
Matahari mulai kembali ke peraduanya, kulihat kendaraan mulai ramai, penduduk kota ini mulai kembali ke rumah masing-masing setelah lelah sehari dengan aktifitasnya, tak terkecuali denganku juga Vano, sampailah aku di rumah orang tuaku, yang berjarak sekitar 15 km dari tempat kerjaku.
Masuk ke dalam rumah, Vano turun dari gendonganku dan meneruskan minum susunya sambil santai.
"Gak tidur di rumah Arif?" tanya ibu
"Besok saja buk" jawabku
"Bu... tadi ayahnya Vano dan neneknya ke penitipan anak mau bawa Vano" ceritaku
"Terus...?" tanya ibu
"Aku ditelpon gurunya Vano, tak bilangi gak boleh dibawa terus aku kesana, ternyata mereka sudah pergi, mereka bawa baju untuk Vano dititipkan gurunya tadi" kataku
"Bu... aku masih malas berhubungan dengan mereka, aku juga takut kalau Vano dibawa begitu saja waktu main di luar dan gurunya waktu tidak mengawasinya, bagaimana bu enaknya?" tanyaku
belum juga ibu menjawab telp dari hp ku berbunyi, aku menuju kamar mengambil hp, kulihat ayahnya Vano yang telpon, ngapain lagi ayahnya Vano pikirku
"Assalamualaikum" tanyaku
"Rin... apa maksudmu aku gak boleh bawa Vano" kata ayahnya Vano dengan nada marah
"Eh.... memang kenapa kalau gak boleh? apa mau kamu culik Vano? lihat saja kalau sampai terjadi, aku bisa nuntut kamu, sudah tau hak asuh anak aku yang dapat, ya harus melalui aku dulu kalau mau ketemu!" kataku dengan nada marah juga
"Bagaimanapun dia juga anakku, kenapa kamu bikin susah untuk ketemu" katanya
"Kamu bilang dia anakmu? gak salah aku dengar, kemana saja kamu selama ini? kamu saja begitu tak perdulinya sama anakmu, sekarang kamu bilang dia anakmu" kataku sengit
"Rinda... bisakah kita ngomong enak?" katanya
"Tidak bisa!" jawabku
"Kamu pikir seenaknya kamu bawa Vano tanpa aku, kalau kamu mau nemui Vano harus bilang aku dulu, gak boleh nemui Vano di sekolah, kamu pikir sekolah tempat reuni keluarga apa? biar dia disana bermain dengan temanya tanpa kita ganggu, kalau mau nemui aku hubungi aku dulu" kataku dan telpon langsung aku matikan, kemudian keluar kamar mengambil gelas air minum dan meminumnya, tarik nafas panjang, kemudian menuju ibu
"Ardi yang telpon tadi Rin?" tanya ibu
"Iya bu, biar mikir sendiri seenaknya saja ngomong mau bawa Vano, ibu tau tadi Vano di penitipan anak nangis lari ke dalam gak mau ketemu sama ayahnya" kataku
"Ya jelas begitu Rin, dari kecil Ardi tidak mau mendekati anaknya" kata ibuku
"Terus sekarang apa maksudnya mau bawa Vano" lanjut ibu
"Gak tau bu, pusing aku kalau berurusan sama orang itu, besok aku tidur di rumah mas Arif bu, takut kalau nemui aku di jalan atau di rumah ini, kan dia saat ini tidak tau hubunganku sama mas Arif" jelasku sambil berlalu meninggalkan ibu menuju kamar mandi untuk mandi dan sholat Ashar
Di ruang keluarga, Vano masih asyik melihat TV acara ipin dan upin sambil tertawa-tawa riang, kuambil piring untuk makannya Vano, kuhampiri Vano
__ADS_1
"Vano... makan ya!" pintaku
"Ini sop buatan mbah uti enak loh" kataku
Vano membuka mulutnya dan kusuapi sedikit demi sedikit sambil asyik menonton acara TV, tak terasa nasi yang di piring sudah habis
"Ayo Vano tinggal satu sendok a..." kataku sambil mulutku terbuka akhirnya selesai menyuapi Vano.
Pagi hari, kujinjing tas besar, kutaruh di depan, dan kugendong Vano setelah pamit dengan kedua orang tuaku, aku berangkat kerja, mas Arif belum aku hubungi lagi, biar nanti saja kalau sudah di kantor pikirku
sampailah di penitipan anak tempat Vano berada di saat aku kerja
"Bu Via.. tolong awasi Vano ya, khawatir diculik sama ayahnya" pesanku
"Insyaallah bu Rinda" kata bu Via
"Vano.. bunda kerja dulu ya nanti kita pulang ke nenek" kataku
"Oh ya Vano jangan keluar sendiri, kalau pingin di luar minta antar bu guru ya" lanjutku, Vano mengangguk dan kucium kupeluk Vano
"Da da Vano" kataku sambil melambaikan tanganku, dan Vano juga melambaikan tanganya lewat jendela sambil tersenyum.
Sampai di parkiran kantor, kuambil hp ku kutelpon mas Arif, Alhamdulillah diangkat pikirku
"Assalamualaikum Rinda, ada apa? kangen ya? goda mas Arif
"Sudah pintar menggoda ini, sapa yang ngajari" katanya
"Ini yang aku telpon" kataku
"Ada apa Rin" tanyanya
"Mas aku nanti tidur di rumahmu ya sama Vano juga, minta no hp tante Linda" kataku
"Aku kirim ya ke wa mu" kata mas Arif
"Iya mas, sudah dulu ya, hati-hati disana, i love you?" kataku
"Love you too bidadariku, Assalamualaikum" kata mas Arif
"Waalaikumsalam" balasku sambil mematikan telpon
Sampai kantor duduk di tempat kerja kutaruh tas disamping dan kunyalakan komputer, kuambil hp ku ada pesan mas Arif
"Ini no hp ibu 081 330 *** ***" pesan dari mas Arif
__ADS_1
"Makasih mas, setelah ini aku hubungi tante" balasku
Kusimpan no tersebut di hp ku dan aku telpon tante Rinda
"Assalamualaikum, tante ini Rinda" sapaku
"Waalaikumsalam Rinda, apa kabarnya kapan kesini" katanya
"Alhamdulillah baik, tante gimana kabarnya? sehat saja kan?" tanyaku
"Alhamdulillah Rin" jawabnya
"Tante... nanti aku tidur rumah tante, gak apa-apa kan?" tanyaku
"Tante senang Rinda, jam berapa nanti sampai sini" katanya
"Jam empat lebih tante, mungkin sekitar setengah lima sudah sampai sana" kataku
"Oke tante tunggu kebetulan tante di rumah jam segitu" katanya
"Sudah dulu tante, makasih semuanya Assalamualaikum" kataku
"Waalaikumsalam" jawabnya, kemudian kumatikan telpon dan mulai dengan aktifitas kerja.
"Sapa Rin" tanya Nia
"Oh... ibunya mas Arif" kataku
"Kok akrab banget sepertinya?" tanyanya
"Kan sudah lama kenal, waktu sma dulu aku sering ke rumah mas Arif ngobrol sama ibunya sudah kayak ibuku sendiri, nanti aku pulang ke sana" kataku
"Hah... gak apa-apa Rin?" tanyanya
"Ya gak apa-apalah kan di rumah cuma ibunya mas Arif, aku itu sebenarnya menghindar dari mantanku Nia" kataku pelan
"Maksudmu?" tanya Nia
"Semalam dia telp aku mau nemui aku, bisa jadi mengambil Vano, jadi sementara aku tinggal disana biar dia gak tau" jelasku
"Oh... orang tuamu setuju?" tanya Nia
"Iya, malah ibunya mas Arif yang ingin aku tinggal disana sebelum kejadian ayahnya Vano mau bawa Vano dari penitipan anak" jelasku
Waktunya pulang kerja, segera aku menuju penitipan anak, kugendong Vano dengan gendongan ransel dan aku menaiki sepeda motor menuju rumah mas Arif yang hanya sepuluh menit dari tempat kerja, sampai di rumah mas Arif, tante Rinda sedang menyiram bunga-bunga di depan rumah, melihatku tersenyum dan berkata
__ADS_1
"Langsung masuk saja Rin, terserah mau di kamar Arif apa kamar tamu"