
Setelah menutup telpon suamiku aku keluar kamar sambil membawa gelas kosong ke wastafel kemudian merebahkan tubuhku di atas sofa sambil melihat acara tv, kenapa badanku gak enak begini, batinku.
Vano berjalan mendekatiku sambil membawa piring kosong
"Bunda, nambah makan lagi."
"Iya," jawabku sambil menerima piring kosong dari Vano.
Berdiri dari sofa, kenapa kepalaku selalu pusing dan mual di pagi hari begini, semoga segera terlewati masa-masa ini.
Mengambil nasi dan nuget untuk Vano kemudian menyerahkannya ke Vano yang sedang duduk di karpet ruang keluarga.
Kemudian aku kembali membuka kulkas, masih ada siomay, lebih baik memasak ini saja buat sarapan, batinku.
Aku ambil siomay dan aku taruh di meja dapur kemudian panci steamer dan mulai memasak siomay tersebut, air liurku sudah mau keluar, hmmm pasti lezat.
Beberapa saat kemudian siomay sudah masak, aku ambil satu persatu dari panci steamer menggunakan garpu dan aku sajikan di atas piring. Melangkah ke meja makan sambil membawa sepiring penuh siomay dan mengambil saos dan berjalan ke sofa ruang keluarga.
Vano menghampiriku kembali dan bertanya.
"Bunda apa itu?"
Aku memandang anakku dengan wajah cemberut, nih anak gak tau emaknya lagi nyidam siomay apa, pasti minta ini, batinku.
"Sedikit saja, ini," kataku setengah jengkel.
"Ah Bunda pelit." Protes Vano.
"Biarin, sudah sana jangan disini, entar kamu habiskan milik Bunda," kataku tak mau kalah.
Vano tetap berdiri mematung di depanku dengan wajah menyedihkan.
"Apa lagi?" tanyaku.
"Minta sedikit lagi," jawabnya.
"Nih," kataku sambil mengambilkan satu buah siomay.
Kemudian Vano meninggalkanku dan aku mulai memakannya dengan sangat lahab dan segera aku habiskan he he he, ah... rasanya puas bisa menikmati makanan yang diinginkan saat hamil, batinku.
Tak terasa sudah jam 9 pagi aku belum menyapu rumah, sudahlah masih terlihat bersih saja, batinku.
Aku mengambil box seserahanya Faris dan aku ambil sandal dan sepatu untuk Fina kemudian memasukkan ke box dan mulai menghiasnya, sehari kemarin cuma dapat satu.
Pintu pagar di berbunyi, mungkin Nia, oh iya sedari tadi aku belum keluar rumah, pintu depan juga pagar belum di buka juga.
Aku berdiri mengambil kunci dan berjalan ke depan.
"Pagi banget kamu, aku gak masak loh," kataku sambil membuka pintu pagar.
"Ayo masuk." Ajakku.
__ADS_1
"Aku gak kaget kamu mau masak, itu Vano sudah sarapan?" tanya Nia sambil berjalan masuk rumah.
"Sudah aku gorengkan nuget, aku masak siomay tapi sudah habis," jawabku.
"Ini titipanmu juga notanya," kata Nia sambil menyerahkan titipanku.
"Terima kasih, kamu duduk di sana Nia," kataku sambil menunjukkan sofa ruang keluarga.
Aku masuk ke dalam kamar untuk mengambil uang setelah meletakkan pesananku di meja makan.
"Nia ini uang belanjaanku tadi, terima kasih," kataku sambil menyerahkan sejumlah uang untuk Nia.
"Terima kasih Rin," jawab Nia.
"Rin, ini yang mau di dekor?" tanya Nia.
"Iya, hari ini harus kelar, kapan lagi aku bisa menyiapkanya kalau gak sekarang, untung kamu ke sini mau bantu aku," jawabku.
Nia tersenyum mendengar jawabanku.
"Untuk sahabat apa sih yang tidak bisa he he he," kata Nia.
Nia mengambil beberapa seserahan dan box di bawa ke karpet dan kami duduk di sana mempercantik seserahan untuk Faris.
"Rin kalau kamu capek istirahat saja." Pinta Nia.
"Iya Nia," kataku sambil berdiri dan merebahkan tubuhku di sofa.
"Nia, kamu mau makan apa? aku mau pesan online saja," tanyaku.
"Oke," kataku.
Aku mulai membuka aplikasi pengantaran online melihat-lihat menu makanan yang tersaji di sana, dan memilih makanan juga cemilan kemudian memesanya.
Beberapa menit kemudian terdengar bunyi ketukan dari pagar, " Nia tolong kamu buka, sepertinya pesanan makananku yang datang, ini uangnya," kataku sambil menyodorkan sejumlah uang.
Nia masuk ke dalam rumah sambil membawa bungkusan plastik sambil berucap "Rin, kamu gak apa-apa pesan makanan sebanyak ini?.
Aku tertawa mendengar ucapan Nia.
"He he he"
"Lah malah tertawa," kata Nia sambil meletakkan makanan di meja makan
"Nia, Nia, disini ini ada tiga kepala nanti sore tambah 2 kepala masa aku cuma pesanan sedikit, aku kan tidak mau kalau tamuku kelaparan," kataku.
"Memang siapa lagi? bukannya mertuamu masih di Jogja, Ibumu pulang," tanya NIa kembali.
"Sudah amnesia apa kamu Rin, apa karena dapat telpon dari Deni kamu jadi lupa, aku tadi kan sudah bilang kalau Ibuku balik kesini sore nanti diantar adikku, Faris," kataku menjelaskan kembali.
Kulihat Nia tersenyum malu.
__ADS_1
"Itu tu tandanya orang lagi jatuh cinta." Aku menggoda Nia.
"Ayo makan siang, anakku sudah minta makan ini." Ajakku ke Nia.
"Vano, kamu pilih sendiri apa yang kamu mau," kataku sambil menyerahkan sepiring nasi ke Vano.
"Rin, apa memang seperti ini kamu setiap harinya? jarang masak?" tanya Nia disela-sela makannya.
"Iya, aku gak bisa masak Nia, daripada buang-buang makanan karena rasa tidak sesuai, mending beli, kalau ada Ibu di sini ya masak, kan Ibu enak masakannya," jawabku.
Telp berdering dari kamarku.
"Siapa juga yang telpon mengganggu acara makan saja," kataku.
"Sudah kamu ambil saja hpnya." Nia menyuruhku.
Aku berdiri dari tempat duduku dan berjalan menuju ke kamarku mengambil hp dan mengangkat video call dari suamiku sambil berjalan menghampiri Nia yang berada di meja makan.
Tersenyum memandang suamiku.
"Lagi di mana itu Mas?" tanyaku.
"Jalan-jalan di Timika sama Deni saja ini," jawab Mas Arif
"Kebetulan ini, ada Nia di sini Mas, entar tidur sini dia," kataku.
Kamera hp aku arahkan ke Nia dan Vano yang sedang makan.
"Siapa Rin?" tanya Nia.
"Mas Deni," jawabku.
Terlihat Nia gugup dan serba salah, aku tersenyum melihat ulah sahabatku ini.
"Mas Deni mau ngobrol sama Nia?" tanyaku.
"Den, ayo ke sini lebih dekat." Ajak Mas Arif.
Deni mendekati Mas Arif dan terlihat lebih jelas, kamera masih mengarah ke wajah Nia.
"Nah, itu Mas, yang namanya Nia, mau ngobrol?" tanyaku.
Mas Deni juga tampak malu-malu.
Terlihat Nia melambaikan tangan dan menutup mukanya dengan tangannya.
"Kamu sudah selesai makan kan Nia, ayo cuci tangan terus terima telp ini, aku mau melanjutkan makanku," kataku,
Nia tidak bisa menolakku, setelah dia mencuci tangan dan mengelapnya dengan tissue kemudian mengambil hp ku dan meneruskan pembicaraan dengan Deni, Nia berjalan ke taman belakang rumah, sedangkan aku dan Vano meneruskan makanku.
"Vano sudah selesai makanya?" tanyaku.
__ADS_1
"Ini baru selesai Bunda," jawab Vano.
Aku melangkah menuju ke kulkas mengambil 2 botol kecil sari kedelai untukku dan Vano.