Lika-Liku Single Parent

Lika-Liku Single Parent
Mak Comblang


__ADS_3

Adzan subuh membangunkanku dari tidurku semalam, aku bangun dari pembaringanku dan berjalan menuju ke kamar mandi.


Huek… huek… beberapa kalai aku muntah di wastafel kamar mandi, semoga segera terlewati masa ini, batinku, mengambil wudhu dan melaksanakan sholat subuh.


Kulihat Ibu di dapur sedang memasak.


“Rin, sudah bangun?” tanya Ibu.


“Iya Bu, kehamilan ini kok beda ya Bu.” Aku mulai mengeluh.


“Kenapa memangnya?” tanya Ibu.


“Suka mual muntah Bu, kalau Vano kan enggak, yang kemarin


malah rewel sekali minta ini itu,” jawabku.


“Memang setiap kehamilan itu beda-beda Rin, kamu yang sabar jangan banyak mengeluh, wanita itu harus kuat menghadapi semuanya, dari kamu haid kadang sakit kadang merasa emosi dan lain sebagainya, demikian juga saat hamil kamu juga merasa mual, pusing, gak nyaman, juga saat melahirkan pasti


sakit, belum lagi saat anak lahir dan masih bayi pasti sering bergadang,” nasehat Ibu.


“Enak laki-laki ya Bu,” kataku sambil menuangkan susu bubuk ke dalam gelas.


“Jangan begitu, tugas laki-laki dan perempuan itu beda Rin,” kata Ibu sambil memberikan air hangat ke aku.


“Sudah jangan banyak mengeluh,” kata Ibu.


Aku mengaduk susu dan air kemudian duduk di meja makan dan meminumnya sedikit demi sedikit.


“Bagaimana masih mual?” tanya Ibu.


“Sudah tidak seberapa Bu, Vano masih tidur ya?” tanyaku.


“Iya masih tidur,” jawab Ibu.


“Rin, nanti bagaimana kalau aku tinggal pulang? Makanmu dan mengurus Vano?” tanya Ibu.


“Rinda bisa bu,” jawabku.


“Sekarang kok semua Ibu?” tanya Ibu.


“He he he, kan pingin manja sama Ibu” jawabku.


“Kamu ini Rin, sudah berkeluarga tapi masih manja saja” kata Ibu.


“Kalau tidak ada Ibu, Rinda sering beli di luar Bu, di rumah hanya masak nasi dari magic com, lah bagaimana lagi, sudah gak sempat untuk masak, kadang beli online,” kataku.


“Ibu mertuamu juga sepertinya jarang makan di rumah ya?” tanya Ibu.


“Iya Bu, tapi kalau sedang suka masak ya masak, enak jugammasakanya Ibu mertua” jawabku.


“Kamu itu apa yang tidak enak Rin,” kata Ibu.


Vano menghampiriku.


“Vano mau makan? Mau susu kedelai?” tanyaku.


Vano menganggukkan kepalanya, aku berdiri mengambil susu kedelai dari dalam kulkas dan menyerahkan ke Vano, Ibu sudah selesai masaknya dan aku membantu menyiapkan di atas meja makan kemudian memanaskan air dan mulai sarapan, kemudian bersiap-siap untuk berangkat bekerja.


Waktu menunjukkan setengah delapan pagi, aku berangkat bersama Vano, perutku sudah tampak sedikit buncit, lucu juga melihatnya.


Sampai di Penitipan anak, kami turun dari sepeda masuk ke dalam Penitipan anak.


“Bu Rinda hamil?” tanya Bu Via sambil mengusap perutku.


“Alhamdulillah Bu,” jawabku.


“Semoga sehat selalu ya Bu Rinda,” kata Bu Via.

__ADS_1


“Iya Bu, terima kasih, saya pamit dulu, nitip Vano ya,” kataku.


“Assalamualaikum,” salamku.


“Waalaikum salam,” Jawab Bu Via.


Sebelum meninggalkan Vano, aku mencium dan memeluknya kemudian bersalaman, Vano mencium perutku.


Perlahan sepedaku meninggalkan Penitipan anak menuju ke tempat kerjaku.


Sampai di pintu gerbang kebetulan bersamaan masuknya dengan Nia, aku tersenyum melihat temanku ini, jadi teringat omongan mas Arif semalam kalau temannya sedang mencari istri.


Kami naik ke atas bersamaan.


“Rin, kamu lebih sehat hamil ini daripada kemarin, kamu bawa apa lagi?” tanya Nia.


“He he he, biasa cemilan,” jawabku dan tertawa.


“Ibu hamil memang harus banyak makan, biar sehat,” kata Nia.


“Ah kamu ini sok nasehati, belum pernah merasakan hamil saja,” kataku.


“He he he” Nia tertawa.


“Nia, bagaimana yang kemarin kamu kenal cowok lewat dunia maya?” tanyaku pelan.


“Tidak sesuai harapan Rin, kami sudah mengakhirinya,” jawab Nia.


Aku diam sesaat, aku tidak mau menanyakan apa yang terjadi lebih baik aku mengungkapkan keinginan Mas Arif saja.


“Nia, kamu mau enggak kenal sama teman suamiku? Dia lagi mencari istri,” kataku.


“Siapa?” tanya Nia antusias.


“Orang Merauke, kerja di tempat yang sama dengan Mas Arif,” kataku.


“Sudah jangan mengeluh kalian coba mengenal dulu, sapa tau cocok,” kataku.


Nia terdiam dan kami kemudian duduk di tempat duduk masing-masing. Dan kami mulai beraktifitas mengerjakan tugas masing-masing.


Sampai pada saat istirahat aku turun ke bawah menuju ke kantin Mbak Yah, sudah sangat lapar sekali perutku ini, kamu minta makan lagi ya nak, batinku sambil mengusap perutku.


Nia dan Widya mengikutiku menuju ke kantin Mbak Yah dan memesan makanan.


Kami duduk di kursi  saling berhadapan di depan kami ada meja.


“Nia, bagaimana tawaranku tadi?” tanyaku ke Nia.


“Aku kok gak kamu tawarkan apa-apa Rin?” tanya Widaya protes.


“He he he, maaf Wid, ini ada teman suamiku yang mau cari istri, kebetulan ada dua, namanya Deni sama Yusuf, aku tidak mengenalnya sih, barangkali kalian mau mencoba untuk ta’aruf, sapa tau berjodoh,” kataku.


“Gimana ya” Kata Widya terlihat berfikir.


“Rin, kamu kasihkan saja hpku ke suamimu, juga fotoku,” kata Nia.


“Aku juga,” kata Widya.


“Oke, nanti malam aku ngobrol sama suamiku, semoga kalian ada jodoh dengan teman suamiku,” kataku.


Mbak Yah datang membawa pesanan makanan kami dan kami segera menikmati setelah selesai dan membayarnya kemudian berjalan beriringan menuju ke mushollah.


“Rin, tadi katamu suamimu punya dua teman yang masih lajang, yang satu aslinya mana?” tanya Nia.


“Kurang tau aku, sepertinya juga bukan orang Jawa sih, soalnya suamiku tidak pernah bercerita punya teman kerja dari daerah sini,” jawabku.


“Kamu ada fotonya mereka?” tanya Widya.

__ADS_1


“Cie cie yang lagi penasaran.” Godaku.


Kulihat Widya tersenyum malu.


“Sayangnya aku tidak ada, nantilah aku mintakan pada suamiku,” kataku.


Kami sampai di musholla dan melaksanakan sholat duhur berjamaah, selesai kami masih bersantai di musholla sambil ngobrol-ngobrol aku merebahkan tubuhku di karpet mushollah.


“Rasanya nyaman sekali he he he,” kataku dan tertawa.


“Kamu di rumah bagaimana Rin, membersihkan rumah segede itu?” tanya Nia.


“Aku hanya membersihkan lantai bawah saja, urusan atas urusan ibu mertua, kalau di depan sama belakang kadang nyuruh orang, tapi sekarang ada ibuku jadi banyak membantu saat aku hamil ini,” jawabku.


“Enak banget kamu Rin, sudah mertua baik banget, sekarang Ibumu tinggal di sana, mertuamu belum balik dari Jogja, sudah dua minggu kan? Terus kerjaan mertuamu bagaimana?” tanya Nia.


“Itulah Ibu sayang anak Nia, untuk kerjaan kan Ibu punya asisten, sebenarnya aku di suruh masuk ke kantornya mengendel manjemen sana, tapi masih malas” jawabku.


“Enak sih Rin, usaha punya sendiri,” kata Widya.


“Enggak enak, nanti di kira karyawan sana pumpung jadi menantu jadi seenaknya saja masuk ke kantor” jawabku.


“Iya juga sih, tapi kalau kamu menunjukkan kualitasmu pasti mereka akan menghargai kinerjamu loh Rin,” kata Nia.


Kami terus mengobrol-ngobrol ringan sampai jam satu kurang, kemudian kami menuju ke ruangan kami untuk melanjutkan pekerjaan kami masing-masing sampai waktu pulang.


Sepulang dari kerja aku menjemput Vano dan segera pulang ke rumah, dalam hatiku di rumah pasti ibu sudah masak enak.


Sampai di rumah, masuk ke dalam rumah, kulihat Ibu sedang menyapu, aku menghampirinya dan bersalaman dengan Ibu demikian juga Vano.


“Rin, Ibu sudah masak, kamu kalau lapar makanlah” kata Ibu.


“iya Bu, Rinda mau ganti baju dan mandi dulu,” jawabku.


“Vano apa sudah mandi?” tanya Ibu.


“Vano sudah mandi di Penitipan anak,” jawabku sambil berlalu menuju ke kamar tidurku untuk mandi dan berganti baju kemudian sholat ashar.


Sore hari setelah melaksanakan sholat maghrib berjamaah, kami makan bersama di meja makan kemudian kembali ke ruang keluarga.


Malam menjelang, Ibu dan Vano sudah tidur di kamar masing-masing.


Aku menghubungi suamiku dan diangkat telponku.


“Rin, tumben malam-malam telpon, sudah jam setengah sebelas di sini,” kata Mas Arif.


“Maaf Mas, tadi Rinda menemani Ibu jadi baru bisa telpon sekarang,” kataku.


“Ada apa?” tanya Mas Arif.


“Kemarin Mas kan bilang kalau dua temanmu mau cari istri, ini ada dua temanku juga sama-sama masih lajang, teman kantor, habis ini aku kirim fotonya dulu, barangkali dua temanmu berminat,” kataku.


“Iya Rin, anak kita baik-baik saja kan?” tanya Mas Arif.


“Alhamdulillah Mas, baik-baik saja, hanya saja masih suka mual muntah kalau pagi hari” kataku.


“Sabar ya, maaf aku belum bisa segera pulang,” kata Mas Arif.


“Gak apa-apa Mas, doakan saja kami baik-baik saja di sini, Mas juga di sana baik-baik saja kan? Tidak ada perempuan yang menggodamu?” tanyaku.


“He he he, tidak ada, hanya kamu yang menggodaku” jawabnya.


“Sudah dulu Mas, setelah ini aku kirim foto temanku,” kataku.


“Assalamulaikum” salamku.


“Waalaikum salam” jawab suamiku dan telpon di tutup.

__ADS_1


Aku mencari foto Nia dan Widya dari galeri hp ku dan mengirim ke whats up Mas Arif, kemudian aku tidur.


__ADS_2