Lika-Liku Single Parent

Lika-Liku Single Parent
Persiapan


__ADS_3

Beberapa hari kemudian setelah kami dari Jogja, sore hari di teras depan aku dan mas Arif sedang duduk santai dan mengobrol


"Rin... ini tadi aku dapat uang dari tempatku bekerja juga dari teman-teman hadiah kita menikah" Mas Arif mulai membuka obrolan.


"Terus?" tanyaku kemudian.


"Rin... cutimu kan tinggal beberapa hari ini, sedangkan cutiku masih dua minggu lagi, kalau bisa resepsi pernikahan kita rayakan sekitar sepuluh hari lagi bagaimana?" usul Mas Arif.


"Mas... apa tempatnya bisa menerima?" tanyaku.


"Nanti habis maghrib kita ke sana" katanya.


"Ibu..." panggil Mas Arif ke ibunya.


"Kenapa Rif?" jawab ibu yang datang bergabung dengan kami duduk di teras.


"Bu... ini Arif kan dapat uang dari perusahaan juga teman-teman sebagai hadiah pernikahan Arif, umpama Arif rayakan pesta kecil-kecilan sepuluh hari lagi bagaimana?" tanya Mas Arif ke Ibu.


"Sebenarnya gak apa-apa Arif, tapi katering juga tempatnya apa siap?" tanya Ibu kembali.


"Nanti habis maghrib Arif tanyakan Bu" jawab Mas Arif.


"Iya Rif, semoga bisa ya" kata Ibu.


Adzan maghrib berkumandang dari masjid perumahan, kami segera masuk ke dalam rumah untuk mengambil wudhu dan melaksanakan sholat maghrib diimami oleh mas Arif, Vano juga ikut sholat berjamaah dengan kami


Selesai melaksanakan sholat maghrib, aku masuk ke kamar berniat untuk berganti baju, tiba-tiba pintu kamar dibuka dari luar.


"eh... Mas Arif kaget Rinda" kataku kemudian tergesa-gesa menutup tubuhku dengan baju.


"Kenapa kamu tutup begitu? aku kan sudah sering melihatnya" kata Mas Arif menggodaku, dan tersenyum lalu menghampiriku dan memelukku, mencium beberapa bagian tubuhku.


"Mas... nanti saja ah" bisikku, mMs Arif memandangku dan tersenyum.


"Kamu ini benar-benar menggodaku terus Rin" kata mas Arif.


"Aku ganti baju dulu mas, bagaimana bisa ganti baju Mas peluk-peluk begini" kataku


"Rin...nanggung banget, ayo...sekarang" bisik mas Arif.


Kemudian berjalan ke pintu mengunci pintu kamar dan berjalan mendekatiku, memeluk mencium merabah tubuhku menggendongku dan merebahkan tubuhku di atas tempat tidur


"Ah... Mas" bisikku.


"Kenapa?" tanya Mas Arif sambil merabah mencium tubuhku, akupun menikmatinya


Ya... akhirnya bercinta dengan suamiku di sela-sela waktu.


"Ah... Mas, keramas lagi" bisikku.


"Malam-malam bisa masuk angin Rinda, Mas Arif nahan bentar gak mau" kataku lagi.


"Siapa dulu yang menggodaku" bisiknya kemudian menciumku.

__ADS_1


"Siapa juga yang masuk kamar" kataku.


"He he he, tapi suka kan?" godanya, aku memanyunkan mulutku kemudian memeluk mencium suamiku dan turun dari kamar tidur menuju kamar mandi untuk mandi.


Setelah mandi, aku bersiap-siap pergi ke hotel yang dulu pernah kami datangi menanyakan siap tidaknya menyelenggarakan resepsi pernikahan kami.


Aku dan mas Arif keluar kamar, untungnya aku memakai jilbab jadi tidak kelihatan ibu kalau habis mandi keramas.


"Bu... Rinda pamit mau keluar sebentar" pamitku ke Ibu lalu bersalaman dan mencium punggung tanganya diikuti Vano juga mas Arif.


Mobil keluar dari perumahan langsung menuju hotel yang tidak begitu jauh dari rumah, sampai di parkiran hotel kami bertiga turun.


"Bunda sama Ayah mau apa kesini?" tanya Vano.


"Ada perlu Vano, habis ini ke Alun-alun" kataku.


"Horee..." teriaknya.


"Hust... jangan berisik, jadi anak baik" bisikku.


Tiba di resepsionis Mas Arif bertanya-tanya kepada Mbak resepsionis aku mengawasi Vano, karena seperti biasa Vano gerak sana gerak sini gak ada diamnya, aku menghampiri mas Arif.


"Bagaimana Mas?" tanyaku.


"Bisa Rin, tapi cuma undangan tiga ratus orang, bagaimana?" tanya Mas Arif.


"Gak apa-apa Mas, teman Rinda mungkin cuma lima puluh" kataku.


"Keluarga dan teman Mas?" tanyaku kemudian.


Mas Arif mengambil kartu atm dari dalam dompetnya untuk membayar sebagian biaya dan menggesek di mesin yang tersedia di meja resepsionis, setelah selesai semua kami meninggalkan hotel tersebut menuju Alun-alun.


Tak lama kemudian kami sampai di Alun-alun.


Mobil di parkir di tepian jalan dan kami berjalan menuju Alun-alun, Vano sudah berlari dulu menuju permainan prosotan


Aku berjalan bergandengan tangan dengan Mas Arif, kemudian duduk tidak jauh dari Vano bermain prosotan.


"Vano berani juga ya naik setinggi itu" kata Mas Arif.


"Iya mas, yang dulu waktu Mas ke rumah Vano sakit panas itu ya karena kecapekan naik prosotan ini" kataku.


"Semoga sehat, kuat ya Vano" kata Mas Arif.


"Mas... apa kita tidak cetak undangan?" tanyaku.


"Oh iya ya, hampir lupa aku, setelah dari sini kita ke percetakan ya" kata Mas Arif.


"Oh iya, aku ada teman SMA dulu yang buka percetakan" kata Mas Arif kemudian.


"Siapa mas?" tanyaku.


"Kamu ingat enggak dengan Anton? teman sekelasku dulu" kata Mas Arif.

__ADS_1


"Anton siapa Mas? Rinda kok lupa ya?" tanyaku sambil mengingat-ingat.


"Mungkin kamu tidak begitu kenal, kamu taunya paling Andi" kata Mas Arif menggoda.


"Bukan hanya kenal mas, tapi sangat kenal sekali, dia bisa dibilang penggemar abadi he he he" kataku kemudian tersenyum dan tertawa, Mas Arif juga.


"Sepertinya dia mengikutimu terus ya?" tanya Mas Arif.


"Sepertinya begitu" kataku.


"Vano... ayo pulang" teriakku ke Vano.


"Sebentar Bunda Ayah" katanya.


"Biarkan dulu Rin, biar dia puas bermain, kita pacaran disini" kata Mas Arif.


"Ha ha ha pacaran, ada-ada saja suamiku ini" kataku dan tertawa.


Tak lama kemudian Vano menghampiriku.


"Bunda sudah mainya Vano, ayo pulang" kata Vano


"Oke" jawab Mas Arif.


Kemudian kami meninggalkan Alun-alun berjalan beriringan, Vano berada di tengah jari tangan mungilnya memegang jari tangan kami, mungkin bila orang tidak tau, Vano dikira anak kandung Mas Arif dan aku.


Mobil melaju meninggalkan Alun-alun menuju percetakan Anton teman Mas Arif, tak jauh tempatnya dari Alun-alun, mobil berhenti di pinggir jalan, kami menyeberang jalan menuju percetakan Anton.


"Mbak.. Anton ada?" tanya Mas Arif ke karyawan percetakan.


"Ada pak, sebentar saya panggilkan" kata mbak tersebut.


Tak berapa lama kemudian Mbak tersebut keluar diikuti oleh sosok laki-laki, oh...ternyata dia, aku ingat, ya.. dia teman Mas Arif sepertinya satu kelas dulu.


"Hei... Arif apa kabarmu, lama tak jumpa" sapa Mas Anton.


"Ayo masuk ke dalam saja" pinta Mas Anton.


Kami masuk ke dalam mengikuti mas Anton dan duduk di kursi tamu.


"Ton... aku mau cetak undangan pernikahan tapi besok harus selesai bisa?" tanya Mas Arif.


"kamu pesan berapa?" tanya Mas Anton.


"Tiga ratus saja" kata Mas Arif.


"Yang mau menikah siapa?" tanya Mas Anton.


"Ya akulah masak kamu" jawab Mas Arif.


"Ha ha ha, jangan bercanda, lah ini yang kamu bawa bukan istri dan anakmu?" tanya mas Anton.


"Iya, kamu gak ingat dengan istriku ini?" tanya Mas Arif.

__ADS_1


"Memang siapa? apa ini pacarmu yang adik kelas kita? sepertinya iya, tapi maaf ya mbak kalau salah, bukan maksudku menceritakan masa lalu Arif" kata mas Anton.


__ADS_2