
Dalam perjalanan pulang.
"Mbak... langsung pulang atau mau kemana dulu?" tanya Pak Dirman.
"Makan dulu Pak" kataku.
"Dimana Mbak?" tanya Pak Dirman.
"Dekat sama rumah saja Pak" jawabku.
"Nanti Rinda kasih tau" kataku lagi.
"Mbak Rinda ini asli kota ini?" tanya Pak Dirman sambil mengemudi.
"Iya Pak asli sini" jawabku.
Pak Dirman usianya sekitar 50 tahunan, terkadang diajak Ibu untuk menjadi sopirnya kalau lagi keluar kota.
"Mas Arman kan jarang di sini kok bisa kenal dengan Mbak Rinda?" tanyanya kembali karena penasaran.
"Mas Arman ini teman sekolah Rinda dulu Pak Dirman, ketemu lagi beberapa waktu yang lalu akhirnya kami menikah" jelasku ke Pak Dirman.
"Oh...pak Dirman baru ketemu Mas Arif dua kali ini, kalau sama mbak Vera sudah beberapa kali, Mas Arif kan kerja di luar Jawa ya Mbak?" tanya Pak Dirman.
Ya...obrolan-obrolan ringan dalam mobil mengusir kejenuhan, Vano tidur di pangkuanku.
"Iya Pak, dua bulan sekali pulang" kataku menjelaskan.
Waktu menunjukkan pukul tujuh sore.
"Pak Dirman rumah makan yang di depan sebelah kiri itu, kita makan di sana saja!" pintaku sambil menunjuk tempatnya.
"Iya Mbak" jawab Pak Dirman tetap fokus dengan mengemudinya.
Mobil masuk ke halaman rumah makan prasmanan, aku bangunkan Vano.
"Vano, ayo turun" kataku sambil mengguncang-guncang tubuhnya.
Vano membuka matanya dan bangun dari tidurnya, menguap kemudian turun dari mobil.
"Bunda... kita dimana?" tanya Vano.
"Ayo makan dulu" kataku.
"Pak Dirman, ayo masuk, makan di dalam" ajakku ke Pak Dirman.
"Enggak usah Mbak Rinda" tolaknya.
"Sudah ayo" ajakku kemudian Pak Dirman mengikutiku berjalan di belakangku, angin malam mengibaskan gamis dan kerudungku.
Aku menggandeng tangan Vano masuk ke dalam rumah makan tersebut, seorang pelayan menghampiri kami.
"Ibu... mau minum apa?" tanya pelayan tersebut dengan sopan.
"Ada apa saja mas?" tanyaku.
"Ini Bu bisa Ibu lihat" kata pelayan sambil memberikan daftar menu.
"Pak Dirman mau minum apa?" tanyaku.
"Es teh saja" kata pak Dirman.
__ADS_1
"Iya pak, pak Dirman ambil makanan sendiri ya, terserah mau makan apa" kataku.
"Mas... es teh satu, es jeruk satu" pesanku.
Kemudian aku mengambil piring dan makanan yang bisa aku makan juga di makan oleh Vano.
"Mbak saya duduk di sini saja" kata Pak Dirman menjauh dariku, ya... mungkin merasa tidak nyaman saja makan dekat denganku.
"Ayo makan Vano, aku suapi" kataku sambil menyuapi Vano.
Telpon berdering dari dalam tasku, segera aku ambil dan aku angkat.
"Assalamualaikum" sapaku.
"Waalaikum salam" jawab Ibu mertuaku.
"Rin... sekarang sudah sampai mana?" tanya Ibu mertua
"Sudah dekat rumah Bu, ini Rinda masih makan sama Vano juga Pak Dirman" kataku menjelaskan sambil menyuapi Vano
"Oh iya, hati-hati" pesan Ibu.
"Ibu sudah makan?" tanyaku lagi.
"Sudah Rin" jawab Ibu.
"Sudah dulu Rin, hati-hati ya, assalamualaikum" kata Ibu ingin mengakhiri telponnya.
"Waalaikum salam" jawabku dan aku matikan telponnya.
Segera aku menyelesaikan makanku, setelah selesai kemudian aku membungkus beberapa lauk untuk dipakek sarapan besok dan membayarnya di kasir.
Kulihat Pak Dirman sudah berada di depan rumah makan.
"Iya Mbak" jawab Pak Dirman kemudian kami menuju ke mobil dan naik ke dalam mobil.
Mobil melaju meninggalkan warung makan tersebut.
"Mbak Rinda tinggal bersama Ibu Linda setiap harinya?" tanya Pak Dirman.
"Iya Pak, karena sekolah anakku dan tempat kerjaku lebih dekat dari rumah Ibu, daripada rumah orang tuaku, disamping itu menemani Ibu di rumah, kasihan sendirian" jawabku.
"Iya mbak, sejak Vera pindah ke Jogja bersama suaminya, Bu Linda tinggal sendirian, ya... wanita karir" kata Pak Dirman.
Tak lama kemudian mobil sampai di rumah, aku turun bersamaan dengan Vano membuka pintu pagar.
"Pak langsung dimasukkan ke garasi saja ya!" pintaku.
"Iya Mbak" jawab Pak Dirman.
Aku masuk ke dalam rumah, sepi sekali, mungkin Ibu ada di atas, batinku.
Setelah meletakkan tas di dalam kamar dan mengambil dompet, aku ke depan menghampiri Pak Dirman yang sedang mengeluarkan sepeda motornya.
"Pak Dirman, maaf, ini" kataku sambil membuka dompet dan mengambil lembaran kertas uang lalu memberikan kepada Pak Dirman
"Iya terima Mbak, saya langsung pulang" kata Pak Dirman sambil menerima uang dariku dan menyerahkan kontak mobil.
Sepeninggal pak Dirman aku mengunci pintu pagar dan pintu rumah, kemudian masuk ke dapur menaruh ikan yang aku beli di dalam kulkas.
Rumah ini sepi sekali tanpa Mas Arif, batinku.
__ADS_1
Aku naik ke atas ke kamar Ibu.
Aku ketuk pintu kamar Ibu.
Tok...tok...tok... tak lama kemudian pintu terbuka.
"Ibu sudah tidur?" tanyaku.
"Belum Rin, ada apa?" tanya Ibu.
"Enggak apa-apa Bu, ini kontak mobilnya Bu" kataku sambil menyerahkan kontak mobil.ke Ibu.
"Rinda ke bawah dulu Bu, tadi Rinda beli makanan Rinda masukkaan ke kulkas" kataku menjelaskan.
Aku berbalik dan turun ke bawah, menuju kamar, Vano masuk ke kamarnya, aku lihat dia mulai mengantuk, aku dekati Vano dan aku rebahkan tubuhku di samping Vano.
Terdengar suara hp ku berbunyi, aku lihat Vano sudah tidur dan aku kasih bantal guling di pinggir Vano berharap tidak jatuh, aku keluar kamar menuju ke kamarku, hpku masih terus berbunyi, aku lihat ternyata mas Arif.
"Assalamualaikum Mas" sapaku.
"Waalaikum salam, belum sampai rumah?" tanya Mas Arif.
"Barusan Mas, tadi Pak Dirman sudah aku kasih uang, terus makan di rumah makan perbatasan kota itu loh Mas" jelasku.
"Tadi aku ke atas memastikan Ibu sudah ada di rumah, Mas masih di Bandara Soekarno Hatta?" tanyaku.
"Iya Rin, nanti jam sepuluh baru berangkat pesawatnya" kata Mas Arif menjelaskan.
"Iya Mas, Mas sudah makan?" tanyaku lagi.
"Sudah Rin" jawab Mas Arif.
"Mas... sepi sekali rumah ini, Vano sudah tidur, Ibu mungkin juga sudah tidur" kataku.
"Sekarang kemana-mana berdua lagi sama Vano" kataku lagi.
"Sabar Rin, suatu saat nanti kita pasti bisa berkumpul bersama ya" jawab mas Arif.
"Iya Mas, aku akan simpan uang Mas untuk masa depan kita nanti" kataku.
"Terima kasih istriku" kata Mas Arif.
"Rin... aku masih kangen sama kamu" kata Mas Arif lagi.
"Aku juga Mas" kataku pelan, serasa dada ini sesak menahan rasa rindu.
"Mas... hati-hati ya sayang" pesanku.
"Besok sampai Bandara Sentani pagi Rin terus lanjut penerbangan ke Bandara Mozes Kilangin" jelas mas Arif.
"Iya Mas, dijaga kesehatanya" kataku.
"Pasti itu, kamu juga" kata Mas Arif.
"Rin sudah dulu ya?" kata Mas Arif.
"Iya mas, hati-hati ya? jangan lupa sholat" pesanku ke Mas Arif.
"Insyaallah bidadariku, i love you, assalamualaikum" ucap Mas Arif
"Waalaikum salam" jawabku kemudian aku matikan hp.
__ADS_1
Aku keluar dari kamar menuju kamarnya Vano dan merebahkan tubuhku di sebelahnya, kulihat jam di dinding kamar menunjukkan pukul sepuluh malam, aku pejamkan mataku dan memeluk anakku dan tertidur.