
Sampai di rumah, Arif membuka pintu mobil dan Rinda turun dari mobil perlahan sambil menggendong Vanesia.
Masuk ke dalam rumah mengikuti Arif.
Rinda menaruh Vanesia di dalam kamarnya.
"Mas... sepertinya Rinda minta bantuan Ibu untuk mengurus Vanesia dalam beberapa minggu ini," kata Rinda.
"Iya Rin, besok aku ke sana sekalian menjemput Vano," kata Arif sambil duduk di pinggir pembaringan memandangi putrinya.
"Sangat menggemaskan Rin," kata Arif.
"Iya Mas," kata Rinda yang juga memandangi wajah putri kecilnya.
"Mas kembali ke Mimika kapan?" tanya Rinda.
"Minggu depan Rin, aku mau mengurus resign ku," jawab Arif santai.
Terlihat Rinda terkejut.
"Mas disini kerja apa?" tanya Rinda.
"Mengurus dua anak," jawab Arif santai.
"Enak banget aku yang kerja Mas di rumah bertemu dengan anak-anak," kata Rinda dengan wajah jengkel.
"Sayang... sudah menjadi janjiku untuk meninggalkan pekerjaanku dan disini menemanimu saat kamu tak sadarkan diri," kata Arif.
"Kamu jangan khawatir Rin, aku akan membangun tempat untuk usaha kontrakan ataupun kost-kostan, aku sudah beli tanah tanpa sepengetahuanmu, apa kamu tidak suka aku di sini menemanimu?" tanya Arif sambil memandang wajah istrinya.
"Aku senang sekali Mas," jawab Rinda dengan mata berkaca-kaca dan kami saling berpelukan.
"Terima kasih Mas, Rinda tidak butuh hidup mewah, yang penting kebahagiaan bersama keluarga," bisik Rinda.
Arif mencium bibir Rinda dan menikmatinya.
Ketika mereka tenggelam dalam rasa cinta.
Tiba-tiba Vano datang.
"Bunda...Bunda... Vano pulang bersama Ayah!" teriak Vano.
Rinda melepas ciumannya dan memandang wajah suaminya dengan tatapan aneh demikian pula dengan Arif.
"Mas aku gak salah dengar Vano pulang dengan ayahnya?" tanya Rinda.
"Aku juga mendengarnya, kita keluar saja Rin untuk melihatnya," jawab Arif.
Rinda dan Arif keluar kamar menuju ke depan.
__ADS_1
Memang benar Vano terlihat bersama dengan Ayahnya.
"Mas Ardi?" tanya Rinda dengan wajah heran.
"Untuk apa kamu ke sini?" tanya Arif dengan nada marah.
"Bunda... Vano beberapa hari di rumah Ayah, mbah kung sedang sakit di puskesmas, mbah uti menunggu mbah kung," kata Vano.
"Maksudmu kamu tidur di rumah nenek?" tanya Rinda.
Vano mengangguk.
Mas Ardi masih berdiri di teras rumah, melihat kedekatan Mas Ardi, hatikupun sedikit luluh.
"Masuk dulu Mas," kata Rinda kepada Ardi.
"Mas Arif, sepertinya Mas Ardi sudah berubah, dia masa laluku, Mas harus menerima perubahan sikapnya, ini memang yang Rinda inginkan," kata Rinda.
Ardi berjalan masuk ke dalam rumah dan duduk di kursi ruang tamu.
"Aku minta maaf atas semua yang aku lakukan kepadamu Rin, aku memang laki-laki tidak berguna, laki-laki perusak anak orang, aku minta maaf," kata Ardi memulai pembicaraan.
Rinda tertegun mendengar penuturan Ardi.
"Sekarang maumu apa?" tanya Arif dengan wajah tidak bersahabat.
"Jadi Mas Ardi sudah menikah?" tanya Rinda.
"Iya Rin, sebulan yang lalu," jawab Ardi.
"Kamu sudah melahirkan?" tanya Ardi.
"Iya, ini tadi baru saja pulang dari rumah sakit," jawab Rinda.
"Besok aku ajak istriku ke sini untuk menjenguk anakmu, aku pamit dulu," kata Ardi.
***
Malam hari di kamar Arif dan Rinda sedang berbincang-bincang.
"Mas, berilah kesempatan kepada mas Ardi untuk berubah, bagaimanapun Vano itu anaknya," kata Rinda.
"Kalau dia mempengaruhi hal negatif ke Vano bagaimana?" tanya Arif.
"Mas... kita bisa melihat perubahan dari Vano bila ke arah negatif, kita bisa memperingatkan mas Ardi," jawab Rinda.
"Terserah kamu lah Rin, tadi aku lihat dia memang benar-benar mau berubah, terlihat Vano juga nyaman dengan ayah kandungnya, sebenarnya aku juga senang seperti itu Rin," kata Arif sambil merebahkan di kasur di samping istrinya.
Sedangkan Vanesia berada di samping Rinda sedang tidur pulas.
__ADS_1
"Iya Mas, apa salahnya kita memberi kesempatan pada mas Ardi untuk berubah baik," kata Rinda.
"Oh iya Mas, Widya jadi menikah ya?" tanya Rinda.
"Iya Rin, Widya sudah menikah dengan Yusuf, sedangkan Faris adikmu menikah dua hari setelah Yusuf menikah, aku tidak datang ke pernikahan mereka, aku menungguimu dengan kecemasan, aku takut kehilanganmu Rin," kata Arif.
"He he he, sampai Mas janji untuk meninggalkan pekerjaan Mas dan tinggal di sini," kata Rinda sambil menoleh ke arah suaminya.
"Nia, cuti depan menikah Rin, kita pasti bisa datang ke pernikahan mereka," kata Arif.
"Semoga Mas, ayo kita tidur," kata Rinda
Arif mencium lembut kening istrinya, dan mereka tidur dengan perasaan tenang.
***
Keesokan harinya Ardi benar-benar datang dengan istrinya bertamu ke rumah mertua Arif dengan membawa kado untuk putri Rinda.
"Mbak... kenalkan nama saya Tania," kata Tania istri Mas Ardi sambil berjabat tangan dengan Rinda di teras rumah.
Rinda sambil menggendong Vanesia mempersilahkan Ardi dan Tania masuk ke dalam rumah.
Vano berlari menghampiri Tania.
"Bunda, ini Tante Tania, dia yang mengajariku berhitung," ucap Vano.
"Vano salim dulu dengan Tante Tania dan Ayah Ardi, terus tolong panggil ayah Arif kemari," pinta Rinda.
Vano segera berlari ke dalam rumah.
Beberapa saat kemudian Vano datang bersama dengan Arif.
Arif tersenyum menampakkan wajah bersahabat setelah semalam berbicara dari hati ke hati dengan Rinda.
Arif menyalami Ardi mantannya Rinda yang dulu memperkosa Rinda sampai hamil.
Kami dua keluarga nampak akrab berbincang-bincang di ruang tamu dalam waktu yang cukup lama.
***
Hari-hari berikutnya keluarga Arif dan keluarga Ardi saling bertemu saling berkunjung sampai Tania memiliki seorang putri yang mereka beri nama Sofia.
Vano, Vanesia dan Sofia nampak akrab, Vano yang lebih tua selalu mengalah kepada adik-adiknya, dan sesekali memberitahu mana yang salah mana yang benar dengan caranya Vano.
TAMAT
__ADS_1