
Pagi menjelang, mentari menyinari kamar dari celah jendela, kulihat jam dinding kamar hotel menunjukkan pukul tujuh pagi.
"Mas... bangun" bisikku ke Mas Arif.
"Sayang... aku masih ingin tidur memelukmu" kata Mas Arif dengan mata terpejam.
"Nanti di lanjut di rumah, Vano harus sekolah" kataku.
Kemudian bangun tidur merapikan baju yang berantakan, kulihat Vano masih tidur, aku menuju kamar mandi, setelah selesai mandi berganti baju dan membuka pintu, sudah ada sarapan di meja samping pintu, aku bawa ke dalam kamar kuletakkan di meja.
"Vano... ayo bangun" bisikku dan menciumnya dengan lembut.
"Bunda... masih mau tidur Vano" katanya.
"hei... anak Bunda gak sekolah?" tanyaku.
"Sekolahnya libur" kata Vano dengan mata terpejam.
Hadew ini anak, beneran libur atau cuma alasan saja, ah baiknya aku menelpon Bu Via saja batinku.
Kuambil hp di tas ku mulai mencari nama Bu Via di kontak hp.
"Assalamualaikum.." sapaku.
"Waalaikum salam, Bu Rinda ada apa?" tanya Bu Via.
"Bu... apa betul sekolah libur? Vano barusan bilang begitu" kataku.
"Oh iya Bu betul, untuk sekolah libur tapi penitipan anak setengah hari" jelas Bu Via.
"Terimakasih Bu atas infonya" kataku dan hp aku matikan.
Melihat dua lelakiku yang sedang tertidur pulas satu di atas ranjang satu di bawah, akhirnya aku rebahkan tubuhku di samping suamiku, memeluknya dari belakang mencium lehernya, mungkin dia merasa terganggu tidurnya he he he akhirnya dia membalikan badannya menghadapku.
"Apa..." kataku menggoda.
Mas Arif memeluk dan menciumku mesra.
"Jam berapa cek out nya Mas?" tanyaku.
"Nanti jam dua belas" jawab Mas Arif.
"Vano mana?" tanyanya.
"Vano masih tidur Mas" jawabku.
"Bulan madunya di lanjut ke Jogja? mau?" tanya Mas Arif.
"Mau sekali" kataku
"Berapa hari mas disana?" tanyaku
"Terserah maumu Rin" jawabnya.
"Jangan lama-lama Mas, kasihan Vano lama gak sekolah" kataku.
"Bagaimana kalau berangkat jumat, balik sini minggu?" usul Mas Arif.
"Oke, uangnya?" tanyaku.
__ADS_1
"Sudah tenang saja istriku" jawabnya.
"Tiket kereta api biar Rinda saja Mas, gak enak lah mas Arif semuanya" kataku.
"Jangan sayang, uangmu untukmu saja, kamu tabung kalau mau, nanti bisa buat kebutuhan yang aku tidak bisa beri" katanya.
"Terima kasih mas" kataku dan masuk ke dalam pelukanya.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul sebelas siang, sebentar lagi kami cek out hotel segera kami berkemas meninggalkan hotel, meninggalkan kenangan indah nan romantis bersama suami dan anakku.
Mobil meninggalkan area parkir hotel, menuju rumah Mas Arif, sampai di rumah, Ibu mertua duduk sendiri di ruang keluarga.
"Kamu semalam dari mana Rif" tanya Ibu.
"Nenek... semalam tidur di hotel, Vano lihat kapal di laut Nek" cerita Vano.
Hadew anak ini mulutnya ember juga batinku, Ibu mertuaku menggelengkan kepala.
"Vano... main di dalam kamar ya?" pintaku.
Vano menuruti permintaanku berjalan menuju kamar tamu dengan membawa mainanya, tinggal aku, Mas Arif dan Ibu.
"Arif... Arif... kalau begitu ya Vano ditinggal" kata Ibu.
"Apa sih bu, Vano kan tidur gak tau, gak enak juga ninggal Vano, masak senang-senang ninggal anak, lusa aku mau ke Vera Bu" kata Mas Arif.
"Mau melanjutkan honeymoon? Vano kamu ajak lagi?" tanya Ibu.
"Ya iyalah Bu" jawab Mas Arif.
"Di jaga, jangan sampai anak tau perbuatan kalian, di contoh bahaya nanti" nasehat Ibu.
"Oke" jawab mas Arif dengan mengacungkan jempolnya.
"Belum Bu" jawabku.
"Vano... ayo makan" panggilku, tak lama kemudian Vano berlari ke arah kami, kemudian kami menuju meja makan dan menikmati makan bersama.
****
Ketika Mas Arif sholat jumat di masjid dekat rumah, aku menyiapkan kebutuhan yang kami bawa untuk ke jogjakarta.
"Vano... mainan mana yang mau kamu bawa?" tanyaku, kemudian Vano membawa beberapa mainan dan menyerah kepadaku.
"Cuma ini?" tanyaku lagi, dia mengangguk sambil meminum susu kotak dan berlari meninggalkanku di kamar
Tak lama kemudian Mas Arif datang.
"Mas... ini yang aku bawa, apa ada yang kurang?" tanyaku.
Kemudian Mas Arif memeriksa yang dia butuhkan waktu di Jogja.
"Sudah semua sayang" katanya sambil mengecup pipiku.
"Mas... apa Mas akan seperti ini sampai tua nanti? apa masih mau menciumku setiap saat ketika kulitku sudah keriput?" tanyaku
"Kan sama-sama sudah keriput, kamu mau gak kucium ketika aku sudah tua he he he" jawabnya dan tertawa
Kami sama-sama tertawa
__ADS_1
"Mas... aku membayangkan seperti apa rupa kita nanti ketika sama-sama menua nanti he he he" kataku.
"Yang jelas aku tetap cinta kamu" kata Mas Arif dan memelukku.
"Love you bidadariku" bisiknya.
Waktu menunjukkan pukul dua lebih sepuluh menit.
"Mas... kita berangkat sekarang?" tanyaku.
"Ayo" jawab Mas Arif sambil membawa koper ke depan.
"Mas sudah pesan transportasi online?" tanyaku.
"Sudah, ini sudah perjalanan ke sini" katanya.
"Mas... Ibu ke mana? aku mau pamit" tanyaku.
"Oh iya, ayo ke atas bareng" kata Mas Arif.
Kami bertiga segera menaiki tangga dan Mas Arif mengetuk pintu kamar Ibu, tak lama kemudian Ibu membuka pintu kamar.
"Bu, pamit mau ke Vera" pamit Mas Arif.
Kemudian aku bersalaman mencium punggung tangan Ibu.
"Hati-hati di jalan, salam untuk Vera" pesan Ibu.
"Ibu juga hati-hati, jaga kesehatan Bu" kataku, kemudian kami menuruni anak tangga, keluar rumah menunggu mobil yang sudah di pesan Mas Arif, tak lama kemudian mobil sampai di depan dan kami segera naik ke dalam mobil.
Mobil yang kami tumpangi meninggalkan perumahan menuju ke stasiun yang hanya sepuluh menit sampai.
Setelah sampai di stasiun kami turun dan menuju kursi tunggu, tak berapa lama kereta yang akan membawa kami ke Jogja datang.
Mas Arif menggendong Vano, aku menarik koper menuju kereta api dan masuk ke dalam mencari-cari tempat duduk sesuai dengan gerbong dan nomer duduk, akhirnya ketemu, dan kami duduk berdampingan.
Lima belas menit kemudian kereta api berjalan menyusuri rel kereta menuju kota gudeg.
"Vano suka naik kereta?" tanyaku.
"Suka sekali Bunda" katanya sambil bernyanyi lagu naik kereta api.
"Vano nanti di Jogja bertemu dengan adik Ayah, kamu panggil tante Vera ya? juga ada suami tante Vera, kamu panggil om Deddy ya?" jelas mas Arif.
Vano mengangguk tanda mengerti.
"Oh iya om Deddy dan tante Vera itu dokter loh" kataku.
"Vano nanti disuntik tidak?" tanya Vano.
"Vano tidak sakit kenapa di suntik?" kataku.
"Kata teman-temanku, dokter itu suka menyuntik orang" cerita Vano.
"kalau tidak sakit ya tidak di suntik Vano" jelasku.
Tak terasa waktu menunjukkan pukul delapan malam, Vano sudah terlelap tidur.
"Rin, ngantuk?" tanya Mas Arif.
__ADS_1
"Iya mas" jawabku dan sesekali menguap.
"Sini" katanya dan merangkulku memelukku dan aku tertidur dalam dekapanya.