Lika-Liku Single Parent

Lika-Liku Single Parent
Kedatangan


__ADS_3

Sebulan kemudian...


Usia kandunganku sudah jalan enam bulan, semenjak pertemuan terakhir dengan ayahnya Vano, dia sudah tidak menghubungiku ataupun menemui Vano di sekolahnya.


Ibu mertua baru kemarin berangkat ke Jogja, setelah dua minggu di sini, sebulan lagi Vera melahirkan, jadi Ibu mertua untuk bulan depan tidak pulang ke sini, urusan keuangan tempat usahanya aku yang di minta untuk mengecek, asistennya rencana setiap minggu ke rumah mengantar berkas keuangan yang akan aku cek.


Sekarang hari jumat, mas Arif, mas Deni dan mas Yusuf malam ini sudah naik pesawat menuju ke Bandara Juanda.


Kedatangan mas Deni dan mas Yusuf memang aku rahasiakan kepada Nia.


Untuk mas Yusuf sendiri rencana segera menghubungi Widya sendiri setelah dari Bandara Juanda sambil menunggu keluarga mas Yusuf yang datang dari Balikpapan.


Setelah Vano tidur di kamar tidurnya, aku mengecek pintu dan jendela rumah, mematikan beberapa lampu dan aku masuk ke dalam kamar tidur.


Perutku semakin membesar untuk tidur saja sudah susah, miring adalah posisi yang paling nyaman bagiku.


Rencananya mas Arif dan mas Deni langsung menuju ke rumah mertua, sedangkan mas Yusuf menunggu Widya dan keluarga mas Yusuf di Bandara Juanda.


Aku rebahkan tubuhku dengan posisi miring sambil memeluk guling, beberapa saat kemudian aku sudah terlelap dalam tidur nyenyakku.


Siang hari, terdengar suara mobil berhenti di depan rumah, aku sedang masak di dapur sedangkan Vano bermain di ruang keluarga.


"Vano... tolong lihat ke depan, ada siapa," kataku menyuruh Vano untuk ke depan.


Vano berlari ke depan.


"Horee... Ayah pulang sama om cakep," teriak Vano dari luar yang terdengar olehku.


Masakanku sudah hampir selesai tinggal menunggu sayur manisa matang.


Aku berjalan ke luar rumah, bertemu dengan Mas Arif, Mas Deni dan Vano.


"Oh... ini ya Mas Deni, eh ternyata lebih cakep aslinya," kataku.


"Ayo silahkan duduk dulu Mas," kataku mempersilahkan Mas Deni untuk duduk.


"Suamimu ini enggak cakep ya?" tanya Mas Arif sepertinya tidak rela istrinya memuji temannya.


"Suamiku pasti yang tercakep di hatiku," jawabku sambil bersalaman dan mencium punggung suamiku.


"Mas, tadi aku masak kesukaanmu, setelah ini makan dulu, oh iya Mas Deni tidur di kamar mana?" tanyaku kepada suamiku.


"Di atas ada kamarnya Vera Rin," jawab Mas Arif.


Mas Deni yang sedari tadi hanya berdiri saja.


"Den, sejak kapan kamu jadi patung begini? ayo ke atas, aku tunjukkan kamarmu," kata Mas Arif.


"Enggak Rif, pantas saja kamu cinta sekali sama istrimu, siapapun yang menggodamu tidak menggoyahkan hatimu," kata Mas Deni pelan yang terdengar olehku.


"Di sana banyak yang menggoda suamiku ya Mas?" tanyaku dengan penasaran.


"Enggak Mbak, aku hanya bercanda saja," jawab Mas Deni.


"Gak usah menutupi, kalau pulang juga banyak mengganggunya juga, jadi aku sudah tau," kataku.


"Tapi kan hanya kamu Rin yang aku pilih yang aku pertahankan he he he," kata Mas Arif.


"Nanti di lanjut percakapannya, ayo Den ikut aku ke atas, aku tunjukkan kamarmu," ajak Mas Arif.

__ADS_1


Mas Deni dan Mas Arif naik ke atas diikuti oleh Vano, aku kembali ke dapur menyiapkan makan siang dan menyajikannya di meja makan.


Mas Arif dan Vano terlihat menuruni anak tangga.


"Ayah... mana mainanan pesanan Vano?" tanya Vano.


"Pesawat ya?" tanya Mas Arif.


Vano menganggukkan kepalanya.


"Sebentar ya... ayah ambilkan di tas Ayah," kata Mas Arif sambil berjalan menuju ke kamar membawa tasnya.


Aku duduk di kursi sofa sambil mengusap lembut perutku.


"Nak, ayahmu sudah pulang," gumamku pelan.


Tak lama kemudian Mas Arif keluar dari kamar membawa mainan yang di pesan Vano dan memberikannya kepada Vano.


“Terima kasih Ayah,” ucap Vano sambil menerima mainan tersebut kemudian Mas Arif menggendong Vano dan menciuminya berjalan ke arahku.


Vano duduk di pangkuan Mas Arif sambil bermain pesawat, tak lama kemudian turun dari pangkuan Mas Arif.


Mas Arif memandangku dan tersenyum.


“Perutmu sudah lebih besar ya Rin, kapan kamu terakhir periksa sendiri?” tanya Mas Arif.


“Sebulan yang lalu Mas, lusa mau periksa lagi,” jawabku.


“Ayo ke kamar Rin,” pinta Mas Arif.


Kami berdiri dari tempat duduk kami berjalan menuju kamar tidur kami, sampai di sana Mas Arif memeluk tubuhku, “Aku rindu Rin,” bisik Mas Arif.


Tersenyum memandang suamiku.


“Bagaimana di sana tidak ada yang menggodamu, kan?” tanyaku.


“Seandainya ada yang menggodaku Rin, hanya kamu yang bisa menggodaku he he he,” jawab Mas Arif.


“Suamiku pintar sekali nggombalnya sekarang,” kataku.


“Itu tadi mas Deni bilang di sana ada yang menggodamu, siapa? Apa mantanmu yang kapan hari kirim foto kurang kain itu?” tanyaku cemburu.


“Sudah jangan di bahas itu, yang penting suamimu tidak tergoda,” katanya pelan sambil mengecup keningku.


“Ayo makan, masak suami pulang langsung ditanya sesuatu yang membuat bertengkar,” kata Mas Arif lagi.


Memandangku dengan tatapan lembut dan mencium wajahku.


“Sudah, ayo makan siang, aku sudah lapar, jangan cemberut lagi bidadariku, hanya kamu yang ada di hatiku,” kata Mas Arif pelan.


Aku tersenyum walaupun dalam hati masih ada kecurigaan.


Kami berjalan keluar, terlihat Mas Deni menuruni anak tangga bergabung bersama kami di meja makan.


Tiba-tiba ponsel dari kamarku berdering ketika aku sudah berada di meja makan.


“Mas tolong diambilkan ponselku, sudah kadung duduk malas berdiri ini,” pintaku ke Mas Arif.


Mas Arif berdiri dari tempat duduknya menuju ke kamar tidur untuk mengambil ponsel tak lama kemudian kembali membawa ponselku.

__ADS_1


“Rin, Nia yang menelpon ini, kamu angkat,” kata Mas Arif.


“Paling dia menanyakan Mas Deni,” kataku sambil tersenyum.


“Gimana ini, diberitahu apa tidak kalau Mas Deni sudah disini?” tanyaku.


“Gak usah Mbak, biarkan saja dia marah, tapi gak mungkin kan dia ke sini?” tanya Mas Deni.


“Semoga tidak kesini dia,” jawabku.


Aku angkat panggilan dari Nia.


“Rin lama banget sih, kamu ini sibuk apa?” tanya Nia dengan nada marah.


“He he he, tadi masak Nia, tau sendiri aku tidak bisa jalan cepat, perutku makin membesar ini, jadi ambil ponselku pelan jalanku,” jawabku.


Kulihat Mas Deni dan Mas Arif tersenyum-senyum, memang sengaja aku loud speker panggilan telpon ini.


“Ada apa Nia, siang-siang marah begini,” tanyaku.


“Rin, suamimu sudah pulang?” tanya Nia.


“Sudah, barusan saja, kenapa?” tanyaku.


“Bareng sama mas Deni enggak?” tanya Nia.


“Sendiri, kenapa?” jawabku.


“Kamu lihat status Widya, dia sudah bersama keluarga mas Yusuf sekarang perjalanan ke sini, alamat ini aku jadi perawan tua,” kata Nia.


“Kenapa jadi perawan tua, kan ada Mas Deni yang mau menikahimu,” kataku.


“Mana mungkin sekarang saja ponselnya gak aktif, dasar laki-laki hanya janji saja tak mau melaksanakannya,” kata Nia.


Aku, Mas Arif dan Mas Deni menahan tawa, Mas Deni segera pergi meninggalkan meja makan mungkin sudah tidak tahan menahan tawanya.


“Nia sudah jangan marah-marah, besok aku mampir ke rumahmu untuk menghiburmu ya, rencana besok aku mau berkunjung ke rumah orang tuaku,” kataku.


“Jam berapa Rin? biar aku siap di rumah,” tanya Nia.


“Besok aku kabari,” jawabku sambil menutup panggilan dari Nia.


Mas Deni bergabung kembali di meja makan.


“Lucu juga ya Nia kalau lagi marah-marah,” kata Mas Deni.


“Orangnya baik kok Mas, sejak aku hamil dia beberapa kali nginap disini, banyak membantuku saat tidak ada ibuku atau ibunya Mas Arif,” kataku.


“Ayo makan Mas, nanti sore beli sesuatu untuk acara lamaranya Mas Deni, kan?” tanyaku.


“Kamu kuat Rin beli-beli seserahan dan lain sebagainya?” tanya Mas Arif khawatir.


“Yang penting kan ada uang ya Mas Deni, masalah dekor seserahan, biar di serahkan pada toko asesoris yang biasa menerima dekor seserahan,” jawabku.


Mas Deni tersenyum bahagia.


“Terima kasih ya Rif, juga Mbak Rinda sudah banyak membantuku untuk acara lamaranku besok juga mengenalkanku kepada Nia,” ucap Mas Deni.


"Biasa saja lah Den, toh aku juga sering kamu bantu," kata Mas Arif.

__ADS_1


__ADS_2