
Pagi di rumah orang tuaku, begitu nyaman sekali, di rumah mertua juga nyaman sih tapi sepi gak ada mas Arif, ibu mertua juga jarang ngobrol, walaupun sebenarnya ngobrol dengan ibu mertua juga menyenangkan.
"Rin, kamu kalau pagi gini apa yang kamu lakukan di rumah mertuamu?" tanya Ibu saat menyiapkan makanan di meja makan.
"Ya masak, ya bersih-bersih rumah Bu" jawabku sambil nyemil pisang goreng.
"Kenapa di sini enggak?" tanya Ibu.
"Ah Ibu ini masak gak tau saja, kalau di rumah mertua ya sungkan Bu bermalas-malasan seperti disini" jawabku.
"Tapi kalau ada Mas Arif jug kembali bermalas-malasan" kataku sambil tersenyum.
"Aku pikir kamu menikah dengan Arif jadi berubah, eh sama saja" kata Ibu.
"Gimana mau berubah, Mas Arif sendiri memanjakanku, makan di luar rumah, kadang dia yang beli, karenanya ketika Mas Arif gak ada aku jadi berubah he he he" kataku dan tertawa.
"Iya berubah kalau Arif pas gak ada di rumah, kalau ada balik lagi malasmu" omel Ibuku.
"He he he" aku tertawa.
Dari luar terdengar suara seseorang mengucapkan salam, ya suara yang yang sangat familiar.
"Assalamualaikum" ucap seorang pria dari luar.
"Waalaikum salam" jawab kami bersamaan.
"Bu Faris pulang, panjang umur dia, padahal semalam baru kita omongkan ya" kataku.
"Hayo...ngomongin apa?" tanya Faris ketika sudah berada di dekat kami.
"Panjang umur kamu Ris, semalam kami membicarakanmu, eh pagi ini muncul disini he he he" kataku dan tertawa.
"Pulang kok tumben gak ngabari Ibu" kata Ibu sambil duduk di kursi meja makan, demikian juga dengan Faris ikut duduk, kami bertiga berada di kursi meja makan.
"Bapak kemana Bu?" tanya Faris.
"Bapakmu keluar, gak tau kemana mungkin beli cat, mau ngecat pagar depan itu, katanya" kata Ibu.
"Ayo sarapan" ajak Ibu.
"Vano, ayo makan" teriakku ke Vano.
"Bentar Bunda" jawab Vano dari ruang keluarga.
"Jangan bentar-bentar saja, habis nanti makanannya, Bunda gak mau beli makan" omelku.
"Ah...Bunda gak asik" jawab Vano sambil berjalan ke arahku dan duduk di kursi bersebelahan dengan adikku Faris.
"Vano, kapan kamu khitan, sudah besar gini?" tanya Faris.
"Itu Bunda gak boleh saja, padahal Vano sudah pingin khitan" kata Vano.
"Masih kecil, nanti saja kalau lulus tk" jawabku.
__ADS_1
"Sudah jangan ngobrol saja, ayo sarapan" kata Ibu.
Kami sarapan pagi ini bersama dengan keluargaku, hanya Bapak yang tidak ikut.
"Eh aku kok di tinggal" sahut Bapak saat masuk ke dalam.
"Loh Ris kapan kamu pulang?" tanya Bapak.
"Ayo Pak, sarapan, ini" kata Ibu sambil memberikan piring dan nasi diatasnya.
"Baru saja Faris pulang Pak" kata Faris.
Ya pagi ini kami makan bersama, betapa bahagianya berkumpul dengan keluarga.
Selesai makan, aku membantu Ibu membereskan sisa makanan, dan mengelap meja makan, sedangkan Ibu mencuci piring dan lain sebagainya sisa makanan.
Bapak, Faris dan Vano sedang bercanda di ruang keluarga.
"Bu, coba nanti kita tanya ke Faris dari hati ke hati, kita tunggu waktunya, semoga Faris mau bercerita kenapa tidak segera menghalalkan hubunganya dengan Fina" kataku.
"Iya Rin" jawab Ibu.
"Faris itu tidak seperti Arif" kata Ibu.
"Memang kenapa Bu sama Mas Arif?" tanyaku penasaran.
"Arif itu menikahimu segera tidak seperti Faris diundur-undur bilang tidak siap saja" jawab Ibu.
"Aku sama Mas Arif kan sudah lama kenal Bu, jadi tidak perlu proses pengenalan lebih lama" jaeabku.
"Vano sedang main apa?" tanyaku.
"Ini Bunda main balok-balok, ini nanti bisa dibuat bangunan rumah, ini yang segitiga ini gentingnya" kata Vano bercerita.
"Iya Bagus Vano, Bunda tinggal sebentar ya? mau ke depan" pamitku.
Vano menganggukkan kepalanya tanda menyetujuinya.
Aku berjalan ke ruang tamu di sana sudah ada Ibu dan Faris yang sedang berbincang-bincang.
"Sini Rin, gabung" pinta Ibu.
"Ini tadi Ibu menanyakan ke Faris kenapa tidak segera menikahi Fina" kata Ibu.
"Iya kenapa Ris?" tanyaku.
"Mbak, aku sebenarnya juga ingin segera menikah tapi... aku ini takut Mbak gak bisa membahagiakan Fina, Mbak taulah aku bagaimana? hidup di kost, cuma punya sepeda itu saja" kata Faris menyampaikan permasalahannya.
"Ris... kamu pikir Mas Arif punya apa? rumah tidak punya, itu punya ibunya, mobil juga tidak punya" kataku.
"Aku sama Mas Arif sekarang juga sama-sama mau berusaha untuk hidup layak ke depannya, tidak numpang mertua, walaupun mertua menginginkan kami tinggal di sana," lanjutku.
"Itu Ris kamu dengarkan Mbak mu" kata Ibu menimpali.
__ADS_1
"Sekarang tinggal Finanya mau enggak hidup di kost-kost an? mau enggak hidup seadanya?" tanyaku.
"Fina sih apa kataku Mbak" jawab Faris.
"Nah itu, tidak semua perempuan jaman sekarang mau hidup susah Ris, maunya enak saja, kalian berjuanglah dari bawah untuk masa depan kalian ke depannya" nasehatku.
"Terus aku harus bagaimana?" tanya Faris.
"Hadew...punya adik gak peka banget sih, kamu mau nikahi Fina apa enggak?" tanyaku.
"Iya mau" jawab Faris.
"Kalau mau segera kamu lamar dia, segera bawa ke penghulu" kataku.
Faris terdiam beberapa saat.
"Terus Bapak sama Ibu siap melamar Fina kapan?" tanya Faris.
"Ya kamu siapnya kapan? terus keluarga Fina juga siapnya kapan menerima keluarga sini ke sana?" tanyaku.
"Oh begitu ya Mbak" jawab Faris.
"Jangan meniru Arif, Arif meminta Mbak mu ini tanpa sepengetahuan kita, bahkan menikahpun serba kejutan semuanya, Ibumu ini kalau punya sakit jantung sudah masuk rumah sakit karena sangat terkejut he he he" kata Ibu sambil tertawa.
Aku tersenyum malu, mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu.
"Begitu ya Bu" kata Faris.
"Mas Arif seperti itu karena ingin segera menikahi Mbak mu ini Ris, dia tidak ingin berlama-lama macari Mbak mu ini" kataku.
"Mimpi apa Mas Arif ini maunya sama Mbak Rinda" ejek Farus.
"Ya karena Mas Arif sangat mencintaiku he he he" kataku bangga.
"Jadi keputusanmu kamu mau segera melamar Fina Ris?" tanya Ibu dengan memandang wajah Faris.
"Iya Bu, tapi Faris mau ngomong dulu sama Fina, siapnya kapan, juga keluarganya menerima kita ke sana" jawab Faris.
"Itu namanya laki-laki hebat, segera memberi keputusan untuk pacarnya bukan menggantung hubungan" kataku.
Bapak masuk dan bergabung dengan kami.
"Kalian lagi membicarakan apa? kok Bapak tidak diajak?" tanya Bapak sambil duduk di kursi tamu bersebelahan dengan Faris.
"Begini Pak, Faris mau segera melamar Fina" kata Ibu menjelaskan.
"Betul Ris?" tanya Bapak.
"Iya Pak" jawab Faris.
"Kapan?" tanya Bapak bersemangat.
"Tuh Ris kamu lihat Bapak sudah bersemangat, kamu segera menanyakan kesiapan Fina dan keluarganya" kataku.
__ADS_1
"Iya Mbak" jawab Faris.
"Nanti Faris kabari" lanjutnya.