
Malam ini, jam sembilan malam, rumah sudah sepi menandakan penghuni rumah sudah beristirahat.
Di dalam kamar rumah tersebut, sepasang suami istri yang sedang memadu kasih, melepaskan rindu ketika berpisah.
"Mas" bisikku ke Mas Arif, sambil menggelayut manja dalam pangkuanya dengan memakai lingerie warna hitam terlihat jelas kulit putihku.
"Iya sayang" bisik Mas Arif kemudian kami saling berciuman.
"Mas, love you" bisikku ke telinga suamiku.
"Love you too bidadariku" kata Mas Arif pelan.
Kami saling berpandangan dan berciuman kembali dan melepaskanya.
Aku tersenyum memandang suamiku, memeluk erat tubuhnya seakan enggan untuk melepaskanya lagi.
Mas Arif mulai mencium leherku dan ke bawah, semakin aku menikmati setiap sentuhanya.
Aku melenguh "Ah..."
"Rin... kamu sungguh menggairahkan" bisik Mas Arif.
Sentuhan dan ciumanya membuatku semakin melayang menikmatinya.
Semakin aku menggeliat semakin suamiku kuat merangsang bagian sensitifku.
"Mas..." kataku pelan menikmati semua ini.
Semakin lama semakin dibuat aku tidak berdaya semakin aku menggeliat menahan rasa nikmat ini.
"Mas.. sudah" kataku ingin segera mengakhiri ciuman suamiku dan menuju puncak kenikmatan.
"Sebentar sayang" bisik Mas Arif.
"Ayo" bisikku lagi.
Aku benar-benar dibuat suamiku semakin bergairah, akhirnya aku mencium bagian sensitif suamiku.
Suara kenikmatan keluar dari bibir suamiku.
Kami terus menikmati semua rasa ini, rasa yang terpendam selama dua bulan ini, rasa yang ingin kami nikmati setiap harinya.
Suara lenguhan kami menandakan akhir dari puncak kepuasan kami, kami saling berpelukan dan membisikkan kata cinta di telinga masing-masing.
Lelah setelah menikmati syurga dunia, kami tertidur pulas saling berpelukan.
*****
Pagi hari
Telpon dari hp Mas Arif terdengar berkali-kali membangunkanku dari tidurku.
"Mas hpmu bunyi" kataku sambil menggoyangkan tubuh Mas Arif agar bangun.
Aku lihat jam di dinding menunjukkan pukul empat pagi.
Mas Arif masih tertidur, susah aku bangunkan, mungkin lelah bercinta semalam, aku angkat saja, sapa tau penting, batinku.
Aku turun dari ranjang tidur mengambil hp di meja kamar dan aku lihat di layar hp Mas Arif tertera nama Deni, teman Mas Arif dari Papua, aku angkat saja, pikirku.
"Assalamualaikum" salamku.
"Waalaikum salam" jawab Deni.
"Ini sama istrinya Mas Arif, ada pesan? Mas Arif masih tidur" kataku.
__ADS_1
"Mbak, minta tolong ditanyakan pada Arif apa sudah tau kalau cuti diperpanjang sekitar satu bulan lagi?" tanya Deni.
"Oh iya, tapi Mas belum cerita apa-apa sama saya" jawabku.
"Iya nitip omongan itu saja nanti, pasti dia menghubungiku lagi" kata Deni.
"Halo, Mas Deni, ada apa kok cutinya diperpanjang?" tanyaku.
"Kebijakan perusahaan untuk karyawan yang cuti di luar wilayah sini" kata Mas Deni.
"Kenapa ya Mas?" tanyaku penasaran.
"Karena ada kerusuhan di sini Mbak, untuk masuk disini juga diperketat" jelas Mas Deni.
"Oh..." kataku.
"Iya Mas nanti aku sampaikan" jawabku.
"Iya Mbak, terima kasih, salam untuk Arif" kata Deni dan telpon dimatikan.
"Mas, Mas, bangun sayang" bisikku.
Mas Arif tidak juga bangun, hmmm aku punya cara membangunkannya, aku cium saja bagian sensitifnya, batinku.
Akhirnya aku mulai melancarkan aksiku, Mas Arif mulai membuka matanya, dan menikmati ciumanku, kemudian aku menyudahi aksiku.
"Sudah bangun?" tanyaku.
"Lagi" jawabnya.
"Bangun dulu, ayo mandi besar terus sholat subuh" kataku.
"Nanggung banget sih Rin" jawab Mas Arif dan bangun dari tidur dengan malasnya menuju ke kamar mandi.
He he he akhirnya sukses membangunkan suami tercinta, batinku sambil senyum-senyum sendiri.
"Mau menggodaku lagi" kata Mas Arif.
"He he he" aku tersenyum dan tertawa mendengar perkataan suamiku yang seperti jengkel sekali karena ulahku tadi.
"Ayo tanggung jawab" katanya sambil menggosok tubuhnya dengan sabun.
"Setelah aku pulang kerja ya" jawabku.
Akhirnya kami mandi bersama, aku mencium bibir suamiku dibawa guyuran air dari shower.
"Love you my hubby, jangan marah lagi" bisikku ketika kami menyudahi acara mandi bersama.
"Ayo sholat berjamaah sayang" kataku lembut ke Mas Arif.
Kami melaksanakan sholat subuh berjamaah kemudian duduk di kursi sofa keluarga sambil menonton acara tv.
"Mas, tadi ada telpon dari Mas Deni, pesannya cuti di perpanjang satu bulan" kataku.
"Yang benar saja Rin?" tanya Mas Arif bersemangat.
"Iya, coba saja hubungi temanmu" kataku.
"Asyik bisa setiap hari bercinta sama istriku, berkah dari kerusuhan di sana" kata Mas Arif dengan gembira dan mencium memelukku seperti anak kecil yang baru dapat mainan dari orang tuanya.
Ternyata suamiku memang menggemaskan, batinku.
"Rin, tolong ambilkan hpku di kamar!" pinta Mas Arif.
Aku berdiri dari sofa dan berjalan menuju ke kamar mengambil hp Mas Arif, kemudian kembali ke ruang keluarga memberikan hp pada Mas Arif.
__ADS_1
"Ini Mas" kataku sambil duduk di sebelah Mas Arif.
Kemudian Mas Arif menelpon temanya menanyakan tentang perpanjangan cuti.
Aku menuju dapur berniat untuk membuat sarapan pagi nasi goreng dan telur ceplok, minumnya aku buat jus alpukat.
Setelah selesai masak dan membuat jus alpukat, aku menghidangkan nasi goreng di meja makan, aku dengar Mas Arif masih bicara di telpon.
Vano keluar dari kamarnya sambil meminum susu kotaknya dan bermalas-malasan di ruang keluarga.
Aku lirik jam di dinding ruang keluarga menunjukkan pukul enam pagi, masih ada waktu satu setengah jam lagi.
"Vano, setelah ini mandi ya?" tanyaku.
"Iya" jawab Vano sambil memindah chanel tv.
Mas Arif menghampiriku di dapur, dan memelukku dari belakang, mencium leherku.
"Aku akan setiap hari menikmati tubuhmu ini sayang" bisiknya mesra.
"Dilihat Vano Mas" kataku sambil berusaha melepas pelukanya.
"Enggak lihat sayang" bisik Mas Arif.
"Mas, sudah ah" kataku sambil melepaskan pelukannya.
"He he he kamu menggemaskan Rin" kata Mas Arif sambil mencium pipiku dan melepas pelukannya kemudian duduk di kursi meja makan.
"Vano ayo makan" teriak Mas Arif pada Vano.
Vano menghampiri mas Arif dan duduk di sana, akupun berjalan menuju ke meja makan, menaruh nasi goreng ke piring Mas Arif dan Vano kemudian telur ceplok.
"Kamu gak makan Rin?" tanya Mas Arif.
"Iya Mas" kataku sambil mengambil piring dari rak kemudian mengambil nasi goreng dan telur ceplok, kami sarapan bersama.
"Mas, Ibu mau tidak nasi gorengnya?" tanyaku.
"Setelah ini kamu ke atas membawanya Rin, mudah-mudahan Ibu suka masakanmu" kata Mas Arif.
"Iya Mas" jawabku.
Selesai makan, aku mengambil piring dari rak dan aku taruh nasi goreng beserta telur ceplok di atas piring, kemudian aku naik ke atas, dan berhenti.
"Mas, airnya tolong taruh di bak mandi, Vano biar mandi" pesanku ke Mas Arif.
Aku melanjutkan langkahku menaiki tangga dan mengetuk pintu kamar Ibu, lalu masuk ke dalam.
Ibu sedang duduk di kursi.
"Bu, Rinda bawakan nasi goreng, semoga Ibu suka" kataku.
"Terima kasih Rinda" jawab Ibu.
"Ibu sudah baikan?" tanyaku.
"Iya sudah lebih baik Rin, besok Ibu kerja" jawab Ibu.
"Iya Bu, Rinda ke bawah dulu siap-siap berangkat kerja" pamitku.
"Hati-hati Rin" pesan Ibu.
"Iya Bu" jawabku.
Aku berbalik meninggalkan Ibu mertua di kamar dan turun ke bawah untuk bersiap bekerja dan mengantar Vano sekolah.
__ADS_1
"Ayo Rin, aku antar" kata Mas Arif.