
Pulang kerja aku di jemput oleh suamiku, terlihat dari kejauhan Mas Arif dan Vano berada di depan mobil, Vano dengan tangan mungilnya melambaikan tangannya dan meloncat-loncat, begini ini kalau pulang kerja di sambut dua lelaki kesayangan menjadikan lelahku bekerja sirna, batinku.
Aku percepat langkah kakiku menuju ke kedua lelakiku.
Aku peluk cium anakku Vano.
"Bunda, Vano besok mau lomba menggambar di Alun-alun, siapa yang akan mengantar Vano?" tanya Vano.
"Sama Ayah bagaimana? boleh?" tanyaku.
"Bunda telpon sendiri sama Bu Lia" jawab Vano.
'Iya nanti Bunda telpon bu Lia" kataku.
"Ayo kita pulang!" ajakku.
Kami masuk ke dalam mobil, aku membuka pintu belakang dulu dan menunggu Vano masuk ke dalam lalu aku menutupnya., setelah itu aku membuka pintu depan dan duduk disamping Mas Arif, aku memasang sabuk pengaman dan menatap wajah suamiku yang menggemaskan apalagi ketika aku menggodanya, aku tersenyum melihat suamiku.
"Kenapa Rin, kamu memandang aku seperti itu?" tanya Mas Arif heran.
"Memang gak boleh Mas? gak ada yang larang aku memandang suamiku walaupun 24 jam, tapi kalau aku memandang laki-laki lain ya dosa lah" jawabku.
"Kamu ini bisa saja Rin" kata Mas Arif.
"Begitu juga dengan Mas, kalau memandangku berkali-kali gak apa-apa, tapi kalau memandang perempuan lain malah dosa, mau dosa?" tanyaku.
"Untuk apa mencari dosa, kalau pahala selalu di depan mataku ini" kata Mas Arif sambil menjalankan mobilnya.
Aku tersenyum memandang suamiku.
"Baguslah kalau begitu" jawabku.
"Rin, kenapa sih sekarang kamu suka menggodaku begitu?" tanya Mas Arif dengan wajah serius.
"Hobby baruku menggoda suamiku, itu kan ajaranmu juga" jawabku.
"Nanggung tau" kata Mas Arif jengkel.
"Nanggung tapi bikin kangen bikin rindu kan?" tanyaku.
"iya sih, he he he" jawab Mas Arif.
"Berarti menikmatinya he he he" kataku dan kami tertawa bersama.
Mobil sampai di rumah Mas Arif, aku turun duluan membuka pintu pagar kemudian mengambil hp dari tasku, Vano seperti biasa setelah melepas sandalnya langsung berlari menuju ke ruang keluarga menyalakan tv.
"Assalamualaikum Bu Lia" sapaku.
"Waalaikum salam" jawab Bu Lia.
"Bu tadi Vano cerita kalau besok ada lomba menggambar di Alun-alun, apa betul itu Bu?" tanyaku serius.
"Betul Bu, besok di dampingi oleh orang tuanya" kata Bu Lia.
"Apa harus di dampingi oleh Ibunya?" tanyaku lagi.
"Tidak juga Bu, sama Ayahnya juga boleh" jawab Bu Lia.
"Iya Bu terima kasih ya informasinya, besok jam berapa harus sampai Alun-alun?" tanyaku kembali.
__ADS_1
"Jam tujuh Bu, bisa langsung ke Alun-alun" jawab Bu Lia.
"Iya Bu, yang harus di bawa apa saja Bu?" tanyaku lagi.
"Alat tulis, crayon sama meja lipat Bu" jawab Bu Lia.
"Iya Bu, terimakasih, assalamualaikum" kataku.
"Waalaikum salam" jawab Bu Lia, dan telpon aku matikan.
Aku berdiri dari kursi tamu dan berjalan masuk ke kamar untuk mandi, di dalam kamar sudah ada Mas Arif dengan senyum menggodanya.
"Kenapa senyum-senyum begitu?" tanyaku.
"Biar dapat pahala banyak senyum di hadapan istri tercinta" jawab Mas Arif.
"He he he, bisa saja suamiku ini" kataku dan tertawa.
Mas Arif mendekatiku dan memeluk tubuhku.
"Masih bau mas, belum mandi" kataku pelan.
"Gak bau kok" kata Mas Arif.
"Berarti hidung Mas bermasalah" kataku.
"Aku saja bau kok" kataku lagi sambil mengangkat tanganku dan mencium ketiakku.
"Aku mandi dulu Mas" pamitku
Kemudian masuk ke dalam kamar mandi untuk mandi, sebelumnya aku kunci pintu kamar mandinya.
Mas Arif menghampiriku dan melepas handuk yang melilit di tubuhku.
"istriku ini memang selalu menggodaku" bisik Mas Arif dan menciumi tubuhku dengan bergairah, aku berdiri menikmati segala sensasi yang ditimbulkan dari ciumanya ke tubuh sensitifku.
Mas Arif terus meremas dan menciumi tubuhku dengan bergairah sekali.
Aku sudah tidak kuat menahan rasa yang bergejolak dalam tubuhku ini akhirnya aku terduduk di pinggir pembaringan.
Mas Arif semakin bergairah, dan semakin membuatku merasakan sesuatu yang luar biasa nikmatnya ketika dia terus menciumnya.
"Aku sudah tau kelemahanmu disini" kata Mas Arif.
"Hmmm" gumamku menikmatinya.
Mas Arif naik ke ataa tubuhku dan kami menikmati hubungan suami istri di sore hari dengan kepuasan masing-masing.
Kami saling tersenyum dan menuju kamar mandi untuk mandi.
Disana aku duduk di kloset duduk, dan Mas Arif kembali melancarkan aksinya menciumi bagian tubuhku yang membuatku ingin berteriak karena nikmat luar biasa tapi aku tahan hanya erangan kecil tertahan dari mulutku, sampai aku pada puncaknya.
Aku berdiri dan mandi bersama di bawah guyuran air shower, kami saling berpelukan saling menggosok tubuh dengan sabun, aku tersenyum memandang suamiku.
"Kamu memang kurang ajar" bisikku.
"Kurang ajar kenapa?" tanyanya dengan senyum menggoda.
"Iya kurang ajar karena membuatku terus mandi keramas begini" jawabku.
__ADS_1
"Salah sendiri selalu menggodaku" bisik Mas Arif sambil melilitkan handuk di tubuhnya.
"Terus aku pakai handuk apa?" tanyaku.
"Gak usah" jawab Mas Arif sambil keluar dari kamar mandi.
"Mas..." teriakku.
"Dingin tau, ayolah bawakan Rinda handuk apa selimut gitu" kataku dari dalam kamar mandi.
"Kamu jalan saja keluar" kata Mas Arif.
Hmmm suami satu ada saja ulahnya.
Akhirnya aku keluar kamar mandi, aku lihat Mas Arif sedang asyik rebahan sambil main game di kamar.
"Hai bidadariku love you" katanya saat melihatku tanpa busana keluar dari kamar mandi.
Aku memanyunkan mulutku dan melempar guling ke arah Mas Arif.
Segera aku berganti baju dan keluar dari kamar tidur tapi saat melewati Mas Arif tangannya menarik tanganku.
"Masak minta lagi Mas" kataku.
"He he he love you bidadariku" bisiknya dan mencium pipiku.
"Mau kemana?" tanyanya lagi.
"Mau masak" jawabku.
"Gak usah, tadi aku sudah beli makanan kok" kata Mas Arif sambil duduk di tepi pembaringan.
"Mas... tadi Vera telpon" kataku pelan.
Aku memandang suamiku yang duduk di sebelahku.
"Vera baik-baik saja Rin?" tanya Mas Arif.
"Iya Mas, Vera tadi mengabarkan kalau sedang hamil dua bulan, semoga baik-baik saja kehamilanya ya" kataku.
"Iya Rin semoga saja" kata Mas Arif.
"Oh iya, tadi Vera bilang mau kirim vitamin untukku biar aku cepat hamil" kataku.
"Mas... umpama aku segera hamil bagaimana?" tanyaku dengan wajah serius.
"Rin, apa kamu sudah siap mengurus anak sendiri?" tanya Mas Arif.
"Maksud Mas?" tanyaku balik dengan wajah penasaran.
"Rin, kalau punya anak kamu setidaknya mengurus dua anak, terus kamu kerja, anak kita nanti bagaimana kalau kamu sedang kerja?" tanya Mas Arif serius.
"Apa ambil pembantu ya Mas?" tanyaku.
"Aku gak suka Rin, lebih baik kamu keluar dari tempat kerja fokus ngurus anak" jawab Mas Arif.
Aku diam dan berfikir atas perkataan Mas Arif .
"Ayo Mas dengan Vano" kataku berusaha untuk mengalihkan pembicaraan yang aku rasa berat.
__ADS_1