
Kami menuju meja makan, disana sudah menunggu Vera.
"Ayo sarapan semua" pinta Vera, aku mengambilkan nasi lauk dan sayur untuk Mas Arif juga Vano dan terakhir aku mengambil untukku.
Kami sarapan bersama di pagi hari.
"Mbak enak masakanmu, aku suka" kata Vera.
"Yang bener Ver?" tanyaku.
"Serius" jawabnya.
"Makasih ya" ucapku.
"Mbak... tiket kereta api jam berapa?" tanya Vera.
"Jam sembilan malam" jawabku.
"Nanti Vera yang mengantar" kata Vera.
"Kamu gak tugas Ver?" tanya Mas Arif.
"Libur Mas, Mas Deddy yang hari ini tugas jaga" jawab Vera.
"Dijaga badanya Ver, kerjamu bisa dibilang 24 jam" nasehat Mas Arif.
"Iya mas, oh iya Ibu bagaimana sehat?" tanya Vera.
"Iya sehat" jawab Mas Arif.
"Mas... kalau mas balik Papua, Mbak Rinda di rumah ibu saja tinggalnya juga Vano, biar ibu ada yang nemani" pinta Vera.
"Loh... Ibu gak cerita? Rinda sebelum menikah dengan Mas mu ini, tinggal di rumah ibu, kan kerjanya dekat sama rumah" jelas Mas Arif.
"Iya Ver aku tinggal di situ, ibu selalu sibuk dengan kerjaanya" kataku.
"Syukurlah kalau begitu, titip jaga Ibu ya Mbak" kata Vera.
"Iya Ver, bagaimanapun ibu juga seperti ibuku sendiri" kataku.
Selesai sarapan pagi aku dan Vera mengemasi sisa-sisa makanan dan mencuci piring dan lain sebagainya, sedangkan mas Arif dan Vano bermain di depan, selesai urusan di dapur aku berjalan menuju ruang tamu duduk di sana di temani Vera.
__ADS_1
Di ruang tamu kami ngobrol ringan.
"Ver, gak ada acara hari ini?" tanyaku.
"Gak ada mbak, di rumah saja, kalau tidak ada Mbak ya sepi begini aku di rumah" kata Vera.
"Ya... bagaimana lagi aku belum punya anak, entahlah mbak, kenapa aku belum diberi anak" Vera mulai bercerita dan aku mendengarkan dengan seksama.
"Tiga kali aku keguguran Mbak, aku sudah putus asa rasanya" kata Vera kemudian.
"Ver... sabar, semua pasti sudah di atur sama Allah, demikian juga Mbak saat ini juga lagi menunggu hamil, apalagi Mas mu ini sepertinya ingin segera punya anak" kataku.
"Iya mbak... kita menunggu miracle-miracle dari Allah ya" kata Vera optimis.
"Iya Ver yakinlah semua pasti datang pada waktunya" kataku.
"Mbak... aku minta no whats up Mbak, aku pingin cerita-cerita begini sama Mbak" kata Vera.
Kemudian aku menyebut angka nomer whats up ku dan Vera langsung menulis dari hp nya.
"Iya, sudah Mbak, sudah aku whats up" kata Vera.
"Mbak.. mas Arif sama Vano begitu akrab ya, seperti anak dan ayah kandung" kata Vera.
"Iya Ver, itulah istimewanya Mas mu, tidak semua laki-laki bisa menerima anak bawaan istrinya, Mas Arif sangat bisa menerima Vano" kataku.
"Iya Mbak" kata Vera.
"Bunda.... "teriak Vano dari luar.
"Ada apa?" tanyaku, Vano berlari memeluk dan menciumku kemudian kembali ke luar lagi bermain bola dengan Mas Arif.
Vera melihat tingkah Vano seperti ada rasa iri, ya aku paham itu memang sesuatu hal yang biasa dialami oleh perempuan yang sangat menginginkan anak, sabar Vera semoga Allah segera memberimu momongan Aamin, batinku.
"Mbak ayo ke depan lihat Vano dan Mas Arif bermain!" ajak Vera, aku mengikuti Vera keluar rumah dan duduk di kursi teras rumah Vera.
Waktu menunjukkan pukul delapan malam, kami bersiap-siap menuju stasiun Tugu
Vera keluar rumah menuju mobil, bergabung bersama kami di dalam mobil, Mas Arif yang menyetir mobil, mobil keluar dari pekarangan rumah Vera menuju jalan beraspal menyusuri kota Jogja, tak berapa lama kami sampai di stasiun Tugu.
"Mbak Rinda, Mas Arif hati-hati ya, salam untuk ibu" kata Vera ketika kami turun dari mobil.
__ADS_1
"Iya Ver aku sampaikan, jaga kesehatan ya" kata Mas Arif.
"Iya Mas, Mas Arif juga" kata Vera.
Sepeninggal Vera, kami masuk ke dalam stasiun duduk di ruang tunggu, Vano terlihat mengantuk, Vera melaju dengan mobilnya meninggalkan stasiun Tugu, tak lama kemudian kereta api yang kami naiki tiba, bergegas kami masuk ke dalam gerbong kereta mencari tempat duduk, setelah mendapati nomer kursi kami duduk disana, Vano terlihat sangat mengantuk.
"Bunda susu" katanya, aku membuka tas mengambil susu kotak dan menusuk lubangnya dengan sedotan susu kotak yang tersedia kemudian memberikan kepada Vano, beberapa menit kemudian kereta api berlahan meninggalkan stasiun Tugu, meninggalkan kota Jogja, selamat tinggal jogja, suatu saat aku ke sini lagi batinku.
"Rin... mengantuk?" tanya Mas Arif.
"Enggak seberapa" jawabku.
"sepertinya ada yang kamu pikirkan Rin?" tanya Mas Arif.
"Vera Mas, ingin punya anak, sudah tiga kali keguguran" jawabku berbohong.
Sebenarnya aku takut kalau aku tidak segera hamil, karena Mas Arif sepertinya ingin segera punya anak.
"Iya Rin, kita berdoa saja semoga segera dikasih momongan Vera" kata Mas Arif.
"Iya mas, semoga kita juga" kataku.
"Kamu santai saja Rin, jangan kamu jadikan pikiranmu, toh kita menikah baru hitungan hari" kata Mas Arif
"Iya mas" jawabku
Aku lihat hp waktu menunjukkan pukul sebelas malam, Vano sudah terlelap tidur kepalanya bersandar di pangkuanku, aku lihat mas Arif juga sudah tidur, melihat dua lelakiku tidur di sebelah kanan dan kiriku hatiku rasanya tentram, ya Allah... terima kasih atas segala anugerah yang Engkau berikan pada Hamba ini, ketika hatiku resah dan hidupku susah Engkau kirim Hamba-Mu yang bernama Arif Rahman untuk menemani hidupku juga Vano di dunia ini, kemudian kurebahkan kepalaku di pundak suamiku pelan-pelan mulai aku pejamkan mataku, dan akhirnya aku tertidur di pundak suamiku, tidur dalam rangkulanya.
Kereta Api berhenti di stasiun kota tempat kami tinggal.
"Rin...Rin... bangun" kata Mas Ardi sambil menepuk-nepuk pipiku.
"Masih ngantuk Mas" kataku kemudian memeluk Mas Arif.
"Aku tinggal ya, ini sudah sampai loh" kata mas Arif bicara di telingaku, aku langsung membuka mata, ternyata memang sudah sampai, aku turun membawa barang-barang bawaan, mas Arif menggendong Vano keluar dari gerbong kereta api dan turun menuju pintu keluar stasiun, kemudian Mas Arif duduk di kursi tunggu.
"Rin.. kamu pesan transportasi online ya?" pinta Mas Arif.
"iya Mas" kataku kemudian membuka tas mengambil hp membuka aplikasi transportasi online dan memesanya, tak lama kemudian terhubung dengan driver, kami menunggu di ruang tunggu, Vano tidur dalam pangkuan mas Arif, aku duduk di samping mas Arif, beberapa menit kemudian mobil yang kami pesan tiba.
Mas Arif berdiri menggendong Vano berjalan menuju mobil dan aku ikuti dengan membawa koper dan tas kemudian masuk ke dalam mobil, mobil segera meninggalkan stasiun menuju rumah Mas Arif.
__ADS_1