
Setelah membayar ke kasir aku dan Vano berjalan menuju hotel, dan menuju kamar Rinda, kubuka pintu kamar kulihat Rinda sudah tidur pulas, wajahnya masih kelihatan pucat
"Vano... jangan berisik ya? Bunda sedang tidur" kataku berbisik, Vano mengerti kemudian mengambil kertas dan alat tulis yang selalu disiapkan Rinda kemanapun Vano pergi untuk mengusir kejenuhannya
"Vano sedang apa?" tanyaku
"Mau menggambar mobil Ayah" katanya fokus pada menggambarnya, aku memperhatikan Vano saat menggambar dan mengajari menggambar yang bagus.
*****
Aku membuka mataku, kulihat mas Arif dan Vano sedang asyik di lantai
"Mas... sudah pulang?" tanyaku pelan
"Sudah bangun Rin?" tanya mas Arif, kemudian aku bangun dan turun dari tempat tidur kemudian berjalan menuju kursi duduk di sana melihat lebih dekat aktifitas dua lelakiku,
"Sapa itu yang menggambar, mas Arif?" tanyaku
"Bunda... yang menggambar Ayah, yang mewarnai Vano" kata Vano menjelaskan
"Bagus" kataku memuji mereka
"Rin... makan ya" pinta mas Arif
"Masih kenyang mas" tolakku
Waktu menunjukkan pukul delapan malam, Vano tidur di sampingku
"Mas... tadi ketemu Hera ya?" tanyaku
"Iya sayang, sudah kubayar semuanya, termasuk acaranya ke hotel ini" kata mas Arif
"Terima kasih ya mas" kataku
"Kamu makan ya?" pinta mas Arif lagi
"Mau makan apa?" tanya mas Arif
"Rin... aku sedih kamu seperti ini, tiga hari lagi aku sudah berangkat, kamu kemarin sudah sehat sekarang lemah lagi, apa keluar kerja saja?" kata mas Arif pelan
"Aku gak apa-apa mas, cuma kok gak enak makan saja" kataku menjelaskan kondisiku
"Sekarang mau makan apa?" tanya mas Arif
"Aku pingin pecel madiun" kataku
"Kamu disini saja, aku yang akan keluar membelikanmu" kata mas Arif kemudian turun dari tempat tidur, mengambil kunci sepeda motorku dan membuka pintu kemudian menutupnya lagi, aku di kamar melihat tv, kulihat Vano pulas tidurnya.
Beberapa saat kemudian mas Arif datang, waktu menunjukkan pukul sembilan malam
"Kok lama mas?" tanyaku
"Iya tadi muter nyari-nyari banyak yang tutup" katanya
"Kemudian aku turun dan duduk di meja, membuka bungkusan nasi pecel madiun
__ADS_1
"Minta disuapi?" tanya mas Arif
"Enggak mas, tapi ayo makan bareng" pintaku, akhirnya kami makan berdua
"Enak Rin?" tanya mas Arif
"Iya mas enak" kataku
"Mau nambah lagi?" tanya mas Arif
"sudah kenyang mas" kataku
Setelah habis, kubuang bungkus makanan di tempat sampah dan duduk lagi di kursi bersebelahan dengan mas Arif
"Mas... Rinda minta maaf, seharusnya hari ini kita bahagia, tapi Rinda seperti ini" kataku memulai percakapan
"Rinda... jangan bicara begitu, melihatmu sehat aku senang, kamu istirahatlah" kata mas Arif, aku berdiri mendekati suamiku dan duduk di pangkuanya kukalungkan tanganku di lehernya dan aku mencium bibirnya mesra
"Jangan menggodaku sayang" bisik mas Arif, aku tersenyum mendengar perkataan suamiku
"Suka menggodamu" kataku manja, kemudian kami saling berciuman mesra
"Love you istriku" kata mas Arif
"Love you too suamiku, hatimu jangan diberikan siapa-siapa" kataku manja
"Untukmu saja istriku" jawabnya kemudian
"Kamu kepingin?" tanya mas Ari
"Ditanya malah tanya balik" kata mas Arif
"He he he" aku tertawa mendengar perkataan mas Arif
"Mas tadi jadi beli tespek?" tanyaku
"Jadi Rin, tapi bingung aku" katanya
"Kenapa?" tanyaku pelan
"Tadi aku di tanya, yang ada cawanya apa tidak? aku kan gak pernah beli tespek juga tidak tau seperti apa, ya aku jawab yang ada cawanya begitu hehehe" cerita mas Arif
"He he he, terus dimana sekarang?" tanyaku
"Bentar aku ambilkan" kata mas Arif kemudian aku berdiri dari pangkuanya dan mengikutinya
"Ini Rin" kata mas Arif memberikan tespek, aku memgambilnya dan masuk ke kamar mandi, aku tampung air seniku ke cawan dan mencelupkan tespek ke dalam cawan tersebut.
Beberapa detik kemudian....
"Mas... mas Arif!" teriakku dari dalam kamar mandi
"Ada apa Rinda?" tanya Mas Arif
"Kesinilah..!" pintaku, kemudian mas Arif masuk ke dalam kamar mandi
__ADS_1
"Mas... ini" kataku sambil menunjukkan hasil tespek
"Maksudnya apa ini Rin, aku gak ngerti" kata mas Arif
"Mas... aku hamil mas akan jadi Ayah" kataku sambil memberikan hasil tespek ke suamiku
"Yang bener Rin" kata mas Arif tidak percaya, aku menganggukkan kepala dan mas Arif memelukku, mencium perutku,
"Aku akan jadi Ayah" bisiknya, kemudian mas Arif menggendongku naik ke tempat tidur, memandangku dengan tatapan bahagia
"Terimakasih sayang, terimakasih kado ulang tahunku yang ke tiga puluh" katanya kemudian tersenyum memandangku, memelukku mesra
"Rin... banyak istirahat ya sayang" kata mas Arif, aku menganggukkan kepala, memeluk suamiku, menciumnya
"Terimakasih atas semua cintamu sayang" kataku
"Ayo istirahat Rin" kata mas Arif kemudian memelukku, aku masuk dalam dekapanya, dan tertidur, rasanya bisa tidur nyenyak kalau sudah mencium bau suamiku.
Pagi hari, Vano sudah bangun duluan, aku dan mas Arif masih tidur, Vano turun dari kamar tidur mengambil susu kotak dan bermain sendiri di lantai tanpa mengganggu orang tuanya
Ku buka mataku perlahan walaupun sangat berat, mas Arif terbangun karena gerakan tubuhku
"Rinda... mau kemana?" tanya mas Arif
"Mau ambil cemilan mas, lapar" kataku, kemudian mas Arif bangun dan turun dari kamar tidur, aku juga turun dari kamar tidur dan duduk di kursi dekat dengan Vano, mas Arif berjalan menuju ke tempatku duduk dan duduk di sampingku memberikan roti yang sudah dibuka bungkusnya ke aku
"Terimakasih mas" ucapku, mas Arif memandangku dan mengecup keningku
"Rin... setelah ini kita pulang ya" kata mas Arif
"Iya mas, aku mandi dulu terus beres-beres" kataku, kemudian aku masuk kamar mandi, langsung mual dan mau muntah, mas Arif menghampiriku
"Kenapa Rin?" tanya mas Arif
"Enggak napa-napa mas, cium bau kamar mandi langsung mual saja" kataku
"Gak bau kamar mandinya gini" kata mas Arif
"Gak jadi mandi mas" kataku kemudian aku membaringkan tubuhku di tempat tidur, kepalaku rasanya pusing sekali, setelah lumayan membaik, aku bangun dari tempat tidur
"Rin... kalau masih tidak enak, istirahatlah" kata mas Arif
"Ayo pulang mas, aku ingin tidur di rumah" kataku, setelah beres-beres, kami meninggalkan kamar hotel
"Ayah, Bunda kok cepat sekali pulangnya?" tanya Vano
"Vano mau tidur hotel lagi?" tanya mas Arif kemudian, Vano menganggukkan kepalanya
"Nanti kalau ada waktu ya, Bunda masih kurang sehat" bujuk mas Arif
Mas Arif berjalan menuju resepsionis memberikan kunci hotel untuk cek out, kemudian kami keluar dari hotel menuju parkiran sepeda, Vano duduk di depan, aku di belakang mas Arif
"Muat mas?" tanyaku
"Ya muat Rin, kalau nambah satu lagi gak muat kalau naik sepeda hehehe" kata mas Arif dan tertawa, aku memeluk mas Arif menyandarkan kepalaku ke punggung mas Arif, kemudian sepeda motor meninggalkan hotel menuju rumah mas Arif
__ADS_1