
Vano hari ini libur, mas Arif bangun dari tidurnya, melihatku tersenyum-senyum.
"Napa mas senyum-senyum begitu? ada yang aneh sama Rinda?" tanyaku.
"Enggak ada apa-apa sayang, makasih ya" katanya kemudian menciumku dan masuk ke kamar mandi.
Aku keluar kamar menuju dapur, cuma menggoreng makanan yang semalam di beli Mas Arif, dan menyiapkan di meja makan, kulihat Ibu turun dari tangga.
"Ibu... sehat hari ini?" tanyaku.
"Lumayan Rin, tapi masih kurang enak badan sepertinya mau flu" kata Ibu
"Ibu mau makan apa? Rinda siapkan atau Rinda belikan" kataku.
"Pingin yang pedas-pedas Rin, enak kayaknya" jawab Ibu.
"Kebetulan Bu semalam Mas Arif beli lalapan, ada sambalnya pedas Bu" kataku
"Cocok Rin, oh ya Arif di mana? masih tidur?" tanya Ibu.
"Mandi Bu, Vano yang masih tidur" jawabku.
Tak lama kemudian Mas Arif keluar dari kamar tidur, kelihatan segar.
"Ayo sarapan Bu" kata Mas Arif.
"Kamu itu Rif, bangun tidur ingat makanan saja" kata Ibu.
"Lapar Bu, Rin.. Vano kemana?" tanya Mas Arif.
"Masih tidur" jawabku.
"Kok tumben? gak panas kan badanya" tanya Mas Arif.
"Enggak Mas, tadi Rinda sudah lihat" jawabku.
"Ayo sarapan!" ajak Mas Arif.
Aku seperti biasa mengambilkan nasi untuk suamiku baru aku mengambil nasi
untukku, setelah selesai makan aku membersihkan meja makan dan mencuci piring.
"Ibu sudah minum obat?" tanyaku.
"Belum Rin, setelah ini minum obat" jawab Ibu.
"Ibu istirahat saja" pintaku, kemudian Ibu naik ke atas mungkin ingin beristirahat.
Setelah selesai merapikan dan membersihkan makanan, aku duduk di sofa ruang keluarga, Mas Arif mengikutiku duduk di sampingku.
"Mas... semalam aku mimpi, apa Mas benar-benar melakukan itu padaku?" tanyaku.
"Kamu rasa mimpi apa nyata?" tanyanya balik.
"Ya... seperti mimpi tapi kok ada ****** di situ" kataku.
"He he he" Mas Arif tertawa kemudian mencium dan memelukku.
"Sayang... semalam aku melakukanya di saat kamu tidur" bisiknya.
"Hah?" kataku terkejut.
__ADS_1
"Tapi enak kan?" tanyanya.
"Ah... mas ini, berarti nyata ya?" tanyaku kembali.
"He he he, ya iya sayang, menang kamu mimpi apa?" tanya Mas Arif.
"Aku mimpi bercinta dengan Mas, ya.... bercinta di suatu tempat, tampak romantis sekali" ceritaku.
"Kamu puas?" tanyanya, kalau mimpinya puas, tapi kalau mas begitu lagi waktu aku tidur dan aku tidak
sedang mimpi, bisa-bisa aku teriak-teriak kaget" kataku.
"He he he" Mas Arif hanya tertawa saja memandangku dan mendekatkan wajahnya dengan wajahku, mencium bibirku dengan lembut.
"Mas... apa minta lagi?" bisikku.
"Kalau boleh" godanya,
"Gak capek?" tanyaku.
"Dengan istriku tidak pernah capek sayang" bisiknya.
"Bunda...." teriak Vano dari dalam kamar.
"Nanggung banget" bisik Mas Arif.
"Padahal sudah tegang gini" katanya lagi.
"He he he, Vano bangun" kataku sambil berlalu meninggalkan Mas Arif menuju kamar Vano.
"Kenapa Vano?" tanyaku, Vano tidak menjawab tapi merangkulku.
"Minta gendong Bunda?" tanyaku, dia menganggukkan kepalanya.
"Ayah saja yang gendong" kata Mas Arif.
"Aku pingin di gendong Bunda" kata Vano masih di pangkuanku dan minum susu.
"Mas... aku tiga hari lagi kerja, apa sekalian undanganya aku berikan teman-teman ya?" kataku.
"Iya Rin gak apa-apa, nanti setelah isya aku ambil di Anton, kamu kalau capek di rumah saja" kata Mas Arif.
"Iya Mas" kataku.
Waktu menunjukkan pukul satu siang, setelah sholat duhur aku ingin istirahat.
"Mas... nitip Vano ya, kepalaku agak pusing, aku istirahat dulu" pamitku kemudian masuk ke kamar untuk tidur.
Adzan ashar berkumandang dari masjid sebelah membangunkanku dari tidur siangku, kenapa badanku tidak enak begini ya, kupegang keningku agak hangat, akhirnya aku rebahan lagi, kemudian Mas Arif masuk ke kamar
"Rin...kamu sakit?" tanya Mas Arif.
"Iya Mas, badan rasanya gak enak semua, mungkin mau flu" kataku, kemudian Mas Arif memegang keningku.
"Panas Rin, ke dokter ya?" tanya Mas Arif.
"Sakit biasa Mas" kataku.
"Apa aku ini keterlaluan ya meminta hak ku? sehingga kamu sakit begini" tanya Mas Arif sedih.
"Mas... Rinda gak kenapa-napa? minum obat juga sembuh, Rinda nitip jaga Vano ya?" kataku.
__ADS_1
"Kamu ada obat?" tanya Mas Arif.
"Tolong nanti belikan ya Mas?" pintaku.
"Kamu istirahat saja, aku keluar beli obat" kata Mas Arif.
"Hati-hati Mas, Mas sendiri apa sama Vano?" tanyaku.
"Sama Vano" kata Mas Arif kemudian keluar dari kamar, pergi meninggalkan rumah dengan Vano untuk membeli obat.
Tak lama kemudian Mas Arif datang membeli obat penurun panas, segera aku minum
"Rin... kamu istirahat saja ya, aku tidak mengganggumu sampai kamu sembuh" kata Mas Arif
"Mengganggu apa sih mas? ya enggak lah" kataku tersenyum kepada suamiku
"Gara-gara aku mengganggumu, meminta hak ku setiap saat kamu sakit begini" kata Mas Arif.
"Itu tidak mengganggu sayang, tapi menikmati pernikahan, menikmati syurga dunia" kataku sambil
memandang suamiku dan tersenyum.
Aku masih tidur-tiduran di kamar, tiba waktu makan Mas Arif datang membawa bubur ayam dan menyuapiku.
"Beli di mana Mas bubur ayamnya, sepertinya Mas gak keluar?" tanyaku.
"Tadi beli online" jawab Mas Arif.
"Ayo di makan sedikit demi sedikit sayang" kata Mas Arif, aku memandang suamiku.
"Terima kasih suamiku" kataku.
"Rin... bagaimana badanmu? apa yang kamu rasakan?" tanya Mas Arif.
"Pusing mas, badan lemah banget begini, ini makanan kok jadi pahit begini ya?" tanyaku, kemudian mas Arif memakan satu suap bubur ayam
"Gak pahit sayang, enak kok" kata Mas Arif saat mencicipi bubur ayam tersebut.
"Pahit Mas, gak enak" kataku
"Setelah ini periksa ke dokter" kata Mas Arif
Setelah maghrib, badanku semakin panas, Mas Arif segera mengajakku ke Dokter untuk periksa, di Klinik kami menunggu giliran aku duduk di ruang tunggu, dengan memakai jaket, tiba giliranku.
"Mulai kapan panasnya?" tanya pak dokter.
"Tadi sore" jawabku.
"Tapi dari kemarin-kemarin sebenarnya sudah panas tapi hari ini panasnya semakin tinggi" kataku.
"Cek lab ya" kata dokter.
Kemudian aku keluar mengikuti perawat digandeng Mas Arif, Vano di rumah dengan Ibu, tiba di lab, diambil darahku, kemudian aku menunggu, sekitar setengah jam kemudian namaku di panggil, Mas Arif menggandengku menuju ruang dokter.
"Ibu kena typus, widalnya lumayan tinggi, seharusnya opname, opname ya mungkin tiga hari saja untuk istirahat" kata dokter.
"Mas bagaimana ini" kataku.
"Iya gak apa-apa opname" kata Mas Arif.
"Vano bagaimana?" tanyaku.
__ADS_1
"Nanti aku hubungi Ibumu untuk menjaga Vano, aku yang menjagamu di rumah sakit" kata Mas Arif.
"Dokter, ada ruangan yang berisi satu pasien saja disini? tanya Mas Arif.