Lika-Liku Single Parent

Lika-Liku Single Parent
Malam Minggu Di Malioboro


__ADS_3

"Belum ketemu Mas, Rinda lupa taruh di mana tiket kereta apinya" kataku cemas.


"Coba pelan-pelan nyarinya, pikiran tenang nanti ketemu" kata Mas Arif.


"Aku khawatir ketinggalan di rumah Ibu" kataku.


"Kayaknya enggak Rin, aku tau kamu masukkan ke koper kok" kata Mas Arif mengingatkanku.


"Coba cari di saku-sakunya" kata Mas Arif lagi.


Aku mencari sesuai yang dikatakan Mas Arif.


"Alhamdulillah... akhirnya ketemu di sini" kataku lega dan tersenyum melihat Mas Arif.


"Mas.. makasih ya mengingatkan Rinda" kataku.


"Sudah seharusnya begitu Rin saling mengingatkan" kata mas Arif.


Kemudian memelukku dan berbisik "Aku pingin" dan aku tersenyum kemudian menciumnya.


"Nanti kalau Vano bangun bagaimana?" tanyaku sebelum Mas Arif menjawab langsung menggendongku keluar kamar menuju sofa ruang tengah dan merebahkan tubuhku di sana.


"Mas.. kalau Vera dan suaminya datang bagaimana?" tanyaku cemas.


"Ya langsung disudahi he he he" katanya santai dan tertawa kemudian mulai menciumi tubuhku


"Mas..." bisikku.


"Iya sayang" bisiknya juga.


Sore hari di sofa ini kami menikmati percintaan kami.


"Makasih sayang" bisik Mas Arif dan tersenyum memandangku.


"Jangan lihat Rinda begitu Mas, jadi malu" bisikku.


"Kamu semakin cantik Rin kalau lagi bercinta" bisiknya kemudian menciumku dan meninggalkanku menuju kamar mandi.


"Mas..." panggilku, dia menoleh.


"Ada apa?" tanyanya.


"Aku ikut" kataku.


"Mandi bersama?" tanyanya.


"He he he iya" kataku dan tertawa kemudian menghampirinya.


"Gendong" kataku manja, kemudian Mas Arif menggendongku menuju kamar mandi dan kami mandi bersama.


Selesai mandi, dan berpakaian rapi, kami kembali duduk di teras tak lama kemudian terdengar Vano memanggilku.


"Bunda..." aku segera masuk ke rumah menuju kamar dimana Vano tidur


"Sudah bangun Vano" kataku kemudian memeluk dan menciumnya.

__ADS_1


"Ayah kemana?" tanyanya.


"Ayah di depan, Vano ayo mandi terus kita jalan-jalan lagi" kataku.


Dia mengangguk kemudian aku melepas bajunya membawa handuk dan menggendong Vano ke kamar mandi, setelah selesai mandi dan memakaikan pakaian untuk Vano, kemudian Vano keluar rumah dan aku mengikutinya di belakangnya.


"Ayah...kata Bunda mau jalan-jalan ya?" tanya Vano.


"Iya, kenapa? Vano capek?" tanya Mas Arif lagi.


"Vano seneng, ayo jalan-jalan sekarang" katanya antusias.


"Ayo Rin jalan-jalan keliling kota kemudian ke malioboro, Vera paling pulang malam" kata mas Arif.


Kemudian aku masuk ke kamar bersiap diri dan kami keluar membawa mobil Vera mengelilingi kota Jogja.


Lampu jalan kota mulai menyala menambah semarak kota ini, terdapat beberapa angkringan yang dipenuhi anak muda, mungkin mahasiswa-mahasiswi yang sedang menempuh pendidikan di Jogja, ya... Jogja memang kota pendidikan juga.


"Disitu Rin tugas Vera sebagai Dokter" kata mas Arif menunjuk sebuah Rumah sakit di kanan jalan.


"Suaminya juga di situ Mas?" tanyaku.


"Beda Rin" jawab Mas Arif.


"Lupa aku nama Rumah sakitnya" kata Mas Arif lagi.


"Gak jauh juga sih dari rumahnya ya Mas" kataku.


"Iya sih, tapi ya begitu kerjanya dari pagi sampai malam, kan mereka selain di Rumah sakit juga di klinik" jelas Mas Arif, mobil terus mengelilingi kota Jogja.


"Nah ke sana itu istana jogja Rin" kata Mas Arif.


"Dua kali ini Rin, aku kan jarang pulang ke Jawa, sebelum bertemu kamu" katanya.


"Terus... Mas pulang ke mana? tanyaku.


"Mau tau" katanya menggoda.


"Iya" jawabku.


"Gak sakit hati?" tanyanya lagi, aku menggelengkan kepala.


"Serius?" tanyanya.


"Iya" jawabku menganggukkan kepala.


"Penasaran sekali ya?" tanya Mas Arif.


"Ya iya lah" jawabku.


"Aku dulu dapat cuti kerja tidak seperti sekarang ini Rin, dulu setahun sekali, biasanya aku ke merauke ke Bapakku, aku dapat cuti tiga bulan sekali itu baru satu tahun ini Rin, sebelumnya enam bulan sekali" jelas Mas Arif.


"Setahun ini aku pulang ke Jawa berniat mencarimu, ya... karena aku merasa tidak menemukan perempuan yang aku mau" katanya lagi.


"Sebenarnya dulu, aku melihat anakmu di rumahmu, hatiku kecewa karena kamu pasti punya suami jadi aku harus meninggalkan Jawa selamanya, eh ternyata gak punya suami, jadilah mengejar cintaku yang pernah kutinggalkan he he he" katanya sambil tertawa kemudian memandangku, aku tersenyum memandang Mas Arif.

__ADS_1


Mobil berhenti di parkiran.


"Kok berhenti Mas?" tanyaku.


"Katanya mau ke Malioboro?" jawabnya.


Aku tertawa "He he he"


Kemudian turun dari mobil, Vanopun mengikutiku, kemudian Vano di gandeng mas Arif, dan akupun memeluk pinggang mas Arif, kami menyusuri jalan Malioboro.


"Mas.. disini banyak muda-mudi menghabiskan akhir pekan disini ya? memang cocok untuk seumuran mereka?" kataku.


"Kita juga kan masih muda, masak gak cocok he he he" kata mas Arif menggoda.


"Ayo ke sana, aku mau lihat baju-baju disana" kata Mas Arif dan aku mengikutinya dengan menggandeng tangan Vano.


"Mas... mas suka ini?" tanyaku.


"Bagus, aku ambil pilihanmu Rin" kata Mas Arif.


"Beneran suka dari dalam hati? nanti lah cuma nyenengin aku saja bilang suka terus tidak di pakai" kataku.


"Bener Rin aku suka" kata Mas Arif.


"Aku yang bayar ini, aku mau belikan untuk suamiku, anggap saja kenangan dariku waktu di Malioboro, dilarang menolak" kataku.


Mas Arif tersenyum melihatku, memang selama menikah ini aku tidak boleh mengeluarkan uang sepeserpun untuk kebutuhanku juga kebutuhan sehari-hari, semua dari mas Arif, aku ambil baju yang kumaksud dan membayar ke penjualnya.


"Rin... ini kamu suka?" kata Mas Arif sambil membawa baju santai kepadaku.


"Iya Mas suka" kataku.


"Kamu pilih-pilih baju untuk Vano, Ibu, Bapak, Faris, Fina juga Ibuku ya Rin" pinta Mas Arif.


"Iya mas, jaga Vano dulu ya!" pintaku, karena sedikit lengah mengawasi Vano bisa hilang anak itu karena tingkahnya yang lari sana-sini masuk keluar di sela-sela baju, setelah selesai memilih kuhampiri mas Arif yang duduk mengawasi Vano.


"Sudah mas" kataku, kemudian mas Arif masuk ke toko untuk membayar belanjaanku, aku memegang lengan Vano.


"Vano awas hilang, sudah nurut sama Bunda jangan lari-lari kesana-kemari" kataku.


Tak lama kemudian mas Arif datang menghampiriku membawa kresek berisi belanjaan baju.


"Ayo cari makan" kata Mas Arif.


Aku mengikutinya sambil menggandeng tangan Vano, dan Mas Arif masuk ke sebuah warung kecil.


"Kamu mau pesan apa Rin?" tanya Mas Arif.


"Aku mau minum wedang ronde Mas" kataku.


"Makanya apa Rin?" tanya Mas Arif.


"Gudeg saja Mas" kataku.


Kemudian Mas Arif menghampiri penjual dan memesan pesanan kami, sambil menunggu kami ngobrol-ngobrol ringan, tak lama kemudian makanan yang kami pesan datang, aku menyuapi Vano sekaligus makan.

__ADS_1


"Kalau kurang nambah Rin, biar badanmu gak kurus" kata Mas Arif.


"Kalau aku gemuk, Mas Arif gak kuat gendong aku he he he" jawabku dan tertawa hampir saja tersedak.


__ADS_2