
Sore hari, kami bersiap menuju ke klinik dokter Lisa, baru kali ini Vano ikut denganku periksa, sudah yang ke tiga ini aku ke klinik dokter Lisa.
Ketika dalam perjalanan menuju klinik.
“Bunda...Bunda... Vano nanti ikut lihat adik ya?” Vano bersemangat.
Aku tersenyum menoleh ke belakang, dan berkata, “Iya, nanti boleh lihat, sama Ayah juga.”
Sampai di klinik dokter Lisa, aku mengambil nomer antrian, dan kembali duduk bersama anak dan suami di kursi tunggu.
Membuka tas mengambil kotak makanan dan membukanya, Mas Arif melirikku dan bertanya, “Kamu bawa apa Rin?”
Aku memandang suamiku dan tersenyum, “Ini Mas, tadi bawa cemilan buah, suka lapar dan gak nyaman di mulut Mas kalau gak nyemil.”
“Iya Rin,” kata Mas Arif sambil mengambil buah yang sudah aku potong kecil-kecil.
“Aku juga mau Bunda,” kata Vano.
Kami asyik menikmati kebersamaan ini yang memang jarang kami rasakan.
Melihat beberapa Ibu yang sedang mengandung di temani oleh suami dan anaknya yang masih kecil, begitu bahagia sekali.
Beberapa menit kemudian namaku di panggil, dan kami masuk ke dalam.
Aku duduk di depan dokter Lisa bersebelahan dengan suamiku yang sedang memangku Vano setelah menimbang badanku dan di ukur tensiku oleh seorang perawat.
“Bu, ada keluahanya?” tanya dokter Lisa dengan senyumannya.
“Tidak ada dok, tadi pagi sudah ada gerakan kecil dok,” jawabku.
“Makannya sudah gak dimuntahkan lagi?” tanya dokter Lisa.
“Enggak dok, malah ini nyemil terus he he he,” jawabku dan tertawa kecil.
“Pantas saja berat badannya nambah, tapi masih normal kok berat badanya,” kata dokter Lisa sambil menyungging senyum ramahnya.
“Semua sehat, setelah ini kita lihat di dalam bagaimana ya,” kata dokter Lisa
“Dok, untuk berhubungan intim bagaimana?” tanya suamiku ke dokter Lisa.
“Bisa Pak, tapi hati-hati, jangan sering-sering juga, seminggu sekali, dua kali boleh,” jawab dokter Lisa.
“Tapi dilihat kondisinya istrinya, kalau ada kontraksi ringan lebih baik tidak sering di lakukan,” lanjut dokter Lisa.
“Iya dok terima kasih, tapi gak ada masalah kan dengan kehamilan istri saya?,” tanya Mas Arif.
“Ayo aku periksa dedeknya.” Ajak dokter Lisa seraya mempersilahkanku naik ke bed pasien.
Mas Arif dan Vano berdiri dekat kakiku sambil melihat layar yang ada di samping atasnya.
“Bagus Bu perkembanganya sesuai dengan usianya empat bulan lebih ini,” kata dokter Lisa ketika melihat layar di monitornya dan mengeprin hasil usg.
Kulihat senyum bahagia tersungging dari bibir suamiku.
__ADS_1
“Bunda... itu adik!” teriak Vano dengan riangnya.
Aku turun dari bed pasien melalu tangga kayu di bawah bed pasien dan duduk di depan dokter Lisa menunggu resep obat.
“Sebulan lagi kontrol ya Bu!” Dokter Lisa mengingatkanku kembali sambil memberikan resep obat yang ditulisnya juga hasil usg.
Setelah menerima resep dari dokter Lisa aku keluar dari ruang pemeriksaan.
“Rinda kamu duduk di sana saja, aku akan ambil obatnya,” kata Mas Arif dan mengambil resep dokter kemudian berjalan menuju ke kasir dan apotik.
“Ayah... aku ikut!” Teriak Vano yang berlari mengejar Mas Arif.
Aku tersenyum melihat tingkah anakku.
Saat menunggu Mas Arif dan Vano mengambil obat, seorang perempuan muda duduk di sampingku dan tersenyum, lalu berkata, “Kosong Mbak?”
“Iya, silahkan,” kataku mempersilahkanya duduk di sampingku.
“Sendiri Mbak?” tanya perempuan muda itu.
“Enggak, suami dan anakku sedang antri mengambil obat di apotik,” jawabku.
“Senang ya Mbak, periksa kehamilan di temani suami,” kata perempuan itu pelan.
“Dimana suamimu? Kerja di luar kota?” tanyaku.
“Di rumah Mbak, dia gak mau mengantarkanku, banyak alasanya, ya bau obat jadi pusing dan lain sebagainya,” jawabnya.
Terlihat Mas Arif dan Vano berjalan ke arahku.
“Ayo Rin kita pulang.” Ajak Mas Arif.
“Mbak aku duluan ya.” Pamitku ke perempuan tadi.
“Iya Mbak, hati-hati.” Pesan perempuan tadi.
Kami bertiga meninggalkan klinik dokter menuju ke dalam mobil, masuk ke dalam dan mobil di hidupkan Mas Arif kemudian meninggalkan klinik dokter Lisa.
“Rin, kita kemana sekarang, masih sore jam tujuh ini?” tanya Mas Arif.
“Vano minta ke alun-alun!” teriak Vano dari belakang.
“Kamu duduk saja, aku yang mengawasi Vano,” kata Mas Arif.
Aku menganggukkan kepalaku.
Mobil segera menuju ke Alun-alun, Vano terlihat bersemangat berlari menuju ke beberapa permainan di sana, aku duduk di tempat duduk yang tersedia di Alun-alun sambil memandangi lalu lalang dari anak-anak sampai orang tua.
Kembali membuka tas ku, mengambil cemilan kembali dan memakannya sambil browsing internet dari hpku.
Melihat dari jauh anakku sedang naik ke prosotan, suamiku mengawasinya dari bawah.
Waktu sudah jam delapan malam, aku melambaikan tanganku seraya memanggil anak dan suamiku untuk mendekat kepadaku.
__ADS_1
Mas Arif melihat lambaian tanganku dan mengajak Vano untuk berjalan menghampiriku.
“Ada apa Rin?” tanya Mas Arif ketika sudah berada di depanku.
“Ayo pulang Mas, sudah malam.” Pintaku.
“Ayo Vano, Bundamu mau istirahat, kasihan adikmu.” Mas Arif menjelaskan kepada Vano.
Sepertinya Vano mengerti dan menggangguk mau untuk pulang.
Mas Arif menggendong Vano serta menggandeng tanganku berjalan menuju ke mobil dan segera meninggalkan Alun-alun untuk pulang.
Sampai di rumah...
Vano terlihat mengantuk dan menuju ke kamarnya untuk tidur, aku mengikutinya, beberapa saat kemudian dia tertidur, dan aku menutup pintu kamar Vano kemudian menuju ke kamarku untuk berganti baju.
Setelah berganti baju aku merebahkan tubuhku di atas pembaringan, Mas Arif datang ikut merebahkan tubuhnya di sampingku.
“Mas... sudah di kunci semuanya?” tanyaku.
“Sudah Rin,” jawab Mas Arif.
“Hasil usg tadi mana ya?” tanya Mas Arif kembali.
Ada di tas ku Mas, Mas cari saja di sana,” jawabku.
Mas Arif turun dari pembaringan mengambil tasku dan mencari-cari hasil usg, setelah ketemu kembali merebahkan tubuhnya di sampingku sambil memandangi foto usg itu.
Tersenyum memandangku dan menciumku.
“Terima kasih istriku sudah memberiku seorang anak lagi,” bisiknya.
Aku tersenyum mendengar ucapan suamiku.
“Mas, coba pegang ini, tadi ada gerak-gerak,” kataku sambil mengarahkan tangan Mas Arif ke perutku.
“Mana Rin?” tanya Mas Arif penasaran.
“Nah, itu Mas, Mas merasakannya?” tanyaku.
“Iya Rin, ada yang gerak-gerak,” jawab Mas Arif semringah.
“Aku baru kalil ini Rin.” Mas Arif berkata tapi matanya sudah berkaca-kaca.
“Kenapa Mas?” tanyaku sambil mengusap pelupuk matanya lembut.
“Aku terharu Rin, bisa merasakan gerakan anak kita,” katanya pelan.
“Momen yang sangat tepat, ketika cutiku di tunda dan aku pulang aku bisa merasakan gerakan anakku, coba kalau tidak di tunda, aku tidak akan merasakannya Rin,” kata Mas Arif.
“Iya Mas, pasti Allah sudah merencanakanya semuanya, love you my hubbi,” bisikku.
“Love you too,” bisik suamiku dan menciumku kemudian memeluk tubuhku dan aku tidur dalam dekapan suamiku.
__ADS_1