
Ketika mendengar kabar Rinda masuk ruang operasi untuk menjalankan curret, aku tidak tenang di Papua, ingin segera pulang ke Jawa, tapi pasti tidak mendapatkan ijin, karena dua minggu lagi aku akan pulang, sejak itu aku tidak pernah bisa berbicara dengan Rinda, hp Rinda juga di rumah tidak di bawah ke rumah sakit.
Rinda... apa yang terjadi denganmu disana, telpon Ibu terakhir Rinda sudah sadar dari pengaruh obat biusnya tapi dia selalu menangis dan tidak mau menelponku.
Rinda... kalau kamu bisa merasakanya, aku juga sedih di sini, aku lebih tidak tenang di sini, aku tidak bisa melihatmu, tidak bisa bicara denganmu.
Rinda... di saat kamu seperti ini aku tidak berada di dekatmu, Rinda.... aku ikhlas kehilangan anak kita, tapi kamu jangan begini, batinku sambil menatap hp yang aku pegang.
Teringat saat Rinda depresi karena ulahku, apa dia akan diam saja seperti itu, Ibu... tolonglah Rinda batinku.
Kemudian aku buka hp ku mencari nomer Ibu, aku tau hanya Ibu yang bisa memberiku informasi tentang Rinda, aku menelpon Ibu lama tidak diangkat, dan akhirnya di angkat juga.
"Bu... bagaimana Rinda?" tanyaku denga cemas.
"Rif kamu harus sabar, Rinda belum bisa menerima kehilangan anak kalian" jawab Ibu.
"Rinda di mana sekarang Bu?" tanyaku.
"Rinda masih di rumah sakit, nanti sore pulang, ada ibunya yang menunggu di sana" jawab Ibu.
"Bu... terus Vano di mana sekarang?" tanyaku karena juga kepikiran dengan Vano.
"Vano di rumah bersamaku" jawab Ibu.
"Bu... kesehatanya Rinda bagaimana?" tanyaku terus-terusan karena begitu khawatirnya aku.
"Setelah curret Rinda sebenarnya sudah tidak ada masalah tapi... karena hatinya belum bisa menerima kehilangan anaknya dan merasa tidak bisa menjaga kehamilanya, jadi ya begitu Rif, maunya menyendiri terus, entahlah sampai kapan dia bisa menerima semuanya ini" kata Ibu sambil menghela nafas panjang.
"Bu... Arif nitip Rinda juga Vano" kataku.
"Kamu jangan begitu, Rinda Vano sudah jadi keluarga kita juga" kata Ibu.
"Bu... apa Rinda masih belum mau aku hubungi?" tanyaku.
"Saat ini belum Rif, biarlah dia menemukan jalan untuk bisa menerima kenyataan ini, kamu yang sabar, jangan macem-macem disana, istrimu seperti ini kamu disana malah dengan perempuan lain, lihat saja kalau kamu seperti itu" kata Ibu menasehatiku.
"Bu... Ibu pikir Arif ini semudah itu meninggalkan Rinda, Rinda istriku dan perempuan terakhir dalam hidupku Bu" jawabku
"Jadi laki-laki setia, jangan seperti Bapakmu" kata ibu dengan nada marah.
Ya... mungkin masih marah mengingat masa lalunya di khianati Bapak.
"Sudah Bu, jangan marah-marah sama Arif, Arif bukan Bapak, walaupun Arif dan bapak sama laki-laki" kataku.
"Sudah dulu Bu, daripada Ibu marah-marah sama Arif, Arif disini sudah bingung mikirin Rinda, ditambah Ibu marah-marah saja" kataku kemudian menutup telpon.
Pintu kamar diketuk dari luar.
"Masuk" kataku dari dalam kamar di atas pembaringan.
Pintu di buka, kulihat Deny masuk.
__ADS_1
"Ada apa Den" tanyaku.
"Rif... kamu dari tadi di tempat kerja kok sepertinya banyak melamun, juga tidak fokus, ada apa?" tanya Deny
"Bingung Den, aku ingin pulang" jawabku.
"Ya gak bisa Rif, kalau kamu pulang belum waktunya cuti dan alasan bukan karena kematian keluarga dekatmu tidak bisa, bisa-bisa kamu dikeluarkan dari sini" kata Deny.
"Aku paham Den" kataku.
"Ada apa?" tanya Deni kemudian duduk dan merebahkan diri di kasur bersebelahan denganku.
"Rinda Den" kataku tidak bisa meneruskan perkataanku.
"Kenapa dengan istrimu Rinda?" tanya Deny.
"Dia keguguran" kataku dan mengambil nafas panjang.
"Keguguran?" tanya Deny dengan kaget kemudian bangun dan duduk di kasur tempat tidurku.
"Iya" jawabku singkat.
"Innalillahi wainailaihi rojiun" kata Deny.
"Rif, ikhlas, sabar, nanti pulang buat anak lagi" kata Deny menyemangatiku.
"Bukan masalah ikhlas, sabar dan bikin lagi Den, tapi Rinda belum bisa menerimanya, Rinda tidak mau menerima telponku, kata ibu dia merasa bersalah tidak bisa menjaga anak kami" kataku menjelaskan.
"Makanya aku dari tadi pikiranku tidak tenang, ingin segera pulang, tiga belas hari lagi kok lama sekali" kataku.
"Sabar Rif, semoga istrimu bisa melewati kesedihanya" hibur Deny.
"Oh ya... kamu sudah makan belum?" tanya Deny..
"Belum Den" jawabku.
"Ayo keluar makan" kata Deny dan aku menghiyakan dengan menganggukkan kepalaku, kemudian bersiap-siap untuk keluar mes.
Kami berjalan kaki, karena tempat makan tidak jauh dari mes, sambil berjalan kami ngobrol-ngobrol ringan.
"Rif... sabar Rif, serahkan istrimu pada keluargamu, aku yakin keluargamu bisa mengatasi Rinda" kata Deny
"Iya Den, tapi sebelum aku mendengar suara Rinda aku masih tidak tenang" kataku
"Sudah sabar sebentar lagi pasti ketemu, tidak lama Rif tiga belas hari itu" kata Deny
"iya Den, terima kasih" kataku
Tak lama kemudian kami sampai di tempat makan khusus karyawan yang di mes kami, ya... disini memang dapat jatah makan tiga kali dari perusahaan tapi sangat membosankan karena rutinitas seperti itu-itu saja, aku mengambil piring kemudian nasi dan lauk juga sayur, tak lupa mengambil minuman dan juga buah, di sini memang model prasmanan, jadi mau ambil apa saja semaunya asal masih ada, aku duduk bersebelahan dengan Deny
"Rif... kamu kok tidak bersemangat gitu makanya, padahal enak loh" kata Deny sambil memperhatikanku
__ADS_1
"Kamu masih memikirkan istrimu?" tanya Deny kembali, aku menganggukkan kepala kemudian mengambil mengambil makanan dengan sendok sedikit untuk aku suapkan ke mulutku, makanan ini rasanya tidak menyelerakan
"Rif... ayo makanlah yang banyak, kamu harus kuat Rif, kalau kamu ikut bersedih begini, kamu pulang bagaimana bisa merawat istrimu" nasehat Deny, betul juga yang diomongkan Deny, batinku
"Iya Den terimakasih ya" kataku, kemudian mulai memakan makanan di depanku dengan semangat, setelah itu kami keluar dari tempat makan tersebut berjalan kaki menuju mes masing-masing, ketika aku sampai di depan kamar mes ku
"Rif aku duluan" kata Deny sambil melambaikan tangan jalan terus meninggalkanku
"Hati-hati Den, makasih nasehatnya" kataku
Di depan kamar, aku rogoh saku celanaku berniat untuk mengambil kunci pintu kostku, setelah aku dapatkan aku memasukkan kunci tersebut dan kubuka pintu kemudian aku masuk ke dalam kamar aku kunci kembali pintu nya dan berbaring di ranjang, aku lihat jam di dinding kamarku menunjukkan pukul sembilan malam, disana masih jam tujuh malam, sekarang pasti Rinda sudah pulang, aku telpon ibu dulu saja, batinku
Kemudian aku mengambil hp di meja dekat dengan tempat tidurku, aku menelpon ibu
tuut.... tuut...tuut... suara dering telpon, tidak juga di angkat ibu, kembali aku menelpon ibu
tuut... tuut...
"Halo Arif" suara ibu terdengar dari seberang, akhirnya diangkat juga telponku
"Bu... Rinda sudah pulang?" tanyaku
"Sudah Rif, sedang di kamarmu di temani ibunya" jawab ibu menjelaskanya
"Kondisinya bagaimana bu?" tanyaku cemas
"Sudah lebih baik, tapi kadang masih nangis tapi gak kayak di rumah sakit" kata ibu
"Bu... biayanya berapa selama di rumah sakit, ibu kan yang membayar semuanya, Arif transfer malam ini" kataku
"Rif... gak usah terburu-buru, nanti waktu kamu pulang saja" kata ibu
"Yang penting sekarang kondisi Rinda harus seperti semula" kata ibu
"Iya bu, ibu pasti paham bagaimana mengatasi kondisi Rinda ini" kataku
"Kerjaan Rinda bagaimana?" tanyaku
"Kata temanya kemarin, ada cuti dua minggu atau seminggu gitu" kata ibu
"Terus sekolah Vano bagaimana bu, kalau Rinda begitu?" tanyaku
"Nanti coba aku tanya pelan-pelan ke Rinda Rif" kata ibu
"Bu... Rinda betul-betul belum mau menerima telponku?" tanyaku resah
"Nanti ibu kabari kalau Rinda sudah siap kamu ajak bicara ya Rif" kata ibu
"Iya bu terima kasih" kataku kemudian menutup telpon
Aku berusaha memejamkan mataku tapi tidak juga bisa, Rinda... aku rindu canda tawa mu
__ADS_1