
Hari minggu kulihat langit ceria, aku menyiapkan segala keperluanku juga Vano dan memasak ala kadarnya untuk bekal kami ke kebun binatang, Vano juga sudah mandi dan berganti baju, sudah ganteng anakku ini, tinggal aku yang masih rembes he he he.
Tak lama kemudian Mas Arif datang.
"Bentar ya Mas, aku mandi dulu" kataku dari dalam.
"Langsung masuk ke ruang tamu saja ada Vano di sana, ibu bapak gak ada tadi melayat teman bapak ada yang meninggal" jelasku.
Kemudian aku menuju kamar mandi, berganti baju dan siap-siap berangkat, kubawa beberapa tas bekal ke depan, mas Arif seperti terheran denganku.
"Ada yang aneh Mas?" tanyaku.
"Kok bawa tas begini? mau camping?" tanya Mas Arif.
"Ya enggak lah Mas, ini bekal Vano nanti dibuka disana, ada kok tempat yang enak untuk istirahat untuk santai, aku pernah kesana" jelasku.
Pintu rumah aku kunci, sekilas kulihat beberapa mata memandangku dengan sinis, biarlah mereka akan bergosip apa saja, untuk apa aku peduli daripada makan hati, cuek sajalah, kubuka pintu mobil, Mas Arif menggendong Vano masuk di pintu depan, aku menaruh tas bekal di bagian tengah.
"Rin duduk di depan saja sama Vano" pinta Mas Arif, pintu tengah aku tutup dan berpindah ke pintu depan, kupangku Vano.
Dalam perjalanan.
"Mas di depan belok kanan lurus saja" ucapku menunjukkan arah, Mas Arif lama tidak pulang ke sini jadi belum tau ada wisata baru.
"Nah depan situ Mas tempatnya" tunjukku.
"Belok ke kanan situ ada parkir mobil" lanjutku.
Sampailah kami di kebun binatang, Vano terlihat senang melihat-lihat sekeliling.
"Bunda lihat ada Harimau" katanya.
"Itu cuma patung sayang, di dalam ada Harimau beneran" kataku.
Mas Arif membawa tas bekalku kami berjalan beriringan menuju loket, setelah membayar tiket dan dipakaikan gelang oleh petugas kami masuk ke dalam, Vano antusias sekali melihat berbagai binatang sambil berlari-lari menunjukkan kepada kami, dalam hatiku kalau orang melihatku pasti dikira kami ini satu keluarga yang harmonis, sesekali Mas Arif menggendong Vano dan aku membawa tas bekal bergantian.
"Mas... ayo istirahat disana" sambil menunjukkan gazebo di depan.
Kami berjalan menuju kesana, sampai disana kubuka tas kuambil beberapa kotak makanan dan camilan.
"Kamu yang masak ini Rin" tanya Mas Arif
__ADS_1
Vano segera mengambil kotak susu dan membuka tutup sedotan dan segera meminumnya sepertinya dia haus.
"Iya Mas, tadi pagi seadanya saja, karena di dalam gak ada yang jualan jadi aku bawa dari rumah begini seadanya" jawabku.
Segera kuambilkan nasi ke mas Arif lauk juga sayur, akupun demikian, sambil menyuapi Vano aku juga makan karena waktu berangkat aku belum sempat sarapan.
"Enak Rin masakanmu" kata Mas Arif
"Gak usah muji Mas, bilang jujur saja kalau tidak enak" kataku.
"Loh beneran loh, ini kamu lihat aku nambah lagi" ucapnya.
"Bisa jadi Mas Arif lapar he he he" jawabku sambil tertawa.
"Beneran enak loh Rin, tau enggak aku di Papua jarang menemukan masakan seperti ini, jadinya tau makanan ini pingin nambah lagi, apalagi kamu yang masak" ceritanya.
Selesai istirahat aku membereskan sisa makanan dan lain sebagainya dan yang tak terpakai aku masukkan ke tempat sampah dan beberapa wadah makanan kumasukkan kembali ke tas bekal, kami melanjutkan kembali keliling kebun binatang.
"Rin... " panggil Mas Arif.
"Ada apa Mas?" tanyaku.
"Rin... mau tidak kamu jadi istriku?" tanyanya.
"Kalau kamu berat, tak usah dijawab Rin, biarlah kutunjukkan cintaku padamu juga Vano, ijinkan aku seminggu ini mengantarmu kerja, kurang 6 hari lagi aku kembali ke Papua, dan dapat cuti lagi 3 bulan kemudian, aku pulang ke sini lagi" jelasnya.
"Rin... nanti saat pulang semoga hatimu tetap terbuka untukku, mau jadi istriku" lanjutnya.
Waktu menunjukkan jam 12:15 hampir 3 jam kami berada di dalam, Vano nampak belum lelah juga.
"Mas sholat dulu ya" ajakku.
"Kita gantian saja ya jaga Vano, maaf Mas merepotkanmu" lanjutku.
"Rin... apa kamu lihat aku kamu repotkan?aku senang Rin melakukan ini untukmu untuk anakmu, walaupun aku tau kamu masih trauma denganku masih sakit hatimu karenaku, tapi yang aku lakukan ini ikhlas karena aku cinta kamu" ucapnya.
"Makasih ya Mas" ucapku.
"Aku sholat dulu, titip Vano ya..." lanjutku
aku menuju tempat wudhu setelah itu masuk ke mushola untuk menunaikan ibadah sholat duhur, sekilas aku melihat Mas Arif dan Vano begitu akrab.
__ADS_1
Ya Allah... jika dia kau takdirkan untuk menjadi jodohku dunia akhirat, maka satukanlah kami dalam pernikahan, kuatkanlah iman kami dalam menghadapi segala permasalahan hidup ini, Aamiin,
doaku setelah sholat dhuhur, setelah mengemas mukenah aku menuju Mas Arif dan Vano.
"Lagi napa, kok kelihatanya seru banget?" tanyaku.
"Main2 ini karet untuk dibentuk-bentuk Rin" kata Mas Arif.
"Bunda..Bunda.. aku bisa buat seperti kupu-kupu loh" kata Vano bersemangat sambil menunjukkan hasil karyanya.
"Sholat dulu Mas, tak tunggu di sini sama Vano" sambil tersenyum ke arah Mas Arif
Mas Arif masuk ke musholla untuk melaksanakan sholat duhur.
"Sudah sore Mas, apa kita tidak pulang? sepertinya Vano mengantuk ini" kataku.
"Iya Rin, aku gendong Vano saja ya" kata Mas Arif, kuserahkan Vano dari gendonganku untuk digendong Mas Arif, aku berjalan di belakang Mas Arif sambil membawa tas bekal.
"Rin tolong kamu ambil kunci mobil di saku celanaku ya, aku gak bisa ambil ini" kata Mas Arif.
Lama-lama mas Arif kok begini sih, masak aku sentuh-sentuh situ kalau ambil kuncinya pikirku dalam hatiku.
"Mas, Vano tak gendong dulu ya, Mas buka pintu mobilnya, gak enak aku ngambil dari situ" kataku sambil tersenyum.
Vano berpindah aku yang menggendong tas bekal tak taruh di bawah, Mas Arif membuka pintu belakang aku masuk sambil menidurkan Vano di kursi tengah kemudian aku menutup pintu mobil, Mas Arif sudah siap di kursi kemudinya.
"Rin... duduk depan saja, kita sambil ngobrol" pintanya.
"Ayolah...Vano aman disana" lanjutnya.
Aku pindah tempat duduk di depan di samping Mas Arif, melihat pemandangan di depan.
"Rin..." Mas Arif memanggilku.
aku menoleh menghadap Mas Arif kemudian menundukkan mata.
"Aku mencintaimu" lanjutnya.
Aku tersenyum melihatnya di matanya ada cahaya yang menenangkanku, mata yang teduh yang selalu menimbulkan kedamaian jika memandangnya.
"Terimakasih atas cintamu Mas" jawabku dengan malu-malu.
__ADS_1
Selama perjalanan pulang Vano masih pulas tidur di kursi tengah, aku dan Mas Arif curi curi pandang seperti anak muda yang lagi jatuh cinta, kalau ketahuan tersenyum malu dan mengalihkan pandangan, aku terus memandang ke depan tak kuasa aku melihat mata dan senyum Mas Arif, malu he he he.