
Sore menjelang, suasana rumah begitu terasa ramai, karena semua keluarga berkumpul bersama anak dan menantu, tapi Faris akan kembali ke Surabaya untuk bekerja
"Bu, Faris balik dulu, nanti kalau lagi tidak sibuk akan pulang" pamit Faris
"Mbak jangan suka ngomel nanti cepat tua loh" kata Faris
"Enak saja mendoakan mbak mu ini cepat tua, kamu suka ya lihat mbak mu tua?" kataku
"Sudah lah Rin, jangan bertengkar terus sama adikmu, kalian ini kalau ketemu pasti bertengkar kalau lama tidak bertemu pasti saling menanyakan" kata ibu melerai aku dan Faris, kulihat mas Arif hanya tersenyum melihat kami, Faris keluar rumah menghidupkan sepeda motornya dan meninggalkan rumah orang tua, tinggal ibu, bapak, aku, Vano dan mas Arif.
Sepeninggal Faris, kami masuk ke rumah bersamaan dan berkumpul di ruang keluarga,
"Rin... bagaimana kesehatanmu sekarang?" tanya ibu yang duduk di sebelahku
"Sudah membaik bu, ini Rinda juga sudah mulai beraktifitas" kataku
"Mas Arif, besok sepertinya Rinda lembur menyelesaikan laporan, bisa Rinda nitip Vano?" tanyaku ke mas Arif
"Aku menunggumu bekerja juga bisa Rin" jawab mas Arif
"Vano biar aku yang jemput besok, dua minggu ini aku kan nganggur jadi menemani keluargaku" kata mas Arif
"Bagus Rif, bapak suka, libur itu adalah waktu bersama keluarga, kita misalkan punya uang banyak tapi tidak bisa bersantai bersama dengan keluarga juga merasa ada yang kurang, kita juga tidak merasakan keharmonisan, kebersamaan dengan keluarga, sampai tua ciptakanlah keharmonisan keluarga" nasehat bapak
"Iya pak, berkumpul dengan keluarga seperti ini sangat langkah bagi Arif pak, orang tua Arif bercerai, ibu sendiri di rumah sekarang ada Rinda dan Vano yang menemani di rumah saat aku kerja, sedangkan adikku Vera juga sibuk dengan aktifitasnya menjadi dokter, bahkan kapan hari aku ke Jogja saja bertemu adikku sedikit" cerita mas Arif
"Iya Rif, sedikit waktu bersama keluarga itu seperti mendapatkan emas ya?" tanya bapak
"Iya pak, Arif sebenarnya juga ingin bisa berkumpul seperti keluarga ini, tapi semuanya sepertinya sulit untuk diwujudkan" kata mas Arif dan menghela nafas panjang
"Sabar Rif, suatu saat pasti bisa, yakinlah" kata bapak menyemangati mas Arif, adzan maghrib berkumandang dari masjid, membuyarkan obrolan kami,
"Ayo sholat berjamaah" ajak ibu, kemudian kami berdiri dan masing-masing mengambil wudhu bergantian, kemudian menuju musholla kecil di rumah orang tuaku, bapak yang mengimami sholat maghrib berjamaah, tak lupa Vano juga ikut, Alhamdulillah anak ini sudah mulai suka ikut sholat berjamaah, semoga menjadikanya laki-laki yang suka sholat berjamaah di waktu dewasanya kelak.
__ADS_1
Malam menjelang, bapak dan ibu sudah masuk ke kamar mereka, Vano juga sudah tidur di kamarku, karena memang kamarku ini kecil, tempat tidurnya cuma muat untuk dua orang, jadi setelah Vano tidur, aku masuk ke kamar Faris bersama dengan mas Arif, aku tersenyum melihat suamiku
"Kenapa Rin, senyum-senyum begitu?' tanya mas Arif
"Gak apa-apa mas, masak gak boleh aku tersenyum melihat suami tercintaku ini" kataku kemudian aku naik ke tempat tidur dan merebahkan tubuhku diikuti oleh mas Arif
"Rin... bersamamu aku menemukan apa arti keluarga, berjanjilah kita terus bersama sampai tua, sampai Allah memanggil kita ya Rin" kata mas Arif sambil menghela nafas panjang
"Aku dari kecil jarang bisa bersenda gurau dengan keluargaku Rin, ibuku juga sibuk bapakku juga begitu, setiap bertemu sering terjadi pertengkaran, mungkin sampai sekarang kalau mereka bertemu, Rin... aku ingin kita tetap menjaga keharmonisan keluarga kita" kata mas Arif dengan wajah sedih, ya... aku tau dari keluarganya dia tidak mendapatkan arti kebersamaan keluarga, canda tawa keluarganya, saat di Jogja juga begitu komunikasinya dengan Vera tidak sebegitu akrab, tapi yang aku lihat mas Arif dengan ibunya sudah baik komunikasinya
"Iya mas, Rinda janji akan terus bersamamu dalam suka dan duka menjalani rumah tangga kita, berpisah denganmu sepuluh tahun itu adalah sesuatu yang sangat menyakitkan bagi Rinda, kehilanganmu membuat hidupku tak berwarna" kataku
"Terima kasih bidadariku sayang" bisik mas Arif, kemudian memelukku dan menciumiku
"Rin... masih sakit dan perih?" tanya mas Arif pelan
"Sudah tidak mas, semalam yang sangat perih itu seperti tergores silet, dan diberi jeruk lukanya" kataku
"Maaf ya sayang" kata mas Arif dan menatapku
"Enggak sayang, aku janji tidak ngapa-ngapain kamu" kata mas Arif
"Janjimu mengenai itu banyak janji palsumu, nah ini kenapa tanganmu meraba-raba ini" kataku sambil memegang tangan suamiku
"Hahahaha, Rinda...love you" kata suamiku kemudian menciumku
"Ayo tidur mas, besok aku kerja, besok beneran aku nitip jaga Vano ya?" pintaku
"Kamu pulang jam berapa rencananya?" tanya mas Arif
"Mungkin habis maghrib mas" kataku
"Nanti aku kirim makanan, aku kesana ke kantormu gak apa-apakan?" tanya mas Arif
__ADS_1
"Sebenarnya gak apa-apa sorenya jam lima gitu, tapi janji jangan menggangguku kerja, cukup lihat aku kerja, juga jangan mendekatiku" kataku
"Memangnya kenapa kalau mendekatimu?" tanya mas Arif
"Yang jelas aku gak bisa kerja" jawabku
"Hahahaha, semakin hari istriku semakin menggemaskan" kata mas Arif dan kembali mencium pipiku
"Sudah malam mas, Rinda istirahat dulu, love you my hubby" kataku kemudian menciumi suamiku dan mulai menutup mataku, kantuk segera menyerangku dan akhirnya aku tertidur dalam pelukan suami tercintaku.
Adzan subuh membangunkanku, aku bangunkan suamiku
"Mas... bangun, ayo sholat subuh berjamaah" bisikku
"Masih ngantuk sayang" jawabnya
"Ayolah mas, setelah ini siap-siap mengantarkanku kerja juga Vano sekolah, kemudian mas Arif membuka matanya dan memelukku lagi
"Malah meluk-meluk gini, jadi gak bangun-bangun" kataku, kemudian mas Arif melepas pelukannya dan bangun dari tidur, duduk di tempat tidur dan turun dari tempat tidur kemudian berjalan menuju tempat wudhu dan aku mengikutinya dari belakang, setelah wudhu kami melaksanakan sholat subuh berjamaah, bapak dan ibu sepertinya sudah berangkat ke masjid.
Aku mulai menyiapkan sarapan bersama dengan ibuku di dapur, waktu saat ini menunjukkan pukul lima pagi, masih dua jam lagi waktuku di rumah ini
"Rin... sering-seringlah kesini" pinta ibu disela-sela menyiapkan sarapan
"Iya bu" kataku
"Bunda... Vano lapar" kata Vano menghampiriku
"Iya ini mbah uti sudah siapkan sarapanya, kamu makan sendiri ya" kata ibu kepada Vano sambil mengambilkan makanan untuk Vano
Setelah itu aku berkemas untuk berangkat kerja, aku dan mas Arif sarapan bersama, dan Vanopun siap untuk berangkat sekolah
"Ibu, bapak, Rinda pamit dulu" kataku sambil bersalamat dan mencium punggung tangan kedua orang tuaku, diikuti oleh Vano dan mas Arif
__ADS_1
Kemudian aku, mas Arif dan Vano menuju ke mobil dan aku membuka pintu mobil untuk Vano kemudian Vano masuk dan aku tutup pintu mobil, dan aku membuka pintu mobil yang di depan, dan masuk bersamaan dari sisi berlawanan dengan mas Arif kemudian mobil dihidupkan oleh mas Arif dan meninggalkan rumah kedua orang tuaku, pintu kaca aku buka dan kulambaikan tanganku ke kedua orang tuaku.