
Menutup pintu kamar Mas Arif, menuju dapur, mataku tertuju pada meja makan, kapan ada tudung saji di atas meja batinku, kubuka tudung saji, jleb rasanya hatiku ada beberapa makanan yang siap untuk di santap, pasti Mas Arif yang membelinya waktu aku tidur tadi.
Ya Allah terima kasih engkau kirim laki-laki ini dalam kehidupanku saat ini, semoga tidak berubah sifat dan rasanya kepada kami batinku, sebenarnya lapar tapi sepertinya mas Arif juga belum makan, gimana ini apa aku membangunkannya, Vano juga tidur lagi setelah minum susu.
Kulangkahkan kakiku ke belakang rumah mengambil sprei yang tadi pagi aku cuci dan memasangnya kembali ke kasur kamar tamu, mengambil sapu mulai menyapu dapur ruang makan, ruang keluarga, memandang kamar mas Arif ragu untuk masuk ke dalam, akhirnya aku buka perlahan pintu kamarnya khawatir mengganggu tidurnya kulihat dia masih tidur, aku mulai menyapu lantai kamarnya, tiba-tiba ada tangan menarikku dan aku terjatuh ke kamarnya
"Mas Arif apaan sih..." kataku.
"Kamu disini saja, gak usah menyapu, sudah gak bisa lepas bidadariku" katanya sambil memelukku.
Memang benar aku gak bisa melepaskan pelukanya.
"Mas... berat tau tubuhmu ini" kataku
"Janji jangan kemana-mana, disini saja" katanya.
"Mas... aku mau bersih-bersih rumah terus pulang" kataku.
"Gak boleh" jawabnya.
"Lepaskan aku dulu Mas" kataku.
"Janji gak kemana-mana" katanya.
"Iya..iya" jawabku.
"Agak kesana Mas, jangan dekat-dekat, tolong ambilkan guling itu" kataku.
Diberikanya guling kepadaku, aku tidur di tempat tidur Mas Arif memeluk guling menghadapnya.
"Sudah aku disini, ada apa Mas?" tanyaku.
"Aku hanya ingin melihatmu disini" jawabnya.
"Mas...terimakasih ya sudah membeli makan waktu aku tidur" kataku.
"Terimakasih kekasihku" kataku pelan.
Dan Mas Arif mendekatiku
"Apa yang terakhir kamu ucapkan tadi, aku tidak begitu mendengarnya?" tanya mas Arif.
"Terimakasih kekasihku" kataku pelan berbisik di telinganya.
"Iya sama-sama bidadariku" katanya berbisik dan mencium keningku, entahlah siapa yang memulainya kami bertemu bibir kembali dan kembali menikmatinya lebih lama, tangan mas Arif mulai meraba-raba, aku takut juga menikmati setiap sentuhanya.
"Mas... aku takut" kataku pelan
"Rin... nikah siri dulu ya" katanya sambil memelukku lebih erat, aku pasrah berada di dalam pelukanya, kupandangi wajahnya, tersenyum melihatnya, lagi-lagi dia mencium bibirku dengan lembut.
"I love you bidadariku" katanya.
"Rin... ayo makan" katanya dan bangun dari tempat tidur tapi dia menjatuhkan lagi tubuhnya disampingku kembali mencium bibirku.
"Makan kamu saja" katanya pelan.
"Apa bisa kenyang Mas?" tanyaku manja.
"Rin... kamu tidur disini saja ya, baju kerjamu ada disini kan juga baju Vano?" tanyanya.
__ADS_1
"Ada mas, tapi..." kataku terhenti.
"Jangan khawatir aku tidak akan meminta lebih kepadamu" katanya
"Terima kasih Mas" jawabku.
"Kalau aku tidak bisa tidur aku akan mendatangimu memelukmu dari belakang seperti ini" katanya.
"Ih... mas arif porno" kataku
"Mas... aku lapar, ayo bangun" kataku lagi.
"Bunda...." teriak Vano.
"Iya.. Bunda lagi nyapu disini Vano," kataku.
"Vano bangun Mas, teruskan nyapunya, sapa suruh mengganggu aku menyapu" kataku pada mas Arif sambil melepas pelukan mas Arif berdiri dan berjalan menghampiri Vano.
"Bunda... Ayah mana? Nenek kok belum pulang?" tanya Vano.
"Ayah di kamar tidur, nenek masih di Jogja menunggu tante Vera yang sakit, Bunda kurang tau kapan pulangnya" kataku.
Mas Arif berjalan mendekatiku, menggendong Vano dan mencium pipinya.
"Anak Ayah ayo makan" ajak Mas Arif.
Dan berjalan ke meja makan, aku mengikutinya di belakangnya, kuambil piring dan sendok kemudian mengambil nasi lauk dan sayur untuk Mas Arif.
"Vano makan sendiri ya?" tanyaku.
Dia menggelengkan kepalanya dan berkata
"Mas... setelah ini aku pulang ya?" tanyataku.
"Vano disini saja" kata Vano menyela.
"Vano telp mbah uti saja setelah ini bilang gak mau pulang" kataku sambil membereskan tempat makan dan membersihkanya, kulihat Mas Arif menyelesaikan menyapu rumah.
Kuambil hp untuk menelpon orang tuaku.
"Assalamualaikum Bu" sapaku
"Waalaikum salam, kamu kapan pulang? tanya Ibu.
"Maunya sekarang, Vano gak mau pulang, ini tanya Vano sendiri Bu" kataku
"Vano ini Mbah uti telpon" kataku kepada Vano sambil memberikan hp ke Vano.
"Mbah uti Vano di sini saja, sama Bunda sama Ayah Arif, enak disini" katanya sambil memberikan hp ke aku.
"Ibu dengar sendiri Bu, bagaimana Vano?" kataku.
"Terserah Rin, yang penting jaga diri kamu ya" kata Ibu.
"Iya Bu, Assalamualaikum" kataku setelah mendengar jawaban salam dari ibu kemudian hp aku matikan.
Di halaman depan nampak Mas Arif membersihkan taman diikuti oleh Vano.
"Mas Arif setelah ini ada acara ke mana?" tanyaku.
__ADS_1
"Katamu minta antar pulang" jawabnya.
"Vano tidak mau pulang mas, barusan aku telpon Ibu gak pulang" kataku.
"Ayo ke hotel yang kamu maksud kemarin, tanya-tanya dulu" katanya.
"Iya Mas, Rinda siap-siap dulu" kataku kemudian.
***"
Masuk ke kamar Arif mengambil hp dan menelpon
"Halo Deny... kamu cuti ini pulang kemana? tanya Arif.
"Ke Merauke Rif, ada apa?" tanya Deny
"Kamu bisa bantu aku?" tanya Arif.
"Iya apa Rif" kata Deny.
"Den.. kamu kan tau rumahku, kamu bisa gak ngurus pindah domisiliku ke Jawa?" tanya Arif.
"Bisa Rif, ada temanku yang bisa menguruskan satu wilayah denganmu tugasnya, tapi kamu telpon bapakmu dulu bilang kalau aku datang untuk mengurus pindah domisilimu" jelas Deny.
"Oke den, makasih ya" kata Arif
Kemudian menutup telpon, dan menelpon kembali.
"Hallo... Bapak, sibuk kah sekarang?" tanya Arif.
"Tumben kamu ingat Bapakmu ini, kamu di mana sekarang?" tanya bapak
"Aku di Jawa sama ibu, Pak sudah tua gak perlu dendam-dendam, aku sudah menginjak tua juga, aku mau tinggal di Jawa, aku mau pindah domisili ke Jawa" kata Arif
"Terus?" tanya Bapak
"Nanti ada temanku namanya Deny, tolong kasihkan kartu keluarga yang ada namaku sama dia, mau dia uruskan, kalau sudah selesai di kembalikan lagi sama Bapak" kata Arif.
"Nanti aku bawakan temanmu, sekalian bisa pecah kartu keluarga, adikmu juga mau pindah ikut suaminya" kata bapak
"Bisa, bapak bicara sendiri sama teman Arif, sudah dulu pak" kata Arif dan menutup telpon.
*****
Di ruang keluarga, aku dan Vano sudah siap keluar, menunggu Mas Arif sambil melihat tv, tak lama kemudian pintu kamar Mas Arif terbuka.
"Ayo sekarang berangkat" katanya.
Aku dan Vano mengikuti di belakangnya menuju mobil dan keluar dari rumah menuju hotel yang kami bicarakan kemarin.
Sampai di depan hotel Mas Arif memarkir mobilnya dan kami keluar dari mobil menuju resepsionis.
"Selamat sore, bisa kami bantu" sapa Mbak resepsionis
"Mbak mau tanya tentang paked wedding disini bisa?" tanya Mas Arif
"Oh bisa Pak, ini kami punya brosurnya bisa bapak bawa pulang untuk dipelajari, booking tempat sebulan sebelum hari H ya pak, waktu booking DP minimal 50 %, sisanya setelah acara" kata Mbak resepsionis menjelaskanya
"Iya terimakasih, ini saya bawa ya" kata Mas Arif, kemudian kita keluar meninggalkan hotel tersebut.
__ADS_1