
Dua minggu kemudian... ketika aku ke kamar mandi berniat untuk buang air kencing, di celana dalamku ada darah, deg rasanya hatiku, nak... kamu baik-baik saja kan? batinku
Beberapa hari perutku sering kram, setelah selesai buang air kecil aku keluar kamar berganti celana dalam, aku lihat jam dinding pukul tiga sore, Ibu tidak di rumah tadi keluar urusan pekerjaannya, Vano tidur, ya Allah... aku harus bagaimana ini, telpon Mas Arif... tidak, aku takut dia khawatir, telpon Ibu... pasti Ibu sedang menangani orang, apa aku berangkat sendiri ke klinik, terus Vano masih tidur, ya Allah... Rinda harus bagaimana ini, batinku.
Aku masih diam duduk di pinggir tempat tidur memandang Vano yang masih tidur, apa aku bangunkan Vano saja pikirku.
"Vano...Vano... ayo bangun nak" bisikku
"Bunda... ada apa?" katanya sambil membuka mata.
"Ayo kita keluar, temani Bunda ke klinik, kamu bawa sesuatu yang kamu suka ya untuk bermain di sana" kataku.
Akhirnya Vano mau bangun dan mencari mainan yang di inginkan, kemudian aku mengambil hp dan mencari transportasi online untuk mengantarku ke klinik, dan sudah kudapatkan.
Aku membawa kartu kontrol, dan kumasukkan ke dalam tas ku kemudian melangkah keluar rumah bersama Vano, tak lupa aku mengunci pintu rumah juga pintu pagar, tak lama kemudian mobil yang aku pesan datang, Vano masuk dulu kemudian aku, dan mobil berjalan menuju klinik.
Sampai di klinik aku mengambil nomer antrian dan duduk menunggu.
"Bunda... kenapa dengan adik?" tanya Vano.
"Doakan gak kenapa-napa dengan adik" kataku.
Kulihat jam di hp ku menunjukkan jam lima kurang lima belas menit, akhirnya namaku di panggil, aku masuk ke dalam duduk di kursi berhadapan dengan dokter.
"Bu apa keluhanya?" tanya dokter Lisa aku masih dengan wajah tegang.
"Bu..." tanya dokter Lisa.
"Ma af Dok" kataku terbata
"Barusan ada darah yang keluar" kataku, kulirik Vano masih tenang duduk di kursi tak jauh dariku.
"Ayo naik dulu, diperiksa dulu" kata Bu dokter.
Aku naik ke tempat tidur ada asisten dokter yang mengolesi gel di perut bagian bawah, lalu meninggalkanku, kemudian Bu Dokter menuju ke arahku mengambil alat dan meletakkan di perutku yang sudah diolesi gel tadi, kulihat wajah Bu dokter tegang.
__ADS_1
"Dok... bagaimana?" tanyaku, dokter Lisa tidak menjelaskan tapi duduk di mejanya dan aku pun turun dari tempat tidur kemudian duduk di depan meja dokter.
"Bu... janin Ibu lemah, sepertinya untuk bisa bertahan itu susah" kata Dokter Lisa.
"Terus..." kataku dengan wajah kecewa.
"Aku beri obat ini, seminggu lagi datang ke sini, bila dalam beberapa hari darah yang keluar semakin banyak, maka bawalah surat ini ke Igd" kata Dokter Lisa.
Mendengar semua itu rasanya tubuhku lemas tak bertenaga aku keluar menuju kasir membayarnya dan menuju apotik menyerahkan resepnya kemudian menunggu beberapa saat, tiba giliranku di panggil aku menuju apotik dan mengambil obat.
Aku mengambil hp ku dan memesan transportasi online, saat selesai memesan ibu mertuaku menelponku.
"Rinda kamu sama Vano kemana?" tanya Ibu.
"Bu... ini di klinik, sebentar lagi Rinda pulang" kataku.
"Iya Rin, hati-hati" pesan Ibu, dan telpon dimatikan.
Aku ingin menangis tapi aku tahan terus, aku takut Vano sedih melihatku menangis, mas.. Arif... maaf aku belum bisa mengabarimu batinku.
Akhirnya sampai di rumah.
Terlihat Ibu sudah menunggu di teras rumah, aku mengeluarkan uang dari dompet dan membayar ongkos transportasi kemudian membuka pintu dan keluar bersama dengan Vano, Vano segera berlari masuk ke rumah mungkin ingin melihat tv, dan aku berlari memeluk Ibu mertuaku menangis dalam pelukanya.
"Ada apa Rinda?" tanya Ibu.
"Bu... anak Mas Arif..." kataku dan aku tidak bisa meneruskan kata-kataku aku menangis dalam pelukan Ibu mertuaku.
"Rin... ayo masuk ke kamar, dilihat orang tidak baik, ceritalah sama Ibu" kata Ibu.
Kami masuk ke kamar, sampai disana aku duduk di pinggir tempat tidur, Ibu mengambil kursi dan duduk di depanku memegang tanganku erat.
"Bu... janin ini lemah, kemungkinan besar tidak bisa diselamatkan" selesai berkata aku memeluk ibu dan menangis lagi.
"Rin... kamu sabar, kamu tenang, berdoa dapat keajaiban dari Allah" bisik Ibu menghibur dan menguatkanku.
__ADS_1
"Bu... tadi habis ashar Rinda ke kamar mandi ada darah, terus Rinda langsung ke klinik yang dulu sama Ibu, ini tadi di beri obat minggu depan periksa lagi" kataku masih terisak menangis.
"Mas Arif pasti kecewa Bu" kataku lagi.
"Rinda... masih banyak waktu untuk kalian, jangan menyerah, banyak berdoa ya, sekarang kamu istirahat, kalau mau mengabarkan ke Arif gak apa-apa" kata Ibu
"Tapi bila kamu tidak siap biar ibu yang mengabarkan pada Arif, tenangkan pikiranmu" kata Ibu kemudian meninggalkanku di kamar sendiri.
Aku keluar kamar, menghampiri Vano, "Vano gak ngantuk?" tanyaku sambil duduk di sofa
"Belum Bunda" jawab Vano
"Sudah hampir jam delapan sayang" bujukku
"Bunda... besok hari minggu Vano libur" kata Vano dan masih asyik bermain puzzle, aku rebahkan tubuhku di sofa, perut bagian bawahku semakin sering sakit, Ya Allah... aku ingin anak ini, batinku, aku terlelap dalam tidurku, entah berapa menit, tak lama kemudian terdengar suara Vano memanggilku.
"Bunda... Bunda.." kata Vano dan menciumku, aku buka mataku
"Ada apa sayang?" tanyaku pelan
"Ayo ke kamar Bunda, Vano sudah ngantuk" kata Vano
"Vano ke kamar dulu, Bunda matikan tv dan memeriksa pintu ya" kataku.
Vano berjalan menuju kamar, aku mematikan tv dan terasa seperti haid, aku masuk ke kamar mandi yang dekat dapur dan melihatnya, darah semakin banyak yang keluar, aku masuk ke kamar mengambil pembalut kemudian memasang pembalut di kamar mandi dalam kamar, keluar kamar mandi kulihat Vano masih berusaha untuk tidur, aku naik ke tempat tidur mendekati Vano, kuusap rambutnya kucium pipinya.
"Ayo tidur sayang" bisikku
"Jangan lupa berdoa ya?" kataku, kemudian Vano berdoa seperti yang diajarkan bu gurunya, aku lihat dia berusaha untuk memejamkan mata, beberapa menit kemudian dia tertidur.
Aku tidur di samping Vano, tak lama kemudian hp berdering aku ambil, kulihat mas Arif menelponku dengan video call.
"Sayang belum tidur?" tanya Mas Arif yang kulihat sedang berada di kamarnya.
"Belum Mas" kataku.
__ADS_1
Aku bingung harus menceritakan atau tidak pada suamiku.