Lika-Liku Single Parent

Lika-Liku Single Parent
Menikmati Waktu


__ADS_3

Adzan Subuh berkumandang membangunkan umat Islam untuk melaksanakan ibadah sholat subuh, di sebuah rumah terlihat dua orang dewasa masih tertidur saling berpelukan, di kamar satunya terlihat anak kecil tidur dengan pulasnya.


"Mas... ayo bangun" bisikku sambil mencium pipinya.


"Bentar lagi sayang, masih ngantuk" katanya.


Aku beranjak dari tempat tidur memakai baju, kemudian mandi dan sholat subuh, Vano masih tidur di kamar, masak dulu saja setelah itu bersih-bersih rumah pikirku.


"Bunda...susu" teriak Vano dari dalam kamar, aku ambilkan susu untuk Vano dan aku antarkan ke Vano yang sudah duduk manis di ruang keluarga.


Waktu menunjukkan pukul tujuh pagi, Mas Arif belum juga bangun, aku persiapkan Vano untuk berangkat sekolah, kemudian aku mengantarkan Vano ke sekolah, hari ini aku mulai cuti kerja.


"Loh Bu Rinda tidak kerja?" tanya Bu Via.


"Iya Bu, lagi ambil cuti" jawabku.


"Cuti menikah Bu?" tanyanya lagi.


"He he he iya" jawabku.


"Vano punya ayah lagi ya?" tanya Bu Via, Vano tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Selamat ya Bu Rinda semoga sakinah mawadah warrohmah" kata Bu Via.


"Aamiin... terima kasih Bu, saya pamit dulu" kataku dan meninggalkan penitipan anak plus sekolahnya Vano.


Tiba di rumah... Mas Arif belum juga bangun masih tidur di kamar tamu.


"Sayang... bangun" bisikku, bukanya menjawab tapi memelukku menciumku.


"Pingin lagi sayang" bisiknya.


"Mandi dulu Mas" kataku.


"Gak usah" katanya dan mencium bibirku yang mungil menyibak jilbabku, membuka satu persatu bajuku.


"Mas... I love you" bisikku, kami menikmati setiap sentuhan-sentuhan sampai pada puncaknya.


"Rin... " bisiknya.


"Apa sayang" jawabku.


"Kamu enak sekali, bikin aku ingin terus" bisiknya.


"Mas bisa saja, malu Rinda Mas" kataku dengan malu.


"Rencana kemana hari ini, Vano sudah aku antar sekolah?" tanyaku lagi.


"Menikmati waktu bersamamu, menikmati kenikmatan dunia" katanya dan menciumku kembali.


"Mau lagi" bisikku manja, Mas Arif tersenyum memandangku.


"Aku mandi dulu ya... setelah itu minta lagi hehehe" katanya dan tertawa.


Aku menuju taman belakang duduk di kursi taman, melihat hijaunya dedaunan membuat mata menjadi segar, Mas Arif duduk di kursi di sebelahku tersenyum dan mencium bibirku.

__ADS_1


"Rin.. pingin lagi" bisiknya.


"Gak capek Mas" kataku.


"Denganmu tidak ada capeknya malah ketagihan" katanya.


"Bisa saja Mas ini" kataku kemudian aku dibopong menuju ruang keluarga ditidurkan di atas sofa panjang, dan lagi di ruang keluarga menikmati kembali syurga dunia. 😍


"Mas... gak lapar?" tanyaku.


"Makan kamu saja" bisiknya.


"Habislah Rinda Mas, kalau mau Mas makan" kataku.


"Aku tadi sudah masak, ayo makan Mas" ajakku


Akhirnya mas Arif berjalan menuju meja makan, kami sarapan bareng.


"Yang buat sambel pecelnya kamu sendiri?" tanyanya.


"Kenapa memangnya?" tanyaku balik.


"Enak Rin" katanya.


"Terima kasih pujianya tapi beneran enak atau tidak ya, jujur loh" kataku.


"Ya beneran enak sayang" katanya.


Selesai makan aku bersihkan meja makan dan mencuci piring dan lain sebagainya kemudian menuju ruang keluarga duduk di sofa bersebelahan dengan suamiku.


"Apa Mas?" tanyaku lagi.


"Rin... kamu sama ayahnya Vano apa seperti aku denganmu saat ini?" tanyanya.


Sebelum menjawab aku sandarkan kepalaku ke pundak suamiku.


"Mas... sejak kejadian itu, aku tidak pernah bisa melakukanya, setiap dia meminta hak nya aku selalu menolak dan menangis ketakutan" jawabku.


"Apa dia tidak berusaha menghilangkan traumamu?" tanya Mas Arif penasaran.


"Bagaimana aku bisa secepat itu menghilangkan traumaku Mas, sedangkan yang melakukanya adalah dia" kataku.


"Terimakasih Mas bisa membuatku seperti sekarang, bisa menikmati kehidupan orang dewasa yang sudah menikah" kataku lagi, mas Arif tersenyum mencium pipiku.


"Rin... aku minta maaf atas kejadian dulu di rumahmu, melihatmu berpakaian seperti itu, aku bernafsu sekali" katanya.


"Mas... kalau tidak terjadi kejadian itu mungkin Mas Arif tidak akan mengetahui traumaku, Ibu juga banyak membantu memulihkan traumaku" kataku.


"Rin... waktu kamu depresi seperti itu dengan pandangan matamu yang kosong, apa yang kamu rasakan?" tanyanya.


"Aku ketakutan Mas, aku merasa setiap orang yang mendekatiku akan menyakitiku, sejak ada Vano sedikit banyak aku berusaha melawan ketakutanku mas" jelasku.


"Kamu hebat Rin, bisa bertarung dengan traumamu, kata ibu kamu wanita kuat" kata Mas Arif.


"Mas Arif juga hebat bisa menghilangkan ketakutanku dan aku bisa merasakan nikmatnya dunia he he he" kataku dan tersenyum manja.

__ADS_1


"Sekarang sudah berani belum pulang ke rumah?" tanyanya


"Kalau sama Mas Arif aku mau" kataku.


"Nanti kalau aku kembali kerja kamu bagaimana? tinggal disini?" tanyanya.


"Lihat nanti lah mas, aku tenang dimana, kalau disini tidak ada Ibu, kalau Mas Andi datang bagaimana?" tanyaku.


"Sepertinya orang itu tidak berani kesini lagi" kata Mas Arif


"Ayo jalan-jalan beli baju untukmu" pinta Mas Arif.


"Mas bajuku kan masih banyak, kok beli lagi? kemarin juga sudah Mas belikan" kataku.


"Beli baju tidur sayang" katanya sambil mengecup pipiku.


"Ayo... siap-siap" katanya lagi.


Aku masih bengong dan memikirkan baju tidur, kan sudah ada baju tidur baby dol, daster, ah sudahlah dituruti saja maunya daripada di rumah juga bosan, setelah siap kamipun berangkat mengendarai mobil.


Dalam perjalanan...


"Mas... kita mau ke toko mana?" tanyaku.


"Ke toko baju sayang, nanti aku yang milih, pokoknya nanti malam kamu harus pakai, gak ada trauma kan? bercinta denganku? aku ingin nanti malam menikmatimu semalam sayang" kata Mas Arif, aku tersenyum melihatnya


"Ada-ada saja Mas ini" kataku.


"Bukan ada-ada saja sayang, wajarlah pengantin baru hehehe" katanya dan tertawa


Sampai di toko baju yang terbesar di kota ini, kami turun dari mobil, mas Arif menggandeng tanganku masuk ke dalam toko, berkeliling di toko tersebut, mas Arif berhenti di deretan baju lingerie


"Rin... mau ya pakai baju itu, untuk suamimu" katanya


"Malu mas" kataku


"Kenapa malu sama suamimu sendiri, pahala tau" bisiknya


"Nanti pulang dari sini aku pakaikan" bisiknya genit


"Mas yang milih saja, aku malu mas" kataku


setelah memilih beberapa baju lingerie memberi ke pelayan toko mas Arif menuju pakaian anak memilih beberapa baju untuk Vano dan memberi ke pelayan, kemudian menuju ke baju dewasa dia memilih baju santai untuknya


"Sayang... kamu pilih baju ya, terserah baju kerja atau baju untuk keluar rumah" katanya


"Gak usah lah mas" kataku


"Jangan menolak nafkah suami ini" katanya


akhirnya aku menuju baju gamis


"Mas... ini bagus?" tanyaku


"Iya bagus, kamu ambil saja" kata mas Arif, kemudian menuju meja kasir, mas Arif yang membayarnya setelah itu keluar dari toko tersebut menuju mobil dan meninggalkan toko, mobil berjalan menyusuri jalan aspal di kota ini, kota kecil yang selalu di rindukan

__ADS_1


__ADS_2