Lika-Liku Single Parent

Lika-Liku Single Parent
Kata Ibu Mertua


__ADS_3

Pagi hari kami bertiga, dua orang dewasa dan satu anak balita bersiap untuk berangkat beraktifitas.


Cuaca hari ini sangat cerah, langitpun nampak membiru, seperti halnya dengan semangat pagi kami bertiga ini.


Perlahan dua sepeda motor meninggalkan rumah mertua.


Aku dan Vano menuju ke sekolahnya Vano, sedangkan Nia langsung menuju ke kantor.


"Vano, hati-hati ya, belajar yang rajin," pesanku ketika kami berada di teras penitipan anak.


"Iya Bunda," ucap Vano dan mencium perutku.


"Adik jangan nakal sama Bunda ya," katanya.


Aku menundukkan badanku dan memeluk sambil mencium pipi Vano.


"Bunda berangkat kerja dulu," kataku.


Vano berjalan perlahan masuk ke dalam dengan menarik tas trolinya, kemudian membalikkan badannya dan melambaikan tanganya ke arahku sambil tersenyum.


Akupun melambaikan tangan ke arah Vano dan tersenyum.


Senyumanmu, keceriaanmu adalah semangat hidupku, disaat aku dulu melewati semua rasa kecewa dan susah, kamulah penyemangatku, walaupun kamu ada bukan atas nama cinta tapi keterpaksaan tapi kamu tetaplah anak kandungku, aku yakin... kamu ditakdirkan ada di dunia ini karena Allah pasti mempunyai rencana yang baik untuk kita.


Membalikkan tubuhku dan perlahan berjalan menuju ke arah sepedaku.


Perlahan naik ke atas sepeda karena semakin besar perutku semakin susah juga untuk bergerak.


Aku hidupkan sepedaku dan meninggalkan penitipan anak yang satu komplek dengan sekolahnya Vano menuju ke tempat kerjaku.


Ini adalah hari-hari terakhirku di sana, senin depan aku sudah berada di tempat yang baru dengan suasana yang baru, aku di sini menjadi seorang staf tapi di kantor ibu mertua aku menjadi pemimpin di sana.


Dalam doa dan harapanku, semoga aku bisa menhadi pemimpin yang amanah yang bisa mengayomi anak buah juga mensejahterahkannya.


Di depanku kendaraan tidak begitu ramai, kemacetan di sini tidak begitu terasa dan nyaris setiap harinya tidak pernah ada.


Waktu sudah menunjukkan jam delapan kurang lima menit aku sudah sampai di parkiran sepeda, perlahan berjalan dan menaiki anak tangga satu demi satu.


Tiga hari lagi aku meninggalkan tempat ini, apa gak lebih baik hari ini aku menghadap pak Farid ya, batinku.


Terlihat Nia sedang sibuk di meja kerjanya demikian juga dengan Widya.


Biasa kesibukan menjelang akhir bulan.


Aku duduk di kursi kerjaku menghadap meja yang diatasnya ada sebuah komputer.


Menundukkan tubuhku untuk memencet tombol untuk menyalakan komputer.


Sambil menunggu komputer menyala aku mengecek laporanku, tinggal laporan hari ini dan dua hari ke depan yang belum terinput semoga senin sudah boleh meninggalkan kantor ini.


"Nia, kamu tadi apa sudah melihat kalau pak Farid sudah datang?" tanyaku.


"Sepertinya belum Rin, ada apa?" tanya Nia penasaran.


"Aku mau menghadap pak Farid, mau menyampaikan kalau mau mengundurkan diri, aku khawatir kalau pas akhir bulan saat menyerahkan laporan bulananku pak Fatid tidak siap melepasku," jawabku.


"Iya Rin, kamu kan termasuk staf kesayanganya pa Farid he he he," kata Nia dan tertawa.


"Bisa saja kamu ini," ucapku.


"Beneran Nia aku kepikiran kantornya ibu mertua, tapi aku juga bingung apa yang akan aku lakukan nanti jika memang terbukti ada penyelewengan keuangan," kataku kemudian.


"Kamu minta pendapat ibu mertuamu saja Rin, beliau yang pastinya tau seluk beluk usahanya," kata Nia.


"Iya itu pasti, tapi... jujur saja aku masih keder menghadapi bawahan apalagi aku ini tidak punya pengalaman memimpin," keluhku.


“Kamu pasti bisa Rin, aku yakin,” kata Nia menyemangatiku.


“Terima kasih,” ucapku.


Aku kembali mengerjakan pekerjaanku, terlihat Pak Farid berjalan menuju ke ruangannya, waktu menunjukkan pukul sembilan pagi.


“Rin, itu Pak Farid sudah datang,” kata Nia.


“Iya Nia sebentar lagi saja aku ke sana, sepuluh menit lagi,”


kataku pelan.


Aku kembali meneruskan pekerjaanku yang memang tidak


seberapa banyak.


Sepuluh menit telah berlalu aku berdiri dari kursiku dan berjalan menuju ke ruangan pak Farid, sampai di depan ruangan pak Farid aku ketuk pintunya beberapa kali hingga terdengar suara mempersilahkan masuk dari dalam ruangan.


Aku membuka pintu dan berjalan mendekati meja kerja Pak farid, duduk di depan Pak Farid dengan meja besar di depanku.


"Ada apa Rin? apa ada yang perlu kamu sampaikan?" tanya Pak Farid sambil menandatangani berkas di depannya di atas meja.


Aku menghela nafas dalam, dalam hatiku semoga pengunduran diriku ini di setujui.


"Pak Farid, sebelumnya minta maaf, Rinda menghadap Pak Farid hari ini berniat untuk mengajukan pengunduran diri," kataku.

__ADS_1


Pak Farid menatapku dengan pandangan terkejut.


"Rinda... apa gajimu kurang sehingga kamu mau mengundurkan diri? kalau kamu mau mengajukan cuti melahirkan aku setujui, tapi jika kamu mengajukan mengundurkan diri aku berat, apa alasanmu?" tanya Pak Farid.


"Pak Farid... saya ini tinggal sendiri di rumah, saya mengajukan pengunduran diri akhir bulan ini karena saya sekalian mau mempersiapkan persalinan juga rencana mau mengurus anak sendiri bisa jadi saya mau ikut suami bekerja di Mimika sana," kataku.


Pak Farid terlihat menghela nafas panjang.


"Apa tidak bisa kamu menggunakan jasa orang lain merawat anakmu setelah kamu kembali bekerja?" tanya Pak Farid.


"Maaf Pak, saya ini Ibunya anak-anak, tugas seorang Ibu adalah memberi kasih sayang dan mendidik anak, bukan orang lain, kalau aku serahkan kepada orang lain, aku tidak mau anak-anakku menjadi jauh dariku," jawabku.


"Aku tidak bisa memutuskan Rin," kata Pak Farid.


"Kok begitu Pak Farid?" tanyaku heran.


"Pak... apa yang membuat Bapak berat saya meninggalkan tempat ini? masih ada Nia maupun Widya yang bisa menggantikan pekerjaan saya, Bapak juga bisa membuka lowongan, di luar sana masih banyak lulusan-lulusan baru yang lebih dari saya Pak," kataku.


"Iya Rin, tapi... bisa jadi mereka tidak sebaik kamu dalam bekerja," kata Pak Farid.


"Bapak belum mencoba," kataku tidak mau kalah.


"Terserah kamu saja Rin, kalau kamu tidak bisa aku pertahankan," kata Pak Farid dengan nada kecewa.


Aku menghela nafas panjang kembali.


"Pak Farid, sebelumnya Rinda minta maaf yang sebesar-besarnya tidak bisa terus bergabung di sini, tapi ini adalah keputusan Rinda," kataku.


Pak Farid hanya diam saja.


"Kamu lanjutkan pekerjaanmu saja Rin, aku tak bisa memberi keputusan hari ini, kamu pikirkan kembali saja," kata Pak Farid.


"Kalau Bapak tidak memberi keputusan hari ini, saya juga punya hak untuk mengundurkan diri, jadi bila sampai hari jumat besok Bapak tidak juga mengambil keputusan, saya pun tetap mengundurkan diri," kataku tegas dan berdiri dari kursi yang aku duduki tadi.


"Permisi Pak, terima kasih waktunya," kataku.


Aku berjalan keluar ruangan Pak Farid dengan pikiran kacau juga kecewa, membuka pintu dan berjalan menyusuri lorong menuju ke ruang kerjaku kembali.


Duduk di kursi dan menyandarkan tubuhku di kursi.


"Kenapa Rin?" tanya Nia.


"Jengkel sama pak Farid, dia tidak mengijinkanku mengundurkan diri," jawabku masih dengan nada kesal.


Aku ambil kotak makanan di dalam tasku dan membukanya kemudia menaruh di atas meja.


Mengambil nugget non msg dan memasukkan ke mulutku perlahan.


"Kok bisa sih, kan hak karyawan juga untuk mengundurkan diri," kata Nia.


Ponsel berdering dari dalam tasku, terlihat ibu mertua yang menelponku.


"Assalamualaikum Bu," sapaku.


"Waalaikum salam Rin, kamu di kantor ini? bisa keluar kantor sebentar ada yang Ibu bicarakan denganmu," kata Ibu.


Aku berdiri dari tempat dudukku dan menuruni anak tangga


Saat ini waktu menunjukkan pukul sebelas lebih, sebentar lagi istirahat.


"Iya Bu, ini Rinda sudah diluar kantor," kataku.


"Rin... bener kecurigaanku dulu, tapi aku tidak punya bukti, aku juga salah jarang lihat laporan bulanan, aku sudah tau siapa yang memark up data" kata Ibu mertua.


"Memang aku tidak begitu memahami laporan keuangan Rin," kata Ibu mertua melanjutkan pembicaraanya.


"Kamu bisa ke kantorku kapan?" tanya Ibu mertua.


"Mungkin kalau tidak senin ya selasa Bu, Rinda tidak diijinkan untuk resign," kataku.


"Loh...," kata Ibu mertua terkejut.


"Biarkan saja Bu, jumat lusa Rinda tetap keluar dari sini setelah menyerahkan laporan bulanan pekerjaan Rinda," ucapku.


"Bu... Rinda ini kan selama ini belum punya pengalaman memimpin terus bagaimana Bu menghadapi staf, apalagi staf yang bermasalah tersebut," kataku.


"Rin... kamu menurut apa kata Ibu nanti, Ibu sudah punya rencana kok," jawab Ibu mertua.


"Iya Bu, Rinda tidak ingin ada konflik di sana saat Rinda memimpin di sana," kataku.


"Santai saja, Ibu pasti bantu kamu dari jauh, kamu fokus dengan kehamilanmu dulu, bulan depan kamu melahirkan, kan?" tanya Ibu mertua.


"Iya Bu, doakan lancar, Rinda inginnya sih saat persalinan mas Arif ada di sini," kataku.


"Iya Rin, semoga saja pas waktu cutinya Arif, Ibu mau pulang juga saat kamu persalinan," kata Ibu mertua.


"Iya Bu terima kasih, Vera dan anaknya bagaimana kabarnya?" tanyaku.


"Alhamdulillah, oh iya aku sampai belum menghubungi Vera, nanti sore saja telpon Vera, sampaikan salamku untuk Vera Bu," jawabku.


"Iya Rin, kamu jaga kesehatan, pikiranmu santai saja biar tidak mengganggu kehamilanmu," nasehat Ibu mertua.

__ADS_1


"Iya Bu terima kasih," ucapku.


"Sudah dulu Rin, Assalsmualaikum," kata Ibu mertua.


"Waalaikum salam," jawabku dan panggilan telpon aku matikan.


Terlihat Nia dan Widya menuruni anak tangga menghampiriku.


"Telpon dari siapa?" tanya Widya.


"Dari ibu mertua," jawabku.


"Ayo makan siang," ajak Nia.


Kami bertiga menuju ke kantin mbak Yah dan memesan makanan.


Setelah pesanan datang kami pun menikmatinya dan berlanjut untuk sholat duhur.


Istirahat sejenak sambil meluruskan kaki dan punggungku.


"Rin... kakimu kok kayak bengkak begitu? gak apa-apa?" tanya Nia khawatir.


"Gak tau Nia, mungkin lama berdiri tadi," jawabku.


"Tensimu normal?" tanya Nia.


"Kontrol kemarin saat tujuh bulan itu sih normal saja," kataku.


"Semoga tidak terjadi apa-apa Rin," kata Nia.


Beberapa saat kami istirahat di musholla kemudian kami menaiki anak tangga menuju ruang kerja kami dan melanjutkan pekerjaan kami.


Tak terasa waktu menunjukkan pukul tiga sore. Aku merapikan meja kerjaku berniat untuk pulang.


"Nia aku pulang dulu, bilang sama pak Farid kalau dia menanyakanku, bilang gak enak badan," kataku sambil menyangklong tas di pundakku dan berdiri dari tempat dudukku.


Melambaikan tangan pada Widya dan berjalan keluar ruangan menuruni anak tangga menuju ke parkiran sepeda.


Menghidupkan sepeda motor menuju ke sekolahnya Vano.


Sampai di tempat Vano, turun dari sepeda dan berjalan ke pintu penitipan anak.


Vano menghampiriku dan berkata, "Bunda... Vano main perosotan sebentar ya."


Aku menganggukkan kepala dan duduk di lantai bersandar dengan dinding tembok, rasanya nyaman sekali posisi seperti ini, batinku.


Bu Lia menghampiriku.


"Bu di kasur dalam saja," kata Bu Lia menyuruhku pinda tempat.


"Di sini saja Bu, oh iya Bu di sini bisa nerima anak usia berapa minimal?" tanyaku.


"Tiga bulan bisa Bu, tapi dilihat di sini juga sih, paling tidak kami bisa menerima anak usia segitu hanya satu anak Bu, kalau lebih khawatir tidak bisa mengawasi," kata Bu Lia.


"Aku pesan sekarang ya Bu untuk anak dalam perutku ini he he he," kataku dan tertawa.


"Saya prioritaskan ya," jawab Bu Lia.


"Terima kasih," ucapku dan tersenyum kepada Bu Lia.


Bu Lia meninggalkanku menghampiri anak yang sedang menangis.


Aku mengambil ponselku dan menelpon Vera


"Assalamualaikum Vera," salamku.


"Waalaikum salam Mbak, apa kabar?" tanya Vera.


"Alhamdulillah sehat," jawabku.


"Oh iya... selamat atas kelahiran putrinya, kabarmu bagaimana?" tanyaku.


"Terima kasih, alhamdulillah sehat Mbak," jawab Vera.


"Sekarang di rumah apa di rumah sakit kamu Ver?" tanyaku.


"Tadi pagi baru saja pulang Mbak, bulan depan ya Mbak melahirkan?" tanya Vera.


"Iya kalau tidak mundur," jawabku.


"Kirimi aku foto anakmu, sudah di kasih nama belum?" tanyaku.


"Habis ini Mbak aku kirim fotonya, nama panggilanya Dera, panjangnya masih perdebatan sama mas Deddy he he he," kata Vera.


"Aku tunggu ya, sudah dulu mau pulang ini, Vano sudah siap-siap untuk pulang," kataku.


"Assalamualaikum," ucapku ketika akan mengakhiri panggilan telponku.


"Waalaikum salam," jawab Vera dan telpon aku matikan.


Aku menaruh ponsel di tasku, dan berdiri dari dudukku, Vano sudah berjalan ke arahku setelah bersalaman dengan Ibu gurunya.

__ADS_1


Aku berpamitan kepada Bu gurunya Vano dan berjalan keluar ruangan menuju ke sepeda motorku.


Naik di atas motor setelah itu Vano mengikutinya, kemudian menghidupkan sepeda motor dan aku perlahan meninggalkan penitipan anak menuju rumah ibu mertua.


__ADS_2