
Pagi ini mentari bersinar sangat cerah, tak seperti dengan hatiku, yang merasa sepi kembali setelah mas Arif kemarin sore kemballi ke Papua untuk bekerja, mengais rejeki.
"Vano segera mandi" kataku ke Vano ketika melihat dia sedang asyik bermain di ruang keluarga sedangkan air hangat sudah siap.
"Sebentar Bunda" jawabnya tanpa menoleh ke arahku.
"Vano... hari ini sekolah, kalau masih bermain saja, Vano di rumah sendirian, Bunda sama Nenek mau berangkat kerja" kataku.
Vano akhirnya berdiri dari tempat duduknya menuju ke arahku dengan raut wajah kecewa.
"Ayo mandi, Bunda siapkan bajumu" kataku sambil menyiram air ke tubuh Vano.
Selesai memandikan Vano aku memakaikan baju seragam sekolah Vano, telpon dari hp ku berdering.
"Sebentar Vano, bunda angkat telpon lagi" pamitku ke Vano dan aku melangkah menuju kamar tidur mengambil hp dan aku angkat telpon tersebut.
"Assalamualaikum my hubby" ucap salamku dengan gembira.
"Waalaikum salam bidadariku" Mas Arif menjawab salamku.
"Sudah sampai di mana sekarang?" tanyaku.
"Sudah mau naik pesawat lagi ke Bandara Mozes KIlangan" jawabnya.
"Hati-hati, sudah sarapan belum" tanyaku.
"Sudah tadi makan roti sama susu coklat" jawab Mas Arif.
"Ibu masih di rumah Rin?" Mas Arif menanyakan tentang ibu.
"Sudah tadi mas jam tujuh kurang sudah berangkat membawa mobil" jelasku.
"Kok tumben ya Ibu naik mobil, apa keluar kota?" tanya mas Arif kembali.
"Tadi pagi setelah sarapan langsung berangkat mas, tidak bilang mau ke luar kota mas, cuma pamit berangkat kerja" aku menjelaskan kepada Mas Arif.
"Iya Rin, ini kamu mau berangkat kerja?" tanya Mas Arif lagi.
"Iya Mas, ini masih menyiapkan Vano, sudah dulu Mas, nanti dilanjutkan lagi, mas hati-hati, jaga kesehatan, jangan lupa sholat ya Mas" pesanku ke Mas Arif dan telpon aku tutup.
Aku letakkan telpon di meja kamar aku melangkah menuju ke Vano untuk memakaikan baju yang tadi belum selesai, menyisir rambutnya, memakaikan kaos kaki ke kaki mungilnya.
__ADS_1
"Sudah ganteng anak Bunda, sebentar ya Bunda mau siap-siap, Vano bisa bermain kembali sambil menunggu Bunda selesai" kataku.
Aku meninggalkan Vano sendiri di ruang keluarga dan berjalan menuju kamarku untuk berganti baju, berhias kemudian memakai kerudung dan memakai kaos kaki, setelah rapi aku keluar kamar membawa tas kerjaku dan tas nya Vano.
"Vano.... ayo kita berangkat" panggilku ke Vano.
Vano berlari ke arahku.
"Ayo Bunda" jawabnya sambil meninggalkan aku yang sedang mengunci pintu rumah berjalan menuju ke sepedaku yang sudah berada di depan pagar rumah.
Aku kunci pintu pagar, dan menghidupkan sepeda matic kemudian melaju meninggalkan rumah mertua, menuju ke sekolahnya Vano.
Ya... berdua bersama anak, mengingatkanku waktu dulu sebelum bertemu kembali dengan mas Arif, kemanapun aku berdua bersama dengan Vano.
"Vano, enak bersama Bunda atau ada ayah Arif?" tanyaku ketida dalam perjalanan.
"Enak sama Ayah dan Bunda" jawabnya polos.
"Sama... Bunda juga suka ada ayah, jadi rame ya" kataku.
"Kenapa Bunda, Ayah kerjanya jauh?" tanya Vano.
"Ya... memang Ayah kerjanya jauh, nanti kalau sudah punya uang banyak Ayah mau buka usaha disini Vano, jadi kita bisa setiap hari bertemu dengan Ayah" kataku menjelaskan pada Vano, kulihat dari kaca spion sepertinya Vano mengerti maksud perkataanku.
Kemudian Vano turun dari sepeda motor dan aku ikuti, lalu kami masuk ke dalam penitipan anak.
"Vano, gak diantar Ayah?" tanya bu Lia.
"Ayah sudah naik pesawat kemarin" jawab Vano dengan polos.
"Oh... sudah bekerja kembali?" tanya Bu Lia.
"He em" jawab Vano.
Setelah mengantar Vano aku segera menuju ke kantorku, hp berbunyi terus saat aku sampai di parkiran kantorku, mungkin Mas Arif, batinku.
Aku ambil hp dari tas kerjaku, hmmm kenapa lagi orang ini, gumamku dan aku angkat telpon darinya.
"Ada apa lagi, bukannya kemarin aku sudah menjelaskan, jangan menemui Vano dulu, kamu gak ingat seperti apa Vano dulu waktu kamu temui dan kamu paksa, apa memang hobbymu ini selain merusak anak orang juga membuat anak kecil takut" kataku dengan berjuta kemarahan di hati.
"Rin... aku bener-bener ingin bertemu dengan Vano, tolong kamu mengerti, cari waktu untuk kita bertemu" katanya pelan tanpa ada nada marah seperti dulu.
__ADS_1
"Nanti aku pikirkan dulu, aku juga harus minta ijin sama suamiku, yang pasti saat ini suamiku tidak menyukaimu karena kelakuanmu padaku juga Vano" kataku dengan masih jengkel.
"Sudah jangan telpon-telpon lagi, aku bukan orang pengangguran aku harus kerja cari uang untuk Vano" Kataku lagi dan telpon segera aku matikan.
Hmmmm pagi-pagi sudah bikin orang emosi saja, batinku, kemudian aku menaiki tangga kantor dengan perasaan jengke.l
"Rin... kenapa wajahmu terlihat marah begitu?" tanya Nia.
"Lagi bertengkar sama suamimu?" tanyanya lagi.
"Bukan, sudahlah Nia, tadi ngapain aku angkat telpon itu bikin semangat pagiku ini hilang hmmm, manusia tak punya hati" kataku pelan.
"Maksudmu apa?" tanya Nia dengan penasaran.
"Itu mantanku telpon dari kemarin, minta bertemu, untuk apa coba? kalau gak ingin mengganggu rumah tanggaku, apalagi mas Arif tidak suka aku berhubungan dengannya" jelasku dengan nada jengkel.
"Ya, kamu alasan apa gitu Rin, biar dia tidak menemuimu" saran Nia.
"Iya sudah Nia, dia bilang mau berubah, mau mendekati anaknya dengan baik, coba kamu pikir kemana lagi dia selama ini? tau aku sudah nikah dan Vano lebih dekat sama mas Arif, kok seperti kebakaran jenggot" kataku.
"Mungkin dia tidak rela anaknya dekat dengan laki-laki lain" kata Nia.
"Jujur saja, aku lebih suka Vano dengan Mas Arif dari pada sama mantanku" kataku masih dengan suasana hati tidak enak.
"Sudahlah Nia, percuma membahas orang itu, bikin hatiku sakit, bikin hatiku sakit, bikin hariku tidak bersemangat" kataku kembali.
"Ayo kerja saja" kataku.
Kemudian aku menyalakan komputer, hmmmm tapi hatiku masih sangat marah, sangat jengkel kalau berhubungan dengan mantanku, seakan memori-memori aku di perkosa dulu terlintas kembali di ingatanku semakin menambah kebencianku kepada dia.
Akhirnya aku berdiri dari kursiku meninggalkan kantor menuju kantin, sampai di kantin.
"Mbak buatkan teh hangat!" pintaku.
"Loh Bu Rinda tumben jam segini sudah di sini, gak takut dimarahi atasan" Mbak Yah mengingatkan.
"Lagi suntuk aku Mbak, mau di sini sebentar, nanti kalau sudah lega hatiku aku ke atas lagi" kataku menjelaskan.
"Hidup itu memang begitu bu Rinda... kalau tidak ada masalah jelas tidak membuat kita lebih dewasa" kata mbak Yah.
"Iya Mbak, tapi kalau masalahnya datang dari orang yang membuat kita sakit hati juga membuat kita jengkel" kataku.
__ADS_1
Setelah minum teh hangat dan membayarnya aku naik ke lantai dua, hatiku sudah lumayan enak tapi masih ada kejengkelan.