
"Bunda...." teriak Vano terdengar dari dalam kamar.
"Mas... Vano mencariku" kataku.
"Nanti malam dilanjut lagi ya" kata Mas Arif dengan senyum menggoda.
"Terus Rinda bagaimana keluar ini, gak pakek baju" kataku.
"Kamu disini saja he he he" katanya.
"Ah... Mas..." kataku manja.
"Ada apa Vano?" tanyanya
"Bunda kemana Ayah?" tanya Vano.
"Bunda mandi" kata Mas Arif.
"Susunya ada dimana Ayah? Vano haus mau minum susu" tanya Vano.
"Di kamar depan Vano" kata Mas Arif.
"Ini bajunya sayang, segera pakai baju biar tidak masuk angin!" pinta Mas Arif sambil memberikan baju.
Hah... kapan ada baju seperti ini, baju sependek ini batinku.
"Mas... ini bukan bajuku" kataku dari dalam kamar mandi.
Tapi gak ada jawaban dari luar, hadew... kemana Mas Arif ini, sudahlah dipakai saja dari pada kedinginan disini batinku, setelah berpakaian aku keluar kamar.
Di pembaringan kulihat Mas Arif tidur santai sambil memegang hp.
"Hayooo wa sama siapa?" tanyaku sambil mendekati Mas Arif dan tidur di sebelahnya.
Mas Arif menoleh ke arahku mencium pipiku dan kupeluk suamiku.
"Wa teman di Mimika sayang, ini mau mengajukan tambahan cuti" katanya.
"Memang bisa Mas tanpa mas kesana?" tanyaku.
"Bisa sayang asal menunjukkan bukti akta nikahnya" katanya.
"Berarti hari senin ya Mas" kataku.
"Iya, tapi kan cutiku sampai senin masih ada, masih bisa ditambah dua minggu lagi jadi aku bisa sebulan bersama bidadariku" katanya.
"Makasih ya Mas atas semuanya" kataku sambil mencium pipi suamiku, tiba-tiba Vano masuk.
"Vano sini sama Ayah Bunda" kata Mas Arif
Akhirnya kita bertiga di kamar bercanda bersama.
"Ayah, Nenek kemana ya?" kata Vano.
"Nenek ada kerja di Jogja" kata Mas Arif.
"Loh kok jauh Mas? kapan berangkatnya?" tanyaku.
"Ada diklat mendadak katanya, iya di Jogja" kata mas Arif.
"Sibuk terus ya Ibu, diusianya yang menginjak lima puluh tahun, tapi masih sangat energik Ibu" kataku.
"Iya Rin, Ibu rajin ikut yoga" katanya.
"Ayo makan, gak ada yang lapar ini?" tanya mas Arif.
"Loh Mas, Rinda belum masak apa-apa? kataku.
"Sudah siap semua makananya sayang, ayo ke meja makan" katanya sambil turun dari ranjang, aku mengikutinya.
Di meja makan
__ADS_1
"Hah... banyak sekali Mas, beli dimana?" tanyaku.
"Ya tadi Rin waktu bagi nasi kotak sekalian beli" katanya.
"Terima kasih sayang, Vano makan sendiri ya" kataku sambil mengambil nasi, Vano mau mana?" tanyaku.
"Yang itu bunda" kata Vano sambil menunjuk dendeng daging.
"Mas Arif mau yang mana?" tanyaku.
"Mau kamu sayang" katanya berbisik di telingaku, aku tersenyum dan mengambil beberapa lauk dan sayur, kami makan bertiga, terdengar adzan maghrib, kami bergegas mengambil wudhu untuk sholat berjamaah.
Di ruang keluarga kami bertiga menikmati waktu bersama sesekali suamiku menciumku, juga mencium Vano.
Waktu menunjukkan pukul delapan lebih tiga puluh menit, Vano sudah tidur di sofa, kemudian dipindahkan oleh mas Arif ke kamar tidur, tak lama kemudian mas Arif menghampiriku yang duduk di sofa, aku tersenyum melihatnya.
"Mas... mas bisa main piano ya?" tanyaku.
"Bisa sayang? kenapa?" tanyanya.
"mas tau note lagu Bidadari syurgaku?" tanyaku.
"Oh... lagunya ustad Uje itu ya" jawabnya.
"Tau tapi gak hafal, kami bisa nyanyinya?" tanyanya.
"Bisa Mas, bentar aku cari di mbah google ya lirik dan note nya" kataku sambil searching di google melalui hpku.
"Ini mas ketemu, ayo Mas! Rinda yang nyanyi Mas yang memainkan pianonya" kataku.
Mas Arif melangkah menuju piano aku mengikutinya, aku duduk di sebelah suamiku, suamiku mulai memencet tombol-tombol piano aku menyanyikan lagu bidadari syurga.
Namun ada kala insan tak berdaya
3 3 1' 1' 6 5 6 7 6
Saat dusta mampir bertahta
3 1' 7 6 7 1' 2' 7 6 5 6 7
Ku inginkan dia yang punya setia
yang mampu menjaga kemurniannya
3 2' 2' 2' 1'2' 3' 1' 2' 1' 7 6
Saat 'ku tak ada, 'ku jauh darinya
3 3 1' 1' 6 5/ 6 7 7 6
Amanah pun jadi penjaganya
1' 2' 3' 3' 3' 1' 2' 3' 4'
Hatimu tempat berlindungku
7 1' 2' 2' 2' 7 1' 2' 3'
Dari keheningan malamku
1' 2' 3' 3' 3' 1'2' 3'4'
Tuhanku merestui itu
7 1' 2' 2' 2' 7 1' 2' 3'
Dijadikan kau pasanganku
7 1' 7 7 3' 2' 1' 7 7 6
Engkaulah Bidadari surgaku
__ADS_1
3 1' 7 6 7 1' 3 7 65 6 7
Setiap manusia punya rasa cinta
1 6 5 4 5 6 7 5/ 3 2 3
Yang mesti dijaga kesuciannya
3 2' 2'2' 1'2' 3' 1' 2' 1' 7 6
Namun ada kala insan tak berdaya
3 3 1' 1' 6 5 6 7 6
Saat dusta mampir bertahta
3 1' 7 6 7 1' 2' 7 6 5 6 7
Ku inginkan dia yang punya setia
yang mampu menjaga kemurniannya
3 2' 2' 2' 1'2' 3' 1' 2' 1' 7 6
Saat 'ku tak ada, 'ku jauh darinya
3 3 1' 1' 6 5/ 6 7 7 6
Amanah pun jadi penjaganya
1' 2' 3' 3' 3' 1' 2' 3' 4'
Hatimu tempat berlindungku
7 1' 2' 2' 2' 7 1' 2' 3'
Dari keheningan malamku
1' 2' 3' 3' 3' 1'2' 3'4'
Tuhanku merestui itu
7 1' 2' 2' 2' 7 1' 2' 3'
Dijadikan kau pasanganku
7 1' 7 7 3' 2' 1' 7 7 6
Engkaulah Bidadari surgaku
Setelah selesai menyanyikan lagu tersebut aku tersenyum memandang suamiku aku peluk aku cium keningnya aku berbisik "i love you my hubbi"
"Love you too my wife" jawabnya dan mencium bibirku dengan lembut, kami berdiri mas Arif membopongku ke kamar tamu, terlihat juga ada bunga mawar putih disana, harumnya menenangkan jiwa.
"Sayang... jangan takut" kata Mas Arif membisikiku dan merebahkan tubuh kecilku di pembaringan, aku terus memandang matanya, kudapat ketenangan jiwa disana
Malam semakin larut, kami menikmati setiap sentuhan, hanya kedamaian yang ada dalam hatiku.
"Sayang... sudah siap?" bisik suamiku, aku mengangguk pasrah, aku peluk suamiku, aku belai rambutnya ketika dia turun ke bawah tubuhku
"Mas..." kataku manja.
"Ah.. sakit mas" kataku.
"Pelan" bisikku
Akhirnya malam ini aku bisa melepaskan traumaku yang bertahun-tahun menghantuiku, aku bisa memberi kewajibanku kepada suamiku
"Terima kasih istriku" kata suamiku.
"Terima kasih suamiku, kamu bisa membuatku mengalahkan traumaku, i love you" kataku sembari memeluknya, kami tertidur saling berpelukan di dalam selimut.
__ADS_1