Lika-Liku Single Parent

Lika-Liku Single Parent
Merayakan


__ADS_3

Sampailah kami di tempat makan yang kami tuju, aku, Mas Arif, Vano, Faris dan Fina masuk ke dalam dan kami duduk lesehan kemudian memesan menu sambil menunggu makanan datang kami ngobrol-ngobrol ringan.


"Ris, nanti rencana nginap apa tidak?" tanyaku


"Enggak kayaknya Mbak" jawabnya.


"Aku gak ke sana ya, salam untuk Ibu Bapak" pesanku.


"Iya Mbak, nanti tak sampaikan" jawab Faris.


Tak berapa lama kemudian makanan yang kami pesan datang, selesai menyantap makanan, Mas Arif menuju kasir membayarnya kemudian kembali menuju ke kami yang masih duduk lesehan merasakan kenyang yang enggan rasanya beranjak dari situ.


"Disini saja Rin?" tanya Mas Arif.


"He he he ya pulang lah Mas" kataku.


"Kekenyangan jadi malas" kataku.


"Ya jelas habis makan pasti kenyang" kata Mas Arif.


"Ris, aku pulang dulu ya, hati-hati bawa anak orang" pamit Mas Arif sambil menepuk pundak Faris.


Kemudian kami menuju ke mobil mas Arif menggandeng tanganku aku menengok ke adikku melambaikan tangan kemudian naik ke mobil meninggalkan tempat itu menyusuri jalanan kota.


Dalam perjalan Faris dan Fina.


"Mas, Mbak Rinda dan suaminya mesra sekali ya, Mas Arif juga sayang sama Vano, walaupun Vano bukan anak mereka" kata Fina


"Mungkin Allah memberi yang terbaik bagi Mbak Rinda setelah sekian lama bersedih, kasihan Mbak ku ini Fin, dia begitu tegar menghadapi permasalahan hidup" cerita Faris.


"Kenapa memangnya Mbak Rinda mas?" tanya Fina.


"Ceritanya panjang Fin, suatu saat aku cerita, yang aku tau mbak Rinda beberapa hari yang lalu sebelum menikah dengan mas Arif, depresinya kambuh lagi" kata Faris.


"Kenapa memangnya? mbak Rinda seperti tidak kenapa-napa begitu?" tanya Fina.


"Sudah gak depresi itu Fin, nanti aku ceritakan awal mula mbak ku depresi" kata Faris.


Dalam mobil Arif.


"Mas... mau kemana ini?" tanyaku.


"Ke stasiun jemput Ibu" kata Mas Arif.


"Horeeee Nenek pulang" teriak Vano.


Sampai di stasiun, menunggu beberapa saat dan tiba lah kereta api yang ditumpangi oleh Bu Linda, terlihat beberapa penumpang turun dari kereta api, ada yang menunggu di ruang tunggu ada yang segera keluar menuju parkiran kendaraan ada pula yang segera di jemput oleh keluarganya maupun memesan transportasi online, tak lama kemudian terlihat ibu Linda.


"Ibu... sini saya bawa tasnya" kataku.

__ADS_1


Kemudian membawa tas yang di bawa Ibu.


"Makasih Rin, sudah lama menungguku?" tanya Ibu.


"Gak lama kok, iya kan Mas Arif barusan kita disini" kataku dan menatap suamiku.


"Iya Bu baru saja di sini, ibu kelihatan lelah sekali, setelah dari rumah istirahat Bu" kata suamiku.


Kemudian kami berjalan menuju mobil yang di parkir Mas Arif tak jauh dari stasiun, naik ke dalam mobil langsung menuju ke rumah.


"Ibu sudah makan?" tanyaku.


"Sudah Rin, aku bawa makanan dari Jogja, bawa gudeg, juga bakpia" kata Ibu.


"Vera bagaimana Bu kabarnya?" tanyaku.


"Vera baik kabarnya, kamu ditunggu Vera main ke Jogja" kata Ibu.


"Mas Arif bagaimana, kapan ke Jogja?" tanyaku.


"Lihat senin besok Rin, aku bisa dapat cuti atau tidak" kata Mas Arif.


Tak lama kemudian mobil memasuki pintu gerbang perumahan, dan sampai rumah.


"Ibu istirahat saja, biar Rinda yang membersihkan semuanya" kataku.


"Iya Rin, makasih ya" kata Ibu.


Hari Senin, setelah mengantarkan Vano sekolah aku dan Mas Arif menuju Kantor Urusan Agama untuk mengambil surat nikah kami, sebelum berangkat berpesan kepada bu gurunya Vano baik di sekolah Paud maupun di penitipan anak untuk menjaga Vano biar tidak terganggu bila ayahnya berulah seperti tempo hari, sampai hari ini tidak telpon dari ayahnya Vano mengabariku walau sekedar mau bertemu Vano.


Sampai kami di Kantor Urusan Agama, turun dari mobil masuk ke dalam kantor.


"Assalamualaikum" sapaku.


"Waalaikum salam" jawab petugas.


"Silahkan duduk, bisa saya bantu" kata petugas dengan ramah.


Kami pun duduk, Mas Arif mengeluarkan selembar kertas menunjukkan kepada petugas, petugas membaca selembar kertas itu dan mengerti maksud kedatangan kami.


"Oh.... sebentar ya Pak" kata petugas .


Kemudian berlalu meninggalkan kami masuk ke dalam kantor, tak lama kemudian petugas tersebut kembali dengan membawa buku nikah.


"Ini Pak" kata petugas tersebut.


"Ini untuk pihak suami dan ini untuk pihak istri" kata petugas tersebut lagi sambil menyerahkan buku nikah ke kami.


"Terima kasih pak, kami pamit" kata Mas Arif sambil berjabat tangan dengan petugas tersebut.

__ADS_1


"Assalamualaikum" kata Mas Arif kemudian berlalu meninggalkan kantor menuju mobil dengan menggandeng tanganku, masuk ke dalam mobil, dan meninggalkan Kantor Urusan Agama.


"Mas... mau ke mana kita?" tanyaku.


"Mau merayakan pernikahan kita hanya denganmu" kata Mas Arif.


"Hah... " terkejut aku.


"Kita berdua, terus Vano?" tanyaku kemudian.


"Ya nanti jam empat kita jemput Vano" kata Mas Arif dengan tatapan menggoda.


Mobil terus melaju ke perbatasan kota dekat dengan pantai, dan berhenti di sebuah hotel.


"Maksud Mas Arif?" tanyaku dengan rasa sangat penasaran.


"Ayo masuk, ikut saja denganku" kata Mas Arif, dan aku mengikutinya di belakangnya.


Mas Arif menuju resepsionis.


"Mbak ada kamar yang menghadap ke pantai?" tanya Mas Arif.


"Ada pak" jawab resepsionis.


"oke" jawab Mas Arif.


"Kartu identitas Pak?" tanya resepsionis.


Kemudian Mas Arif menunjukkan ktp nya.


"Maaf Pak, Bapak disini masih lajang, sedangkan Bapak membawa perempuan masuk ke kamar hotel ini, Bapak bisa lihat ini hotel syariah" kata resepsionis menjelaskan peraturan hotel tersebut.


"Rin.. surat nikahnya!" kata Mas Arif melirikku seraya menyuruhku untuk mengambil buku nikah yang tadi, segera ku buka tas dan menyerahkan ke resepsionis.


"Oh...maaf, silahkan naik ke lantai dua nanti segera ada petugas mengantarkan kalian ke kamar" kata resepsionis sambil tersenyum dan menunjukkan arah tangga.


Kami menaiki tangga mengikuti petugas hotel, Mas Arif terus memegang tanganku, dalam hatiku memikirkan Vano, bagaimana pulangnya, kutoleh jam dinding di hotel tersebut menunjukkan pukul sembilan pagi, sampai di depan pintu kamar petugas mempersilahkan kami masuk, ya... hotel yang bersih dan ada balkon menghadap ke pantai, sungguh romantis suasananya tapi hatiku tidak bisa menikmatinya masih memikirkan Vano, batinku.


"Rin... kenapa dari tadi melamun? tidak suka?" tanya Mas Arif pelan.


"Vano Mas" jawabku pelan.


"Tempat ini dengan sekolah Vano 45 menit nanti jam dua aku jemput aku bawa ke sini" kata Mas Arif.


"Terus bajuku, seragam Vano, baju Vano?" tanyaku lagi.


"Sudah aku siapkan ada di bagasi" kata Mas Arif, aku memeluknya mencium mesra bibirnya.


"Terimakasih sayang, suamiku, selalu tau yang aku butuhkan" kataku.

__ADS_1


"Mas... bagaimana? bisa ambil cuti Mas?" tanyaku.


__ADS_2