Lika-Liku Single Parent

Lika-Liku Single Parent
Curhat Kepada Ibu


__ADS_3

Empat hari kemudian…


Pagi hari saat aku bangun tidur setelah menunaikan ibadah sholat subuh aku mengambil hp di meja kamarku berniat untuk menelpon suamiku, disana pukul 6 lebih.


Tuut…tuut…tuut… suara telpon.


“Assalamualaikum sayang” sapa Mas Arif masih di atas pembaringan memakai kaos dalam dan celana pendek.


“Waalaikum salam Mas” sapaku dengan mesra.


Aku tersenyum manis melihat suamiku dari layar hp.


“Kamu belum mandi ya Rin?” tanya Mas Arif.


“He he he iya belum” jawabku.


“Sudah mandi sana, aku mau lihat kamu sedang mandi” katanya.


“Hah, ada saja kemauanmu itu” kataku.


“Ayolah” pintanya.


“iya…iya..” jawabku.


Kemudian aku masuk ke kamar mandi, dan hp aku taruh di atas klosed duduk, aku melepas bajuku dan mulai menyalakan shower dan aku mandi dari air yang jatuh dari shower, kulihat suamiku memandangiku.


“Hei jangan lihat begitu” kataku.


“Entar kalau kepingin bagaimana?” kataku lagi sambil mengambil sabun di dekat situ.


“ya dikeluarkan sendiri lah” kata Mas Arif.


“Ha ha ha” aku tertawa sambil menyabuni tubuhku dengan sabun cair kemudian kembali menyalakan shower, selesai mandi aku mengambil handuk dan mengeringkan rambutku yang sebahu kemudian melilitkan ke tubuhku dan aku ambil hpku kembali lalu melangkah keluar dari kamar mandi.


“Apa?” godaku.


“He he he, pingin pulang saja” kata Mas Arif dan tertawa.


“Jangan cari perempuan disana loh ya untuk memuaskan nafsumu” kataku.


“Enggak lah, ini kan hanya untukmu” kata Mas Arif.


“Eh udah dulu Mas, aku mau ganti baju dulu terus masak untuk sarapan” kataku.


“Oh iya, nanti aku ke rumah orang tuaku ya Mas!” pamitku


“iya sayang, hati-hati, terima kasih ya, Assalammualaikum” katanya.


“Waalaikum salam” jawabku dan telponaku matikan.


Selesai berganti baju aku keluar kamar dan menuju ke dapur membantu ibu mertua masak.


“Bu Rinda nanti pulang ke rumah Ibu, setelah pulang kerja” pamitku.


“Iya Rin, hati-hati ya, salam untuk kedua orang tuamu ya” pesan Ibu.


“Insyaallah Bu” jawabku sambil membawa makanan yang sudah masak ke meja makan.


“Vano setelah ini sarapan dulu atau mandi?” tanyaku saat menghampiri Vano.


“Sarapan dulu Bunda” jawab Vano.


Aku ambilkan sarapan untuk Vano, kemudian memanaskan air di kompor.


“Rin, aku sarapan dulu, soalnya aku berangkat pagi ini” kata Ibu.


“Iya Bu, silahkan” kataku.

__ADS_1


Kurasa sudah panas airnya, kemudian kompor aku matikan dan aku angkat airnya lalu aku tuang ke dalam bak mandi Vano, kulihat Vano sudah selesai sarapanya, aku hampiri Vano untuk melepaskan bajunya dan dia berjalan menuju bak mandi di dalam kamar mandi.


Ibu selesai sarapan naik ke lantai atas, tak lama kemudian Ibu turun kembali dengan memakai baju kerja dan tas di tangannya.


"Rin aku berangkat dulu, hati-hati" pamit Ibu.


"Iya Bu" jawabku.


Kemudian kami bersalaman dan Ibu berjalan keluar rumah dan meninggalkak rumah untuk beraktifitas, terdengar suara sepeda motor ibu semakin menjauh.


Ketika Ibu sudah berangkat kerja, akupun bersiap-siap untuk berangkat bekerja dan mengantar Vano sekolah. Setelah mengantar Vano sekolah aku menuju tempat kerja, dan seperti biasa menyelesaikan pekerjaanku, tapi hari ini ada meeting di ruanganku, meeting berkala membahas tentang pekerjaan masing-masing.


Waktu pulangpun tiba, aku segera merapikan mejaku dan keluar dari ruangan itu.


“Rin, kok seperti tergesa-gesa begitu?” tanya Nia.


“Iya Nia, aku mau pulang ke rumah orang tuaku” jawabku.


“Bareng Rin, aku gak bawa sepeda hari ini” kata Nia.


“Ayo, tapi ke Vano dulu” kataku.


“Iya gak apa-apa” kata Nia kembali.


Sepeda motorku segera aku nyalakan dan berjalan menuju ke Penitipan anak.


Sampai di Penitipan anak, setelah mengambil tas trolynya Vano, kami berpamitan sama Ibu gurunya Vano kemudian meninggalkan tempat tersebut.


“Vano di belakang sama Tante Nia ya?” pintaku, ketika kami sudah berada di sepeda motorku


Vano mengangguk dan kami melaju meninggalkan penitipan anak menuju ke rumah orang tuaku yang kebetulan sejalan dengan rumah Nia.


Sampailah di gang rumah Nia.


“Rin aku turun di sana saja ya” kata Nia.


“Aku duluan Rin” kata Nia setelah turun dan melambaikan tangan kepada kami, Vano berpindah duduk di depanku.


Tak berapa lama kami sampai di rumah orang tuaku, sambutan hangat dari Ibuku kepada kami.


“Arif bagaimana di sana Rin, aman-aman saja kan?” tanya Ibu.


“Alhamdulillah Bu sudah kondusif” jawabku.


“Vano main atau lihat tv sana ya!” pintaku.


Vano berlari ke ruang tengah aku dan Ibu masih di ruang tamu.


“Bu, Bapak kemana?” tanyaku.


“Bapakmu keluar membeli apa gitu tadi” jawab Ibu.


“Bu, Rinda ini jengkel sekali juga sangat marah” aku memulai bercerita.


“Kenapa lagi Rin? Apa ada masalah dengan Arif?” tanya Ibu.


“Tidak dengan Mas Arif Bu” jawabku.


“Lah terus dengan siapa?” tanya Ibu.


“Sama Ayahnya Vano Bu” kataku.


“Kenapa lagi dia?” tanya Ibu dengan wajah tegang.


“Kapan hari Rinda bertemu dengannya, Rinda pikir dia berubah sikapnya, sebenarnya Rinda ini kan ingin sekali menyambung silahturahmi kepada ayahnya Vano, selama ini selalu perselisihan, pertengkaran diantara kami,”


jawabku.

__ADS_1


“Aku mau menemuinya karena dia ingin berubah sikap, akhirnya aku mau menemuinya Bu, tapi apa setelah aku menemuinya, apa yang diucapkan itu sangat menyakitkan Rinda Bu” kataku kembali.


“Memang dia bilang apa?” tanya Ibu penasaran.


Aku menghela nafas panjang.


“Bu dia bilang mau kembali denganku, ya aku gak mau Bu, terus dia bilang aku tidak hamil-hamil” kataku.


“Dia bilang aku tidak segera hamil itu Bu sangat menyinggungku, pokoknya omongannya menyakitkan Bu” kataku kemudian.


“Arif apa tau ini?” tanya Ibu dengan wajah cemas.


“Rinda tidak berani bercerita Bu, Rinda takut dia tersinggung, nanti malah salah paham dia mengira tidak bisa menghamiliku” jawabku.


“Iya Rin, kamu simpan dulu saja cerita ini dari Arif ataupun Ibunya, khawatir ada kesalah pahaman, kamu yang sabar saja” nasehat Ibu.


“Iya Bu” kataku.


“Bu, kapan hari ayahnya Vano ke sekolahnya Vano Bu, memberi baju juga jajan untuk Vano” kataku.


“Tumben dia begitu Rin?” tnaya Ibu heran.


“Nah karena itu Bu, aku pikir dia sudah berubah baik karenanya Rinda mau menemuinya, eh ternyata tetap saja tidak berubah, malah omonganya menyakitkan sekali.


“Lain kali jangan ditanggapi, bagaimanapun rumah tanggamu sekaranglah yang harus kamu jaga, kamu juga harus menjaga kesetiaanmu pada suamimu” nasehat Ibu.


“Iya pasti itu Bu” jawabku.


"Kamu mandi sana Rin, setelah itu kita ngobrol-ngobrol lagi" pinta Ibu.


"Iya Bu" jawabku.


Kemudian aku melangkah masuk ke kamarku sambil membawa tasnya Vano.


Aku rebahkan tubuhku di kasur dan membuka hp, mengirimi suamiku pesan kalau aku sudah sampai di rumah orang tuaku.


Kemudian aku menuju kamar mandi untuk mandi, setelah itu berkumpul dengan Vano dan kedua orang tuaku.


"Bapak sudah pulang, tadi dari mana?" tanyaku.


"Ini loh Rin, beli cat, mau ngecat pagar depan itu besok rencananya" jawab Bapak.


"Ibu mertuamu sehat-sehat saja Rin?" tanya Bapak.


"Alhamdulillah Pak" jawabku sambil meluruskan kakiku.


"Arif bagaimana? sudah aman di sana?" tanya Bapak kembali.


"Alhamdulillah Pak, sudah aman di sana, oh iya Bapak dan Ibu dapat salam dari Mas Arif dan Ibunya" kataku menyampaikan pesan.


"Waalaikum salam, sampaikan salam kami juga untuk Arif dan Ibunya ya?" kata Ibu.


"Faris besok pulang apa tidak Bu?" tanyaku.


"Faris tidak mengabari Ibu kalau mau pulang" jawab Ibu dan menghela nafas panjang, seperti ada yang beliau pikirkan.


"Ibu ini mikir Faris, kasihan Fina" kata Ibu.


"Kenapa memangnya Bu?" tanyaku.


"Ibu ini suka sama Fina, sedangkan Faris sendiri, kalau Ibu tanya belum-belum siap menikah, Ibu juga gak enak sama keluargnya Fina, mereka bisa mengira Faris hanya main-main saja sama Fina" curhat Ibu.


"Iya Bu, dulu Rinda waktu bertemu Faris kan juga sudah nasehati dia, tapi jawabanya ya begitu tidak siap saja, memang yang tidak siap itu apanya?" kataku jengkel juga.


"Entahlah Rin, Ibu juga bingung, kalau ekonomi mereka berdua bekerja, kalau masalah hati, toh mereka saling cinta" kata Ibu.


Kami ngobrol-ngobrol ringan tak terasa sudah malam, ketika melihat Vano beberapa kali menguap, aku pamit untuk masuk kamar dan tidur, kenapa badanku sering capek akhir-akhir ini, batinku.

__ADS_1


__ADS_2