Lika-Liku Single Parent

Lika-Liku Single Parent
Rencana


__ADS_3

Sepulang kerja, aku Mas Arif dan Vano sedang bercengkerama di ruang keluarga.


"Bunda... tadi Vano dapat bintang lima," kata Vano menceritakan nilainya di sekolahnya tadi.


"Bagus Vano," pujiku.


"Ayah... Vano tidak ayah beri hadiah," rengek Vano.


"Iya besok ya sepulang sekolah," jawab Mas Arif pelan kemudian memangku Vano di pangkuannya dan menciumi wajah Vano.


Aku tersenyum melihat suamiku sambil mengusap perutku.


Vano turun dari pangkuannya Mas Arif dan menghampiriku kemudian mencium perutku.


"Semoga dedekku nanti cowok, bisa main mobil-mobilan," bisik Vano saat mencium perutku.


"Wah... bunda jadi cantik sendiri dong," kataku.


Mas Arif tersenyum mendengar ucapanku dan memeluk pundakku kemudian aku sandarkan kepalaku di bahu suamiku.


Vano kembali duduk di karpet setelah mencium perutku.


Telpon berdering dari dalam kamar.


"Mas, sepertinya hp Mas yang bunyi," kataku.


"Iya Rin, bentar ya, aku ke kamar," kata Mas Arif sambil berdiri dan mencium keningku kemudian berjalan menuju ke kamar.


Mungkin Deni yang telpon, sudahlah biar pembicaraan para lelaki.


Aku merebahkan tubuhku di sofa, rasanya enak sekali.


Mata ini kenapa kok mengantuk saja kalau sudah posisi wenak gini, batinku.


Sejak hamil ini sering sekali aku mengantuk


Semakin berat mataku, dan akhirnya aku tertidur di sofa keluarga.


Beberapa saat kemudian, terasa ada yang menciumi bibirku dengan lembut, aku mulai membuka mataku perlahan walaupun berat.


"Mas...," bisikku dengan suara pelan.


"iya sayang," jawabnya.


Suamiku tersenyum memandangku, aku juga.


"Vano kemana Mas?" tanyaku.


"Sudah tidur di kamarnya, ayo pindah ke kamar," ajak Mas Arif.


"Aku gak Mas gendong?" tanyaku manja.


"Sudah berat Rin, ayo aku gandeng," jawab Mas Arif sambil mengulurkan kedua tangannya.


Bangun dari sofa aku berjalan menuju ke kamar digandeng Mas Arif.


Sampai di kamar aku merebahkan kembali badanku, demikian juga dengan Mas Arif.


"Rin, tadi Deni yang telpon, sebenarnya Deni ini serius sama Nia, usia mereka juga sama dengan kita, sudah tidaklah muda lagi, sebenarnya Deni mau buat kejutan pada Nia." Mas Arif mulai bercerita.

__ADS_1


"Kejutan bagaimana Mas?" tanyaku dengan penasaran.


Mas Arif sambil mengusap perutku, "Eh anak kita bangun sayang, terasa bergerak."


"Deni mau ke sini nanti, langsung melamar Nia, walaupun belum pernah bertemu Nia, tapi Deni percaya sama kita kalau Nia itu anak baik," kata Mas Arif menjelaskan.


"Waw so sweet," ucapku terperangah.


"Nia kira-kira bagaimana ya Mas kalau mas Deni langsung ke rumah Nia, dan langsung melamarnya? tapi kita juga ikut mensukseskan acaranya," usulku.


"Bagus Rin, tugasmu sekarang berusaha menghibur Nia meyakinkan kalau Deni itu serius tapi jangan cerita rencananya Deni tadi," kata Mas Arif.


"Pasti Mas, oh iya kapan mas Deni akan melamar Nia?" tanyaku serius.


"Cuti berikutnya Rin," jawab Mas Arif.


"Berarti bersamaan dengan mas Yusuf ya?" tanyaku.


"Iya Rin," jawab Mas Arif sambil menciumi pipiku.


Aku merasa ada gerakan dari dalam perutku.


"Mas, anak kita bangun, apa dia mendengar pembicaraan kita ya?" tanyaku.


"Mungkin dia ikutan nimbrung dengan rencana kita," jawab Mas Arif.


"He he he masak kayak ibu-ibu yang suka gosip Mas," kataku dan tertawa.


"Kayaknya anak kita perempuan Rin, kata orang-orang kalau perempuan hamil kelihatan cantik, anaknya perempuan," kata Mas Arif.


"Cowok, cewek yang penting selamat Mas," jawabku.


"Love you too my hubby," kataku pelan dan tersenyum.


Mas Arif memelukku, tubuhku masuk ke dalam pelukannya.


"Ayo tidur Mas," kataku pelan.


"Kamu memgantuk?" tanya Mas Arif.


"Iya Mas," jawabku.


Kemudian Mas Arif menatap wajahku dan tersenyum kemudian mulai mencium bibirku dengan lembut, dan melepaskannya.


"Mas, pingin?" tanyaku.


"Iya sayang, ini sudah tegang saja he he he," jawab Mas Arif.


Malam semakin larut, dua anak manusia sedang memadu kasih dengan mesranya, menikmati hubungan intimnya dengan perasaan cintanya, sampai pada puncak kepuasan, saling memandang, saling tersenyum dan saling berpelukan.


"Love you Mas," bisikku setelah sampai pada titik kenikmatan bercinta.


"Love you too," bisik Mas Arif dan menciumku juga mencium perutku.


Setelah dari kamar mandi untuk bersih-bersih kami tertidur pulas saling berpelukan.


Keesokan harinya.


Aku bangun tidur dan mencium suamiku yang masih terlelap dalam tidurnya dan membisikinya, "Mas... bangun, ayo mandi kita sholat subuh berjamaah."

__ADS_1


Masih juga belum bangun, aku guncang-guncangkan tubuhnya, matanya mulai membuka, aku tersenyum melihatnya.


"Bangun sayang," kataku pelan sambil mencium pipinya.


"Kamu sudah mandi?" tanya Mas Arif.


"Belum," jawabku.


Mas Arif bangun dari pembaringan, aku masuk ke dalam kamar mandi, melepas bajuku dan menyalakan shower.


Mengusap perutku dengan lembut, baik-baik saja ya sayang," bisikku.


Setelah selesai mandi aku dan Mas Arif sholat berjamaah.


Aku menyiapkan sarapan dan suamiku menyapu lantai rumah.


Setelah semua siap dan juga sudah sarapan, demikian juga Vano, Mas Arif mengantar Vano sekolah dan mengantarku bekerja.


Di ruang kerja terlihat Nia masih cemberut saja, berbeda dengan wajah Widya yang tampak semringah karena tiga hari lagi bertemu dengan mas Yusuf.


"Nia, kamu ada masalah dengan mas Deni?" tanyaku.


Nia mengangguk.


"Kamu iri sama Widya?" tanyaku pelan.


"Mas Deni ini bagaimana sih? ditanya kapan bertemu, jawabnya santai saja, aku kan jadi males," jawab Nia.


Aku tersenyum mendengar jawabannya Nia, teringat obrolanku semalam dengan suamiku.


"Nia, mas Deni itu orangnya baik loh, siapa tau dia begitu mau menyiapkan sesuatu yang indah untukmu," kataku menghibur Nia.


"Mana mungkin," kata Nia.


"Ya mungkin saja Nia, kamu berdoa saja, kamu tau bagaimana mas Arif denganku dulu saat melamarku?" tanyanya.


"Suamimu memberimu kejutan, kan?" tanya Nia.


"Iya, jadi selama mas Deni masih baik komunikasinya denganmu, siapa tau mas Deni ingin mengenalmu lebih dalam dan menyiapkan kejutannya." kataku.


"Bisa jadi ya? mas Deni dan suamimu kan akrab ya, ah... jadi tidak sabar saja," kata Nia bersemangat.


Tak terasa waktu terus berjalan, sore menjelang, waktuku untuk pulang.


Aku dibonceng Nia sampai di mobil suamiku.


"Nia bagaimana dengan Deni gak macet lagi kan?" tanya Mas Arif menggoda.


"Sudah aku sampaikan kok ke Deni, kalau cintanya macet," kata Mas Arif.


"Terus bagaimana jawabanya Mas?" tanya Nia bersemangat.


"Ya Deni tertawa saja, nitip omongan kalau suatu saat nanti akan ditunjukkan cintanya padamu, ya cinta yang tidak macet," kata Mas Deni.


"Oh," Nia bengong mendengar ucapan suamiku.


"Hei, jangan bengong di sini, sudah pulang sana mandi dan dandan yang cantik terus video call sama mas Deni, aku mau pulang dulu," kataku sambil menepuk pundak Nia dan berjalan masuk ke dalam mobil di ikuti suamiku.


Perlahan mobil berjalan meninggalkan kantorku menuju tempat jual mainan kemudian pulang.

__ADS_1


__ADS_2