jawab Mas Arif.


“Ah Mas, walaupun sebentar, aku sebagai seorang Ibu juga merasa kehilangan, tapi dengan ini menjadikanku siap kedepannya akan di tinggalkan Vano, ya… suatu saat nanti kita pasti ditinggal anak” kataku.


“Ya buat anak yang banyak Rin” kata Mas Arif santai.


Aku melotot melihat suamiku.


“Enak saja buat anak banyak, iya Mas, bikinya enak, aku ini Mas yang merawatnya yang mengandungnya yang melahirkannya, emang gak sakit dan taruhan nyawa gitu melahirkan, pokoknya nanti saat Rinda hamil lagi dan melahirkan, Mas harus pulang melihat Rinda kesakitan biar tau seperti apa pengorbanan wanita itu” kataku marah.


“Rin…Rin… kamu sehari gak marah-marah gitu kenapa sih?” tanya Mas Arif.


“Lah Mas ini yang bikin Rinda emosi saja” jawabku.


“He he he, semakin marah semakin menggemaskan kamu” kata Mas Arif.


Aku mencubit pinggangnya.


“Aduh jangan Rin, lagi menyetir ini loh, nanti saja di rumah terserah kamu mau apakan saja tubuhku aku pasrah” katanya dengan senyum menggoda.


Aku membuang muka ke samping kiri, kemudian menghadap ke depan melihat lalu lintas kendaraan di depanku.


Semburat senja dari ufuk barat semakin membuat suasana sore ini serasa indah sekali.


“Rin… apa yang kamu pikirkan?” tanya suamiku.


“Enggak ada Mas, aku melihat senja di depan kita, ya senja menuju malam, malam-malam yang selalu di rindukan oleh sepasang anak manusia, oleh keluarga, dan oleh semua orang, karena ketika malam menjelang kebanyakan aktifitas kita sudah tidak ada tinggal kita berkumpul dengan keluarga” jawabku.


Mas Arif diam termenung mendengar ucapanku, beberapa saat kemudian Mas Arif berucap.


“Iya Rin, dimanapun dan kemanapun kita pergi keluarga adalah tempat kita berlabuh”


Aku mengangguk mendengar ucapan suamiku menandakan bahwa aku setuju.


“Dulu saat aku masih kecil, kami jarang bertemu dengan orang tuaku Rin, Ibu dan Bapak jarang pulang ke rumah, mungkin satu atau dua minggu sekali, mereka sibuk bekerja di luar kota, aku bersama dengan nenekku” Mas Arif mulai menceritakan masa kecilnya.


“Ibu dan Bapak mulai tinggal bersama Mas Arif dan Vera kapan?” tanyaku.


“Awalnya Ibu yang tinggal bersama kami, waktu itu nenek meninggal ya sekitar aku kelas 6 Sd, Ibu pindah bekerja di kota ini, dan mulai mendirikan biro psikologi, sedangkan Bapak malah pindah bekerja di luar pulau, dan kami bertemu setahun sekali, ya begitulah Rin, mungkin tidak ada komunikasi yang baik antara Ibu dan Bapakkku akhirnya Bapak berselingkuh dan menikahi selingkuhannya meninggalkan Ibu sendiri bersama Vera disini” Jawab Mas Arif.


“Ibu apa tidak ada keinginan untuk menikah ya Mas? Sudah sepuluh tahun kan hidup sendiri?’ tanyaku.

__ADS_1


“Enggak tau aku Rin, mungkin terlalu sakit hati di tinggalkan Bapak” jawab Mas Arif.


Tak terasa kami sampai dirumah.


__ADS_2