Lika-Liku Single Parent

Lika-Liku Single Parent
Bertemu Rista


__ADS_3

Pagi ini setelah aku meminta ijin ke Pak Farid dan mengabarkan ke Nia kalau hari ini aku tidak bisa masuk kerja karena harus menemani Vano mengikuti lomba menggambar di Alun-alun sedangkan Mas Arif mau melihat dan mencari info tentang tanah yang dijual tersebut.


“Mas aku berangkat dulu” pamitku ke Mas Arif dan bersalaman kemudian Mas Arif mencium keningku dantersenyum.


“Hati-hati ya, kalau ada apa-apa segera kabari aku” pesan Mas Arif.


“Iya Mas, Mas juga harus hati-hati” pesanku ke Mas Arif.


Aku keluar dari kamar dan masuk ke kamarnya Vano, membawa peralatan yang di perlukan saat lomba, setelah siap aku memanggil Vano yang masih di ruang tamu bermain.


“Vano, ayo berangkat sudah hampir jam 7 pagi ini” kataku.


“Iya Bunda” jawab Vano.


“Tv nya jangan lupa di matikan” kataku lagi mengingatkan Vano.


Tv dimatikan Vano kemudian Vano berjalan ke arahku.


“Pamit dulu sama Ayah di kamar” kataku


“Aku tunggu di depan ya!” kataku kembali


Aku berjalan keluar sambil membawa perlengkapannya Vano dan aku masukkan ke dalam kresek plastik kemudian aku letakkan di sepedaku.


Vano menghampiriku yang sedang duduk di atas sepeda dan naik keatas sepeda berdiri di depanku, setelah siap aku berangkat menuju Alun-alun Kota, sekitar lima menit sudah


sampai di sana, sepeda aku parkirkan di sekitaran Alun-alun.


Di dalam Alun-alun terlihat ramai anak-anak bersama dengan orang tuanya, aku mencari-cari Bu Lia dengan berjalan menyusuri Alun-alun bersama Vano.


Terlihat dari jauh seperti Bu Lia, dan aku menghampirinya.


“Bu Lia” sapaku dan berjabat tangan.


“Tunggu dulu Bu Rinda, acaranya belum mulai, tadi sudah saya daftarkan” kata Bu Lia.


Menunggu beberapa menit kemudian ketua panitia membuka acara dan Bu Lia menghampiri kami wali murid dari beberapa siswa yang mengikuti lomba.


“Ibu-ibu, ayo ikuti saya, kita berkumpul disana!” ajak Bu Lia, kemudian kami mengikuti langkah Bu Via, aku memegang tangan mungil Vano berjalan mengikuti Bu Lia.


“Vano capek jalan?” tanyaku.


“Enggak Bunda” jawab Vano dengan tetap ceria.


Kami berhenti di tempat yang ditunjuk Bu Lia dan mulai membuka perlengkapan kemudian duduk di sana menyiapkan keperluan anak-anak kami dan meninggalkan mereka di bawah pengawasan Bu Lia.


Aku duduk tidak jauh dari posisi Vano duduk bersama dengan Ibu-Ibu lainya baik dari sekolahnya Vano maupun dari sekolah lainnya.


Ketika pandangan mataku tertuju pada sesosok wanita yang tidak jauh duduknya dariku.

__ADS_1


Sepertinya itu Rista, kenapa dia di sini? kan kemarin cerita katanya tidak punya anak,


batinku.


Aku samperin ke sana apa tidak? tapi untuk apa? ah pura-pura gak tau saja, kata hatiku.


Mataku tertuju pada Vano melihatnya dari kejauhan terlihat sangat serius menyelisaikan


menggambarnya, antara bangga dan sedih, bangga saat anak terpilih mewakili sekolahnya, sedih tidak tau kalau anak bisa menggambar, dilema ibu pekerja, jadi teringat omongan Mas Arif semalam, aku juga bingung nantinya jika hamil mau keluar kerja, otomatis aku tergantung sama suami, iya kalau suami seperti ini terus kalau pas roda di bawah bagaimana? ah sudahlah ngikuti saja arah air mengalir.


“Mbak Rinda” sapa seseorang membangunkanku dari lamunanku, aku menoleh ke arah suara tersebut.


“Rista, sama siapa di sini?” tanyaku ramah.


“Nunggu keponakanku” jawab Rista.


“Keponakannya sekolah di mana? tanyaku kemudian.


Rista menyebut nama sekolah keponakannya, ternyata ponakannya sepantaran dengan Vano tapi beda sekolah.


“Rista... bagaimana hubunganmu dengan mantanku? tanyaku dengan suara pelan.


“Bagaimana ya Mbak aku menjelaskannya” jawab Rista pelan.


“Dia tidak mau aku putuskan Mbak” kata Rista kemudian.


“Terus kamunya sendiri tidak bisa meninggalkannya?” tanyaku serius.


"Bingung kenapa?" tanyaku lagi.


"Entahlah Mbak, dia sudah minta maaf sama aku" kata Rista.


"Terus?" tanyaku penasaran.


"Apa salahnya Mbak memberi dia kesempatan untuk jadi lebih baik" kata Rista.


"Sabar sekali kamu Rista? apa yang kamu lihat darinya?" tanyaku.


"Apa dia sekarang bekerja?" tanyaku lagi.


"Aku juga bingung Mbak, kenapa aku ini tidak bisa meninggalkanya, dia juga tidak bekerja" jawab Rista.


"Rista, kamu perempuan baik, menurutku lebih baik kamu tinggalkan dia daripada menderita sepertiku" kataku.


"Aku gak tau Mbak, kenapa aku susah meninggalkanya" kata Rista.


"Rista, coba deh kamu cari info seperti apa dia itu, logika saja kamu ini cantik baik kok ya mau sama pengangguran dan pernah merusak anak orang, anaknya saja tidak dia pedulikan apalagi anak orang" kataku dengan jengkel.


"Rista... bukan aku kenapa ya? cuma ingetin kamu saja, maaf kita sama-sama pernah jadi janda, sebisanya jadilah janda yang terhormat" kataku lagi.

__ADS_1


"Maksud Mbak, apa?" tanya Rista dengan wajah memerah, mungkin menahan rasa marah atas omonganku tadi.


"Jaga tubuhmu jangan sembarang mau disentuh laki-laki walaupun janji menikahimu, jaga perilakumu, jangan suka mencari laki-laki beristri" pesanku.


"Bunda...." teriak Vano.


Aku melambaikan tanganku ke arah Vano, dan Vano menghampiriku kemudian memelukku.


"Sudah selesai sayang?" tanyaku sama Vano,.


"Sudah Bunda, boleh pulang kita" kata Vano.


"Oh iya, salim sama tante Rista, ini teman Bunda!" pintaku ke Vano.


Kemudian Vano mengulurkan tangan mungilnya bersalaman dengan Rista.


"Anak pinter, anak cakep, siapa namamu?" tanya Rista dengan ramah.


"Vano Tante" jawab Rista.


"Oh ya Rista, aku mau pulang dulu, aku kemasi peralatanya Vano dulu" pamitku ke Rista.


Aku tinggalkan Rista menuju tempat Vano menggambar tadi, mengambil beberapa peralatan Vano menggambar dan aku masukkan ke dalam kresek.


"Bu Lia saya pamit dulu" pamitku ke Bu Lia yang berada di situ bersama dengan siswa dan wali murid lainnya.


"Iya Bu Rinda, hati-hati ya" pesan Bu Lia.


"Iya Bu terima kasih" jawabku.


Aku meninggalkan Alun-alun berjalan menggandeng tangan Vano menuju ke parkiran sepedaku.


Dalam perjalanan pulang.


"Bunda Tante tadi baik ya? teman Bunda sekolah?" tanya Vano.


Kenapa anak ini tertarik dengan Rista, jangan sampailah, bisa-bisa lewat tangan Rista, Vano bisa dibawa oleh mantanku, lagian kenapa sih Rista masih berhubungan terus sama mantanku, batinku.


"Bunda, kok diam sih" kata Vano lagi.


"Oh tante Rista, bukan teman sekolah cuma kenal saja tadi di sana saat menunggu Vano" kataku berbohong.


"Sepertinya baik tante Rista itu Bunda, punya anak tante Rista?" tanya Vano penasaran.


"Anaknya meninggal kecelakaan" jawabku.


"Orang baik bukan dilihat dari penampilannya Vano, nanti kalau kamu sudah dewasa tau mana baik mana tidak" kataku dengan nada jengkel.


Sampai di rumah, masih terkunci pintu pagar, berarti Mas Arif belum pulang, aku buka pintu pagar, aku masukkan sepedaku ke teras dan aku tutup kembali pintu pagarnya kemudian membuka kunci pintu rumah.

__ADS_1


Hari ini aku jengkel sekali, Rista dengan sikapnya pada Vano sepertinya bisa mengambil hati Vano, hmmm, batinku.


__ADS_2