
Dua bulan telah berlalu sejak keberangkatan Mas Arif ke Papua, hari ini adalah hari yang sangat aku tunggu, kebetulan aku sedang libur kerja, demikian juga Vano libur sekolahnya.
Pagi hari, hatiku serasa berbunga-bunga karena suamiku akan pulang, aku segera bersiap untuk menjemput Mas Arif.
Pak Dirman sudah menunggu di ruang tamu siap untuk mengantar kami ke Bandara untuk menjemput Mas Arif, sedangkan Ibu mertua tidak ikut menjemput Mas Arif, karena sedang tidak enak badan.
Waktu menunjukkan pukul 08:00 pagi.
"Ibu, istirahat yang banyak, tadi Rinda sudah masak" kataku saat berada di kamar Ibu.
"Iya Rin, terima kasih, hati-hati ya, gak usah mampir-mampir langsung pulang saja" pesan Ibu.
"Iya Bu, Rinda berangkat dulu" kataku sambil bersalaman dengan Ibu, tak lupa mencium punggung tangan Ibu.
Aku berbalik dan menutup pintu kamar tidur Ibu mertuaku kemudian menuruni tangga satu persatu, menuju ruang tamu, disana ada Vano dan Pak Dirman.
"Ayo Pak, kita berangkat!" ajakku kepada Pak Dirman.
"Iya Mbak Rinda" kata Pak Dirman
Aku keluar rumah, aku kunci pintu rumah dan pintu pagar kemudian masuk ke dalam mobil bersama dengan Vano.
Dalam perjalanan.
"Cepat ya dua bulan, Pak Dirman merasa baru kemarin mengantar Mas Arif berangkat kerja, eh sekarang sudah menjemputnya" kata Pak Dirman.
"He he he, iya Pak, kesibukan terkadang melupakan waktu ya" kataku.
"Dulu, saat pertama kali ditinggal Mas Arif, hari serasa lama sekali" kataku lagi.
"Pak Dirman di rumah dengan siapa?" tanyaku.
"Sama istriku saja Mbak, punya anak tiga tapi semuanya di luar kota ada yang di luar Jawa juga" jawab Pak Dirman.
"Jarang pulang ya Pak?" tanyaku.
"Orangnya jarang pulang Mbak, tapi uangnya sebulan sekali pulang he he he" jawab Pak Dirman.
"Pak Dirman ini bisa saja" kataku.
"Walaupun anak-anak Pak Dirman ini mencukupi kebutuhan Pak Dirman, tapi rasanya kurang Mbak, kalau tidak bertemu anak, cucu dan menantu" kata Pak Dirman.
"Iya Pak, memang pulang berapa bulan sekali" tanyaku.
"Setahun sekali belum tentu Mbak" jawab Pak Dirman.
"Sabar Pak Dirman, mungkin mereka sedang sibuk" kataku menghibur Pak Dirman.
Tak terasa perjalanan kami sudah sampai di Bandara Juanda, rasanya ingin segera bertemu dengan Mas Arif.
Aku turun dari mobil kemudian Vano mengikutiku.
"Pak Dirman, tolong tunggu saya di sini, saya mau masuk" kataku ke Pak Dirman.
"Iya Mbak, hati-hati" pesan Pak Dirman.
Kemudian aku meninggalkan Pak Dirman, menggandeng Vano masuk ke dalam Bandara, sampai di tempat tunggu kedatanggan penumpang, aku membuka tas ku berniat untuk menghubungi Mas Arif, aku lihat pesan di whats up sudah centang dua dan berwarna biru, sepertinya sudah sampai di sini.
Jam di hpku menunjukkan pukul 11:05, aku telp suamiku.
__ADS_1
Tuut...tuut... dering suara telpon, belum juga diangkat Mas Arif, mungkin masih cek barang, batinku.
"Bunda, Ayah kok lama?" tanya Vano.
"Sabar Vano, Ayah mungkin masih cek barang" jawabku.
Tak berapa lama telpon di hpku berdering, aku lihat Mas Arif yang menghubungi, hatiku rasanya bahagia, segera aku angkat telpon darinya.
"Assalamualaikum Mas" salamku.
"Waalaikum salam, kamu dimana sekarang?" tanya Mas Arif.
"Ini sudah di Bandara Mas, di tempat dulu waktu aku mengantarmu" kataku menjelaskan
"Oke aku ke sana sekarang, kamu tunggu aku di sana" kata Mas Arif, dan menutup telponnya.
Dari jauh aku lihat Mas Arif berjalan ke arah kami, Vano berlari ke arah Mas Arif dan memeluknya, kemudian di Vano digendong Mas Arif dan berjalan menuju ke arahku.
Aku mendekati Mas Arif, tersenyum melihat suamiku.
"Akhirnya bertemu juga" kataku.
Vano di turunkan dari gendongannya dan Mas Arif memelukku.
"Akhirnya rindu ini terobati bertemu dengan bidadariku, he he he" kata Mas Arif.
"Ayo pulang!" ajak Mas Arif.
Vano di gendong Mas Arif, aku berjalan di sampingnya bergandengan tangan menuju ke parkiran mobil.
Kulihat Pak Dirman berdiri di dekat mobil, melihat kedatangan kami, Pak Dirman masuk ke dalam mobil dan mobil berjalan memdekati kami, Mas Arif buka pintu belakang dan masuk duduk disampingku sambil memangku Vano.
Mobil meninggalkan Bandara Juanda menuju ke kota tempat tinggal kami.
"Rin... Ibu bagaimana kabarnya?" tanya Mas Arif.
"Ibu kurang enak badan mas" jawabku.
"Kamu tadi ada makanan di rumah?" tanya Mas Arif.
"Pagi Rinda buat sarapan" kataku.
"Pak Dirman makan dulu!" ajak Mas Arif
"Iya Mas, dimana?" tanya Pak Dirman.
"Rin, aku kok kepingin sate sama gule ya" kata Mas Arif.
"Ayo Mas, Mas tau dimana yang enak?" tanyaku.
"Pak Dirman, depan belok ke kiri ya" kata Nas Arif.
Mobil berbelok ke kiri.
"Nah di depan itu Pak, berhenti" kata Mas Arif.
Aku lihat ada warung sate, gule.
Kami semua turun dari mobil masuk ke dalam warung dan memesan makanan.
__ADS_1
Tak lama kemudian, pemilik warung datang membawa makanan yang kami pesan dan segera kami menikmati makanan tersebut.
"Vano, bisa makannya?" tanyaku.
"Susah Bunda" jawabnya.
"Coba ini Vano" kataku sambil memberikan sate daging kambing.
Mas Arif tersenyum melihat Vano yang kesusahan makan sate kambing.
"Diambil satu-satu saja Vano" Kata Mas Arif.
Selesai makan sate, Mas Arif membayar makanan kami, dan melanjutkan perjalanan pulang, tak lupa membungkus sate untuk di bawah pulang.
Sampai di rumah.
"Pak Dirman, ini" kataku sambil memberikan sejumlah uang jasa menjemput Mas Arif di Bandara Juanda.
"Terima kasih Mbak Rinda, saya langsung pulang" pamit Pak Dirman.
Kami masuk ke rumah, aku menaruh sate di piring dan aku letakkan di meja makan, kemudian masuk ke dalam kamar tidur, Mas Arif sedang berganti baju, aku hampiri dan aku peluk suamiku melepas kerinduanku.
"Mas...kangen" kataku pelan.
"Aku juga Rin" katanya, sambil mencium pipiku.
"Mas, gak ke atas lihat Ibu?" tanyaku.
"Iya Rin, ayo ke atas" kata Mas Arif dan melepas pelukan kami.
Kami keluar kamar bersamaan.
"Vano ayo lihat Nenek!" ajakku.
Kemudian kami naik ke atas, Vano sudah lebih duluan berlari menaiki tangga.
Tok... tok... tok...
Pintu kamar di buka Ibu.
"Bu, bagaimana keadaannya?" tanya Mas Arif sambil bersalaman dengan Ibu.
Kami duduk di tepi pembaringan.
"Sudah lumayan enak Rif, kamu baik-baik saja?" tanya Ibu.
"Iya Bu" jawab Mas Arif.
"Bu... makan ya? tadi bawa sate sama gule, atau Rinda bawa ke sini makananya?" tanyaku.
"Gak usah Rin, aku sudah baikan ini, mungkin karena usia tidak lagi muda, jadi sering tidak enak badan begini ya he he he, ayo turun ke bawah" kata Ibu.
Kami keluar dari kamar tidur Ibu, menuruni anak tangga menuju meja makan, Kami menemani Ibu makan.
"Loh kok lihat Ibu makan, kalian gak ikut makan" tanya Ibu.
"Tadi sudah makan di warungnya Bu" jawab Mas Arif.
Selesai makan Ibu langsung naik ke atas untuk beristirahat.
__ADS_1