
Tak terasa sudah dua minggu suamiku menemaniku selama libur cutinya, ah... rasanya begitu cepat berlalu.
"Rin... aku besok berangkat sendiri saja ya, aku naik transportasi online saja ke halte bus," kata Mas Arif saat kami duduk santai di taman belakang.
"Iya Mas, hati-hati ya," pesanku sambil merebahkan kepalaku di pundak Mas Arif dan Mas Arif membelai rambutku yang sebahu.
"Rin, jaga dirimu, jangan terlalu capek, semoga nanti waktu lahiran aku ada di sampingmu," kata Mas Arif.
Aku menghela nafas panjang dan berkata, "Iya Mas, sepertinya dua cutimu ke depan aku melahirkan, ini sudah empat bulan setengah."
"Ibu lusa pulang Rin, Vera sudah lebih baik kondisinya, sudah enam bulan lebih ya kehamilannya Vera," kata Mas Arif.
"Iya Mas," jawabku.
"Mas... habis ini ayo keluar, aku pingin banget makan lontong sayur," kataku.
"Ada yang jual?" tanya Mas Arif.
"Ada Mas, nanti Rinda kasih tau tempatnya," jawabku.
"Sore begini jualan?" tanya Mas Arif lagi.
"Semoga belum habis, sekarang saja Mas kita kesana, hmmm sudah pingin banget ini," kataku sambil menelan ludah.
"Ayo kamu siap-siap Rin," kata Mas Arif sambil berdiri dan mengulurkan kedua tangannya ke arahku, aku menerimanya dan berdiri dari tempat dudukku sambil memegang tangan Mas Arif.
Berjalan memasuki rumah menuju ke kamar untuk berganti baju kemudian keluar.
"Ayo sekarang," ajakku.
"Bunda... mau ke mana?" tanya Vano.
"Mau jalan-jalan, kamu di rumah saja ya." Aku menggoda Vano, terlihat wajahnya cemberut.
"Ayah...," panggilnya ke Mas Arif serasa minta dukungan agar di ajak jalan-jalan.
"Sama Vano juga kok," kata Mas Arif.
"Asyik....!" teriak.Vano sambil berlari ke luar.
Kami menaiki mobil dan perlahan meninggalkan rumah mertua.
"Yang mana Rin?" tanya Mas Arif saat dalam perjalanan.
"Perempatan depan itu Mas belok kanan," kataku sambil menunjuk jemariku ke arah yang aku maksud.
Mobil berhenti saat lampu lalu lintas berwarna merah, menunggu sesaat kemudian berganti kuning dan hijau. Mobil belok ke kanan seperti arahanku.
"Nah depan itu Mas," kataku menunjukkan warung kecil yang berjualan lontong sayur.
Perlahan mobil menepi dan berhenti, kami turun bersamaan.
Memasuki warung tersebut memesan lontong sayur.
__ADS_1
Kami duduk sambil menunggu pesanan kami, beberapa saat kemudian makanan datang, aku langsung melahabnya.
"Hei cepet banget makanmu Rin?" tanya Mas Arif.
"Nyidam Mas, jadi pingin segera menghabiskan saja," kataku.
"Vano kolak pisangnya enak enggak?" tanyaku.
"Gak enak, Bunda jangan minta-minta," kata Vano sambil menjauhkan mangkoknya dariku.
"Yang minta Adekmu bukan Bunda," rayuku.
"Ini," kata Vano sambil memberikan kuahnya dari sendoknya.
"Pelit ah," kataku.
"Mas Arif yang melihat ulahku cuma menggelengkan kepala saja.
"Pesan lagi lah Rin, daripada berebut sama Vano," kata Mas Arif.
"Gak enak lah, enak di mangkoknya Vano," kataku.
"Vano... Adekmu minta lagi, itu satu saja," pintaku.
"Vano gak kebagian, Bunda pesan lagi saja," kata Vano.
"Vano, Bunda pesankan, tapi sisa Vano Bunda yang makan, bagaimana?" usulku.
"Nih," kata Vano menyodorkan mangkoknya ke arahku dengan tatapan kecewa.
"Dulu kamu hamil Vano apa nyidam begini?" tanya Mas Arif.
"Ya enggak Mas," jawabku sambil menikmati kolak pisang milik Vano.
"Setiap hari aku lihat kamu selalu berebut makanan sama Vano," kata Mas Arif.
"Iya itu Ayah, Bunda gak mau mengalah, minta punya Vano saja, alasanya adek yang minta, masak adek dalam perut bisa ngomong, aneh, kan Ayah," keluh Vano.
Mas Arif tertawa mendengar keluhannya Vano.
"Sudah selesai makan, mau kemana sekarang?" tanya Mas Arif.
"Pulang," jawabku.
"Ayah main ke alun-alun, Bunda kalau mau pulang, pulang sendiri," kata Vano sambil melihat Mas Arif seraya minta dukungan.
"Rin... sudah jangan bertengkar sama anak, ke alun-alun saja, kamu kalau tidak mau bisa nunggu di kafe dekat alun-alun," usul Mas Arif.
Kami keluar dari warung tersebut menuju ke Alun-alun kota, mobil di parkir dan kami turun dari mobil berjalan beriringan.
"Mas, aku tunggu di sana saja ya," kataku.
"Iya Rin, kalau ada apa-apa hubungi aku ya," pesan Mas Arif.
__ADS_1
"Oke," jawabku.
Kami berpisah, aku menuju kafe di seberang jalan Alun-alun sedangkan Vano bersama dengan Mas Arif memasuki area Alun-alun kota.
Duduk di kursi kafe, melihat daftar menu di sana, akhirnya memesan jus apukat sama burger.
Lama juga menunggu dua lelakiku ini kembali.
Sambil menunggu aku browsing-browsing artikel tentang kehamilan dan nutrisi makanan yang bagus selama kehamilan.
Beberapa menit berlalu, belum juga terlihat kedua lelakiku ini keluar dari pintu gerbang masuk Alun-alun kota.
Lebih baik telpon saja, batinku.
Tuut... tuut.. tuut... suara dering telpon dari ponselku.
"Ada apa Rin?" tanya Mas Arif ketika mengangkat telponnya.
"Lama banget Mas, sudah mau maghrib ini, gak pulang?" tanyaku.
"Vano... ayo pulang." Terdengar suara Mas Arif mengajak Vano untuk segera pulang.
"Bentar ya Rin," kata Mas Arif kemudian menutup telponku.
Beberapa menit kemudian terlihat Mas Arif dan Vano berjalan bergandengan tangan menuju ke pintu gerbang Alun-alun kota.
Aku berdiri dari kursiku, karena tadi langsung di bayar saat pesan makanan jadi aku bisa langsung meninggalkan kafe tersebut.
Berjalan menuju ke pintu gerbang Alun-alun kota menyeberangi jalan raya.
Bertemu dengan Vano dan Mas Arif kami berjalan beriringan melewati jalan trotoar sambil mengobrol.
"Seru ya mainnya?" tanyaku ke Vano.
"Iya Bunda, tadi Vano sama Ayah main jungkat-jungkit loh." Vano bercerita.
"Kalau Ayah di bawah, Vano di atas terus gak bisa-bisa turun." Lanjut ceritanya.
Akupun tertawa mendengar cerita Vano sambil membayangkan wajahnya saat di atas jungkat-jungkit, "He he he."
"Mas, seharusnya biarkan saja di atas ya," kataku.
"Gak takut dia, malah tertawa saja, dan minta ulangi terus," kata Mas Arif.
"Oh... pantes jadi lama mainnya karena asyik ya," kataku sambil membuka pintu belakang mobil ketika sampai di parkiran mobil.
Vano masuk ke mobil dan aku menutup pintu, kemudian membuka pintu depan lalu duduk di samping Mas Arif kemudian menutup pintunya.
"Sudah Mas," kataku.
Mas Arif menghidupkan mobil, ketika ada Bapak parkir menghampirinya, Mas Arif memberi uang parkir dan meninggalkan parkiran menuju ke rumah.
Lampu kota mulai menyala berwarna warni membuat suasana kota kecil ini semakin semarak, apalagi saat ini menyambut hari ulang tahun Republik Indonesia.
__ADS_1
Kumandang adzan maghrib terdengar dari masjid yang kami lewati, dan akhirnya kami sampai di rumah.