
Pagi hari, mulai beraktifitas seperti biasa, biasanya pagi sudah ada mas Arif kesini, begitu dalam mas kamu meninggalkan kenangan ini, rasanya... setiap melangkah ada kamu disampingku batinku, aku raih HP di meja dekat tempat tidur kulihat loh semalam mas Arif telp kok aku yang jawab ya, dia ngomong apa? ah bingung, akhirnya ku buka whats up ada pesan dari mas Arif
"Pagi bidadariku, maaf hari ini tidak bisa menjemputmu, selamat beraktifitas ya, kalau capek pulang ke rumah saja" tulisnya
"Mas... besok aku tidur di rumahmu ya... aku disini tidak bisa tenang, kenangan bersamamu beberapa hari selalu teringat di rumah ini" tulisku
masih centang satu, mungkin lagi sibuk kerja atau mungkin susah sinyal disana.
Beranjak dari tempat tidur menuju dapur untuk memanaskan air untuk mandi Vano, kemudian aku bersiap untuk mandi, Vano masih tidur dengan pulas, setelah mandi kuangkat air yang sudah panas ke bak dan aku bangunkan Vano
"Vano... ayo bangun sayang, ayo sekolah" kataku sambil mencium pipinya yang cubby
Vano hanya menggeliat saja belum juga bangun, aku bangunkan terus akhirnya dia mau membuka matanya
"Ayo mandi sayang..." kataku
Vano masih diam saja, akhirnya kugendong ke kamar mandi, aku isi air dingin bak yang terisi air panas tadi ku lepas baju Vano dan memandikan Vano
Setelah semua siap aku mengendari sepeda motorku menuju sekolah Vano, dalam perjalanan Vano tertidur lagi, tapi pikiranku terus ke mas Arif, jalan ini mengingatku beberapa hari bersamanya, mataku berkaca-kaca, berat sekali melepasnya berat sekali menahan rasa rindu ini, kenapa mas...kau tinggalkan kenangan yang membuatku selalu merindukanmu, rindu itu sakit mas, rindu itu berat, apa kamu disana juga merasakannya?
Tiba di sekolahnya Vano, Vano belum juga bangun, kubuka pintu
"Assalamualaikum" sapaku
"Waalaikumsalam" jawab dari dalam, menuju kasur lantai dan menidurkan Vano disana
"Bu Rinda sendiri?" tanya bu Via
"Mas..mas..yang antar kemarin kemana?" lanjut tanya bu Via
"Sudah mulai kerja bu, kemarin berangkat ke Papua, tiga bulan kemudian pulang" jawabku
"Calon ayahnya Vano ya bu" tanya bu Via lagi
"Doakan saja bu" jawabku
"Nitip Vano bu saya mau ke tempat kerja dulu" lanjutku.
Kemudian keluar dari penitipan anak menuju tempat kerja, melihat parkiran mobil ingat mas Arif lagi.
Sampai di dalam kantor, aku nyalakan komputer di depan mejaku, Nia belum tiba di kantor, kulihat jam masih jam delapan kurang seperempat, kuambil HP dari tas ku, kulihat ada pesan masuk
"Iya Rinda kapanpun pulang ke rumah, pintu rumah terbuka untukmu, ini aku sudah mulai kerja ada pengarahan sedikit, kamu sudah di tempat kerja?" tulisnya
__ADS_1
"Iya mas, ini barusan sampai kantor, terima kasih kenangan indah yang mas ciptakan seminggu ini" balasku
"Kok terimakasih Rin" balasnya
"Iya terima kasih karena kenangan yang kamu tinggalkan membuatku mengingatmu selalu, merindukanmu di sampingku" balasku
"Hahaha muach I love you bidadariku, aku lanjut kerja dulu ya" balasnya
"Hati-hati mas Arif, I love you too" balasku, kumasukkan kembali hp ke dalam tas, membuka berkas dan mulai mengerjakan pekerjaan-pekerjaan kantorku
Tak lama kemudian Nia datang
"Tumben telat ada apa Nia" tanyaku
"Kesiangan bangunku" jawabnya, aku tertawa mendengar jawabnya
"Putri raja bangun kesiangan he he he" kataku sambil tertawa
"Gak lucu Rin, oh ya gak diantar sama pacarmu hari ini, kok ada sepedamu di parkiran?" tanyanya
"Hari ini sampai tiga bulan ke depan aku berangkat pulang kerja sendiri Nia, mas Arif sudah balik kerja kemarin" jelasku
"Sudah jadian lagi nih" goda Nia
Waktu istirahat tiba, Hp di dalam tas ku berbunyi ada telp masuk, kuraih hp dan kulihat dari bu Via
"Assalamualaikum" sapa bu Via
"Waalaikumsalam, ada apa bu Via" tanyaku
"Bu Rinda, ini katanya nenek Vano sama ayahnya disini, mau jemput Vano" jelas bu Via
"Bu Via, tolong sampaikan ke mereka kalau saya tidak boleh mereka menjemput ataupun membawa Vano ikut bersama mereka, sebentar lagi saya kesana" kataku* dan kututup telpon aku tergesa-gesa menuju parkir sepeda dengan pikiran kalut
Menuju penitipan anak, Hp terus berdering berkali-kali, gak juga aku angkat, pikiranku segera ke penitipan anak, sampai di penitipan anak, kulihat Vano masih di sana dan menangis, melihatku Vano langsung berlari memelukku,
"Ada apa sayang?" tanyaku
"Ayah mau bawa Vano, Vano gak mau" katanya
"Sekarang ayah kemana?" tanyaku
"Pulang sama nenek" jawabnya
__ADS_1
"Sudah jangan menangis ya, kan tidak jadi di bawa, besok-besok main di dalam saja, ada bu Guru pasti Vano tidak dibawa" jelasku
"Bu Via makasih ya..." kataku
"Ada apa sebenarnya bu, kenapa Vano tidak boleh dibawa ayahnya?" tanya bu Via
"Ceritanya panjang bu, saya tidak bisa menceritakan semuanya, yang jelas kalau Vano dibawa mereka, saya akan kesulitan menemui Vano, tolong bu kalau ada siapa saja yang mau membawa Vano saya di kabari ya" jelasku ke bu Via, bu Via mengangguk tanda paham situasinya
"Vano.. bunda kerja lagi ya..? nanti bunda jemput empat jam lagi" kataku sambil memeluk mencium Vano
"Saya pamit dulu ya bu guru" pamitku ke gurunya Vano
Keluar dari penitipan anak kulihat Hp, penasaran siapa yang menghubungiku lagi, ternyata mas Arif, mau menghubunginya takut kalau menganggu akhirnya aku menulis pesan untuknya
"Mas, maaf tadi gak mengangkat telponmu, aku khawatir sama Vano, ini di penitipan anak, tadi dihubungi bu gurunya kalau Vano mau dibawa sama ayahnya" tulisku.
Kemudian menyalakan sepeda motor menuju tempat kerjaku lagi
Sampai di parkiran, perutku lapar sekali akhirnya menuju kantin, "mbak Yah tolong diantar ke kantor ya sop sama ayam goreng dan es teh gak usah dikasih sambal ya" pintaku
"oke siap bu Rinda" jawab mbak Yah
Kutinggalkan kantin menuju mushola mau sholat duhur
"Dari mana tadi Rin? kok terburu-buru" tanya Nia
"Ke Vano, Vano mau dibawa mantanku, jadi was-was aku Nia" kataku
setelah menunaikan ibadah sholat duhur, aku menuju ke kantor, tiba-tiba telpon berdering kuambil Hp ku
"Assalamualaikum" sapaku
"Waalaikumsalam" jawabnya
"Bagaimana Vano? tanya mas Arif
"Sudah aman mas, tadi gurunya Vano sudah tak bilangin kalau ada yang jemput Vano selain aku tidak boleh" kataku
"Kalau Vano pas main di depan di culik bagaimana?" tanya mas Arif
"Yang jelas aku minta bantuan hukum juga KPAI, sudah jelas hak asuh ditanganku kok" kataku
"Kamu hati-hati Rin, sudah dulu ya.." kata mas Arif mengakhiri telponya.
__ADS_1